
" Dam! Are you crazy!" bentak Amora, dengan segera menjauh dari Damian dan berusaha menutupi bagian depan tubuhnya, yang terekspos didepan pria itu.
"Aku hanya membantumu agar sandiwara kita terlihat nyata didepan Estela, my Amora," terang Damian, tanpa rasa bersalah sudah meninggalkan jejak merah kebiruan, di bagian dada dan leher putih Amora.
Amora diam, tidak menanggapi penjelasan aneh yang diberikan Damian, sebagai pembelaan dari apa yang sudah dilakukannya pada Amora dan memilih memunguti kembali atasan kaos, serta penutup dada miliknya.
Dia berniat untuk mengenakan lagi kedua benda itu sebelum bermaksud keluar menemui Estela, tapi ketika dia akan memasangkan penutup dadanya kembali, lagi lagi Damian mencegahnya.
" Jangan kenakan lagi, my Amor," perintah pria itu, yang membuat Amora terdiam mendengar larangan yang dikatakan Damian.
" Why?" tanya Amora, dengan suara terdengar kesal menatap kearah Damian.
" Jangan kenakan lagi apa yang tadi kamu pakai," ulang Damian dengan melepaskan kemeja yang dikenakannya begitu saja, sampai membuat wajah Amora seketika merah padam, antara malu juga marah melihat apa yang dilakukan oleh pria itu sekarang.
Pria ini pasti sudah sinting, pikir Amora dengan perasaan cemas, ketika Damian sudah melepaskan kemeja panjang yang dikenakannya, hingga kondisi mereka sekarang sudah sama sama setengah polos.
Sekelebat pikiran buruk terlintas di otak Amora, melihat bagaimana kondisi mereka berdua sekarang.
Dan secara reflek Amora mulai mundur kebelakang agar jarak dirinya dan Damian semakin jauh,karena setelah melepas kemeja yang tadi dikenakannya Damian kembali mendekat kearah Amora, yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari sosok Damian.
Semakin Amora mundur, maka Damian semaki mendekat, membuat Amora mulai cemas khawatir Damian benar benar akan memaksanya seperti malam sebelumnya, di kamar Bar Atlantis.
"Dam, no! Stop!" pinta Amora dengan wajah terlihat mulai memucat, sementara kedua tangannya terus berada didepan dada, untuk menutupi dua aset miliknya dengan pakaian yang berada didalam genggamannya sekarang.
Bukannya menuruti larangan dari Amora, pria malah semakin mendekat dengan menatap lekat pada tubuh Amora, dalam ekspresi tak terbaca membuat perempuan itu benar benar merasa sangat takut. Takut dia tidak bisa menolak lagi godaan gila Damian seperti sebelumnya.
__ADS_1
" Dam! Jangan lakukan sekarang! Ingat aku harus keluar menemui Estela, jadi...."
" Oke, don't worry my Amor." jawab Damian, terus mendekat sampai Amora tidak bisa menghindar lagi, karena terbentur sandaran sofa besar yang tadi diduduki Damian.
" Jangan takut. Aku tidak akan mengasarimu, seperti tadi malam." bujuk Damian, dengan mengungkung kan kedua tangan kekarnya dikedua sisi tubuh Amora.
" Aku tidak percaya. Kau itu seperti iblis, yang tidak bisa dipegang ucapannya," maki Amora kesal.
Mendengar hinaan Amora, Damian hanya mengangkat kedua alis matanya sebagai reaksi untuk Amora.
" Iblis? Kupikir kau benar my Amor. Tapi it's ok i like it," ucap Damian, dengan memberikan senyum smrik kearah Amora.
" Dam, stop. Ayo, biarkan aku menemui Estela sekarang agar aku bisa..."
" Baiklah kita hentikan permainan menyenangkan ini. Sekarang keluar dan hadapi Estela untukku, baru setelah itu ayo kita lanjutkan lagi nanti," potong Damian, dengan sengaja mengatakannya sambil berbisik ditelinga Amora, yang langsung membuat bulu bulu halus ditubuh Amora berdiri karena geli.
Posisi mereka sekarang sangat riskan karena meski kedua tangan Amora berada didepan dada dengan gumpalan kain yang digunakannya untuk menutup bagian dadanya yang terbuka tapi selebihnya kulit mereka bergesekan secara langsung.
Sebagai perempuan normal secara jasmani dan rohani, Amora sangat menyadari kondisi mereka sekarang, dan semua itu tentu saja terasa sangat tidak nyaman baginya karena membuat bagian bagian pribadinya seolah sedang digelitik dengan sengaja oleh Damian yang masih bisa memasang wajah tanpa ekspresi dihadapan Amora.
Semuanya semakin ambigu dan aneh ketika tiba tiba saja Damian mulai membuka kancing celana panjang jeans yang dikenakannya.
Tenggorokan Amora terasa tercekat, lidahnya bahkan sampai kelu, ketika ingin mengeluarkan protes penolakan pada apa yang dilakukan Damian sekarang.
Tapi ketika celana panjang yang dikenakannya sudah terlepas jatuh kelantai kamar, hingga hanya menyisakan penutup tubuh terakhir yang dikenakannya,lagi lagi Amora dibuat terkejut ketika Damian memasangkan kemeja yang tadi kenakannya ketubuh Amora.
__ADS_1
" Sekarang sempurna. Dengan penampilanmu sekarang Estela pasti akan langsung percaya dengan hubungan kita my Amor. Sekarang keluarlah temui Estela," perintah Damian, setelah dengan sengaja hanya mengancingkan beberapa kancing saja dari semua kancing di kemeja itu, agar ketika Amora keluar, Estela bisa langsung melihat tanda merah kebiruan yang ada dibagian depan tubuh Amora.
Amora yang semula sempat ketakutan dan cemas Damian akan melakukan lagi apa yang tadi malam dilakukannya, seketika berubah dengan memaki pria itu, meski hanya dalam hati.
Apalagi ketika dia menoleh kearah Damian, sesaat sebelum dia benar benar membuka daun pintu kayu oak tersebut.
Tampak Damian tersenyum puas, penuh kemenangan kearahnya, yang membuat Amora benar benar dibakar Amarah karena sudah berhasil dikerjai oleh pria itu.
" Dasar iblis," maki Amora, dengan memutar kunci pintu kamar agar terbuka.
Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menyambut Amora adalah lengkingan keras Estela tepat dihadapan wajah Amora.
" Damian brengsek! Buka pintunya, keluarkan ja*ang itu sekarang juga! Biar aku...."
Sumpah serapah Estela seketika terhenti, ketika melihat pintu kamar Damian terbuka dan didepan pintu kamar tersebut, dia melihat Amora perempuan yang dibayarnya untuk merayu sang suami, sedang berdiri di daun pintu kamar, milik Damian.
Tapi bukan itu yang membuat Estela sangat terkejut, melainkan bagaimana penampilan Amora sekarang ketika keluar, dari kamar pria yang menjadi suaminya itu.
perempuan itu keluar dengan penampilan acak acakan dan hanya mengenakan kemeja pria, yang Estela yakini itu pasti kemeja milik Damian. Apa yang sudah mereka berdua lakukan tadi sewaktu dia mengetuk pintu kamar tersebut? Apa mereka sedang bercinta? pikir Estela. Perempuan itu semakin marah dan syok, ketika melihat banyak tanda merah kebiruan dibagian leher serta dada Amora yang tidak tertutup saat itu.
" Kau!" tunjuk Estela marah, kearah Amora yang hanya berdiri sambil bersandar dengan nyaman dipinggir pintu dengan menatap kearah Estela.
" Apa yang sudah kau lakukan!" bentak Estela, sangat murka pada Amora.
" Seperti yang anda lihat sekarang nona Estela," jawab Amora, menatap kearah sosok Estela yang terlihat siap untuk menghancurkan dirinya sekarang.
__ADS_1
Dasar brengsek, tega sekali pria itu menyuruh dia keluar dari kamarnya dalam keadaan seperti perempuan bayaran yang habis dipakainya, gerutu Amora kesal dan marah pada Damian yang berada didalam kamarnya.