
Amora berjalan keluar dari hotel sekaligus Club malam, menuju mobil miliknya.
Setelah apa yang terjadi antara dia dan Damian Bernandez tadi malam, dia berniat akan bertemu dengan Estela, istri pria itu yang juga merupakan kliennya, yntuk mengatakan tentang pembatalan kerjasama mereka, serta mengembalikan jumlah uang yang sudah sempat dibayarkan perempuan tersebut pada dia sebelumnya.
Untuk alasannya, dia akan mengatakan kalau dirinya tidak sanggup melakukannya pekerjaan itu pikirnya.
Sementara untuk masalah uang yang dibutuhkan Chan, putranya. Dia akan memikirkan lagi nanti, yang pasti Amora akan tetap berusaha untuk mencari sisa uang yang dibutuhkan sebagai pembayaran biaya transplantasi, bagi Chan.
Sekarang yang penting dia harus pulang, lalu pergi kekantor polisi untuk menyerahkan Black Card milik Damian pada petugas polisi. Biar mereka saja yang mengembalikan benda itu pada Damian Bernandez, agar dia tidak perlu lagi bertemu sosoknya lagi setelah hari ini.
Ya,Amora memang sudah bertekad kalau tidak akan menggunakan Black Card yang tadi ditinggalkan oleh Damian, ketika pria itu meninggalkannya sendiri dikamar hotel begitu saja, setelah mereka berbagi malam panas bersama.
Alasannya tentu saja banyak, salah satunya apa yang terjadi dengan mereka tadi malam, adalah sebuah kesalahan.
Itu benar, Amora sadar dia sudah sangat terbawa perasaan tadi malam dan sempat melupakan, kalau sekarang mereka berdua bukan lagi pasangan, melainkan orang asing.
Sosok Tristan Daniel tidak ada lagi, pria itu sudah pergi meninggalkannya. Sementara pria yang tadi malam itu, dia adalah Damian Bernadez, seorang pengusaha sukses yang sudah menikah dengan Estela sekarang.
Jadi, kesalahan yang dilakukannya cukup hanya sekali, tidak tapi cukup dua kali dengan tadi malam bersama pria yang sama. Seterusnya, dia tetap harus menganggap sosok Tristan benar benar sudah tidak ada lagi didunia ini.
Dia hanya berdua saja dengan Chan Medison, tanpa Tristan apalagi Damian Bernadez.
***
" Amora!"
Amora meringis, sebagai tanda bersalah dihadapan Rosaline yang menyambutnya dengan ekspresi marah, serta cemas begitu dia berjalan masuk kedalam Apartemen yang ditempatinya bersama perempuan itu.
" Sorry Ros."
__ADS_1
Hanya itu yang bisa dikatakannya, karena meski merasa bersalah sudah tidak pulang tadi malam tanpa memberitau pada sahabat baiknya itu,Amora tidak bisa menceritakan apa yang sudah dilakukannya, atau dengan siapa dia sudah pergi tadi malam.
" Sorry?! Kau harus menjelaskannya padaku my Amor!" perintah Rosaline, masih dengan wajah kesal.
Amora langsung menggeleng pada Rosaline " No, tidak sekarang. Karena setelah ini aku harus pergi lagi," tolaknya, dengan melangkah masuk menuju kamar tidurnya, dengan diikuti Rosaline dari belakang.
" Kemana? Apa kau akan pergi kerumah sakit?" tanya Rosaline yang dijawab gelengan oleh Amora.
" Belum, aku akan membereskan pekerjaan ku dulu dengan klienku ini, baru setelah itu aku akan pergi kerumah sakit untuk bertemu dokter Peter, Ros," terang Amora, dengan melepas pakaian yang dipakainya sekarang. Dan berniat berganti baju, dengan yang akan dikenakannya untuk pergi keluar, dengan melupakan kondisi tubuhnya yang terdapat banyak bekas kecupan dari Damian tadi malam.
Rosaline yang masih berada dibelakang Amora, bisa melihat dengan jelas semua bekas kecupan, sisa perbuatan Damian tersebut dari kaca besar yang ada dihadapan Amora.
Dan sebagai perempuan dewasa dia tidak bodoh untuk tau, warna merah keunguan apa yang bertebaran ditubuh Amora sekarang.
" Amora, kau ...tadi malam..."
" Ini, tidak seperti yang kau pikirkan Ros, meski aku tidak bisa mengatakannya sekarang," terang Amora, dengan melirik kearah teman dekatnya tersebut, yang tidak lagi meneruskan ucapannya barusan tentang kondisi dirinya sekarang.
" Baiklah, aku mengerti my Amor. Kita ini perempuan dewasa, jadi wajar kalau sesekali ingin bersenang senang dengan seseorang bukan? Apalagi kalau kita bertemu dengan seorang pria tampan yang menarik. Itu seperti sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Jangan merasa bersalah seperti itu, karena sudah bersenang senang.Ingat kau masih muda dan cantik. Rasanya sayang kalau semua pesona yang kau miliki itu hanya kau sia siakan. " sindir Rosaline pura pura tidak perduli kearah Amora.
Amora yang tau makna ucapan Rosaline, memilih diam, tidak mengatakan apapun.
Karena sanggahan dan penjelasannya dihadapan sahabatnya itu, juga percuma.Perempuan berambut coklat ikal itu terlalu mengenal dirinya, jadi kalau dia bilang melakukannya karena tidak sengaja, Rosaline pasti tidak percaya.
Yang terpenting sekarang, Rosaline tidak bertanya siapa pria yang sudah bersamanya tadi malam, itu saja.
" Ya, kau benar Ros."
Amora rasa jawaban itu lebih bisa dipercaya oleh Rosaline, dibandingkan penjelasan panjang lebar yang hanya akan membuat perempuan satu itu, semakin curiga padanya.
__ADS_1
" Kalau kau pergi kerumah sakit, titip salam untuk Chan," ucapnya lalu keluar dari kamar Amora, karena apa yang dilihatnya ditubuh Amora tadi sudah membuat dia tau alasan kenapa perempuan itu tidak pulang tadi malam.Untuk siapa pria yang sudah bersama Amora, Rosaline berusaha menahan diri supaya tidak terus bertanya, meski sejujurnya dia sangat penasaran siapa pria yang akhirnya bisa membuat perempuan cantik yang selama ini selalu bersikap dingin itu luluh.
" Akan aku sampaikan nanti Ros," balas Amora dengan tetap bersiap dan setelah dia siap Amora lalu keluar lagi dari Apartemen.
Tujuan dia keluar hari ini yang pertama adalah kekantor polisi, baru setelah itu menghubungi Estela, lalu selanjutnya baru kerumah sakit menemui dokter Peter dan juga Chan, putranya.
Begitu tiba dikantor polisi Amora langsung menyerahkan Black Card Damian, kebagian pelaporan barang ditemukan.
" Dimana anda menemukan benda ini nona..."
" Saya Amora Medison dan saya menemukan kartu ini di Club Atlantis, Sir."
Petugas yang mendengar penjelasan Amora lalu menatap kearahnya dengan tatapan penuh selidik.
Amora sadar, kalau dia melakukan ini para petugas polisi pasti akan menatap dirinya penuh curiga, tapi dia tidak perduli. Tatapan atau apa yang mereka pikirkan tentang dia tidak penting, karena menjauh dari sosok Tristan yang sudah berubah menjadi Damian adalah segalanya sekarang.
" Anda....bekerja disana?" tanya petugas polisi itu penuh selidik.
" Bisa dibilang begitu, Sir."
Petugas yang sedang menatap kearah Amora terlihat mengeryitkan keningnya, sepertinya dia menduga kalau Amora bekerja diClub bergengsi tersebut pasti sebagai perempuan bayaran.
Amora tetap berekspresi tenang dihadapan petugas tersebut, sekali lagi tidak perduli dengan anggapan yang disematkan untuknya oleh petugas itu, karena sejujurnya pekerjaan yang dilakukannya sekarang juga tidak beda jauh seperti itu.
" Baiklah terimakasih laporan anda nona Amora, nanti petugas kami yang akan menghubungi pihak pemilik kartu ini dengan mengatakan kalau seseorang sudah menemukan kartu kredit miliknya yang hilang."
" Ya, Sir.Kalay begitu saya permisi karena sekarang saya punya janji lain dengan seseorang yang penting."
Petugas tersebut tidak menghalangi kepergian Amora, pria berusia diatas 40 tahun dengan seragam polisi itu, hanya menatap dalam diam sosok Amora ketika keluar dari ruangannya.
__ADS_1