
Entah sudah berapa lama Amora berada dikamar mewah yang berada di Mansion Damian, tapi pria menyebalkan itu belum juga kelihatan batang hidungnya untuk menemui dia.
Amora mulai merasa hilang kesabaran, karena selain menemui Damian, hari ini dia berpikir pergi kerumah sakit untuk bertemu dengan dokter Peter membicarakan tentang masalah pendonor untuk putranya, Chan Medison.
" Brengsek!" gerutu Amora kesal, karena dibiarkan menunggu dalam ketidak pastian seperti sekarang oleh Damian.
" Dia pasti sengaja melakukan ini untuk membalas ku karena aku sudah mengembalikan kartu kredit pemberiannya tadi pagi, kalau tau akan punya masalah rumit begini. Aku pasti tidak akan mengembalikan kartu kreditnya.Hufftt, sial sekali," gerutu Amora, dengan berjalan mondar mandir didalam kamar mewah tersebut.
" Apa kursi di kamarku rasanya tidak nyaman, jadi kau tidak ingin duduk dan lebih suka berdiri dengan hal tinggi yang kau kenakan itu my Amora?!"
Amora sedikit terjengkit, karena tiba tiba mendengar suara Damian sudah berada didalam kamar tempat dia berada sekarang, sementara dia sama sekali tidak mendengar langkah kaki pria itu ketika masuk.
" Kau .."
Tegur Amora dengan menoleh kearah belakang tubuhnya, dimana sosok Damian yang mengenakan kemeja putih dan celana panjang, sedang melangkah kearahnya.
" Kupikir kau akan takut datang menemui ku lagi," ucap Damian mendekat kearah Amora, hingga sekarang pria itu sudah tepat berdiri dihadapan Amora.
" Kenapa aku harus takut padamu. Kurasa kalau kau benar benar berniat menyakitiku, kau sudah melakukannya tadi malam tapi ternyata kau tidak melakukannya bukan? Meski apa yang kau lakukan tetap saja membuat aku merasa marah padamu lagi." Jawab Amora dengan nada suara tidak menutupi kekesalannya, karena apa yang sudah dilakukan oleh Damian tadi malam terhadap dirinya di Bar.
" Kupikir kau tidak keberatan aku melakukan itu. Atau kau kesal karena aku pergi lebih dulu sebelum kau bangun," sindir Damian dengan sengaja.
" Tentu saja tidak!" jawab Amora cepat, untuk menghindar dari kenyataan sebenarnya.
Mendengar ucapan Amora, Damian mencondongkan kepalanya kearah Amora, menelisik wajah cantik perempuan itu dengan tatapan tajamnya.
" Benarkah? Tapi tadi malam aku sudah kasar padamu.Apa kau lupa? " ucap pria itu dengan mengulurkan tangan kearah dagu Amora, untuk memeriksa hasil perbuatan yang dilakukannya pada perempuan cantik dihadapannya tersebut.
Amora berniat menghindar dari sentuhan jemari Damian, tapi pria itu sedang lebih dulu berhasil menahan rahangnya.
" Sedang apa kau?!" tegur Amora ingin menepis tangan Damian, tapi lebih dulu ditahan oleh pria itu.
__ADS_1
"Nanti aku akan berusaha bersikap lembut seperti dulu, kau suka diperlakukan dengan lembut saat kita bercinta bukan my Amor?" ucap Damian dengan membelai bagian dagu Amora yang terlihat ada bekas lebam, meski tidak kentara karena sudah tertutup makeup di wajah cantik tersebut.
Meski tadi malam Damian sempat berbuat kasar padanya, tapi ketika sekarang pria itu membelaikan jemari tangannya ke wajahnya, Amora tetap merasakan rasa berdesir hebat dari sentuhan ringan tersebut.
" Hentikan Damian! Aku kesini bukan untuk membicarakan kesalahan yang sudah kita lakukan tadi malam, tapi aku kesini karena...."
" Kudengar tadi kau bertemu dengan Estela, istriku sebelum kemari.'" potong Damian dengan melepaskan sentuhannya dari wajah Amora, lalu menjauh dengan duduk disofa yang ada diruangan itu.
" Iya," jawab Amora menatap kearah sosok Damian yang kembali bersikap angkuh padanya.
"Apa yang kalian bicarakan? Apa kalian tetap melanjutkan kerjasama gila itu, atau mungkin..." Damian mengedikkan bahu kearah Amora, dengan wajah menghina.
Amora sebenarnya sangat kesal dengan semua yang dilakukan Damian terhadap dirinya, tapi sekarang dia berusaha tidak terbawa emosi, karena dia punya tujuan penting menemui pria ini.
" Dia tetap menyuruhku membantunya meski aku berniat menolaknya," terang Amora tanpa berusaha menutupi.
" Oh...Lalu .."
" Sudah kukatakan aku berniat menolaknya, karena kurasa percuma juga melakukan kerjasama dengan Estela kalau pria yang jadi suaminya adalah kau!"
" Kenapa?" tanya Damian dengan nada suara menyindir, membuat Amora ingin sekali meremas mulut pria itu yang terlihat sangat meremehkan dirinya sekarang.
" Jangan pura pura tidak tau Dam!" bentak Amora tidak bisa lagi menahan kesal, karena terus disepelekan oleh pria tersebut.
" Baiklah, kalau kau tidak suka kita bicara berbelit belit seperti sekarang. Karena sebenarnya aku juga tidak suka. Aku lebih suka kita langsung saja ke tujuannya."
" Aku juga suka seperti itu," balas Amora, yang tanpa sadar ikut duduk disofa bersama Damian, karena berpikir kalau sekarang pria itu akan mengajaknya bicara secara serius, tidak seperti sebelumnya.
" Jadi....Apa tujuan mu menyuruhku datang keistanamu ini?" tanya Amora, dengan menatap kesekeliling kamar tempat mereka berada sekarang.
" Tentu saja karena aku menginginkan mu lagi."
__ADS_1
Lidah Amora langsung terasa kelu, bola matanya membulat sempurna mendengar kata kata yang diucapkan Damian.
" Dam, jangan bercanda. Kita ini bukan lagi anak yang beranjak dewasa seperti dulu.Ingat statusmu dan juga..."
" Kalau begitu katakan apa tujuanmu bersedia datang menemuiku sekarang?" potong Damian.
Amora terdiam sesaat, dia ragu ingin mengatakan apa niatnya datang kesini, karena dia merasa apapun yang dikatakannya nanti semua akan percuma.
" Aku...." Amora menghela nafas sebelum mulai bicara lagi.
" Aku ingin meminjam uang padamu,"ucapnya dengan wajah tertunduk, ketika selesai mengatakan niatnya.
" Berapa?" balas Damian cepat, yang seketika membuat Amora merasa punya harapan terhadap pria dihadapannya sekarang.
" 1 juta dolar, tolong pinjamkan aku sejumlah itu."Jawabnya dengan nada suara penuh harap Damian bersedia memberikan nya.
" 1 juta dolar, bukankah itu jumlah yang kau sepakati bersama Estela?" tanya Damian, yang dijawab anggukan oleh Amora.
" Ya, itu benar tapi tiba tiba saja istrimu bilang dia tidak bisa membayar aku, karena ..."
" Baik akan aku Berikan," potong Damian tiba tiba.
Mendengar jawaban Damian, Amora seperti mendapat durian runtuh, dalam hati dia mengucap syukur dan berhenti mengutuk sosok Damian, lalu mulai beralih memujinya, meski hanya sesaat.
Karena rasa syukur dan pujiannya untuk sosok pria yang sedang duduk gagah dihadapan dia sekarang itu, langsung berubah kembali menjadi makian dan sumpah serapah, ketika pria tersebut mengatakan syarat agar dia bisa mendapatkan pinjamannya.
" Tapi ada syaratnya. Apa kau setuju melakukannya?" tanya Damian menatap kearah Amora, yang sudah terlihat gembira ketika dia bilang bersedia meminjamkan jumlah yang dikatakan oleh perempuan dihadapannya ini.
" Syarat? Apa syaratnya? Katakan."pinta Amora tidak sabar.
Dia ingin segera menerima jumlah uang yang dibutuhkannya itu, agar dia bisa segera pergi kerumah sakit untuk menemui dokter Peter, agar dokter yang merawat Chan itu bisa segera menghubungi pendonor bagi putranya, supaya Chan Medison bisa segera dioperasi.
__ADS_1