Pelakor Kesayangan Pria Kejam

Pelakor Kesayangan Pria Kejam
36. Damian Kerumah sakit.


__ADS_3

" Sebaiknya kau pergi kedokter hari ini Nathan, kurasa bagian saraf di otak mu sedang bermasalah," celetuk Damian, menatap kearah pria yang merupakan tangan kanannya tersebut dengan alis terangkat.


Kali ini Nathan yang balik mengernyitkan dahi mendengar perintah dari Damian. Dan tanpa sadar dia memegang kepalanya, untuk memeriksa apakah bagian otaknya bermasalah seperti apa yang dikatakan Damian barusan atau tidak.


" Sepertinya aku baik baik saja," balasnya masih dengan wajah terlihat bingung.


 Damian hanya mengedikkan bahu kearah pria dihadapannya tersebut, karena melihat sikap Nathan yang terlihat semakin tidak jelas.


" Keluarlah lakukan pekerjaan mu, aku menggajih mu bukan untuk duduk dan mengkritik apa yang aku lakukan!"


Damian mengibaskan tangannya, sebagai tanda menyuruh Nathan keluar dari ruang kerjanya, karena keberadaan pria itu disana hanya membuat dia yang sedang sibuk bekerja menjadi terganggu.


" Baik Dam, aku keluar sekarang."


Setelah mengatakan hal itu Nathan bangkit dari duduknya dihadapan Damian lalu berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan kerja tersebut.


Tapi sebelum dia benar benar keluar, Damian bicara dengannya dari meja tempat pria itu duduk.


" Sore nanti aku akan pergi kerumah sakit, untuk pertemuan dan pekerjaan yang belum selesai kau gantikan aku melakukannya. Jangan protes!" tegas Damian, karena tau pria yang merupakan tangan kanannya tersebut pasti ingin menyuarakan protes penolakan, seperti biasa.


" Baiklah, akan aku lakukan. Tapi untuk apa kau kerumah sakit? Apa untuk memeriksa kan kondisi mu atau si per...maksudku Amora Medison," rapat Nathan karena hampir saja kembali memanggil perempuan yang sedang membuat bosnya jungkir balik itu Dnegan sebutan perempuan itu. Untung saja dia langsung ingat dengan larangan Damian, kalau tidak, Nathan yakin dia akan kena masalah sekarang.


" Bukan. Aku ingin kerumah sakit untuk menemui anak kecil itu," jawab Damian, yang langsung membuat Nathan tidak mengatakan apa apa lagi dan langsung mengiyakan perintah yang tadi sudah dikatakan Damian.

__ADS_1


" Baik,Dam," lalu Nathan benar benar pergi dari ruang kerja Damian untuk melakukan pekerjaannya, begitu pula Damian, dia kembali bekerja agar semua yang harus dikerjakannya sekarang bisa cepat selesai. Karena seperti yang dikatakannya pada Nathan tadi, sore nanti dia berencana pergi kerumah sakit untuk mengunjungi seorang bocah laki laki kecil, berusia sekitar 5 tahun yang didiagnosa mengidap kanker Leukimia oleh dokter.


Sorenya sekitar pukul 5 Damian sudah berada didalam mobilnya. Kali ini dia pergi sendiri kesana tanpa supir. Alasannya dia tidak ingin ada orang yang tau kemana tujuannya kecuali orang yang paling dipercaya dia yaitu Nathan. Meski Nathan tau kemana Damian pergi, pria itu tidak pernah mengajak Nathan untuk ikut mengunjungi bocah laki-laki itu.


Alasannya, tentu saja ada sesuatu yang tidak ingin dia beritahukan pada sang tangan kanan tersebut, berkaitan dengan bocah kecil yang sering ditemuinya itu.


 Dan untuk urusan yang ini Nathan juga tidak banyak bertanya padanya, karena meski bukan untuk masalah pekerjaan tapi ini demi sebuah rasa kemanusiaan, mungkin itu yang ada dipikiran Nathan ketika dia selalu diam, setiap kali Damian bilang akan pergi kerumah sakit menemui bocah laki-laki kecil tersebut.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih 1 jam Damian tiba dirumah sakit yang dituju.


Begitu turun dari mobil dengan membawa sebuah bingkisan, berisi mainan yang akan diberikan pada bocah kecil yang akan ditemuinya nanti, Damian lebih dulu berjalan menuju ruangan dokter Peter. Dokter spesialis Kanker yang merawat bocah laki laki kecil tersebut, selain itu dokter Peter adalah orang pertama yang mempertemukannya dengan bocah kecil itu, ketika dia sedang melakukan kunjungan sosial dirumah sakit ini 6 bulan lalu.


Sejak pertemuan pertamanya dengan bocah laki-laki kecil bertubuh kurus dan wajah pucat karena tubuhnya digerogoti oleh penyakit kanker yang dideritanya, Damian langsung punya perasaan istimewa terhadap bocah laki-laki bernama Chan tersebut.


" Tuan Damian Bernadez."


Seketika Damian sadar dari ingatan masalalunya barusan, ketika mendengar namanya dipanggil, oleh seseorang yang berjalan di koridor rumah sakit tersebut.


" Dokter Peter," balas Damian, dengan tersenyum ramah pada pria yang punya usia lebih tua beberapa tahun dari dirinya.


" Anda kemari tanpa memberi tau kami, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Dokter Peter terlihat waspada.


Damian buru buru menggeleng agar raut khawatir diwajah dokter Peter menghilang.

__ADS_1


" Tidak, saya hanya kebetulan senggang dan ingin mampir untuk bertemu dengan Chan, apa bisa dokter?" pinta Damian.


 Mendengar tujuan kedatangan Damian untuk mengunjungi Chan Medison, raut wajah dokter Peter langsung berubah lega.


" Saya rasa bisa, kebetulan hari ini kondisi bocah laki-laki itu cukup baik. Jadi kalau anda ingin bertemu dengannya biar saya antar kesana. Chan pasti sangat senang kalau melihat anda datang," terang dokter Peter, dengan mengajak Damian berjalan bersama menuju keruang perawatan, tempat dimana Chan Medison bocah laki-laki kecil yang ingin ditemui Damian, sekarang berada.


Mereka berjalan menyusuri koridor sambil sesekali ngobrol, karena Damian penasaran dengan perkembangan kondisi bocah kecil tersebut.


" Bagaimana kondisi Chan sekarang dokter? Apa belum ada titik terang untuk sembuh dari penyakitnya?" tanya Damian, dengan suara yang terdengar berharap.


" Syukurnya sudah ada tuan Damian, beberapa waktu lalu kami berhasil menemukan pendonor yang cocok untuknya dan dalam waktu dekat ini, mungkin dia akan segera dioperasi," balas Dokter Peter.


Mendengar hal itu raut wajah Damian seketika terlihat senang.


" Benarkah, jadi ada kemungkinan dia akan segera sembuh Dok?!" tanya Damian dengan antusias.


Dokter Peter mengangguk " Iya, saya harap begitu, meski...." dokter Peter terdiam sesaat membuat Damian secara tidak sengaja menghentikan langkahnya yang diikuti oleh dokter Peter juga.


" Apa ada masalah lain lagi. Bukankah anda bilang sudah ada pendonor yang cocok untuk bocah kecil itu lalu apa masalahnya dokter?" tanya Damian dengan nada suara cemas yang terdengar jelas ditelinga dokter Peter.


Dokter Peter menatap kearah pria tampan dan gagah dihadapannya itu ,dengan banyak tanda tanya dikepalanya yang tidak berani diungkapkan.


Sejujurnya dia merasa sedikit aneh dan heran, melihat kedekatan antara pria muda kaya raya ini dengan pasien kecilnya. Terlalu banyak keanehan dan kebetulan yang menjadi tanda tanya dikepala dokter Peter terhadap sikap baik dan perduli pria dihadapannya ini untuk pasien kanker kecilnya, tapi kalau ingin bertanya dia belum Berani, jadi sejauh ini dia hanya mengamati interaksi mereka berdua yang sangat dekat tersebut,dengan harapan semua demi kebaikan Chan Medison.

__ADS_1


__ADS_2