
Amora ingin kembali meluapkan emosinya yang masih belum juga tuntas pada Damian, tapi belum sempat dia melakukannya, tiba tiba dokter Peter masuk keruang perawatannya.
Amora sampai terjengkit karena dokter yang selama ini merawat putranya masuk begitu saja, dengan buru buru.
Dokter berusia diawal 40 tahun itu juga terlihat terkejut ketika sudah berada didalam ruangan Amora, ternyata disana ada sosok Damian yang bersama perempuan itu.
" Tuan Damian," sapanya lebih dulu, meski niatnya semula untuk menemui Amora dan bicara dengan perempuan itu.
" Dokter Peter. Ada apa anda datang dengan buru buru seperti ini?" tanya Damian mewakili Amora, sebelum perempuan itu membuka mulutnya untuk bertanya.
" Maaf kalau saya sedikit tidak sopan pada kalian berdua tapi saya harus menyampaikan sesuatu, terutama pada nona Amora berkaitan dengan Chan Medison tuan Damian," terang dokter itu.
Tanpa sadar Amora dan Damian saling pandang dengan perasaan tidak karuan, mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dokter Peter, meski dokter itu belum menyampaikan sesuatu yang buruk pada mereka berdua, tapi insting mereka sebagai orang tua sudah bisa menduga kalau apa yang akan disampaikan oleh dokter spesialis Kanker itu, pasti bukan sesuatu yang baik.
Wajah Amora terlihat berubah pucat, hingga Damian merasa cemas dan langsung memeluk bahu Amora, untuk memberikan ketenangan pada perempuan itu.
" Katakan saja dihadapan saya dokter Peter, karena aku rasa Amora akan merasa lebih baik mendegar berita ini ketika bersama saya, dibandingkan sendiri,"pinta Damian yang tidak ditolak oleh Amora, karena dia rasa kehadiran Damian sekarang benar benar sangat dibutuhkannya.
" Baiklah kalau nona Amora tidak masalah akan saya katakan dihadapan kalian berdua sekarang. Meski ini bukan Khabar baik tapi yakinlah nona Amora ini bukan akhir dari perjuangan anda dan juga Chan selama ini."
Amora mencengkram lengan Damian untuk meminta kekuatan ketika mendengar ucapan dokter Peter,yang dibalas Damian Dnegan mengusap lembut bahu perempuan itu untuk menenangkan.
__ADS_1
" Jangan khawatir ada aku disini my Amor," bisik Damian lirih didekat telinga Amora, yang tanpa sadar dijawab anggukan lemah oleh Amora.
" Katakan dokter, masalah apa itu?Jangan menutupinya," pinta Amora, dengan suara lirih.
Dokter Peter terlihat menghela nafas cukup keras dan raut wajahnya seketika berubah, meski itu tidak lama, karena setelah itu dia kembali menatap kearah Amora juga Damian, untuk menyampaikan khabar yang tadi dibawanya.
" Keluarga pendonor untuk Chan Medison membatalkan kesepakatan mereka," wajah Amora langsung pias mendengar apa yang disampaikan oleh dokter Peter.
" Membatalkan bagaimana maksud anda dokter? Bukankah anda bilang pada saya kalau mereka sudah menerima uang itu dari Amora. Tolong anda jelaskan secara rinci pada kami."perintah Damian terlihat marah pada dokter Peter. Sementara Amora tidak bisa lagi mengatakan apapun lidahnya terasa kelu, pikirannya kosong bahkan tanpa disadarinya keringat dingin mengalir ditubuhnya karena terlalu takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Chan putranya, akibat orang yang sudah berjanji akan mendonorkan sum sum tulang belakangnya ternyata batal.
" Iitu tuan Damian, saya benar benar tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Tapi karena mereka sudah menipu anda nona Amora, anda bisa melaporkan mereka kepolisi dengan tuduhan penipuan."
" Bukan itu masalahnya, karena aku bisa mengurus mereka, tapi masalahnya adalah bagaimana dengan Chan?!"Damian benar benar terbawa emosi meski berusaha terus ditahannya, karena tidak ingin Amora semakin marah padanya sekarang ketika mendengar pendonor Chan sudah menipu mereka.
Karena sejak mengenal Chan Medison yang langsung membuat dirinya sangat tertarik, dia selalu menanyakan apapun mengenai kondisi bocah kecil itu pada dokter Peter yang menanganinya selama ini.
Jadi ketika mendengar ada sum sum tulang belakang yang cocok untuk bocah itu, meski belum tau kalau sebenarnya Chan adalah putranya yang ditinggalkannya ketika masih berada dalam kandungan Amora tanpa sempat diketahuinya, Damian ikut merasa senang sekaligus lega. Bahkan dulu dia sempat berpikir akan menjadikan Chan anak angkat dan membiayai pengobatan serta hidup bocah kecil itu setelah dia nanti sembuh tapi yang terjadi sekarang... semuanya ternyata tidak sesuai harapan. Yang sesuai keinginannya hanya, dia benar benar bisa merawat Chan tanpa perlu mengadopsinya, karena ternyata bocah itu adalah putranya sendiri.
" Iitu....kami akan berusaha lagi mencari pendonor untuk Chan tuan Damian dan saya jamin kali ini kami pasti akan menyelidiki pihak pendonor itu dengan benar, jadi kejadian seperti sekarang tidak mungkin akan terulang lagi."
" Bukan itu masalahnya! Tapi kapan kalian bisa mencarinya. Apa kalian berniat membuat putraku menderita lebih lama lagi dalam ketidak pastian!" bentak Damian tanpa sadar hingga membuat dokter Peter terdiam karena terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Damian.
__ADS_1
" Dam!" tegur Amora karena melihat pria itu sudah tidak bisa mengendalikan emosinya ketika bicara dengan dokter Peter.
" Maaf my Amor, aku terbawa emosi," ucap Damian dengan rasa bersalah.
" Mmaaf tuan Damian kalau saya lancang, tapi apa yang baru saja anda sampaikan itu benar?" tanya dokter Peter, dengan suara terdengar gugup ketika bicara, tapi bukan gugup karena takut melainkan gugup karena senang, kalau barusan dia tidak salah dengar mengenai hubungan Damian dan Chan Medison.
" Yang mana dokter?" tanya Damian, mulai bisa mengendalikan emosinya.
" Kalau anda adalah ayah biologis dari Chan?"
Amora dan Damian langsung saling pandang ketika mendengar pertanyaan dokter Peter.
" Memangnya kenapa kalau aku ayah biologisnya?!" tanya Damian dengan nada suara mulai meninggi karena merasa tersinggung mendengar pertanyaan dari dokter dihadapannya itu.
Bukannya takut atau marah dengan pertanyaan balin Damian, wajah dokter Peter malah terlihat lega karena meski belum mengiyakan, tapi sepertinya yang tadi dikatakan oleh pria itu adalah benar.
" Kalau memang anda ayah biologis dari Chan, sebaiknya anda ikut saya untuk diperiksa sekarang. Mungkin saja sum sum milik anda bisa cocok dengan milik Chan, tuan," terang dokter itu.
Amora dan Damian kembali saling pandang dengan perasaan berbeda dari sebelumnya, karena merasa ada secercah harapan baru bagi putra mereka, meski belum pasti seratus persen tapi mereka berdua tetap merasa senang sekarang.
" Benarkah? Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang," jawab Damian yang diangguki oleh dokter Peter.
__ADS_1
" Baik, mari kita lakukan tuan."
Suasana kamar perawatan yang semula terasa tegang penuh emosi serta kesedihan, langsung berubah terasa lega bagi ketiga orang dewasa yang ada didalam kamar perawatan itu, karena akhir akan ada titik pemecahan untuk masalah Chan Medison tidak lama lagi, itu pikiran mereka.