Pelakor Kesayangan Pria Kejam

Pelakor Kesayangan Pria Kejam
51.Bimbang.


__ADS_3

" My Amor ayo kita bersama lagi seperti dulu, dengan Chan dan juga calon anak kita ini" pinta Damian, dengan menyerusukkan kepalanya keceruk leher Amora untuk menghirup aroma perempuan itu.


Amora tidak menjawab, tapi membelaikan tangannya kehelain rambut hitam tebal milik Damian.


Dia tidak tau bagaimana harus menjawabnya,


Ingin sekali dia bilang iya, tapi entah kenapa dia masih merasa sangat takut.


Damian mungkin akhir akhir ini sudah menunjukan ketulusannya lagi seperti dulu, tapi apakah itu cukup untuk membuat mereka bisa bersama.


Bagaimana kalau perubahan sikapnya ini hanya sesaat, lalu nanti dia berubah lagi ketika tanpa sengaja dia melakukan kesalahan.


Seperti yang dulu terjadi pada mereka, pria itu meninggalkannya hanya karena kesalahpahaman sepihak, tanpa mau bertanya atau mendengarkan dulu penjelasannya, hingga membuat Chan putra pertama mereka yang tidak berdosa terkena imbas dari semu sikap egois pria itu.


Tapi kalau dia bersikeras untuk tidak menerima Damian, apa itu juga yang terbaik? Amora benar berada dititik kebimbangan sekarang.

__ADS_1


" Aku tidak tau Dam," hanya itu kalimat jawaban yang berhasil dipikirkannya sekarang untuk pria itu.


Damian diam lalu mendongak, dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.


" Ternyata aku masih harus berusaha lagi, supaya bisa mendengar kata iya dari mu my Amor."


" Maaf." hanya jawaban singkat itu yang bisa diberikan Amora dengan mata yang terlihat berkaca kaca ketika mengatakannya.


Damian mengulurkan tangannya membelai wajah Amora dengan lembut" Jangan merasa bersalah, sudah kubilang aku menghargai keputusanmu. Mungkin sekarang kau memang belum bisa menerima ku, tapi aku berjanji akan terus berusaha membuktikan padamu sampai akhirnya kau mengatakan iya.Bukan hanya iya masuk ke Apartemen mu, tapi juga iya, untuk mau mengikat janji suci dihadapan Tuhan, my Amor."


Tenggorokan Amora benar benar tercekat mendengar kalimat yang dikatakan Damian, janji suci dihadapan Tuhan. Apa pria itu berniat menikahinya, bukan hanya ingin mengajak dia dan Chan untuk tinggal di Mansionnya, pikir Amora.


" Kali ini aku ingin menghabiskan hidupku bersama mu dan anak anak kita sampai tua my Amor. Tapi kalau kau sudah setuju untuk menikah denganku."


Dalam hati Amora merasa bahagia mendengar rencana yang disampaikan Damian untuk masa depan mereka, tapi lagi lagi dia masih takut untuk mengiyakan nya sekarang. Jadi akhirnya jawaban yang diberikannya pada Damian hanya..

__ADS_1


" Aku masih butuh waktu untuk yakin, kalau kau tidak akan menyakitiku lagi seperti dulu Dam."


Mendengar itu Damian menarik Amora kedalam pelukannya dan membelai lembut punggung perempuan itu.


" Baiklah tidak masalah jangan dipikirkan kita jalani saja pelan pelan, jangan sampai semua itu membuat dirimu merasa tidak nyaman karena itu tidak baik untuk pertumbuhan bayi kita my Amor."


" Iya, Dam."


" Sekarang ayo tidur, besok aku ada rapat pagi jadi kalau ketika kau bangun aku tidak ada jangan terkejut, karena aku harus pulang dari sini pagi pagi sekali."


" Hemm," gumam Amora, dengan mata terpejam.


" Aku akan menemuimu setelah pulang kerja, lalu ayo kita pergi kerumah sakit untuk bertemu Chan dan memeriksakan kehamilannya."


" Hemm..." gumaman Amora semakin pelan, yang menandakan dia sudah hampir masuk kedalam mimpi dan hanya setengah, mendengar perkataan Damian.

__ADS_1


Melihat Amora sudah tertidur, Damian mengecup kening perempuan itu dengan lembut, sebelum ikut memejamkan matanya bersama Amora.


" Mimpi indah my Amor. Aku mencintaimu dan anak anak kita."


__ADS_2