
Dijual! Amora benar benar ketakutan mendengar apa yang dikatakan oleh pria tua yang bersama Estela tersebut.
Amora yang tidak tau harus melakukan apa, karena tidak punya kekuatan apapun sekarang dalam kondisi terikat dan lemah, hanya bisa berdoa pada Tuhan semoga saja ada dewa penyelamat yang datang menyelamatkan dirinya dari orang orang ini sekarang.
" Dijual? Kita akan menjual dia Frans?" tanya Estela, dengan raut yang terlihat senang mendengar saran dari pria paruh baya yang berdiri didekatnya tersebut.
" Iya darling. Kalau kita membunuhnya itu akan sangat beresiko kita ditangkap polisi tapi kalau kita menjualnya selain dapat keuntungan kita juga akan aman dari pihak berwajib serta suami brengsek mu itu."
Seringai Estela semakin lebar mendengar apa yang dikatakan Frans, karena dia merasa apa yang dikatakan pria itu sangat masuk akal sekali.
Amora punya wajah yang cantik juga tubuh yang bagus, seorang Damian yang punya sikap dingin saja bisa tertarik bahkan tergila gila pada perempuan itu, apa lagi pria lain diluar sana. Jadi perempuan itu pasti bisa dijual dengan harga yang sangat tinggi nantinya, pikir Estela sangat senang.
" Lalu kita akan menjualnya kemana Frans?" tanya Estela sedikit penasaran, meski fokus utamanya sebenarnya jumlah yang akan mereka dapat dari menjual Amora nantinya.
" Ke sebuah club, yang akan membayar kita dengan mahal darling dan aku sudah menemukan tempatnya, jadi sebaiknya kita..."
Brak!
Seketika Frans, Estela juga Amora terkejut, ketika mendengar suara pintu kamar tempat mereka berada saat itu didobrak paksa dari luar.
Wajah Estela dan Frans langsung terlihat pucat, ketika melihat siapa yang berjalan masuk dari pintu tersebut.
Dari pintu, terlihat Damian yang diikuti bukan hanya satu atau dua orang pengawal, tapi sekitar 10 orang pengawal yang masuk bersama pria itu kedalam kamar, tempat Estela, Frans serta Amora berada sekarang.
Begitu masuk, tanpa takut atau ragu Damian lalu berjalan mendekat kearah Amora yang terikat dikursi, tanpa mengindahkan keberadaan Estela bersama pria paruh baya disana.
Damian lalu melepaskan semua ikatkan yang mengikat tubuh Amora sendiri dan setelah terlepas, dia langsung membawa tubuh Amora yang babak belur dan lemah, kedalam gendongannya untuk keluar.
__ADS_1
Tapi sebelum dia keluar dari ruangan tersebut dia menatap kearah Estela, serta Frans dengan raut wajah menakutkan yang membuat kedua orang tersebut ketakutan, terutama Estela yang langsung pucat pasi karena takut.
" Habisi mereka," perintah Damian dengan suara sangat dingin, kepada para pengawal yang ikut dia masuk kedalam kamar itu tadi.
Amora mendengar apa yang dikatakan oleh Damian, tapi tidak tau makna dari perintah tersebut, karena sebelum dia sempat melihat apa yang dilakukan oleh anak buah Damian, pria itu sudah membawanya pergi dari sana.
" Kita kemana sekarang Dam?" tanya Nathan, yang sudah siap berada dalam mobil tempat pria itu menyuruh menunggu.
" Kita kerumah sakit sekarang Nath," perintah Damian, masih tidak melepaskan tubuh Amora yang dalam kondisi setengah sadar, akibat semua yang dialaminya, serta apa yang diberikan oleh Estela serta rekannya tadi ketika membawanya kekamar tersebut..
" Rumah sakit mana?" tanya Nathan tidak ingin salah tempat lagi jadi dia sengaja bertanya pada Damian, sebelum melakukan mobil tersebut.
" Rumah sakit yang biasa aku datangi, Nath," jawab Damian, yang diangguki oleh tangan kanan Pria tersebut, dengan mulai melajukan mobil yang dikendarainya menuju rumah sakit yang dimaksud oleh Damian.
Setelah menempuh perjalan panjang lebih dari 1 jam, mereka sampai ditempat yang dituju.
Nathan sengaja memerintahkan dokter dan perawat disana, untuk menyambut kedatangan Damian.
" Mari tuan Damian," ucap dokter jaga tersebut, dengan menyuruh Damian untuk meletakan tubuh Amora yang ternyata pingsan ketika berada didalam mobil sebelum mereka sampai tadi.
" Tolong periksa seluruh tubuhnya, jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun," perintah Damian, pada petugas rumah sakit tersebut dengan keras yang diiyakan oleh mereka.
" Dia pasti akan baik baik saja Dam. Jangan terlalu cemas," hibur Nathan, yang tidak ditanggapi oleh pria itu dan lebih memilih fokus, menunggu dokter serta petugas kesehatan lain, yang sedang memeriksa kondisi Amora sekarang.
Setelah menunggu cukup lama tanpa bergeming ditempatnya, akhirnya dokter yang menangani Amora keluar dari ruangan tersebut lalu mendekat menghampiri Damian, yang masih berdiri yang ditempatnya semula.
" Bagaimana kondisi Amora dokter?" tanya Damian, dengan raut cemas yang terlihat jelas diwajah dingin pria itu.
__ADS_1
" Bisa kita bicara diruangan saya tuan Damian," pinta si dokter, dengan mengajak Damian untuk menuju ruang praktek dokter jaga tersebut.
Damian ingin menolak tapi melihat raut dokter itu yang terlihat menyembunyikan sesuatu, dengan terpaksa Damian mau mengikutinya menuju ruangan yang dimaksud.
" Katakan ada apa dengan Amora sampai anda meminta saya untuk bicara secara pribadi seperti ini?" tanya Damian, langsung kepokok permasalahannya.
" Silahkan duduk tuan Damian," pinta dokter pria tersebut, yang lagi lagi dipatuhi Damian tanpa protes.
" Kondisi nona Amora secara keseluruhan tidak parah, hanya beberapa luka memar dan syok akibat yang baru saja dialaminya tadi, tapi dia akan membaik setelah sadar."
" Kalau tidak ada masalah dengan kondisinya, kenapa anda meminta saya bicara secara pribadi seperti sekarang. Apa ada yang sedang anda sembunyikan dari saya?!" tanya Damian.
Dokter itu menghela nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan Damian.
" Sudah saya bilang sebenarnya kondisi nona Amora tidak ada masalah. Tapi ada yang harus saya sampaikan pada anda berkaitan dengan kondisi tidak biasanya, tuan Damian."
Damian tidak mengatakan apapun, meski dokter tersebut menghentikan ucapannya, mungkin dengan maksud untuk menyuruh dirinya bertanya, tapi dia memilih tidak melakukan itu dan menunggu dokter tersebut melanjutkan ucapannya.
" Ketika diculik sepertinya mereka sudah memberikan obat penenang yang cukup banyak pada nona Amora, agar dia tidak sadarkan diri ketika dibawa. Dalam kondisi biasa, pengaruh obat penenang itu akan hilang setelah beberapa saat atau setelah menerima perawatan, tapi karena sekarang nona Amora sedang dalam kondisi hamil jadi ..."
" Apa! Amora hamil?!"
Damian tidak bisa tidak berteriak terkejut, mendengar apa yang disampaikan dokter tersebut padanya.
" Iiya tuan, saat ini nona Amora sedang hamil 6 Minggu," jawab dokter tersebut dengan raut gugup, ketika melihat ekspresi pria dihadapannya tersebut yang terlihat sangat mengerikan, setelah dia menyampaikan kabar tentang kehamilan dari perempuan yang tadi dibawanya.
Bagaimana tidak mengerikan, kalau ketika mendengar khabar tersebut perasaan Damian menjadi tidak karuan, sampai dia sendiri tidak bisa bagaimana mendeskripsikan perasaannya sekarang. Apakah senang atau sebaliknya mendapatkan Khabar tersebut, karena ini benar benar diluar prediksi dan rencananya.
__ADS_1