
Amora tetap berdiri diam, sama seperti yang dilakukan oleh pria dihadapannya sekarang, tapi dari sudut bibir tipis pria itu dia bisa melihat senyum tipis yang sinis diberikan padanya.
Dia tidak suka melihatnya dan ingin mengatakan sesuatu pada pria misterius dihadapannya itu, tapi sebelum dia sempat mengatakan apapun ponsel ditangannya berdering.
Perempuan cantik itu segera melihat layar ponsel yang ada digenggamannya, untuk tau s siapa yang menelpon. Semula dia mengira itu Estela, tapi ternyata dokter Peter. Amora langsung berbalik menjauh dari hadapan pria misterius tersebut untuk segera menjawab panggilan dokter Peter.
" Ya Dok.Ada apa?"
Hanya suara itu yang berhasil ditangkap oleh pria yang sedang berdiri di balkon itu sekarang, sebelum sosok Amora menjauh pergi dengan langkah setengah berlari dari tempat tadi.
"Kau masih tidak berubah, cantik tapi tetap murahan!" dengus pria misterius tersebut dengan raut wajah marah penuh kebencian yang terlihat jelas, dengan tetap menatap pada sosok Amora yang sudah menjauh dari sana.
Setelah sosok perempuan cantik tersebut menghilang, pria tersebut juga melangkah pergi dari tempatnya. Dia memutuskan kembali ke tengah pesta, dengan perasaan kesal dan raut wajah marah yang terlihat jelas diwajah tampan yang di milikinya itu.
" Tuan Bernandez."
Pria dengan wajah latin Perancis itu langsung berhenti dan menoleh, saat mendengar seseorang memanggil dirinya.
" Tuan ..." Dahi pria yang dipanggil Bernandez itu berkerut, saat menatap kepria yang baru saja memanggilnya.
" Esteban. Saya Mario Esteban, anda pasti tau saya bukan?" terang Mario Esteban pada pria tampan berusia diawal 30 tahun yang berdiri dihadapannya sekarang.
"Entahlah."
Raut wajah Mario Esteban terlihat langsung berubah suram seketika begitu mendengar jawaban dingin dan sinis yang keluar dari bibir pria yang sedang diajaknya bicara itu. Bagaimana tidak, dia sudah dua kali mengirimkan proposal kerjasama ke perusahaan pria itu, tapi ketika bertemu dan disapa, pria yang merupakan pemimpin Bernandez Corporation, menunjukan sikap seolah tidak mengenal dirinya.
" Saya pemilik Esteban kontruksi, saya sudah lebih sekali mengirimkan proposal kerjasama ke perusahaan anda, untuk proyek kawasan pelabuhan yang sedang anda tangani sekarang. Apa anda membaca proposal milik saya tuan Bernandez?" tanya Mario Esteban terdengar kecewa.
"Milik anda bukan satu satunya.Banyak perusahaan lain yang juga mengirimkannya karena ingin ikut bergabung dalam proyek itu, jadi jangan berharap lebih hanya karena anda mengirimkan lebih dari satu proposal untuk kami tanpa memberi kan penawaran lebih menarik dari yang lain."
__ADS_1
Tanpa sadar Mario Esteban mengepalkan tangannya, mendengar suara sombong dan sinis yang dikatakan pria dihadapannya itu padanya.
Dalam hati, dia memaki dan mengutuk pria gagah itu karena sudah bicara dengan sangat sombong dan pongah pada dia, yang berusia hampir 2 kali pria dihadapannya sekarang, tapi untuk ukuran kesuksesan tentu saja dia berada diurutan kesekian dari pria muda itu.
Dan alasan itu juga yang membuat Mario Esteban, pria bertubuh besar berusia diawal 50 tahun itu sengaja menegur lebih dulu, pada pria bernama Bernandez tersebut tadi.
" Saya tau, tapi saya sangat berharap bisa ikut bekerja sama dengan proyek besar anda tersebut, tuan Bernandez."
Mario Esteban masih berusaha mencoba ingin bernegosiasi dengan pria itu, meski sudah tersinggung mendengar perkataan lawan bicaranya sekarang ini.
" Kita lihat saja nanti. Kalau aku tertarik dengan penawaran yang kau berikan, aku akan mempertimbangkannya tapi jangan terlalu berharap karena aku adalah orang yang sangat selektif, tuan..."
Lagi lagi Pria bernama Bernandez seperti sengaja pura pura tidak ingat nama pria tua dihadapannya sekarang, membuat Mario Esteban benar benar merasa sangat marah dengan sikap pria muda itu, tapi tidak bisa melakukan apa pun.
Alasannya tentu saja karena, meski lawan bicaranya sekarang lebih muda dari dia, tapi orang itu punya kuasa lebih dibandingkan dirinya sekarang ini, jadi meski tidak suka dengan sikap pria itu, Mario Esteban tetap menunjukan wajah ramah.
" Saya Mario Esteban, tuan Bernandez," tukas Mario Esteban pura pura ramah.
" Baik, tuan Bernandez. Tapi, selain malam ini apa kita bisa bertemu secara pribadi ditempat lain,saya sangat senang kalau bisa bicara lebih banyak dengan anda bukan hanya mengenai proyek itu, tapi juga....."
" Tuan Esteban. Sepertinya anda mengirimkan proposal tanpa tau banyak tentang saya, ya." potong pria Bernama Bernadez dengan raut yang semakin dingin menatap kearah Mario Esteban.
Melihat kemarahan yang diperlihatkan dengan jelas oleh lawannya sekarang, pria tua bertubuh subur itu segera berusaha memperbaiki sikapnya dihadapan Bernandez.
" Saya sangat tau siapa anda, serta kebiasaan anda, saat memutuskan untuk bekerjasama dengan klien anda tuan Bernandez."
" Kalau anda tau, berarti anda juga tau kalau....Saya sudah menikah bukan?Selain itu, saya sangat mencintai istri saya. Jadi kalau memang anda punya keinginan bekerja sama dengan perusahaan saya berhenti menggunakan cara rendahan itu, karena itu akan membuat anda langsung masuk dalam daftar hitam saya tuan Es-te- ban," tekan Bernandez yang membuat raut ketakutan diwajah Mario Esteban.
" Iiya tuan Bernandez."
__ADS_1
"Baiklah, Kalau begitu anda tunggu saja khabar dari pihak perusahaan saya, semoga saja anda beruntung bisa terpilih menjadi klien saya berikutnya."
Lalu Bernandez berjalan pergi, meninggalkan Mario Esteban yang langsung menghela nafas keras, begitu pria itu sudah jauh dari dekatnya.
***
Sementara itu, begitu mendapat telpon dari dokter Peter tanpa perduli dengan hal lainnya, Amora segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat pesta menuju rumah sakit, tempat dimana Chan dirawat sekarang, untuk bertemu dokter pribadi Malaikat kecilnya tersebut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam dengan kecepatan cukup tinggi, Amora tiba disana.
Dengan setengah berlari dia menuju keruangan dokter Peter berada untuk bertemu pria itu.
" Dokter! Apa sudah terjadi sesuatu yang buruk dengan Chan?!" tanya perempuan itu dengan raut wajah cemas, pada dokter Peter yang sedang duduk dimeja prakteknya.
" Silahkan anda duduk dulu nona Amora, lalu mari kita bicara," pinta dokter Peter, dokter spesialis Kanker yang menangani Chan Medison selama ini pada Amora.
" Baik," balas perempuan itu dengan patuh, lalu duduk dihadapan dokter Peter masih tetap dengan raut wajah cemas.
" Kali ini aku menelpon mu tiba tiba bukan karena ada khabar buruk, melainkan sebaliknya," terang dokter Peter dengan suara lembut layaknya seorang dokter waktu memberitahu sebuah berita pada keluarga pasien.
" Khabar baik? Apa itu Dok?" tanya Amora terlihat sedikit lega tapi juga penasaran.
" Ada donor sum sum tulang belakang yang cocok, untuk Chan.."
" Dokter serius?!"
Dokter Peter mengangguk sebagai jawabannya.
" Oh Tuhan...Terimakasih..."
__ADS_1
Amora reflek menangkupkan kedua tangannya kewajah, dia sangat senang mendengar khabar yang disampaikan oleh dokter Peter sekarang.sampai tidak sadar itu membuat airmatanya mengalir dipipi dan dia terisak dihadapan dokter Peter, karena merasa bahagia.
Perasaan yang sudah hampir tidak pernah dirasakannya lagi, terutama sejak mengetahui kalau putra kecilnya didiaknosa sakit kanker.