Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Ria, hilang 2.


__ADS_3

"Kita pasti akan langsung menelpon polisi jika, Ria, sudah menghilang selama 24 jam. Kita tidak bisa bertindak gegabah, bisa jadi Ria masih ada di sini. Arka yakin ini pasti karena kami kelelahan makanya kami tidak menemukan Ria.Ibu tenang ya."


"Tolong cari, Ria, sampai ketemu ya, Arka."


"Pasti, Bu."


"Astaga, Ibu lupa." menepuk dahinya.


"Ada apa, Bu?"


"Ibu lupa menjaga, Erika."


"Yaudah nggak papa, Buk. Ayo kita kembali ke kamar rawat, Erika lagi. Kami juga akan melanjutkan pencarian lagi nanti sesudah istirahat sejenak dan juga makan siang sejenak."


"Ayo."


Setelah mengucapkan hal tersebut mereka pun kembali lagi ke lantai 3 menggunakan lift.


Arka dan Bu Rahma langsung memasuki kamar Erika. Begitu mereka masuk, terlihat Erika masih terlelap dalam tidurnya.


Arka mendekati Erika lalu duduk disamping Erika sambil mengelus sayang rambut Erika dengan lembut.


"Maafkan, Aku, ya, Sayang. Aku janji bakal nemuin, Erika, secepatnya."


"Eunghhh.." lenguh Erika.


"Kamu sudah bangun, Sayang?"


"Emm.." menganggukkan kepala nya.


"Ada apa?" tanya Erika.


"Ada apa, maksudnya?"


"Kalian kenapa? Seperti nya menyembunyikan sesuatu dariku." seolah meminta penjelasan.


"Emm....Ria," ucap Arka ragu.


"Ria, kenapa?" tanya Erika penasaran.


Arka memandang Bu Rahma seolah meminta persetujuan. Bu Rahma hanya mengangguk dan seolah meminta Arka untuk jujur kepada Erika.


"Ria, Dia menghilang." langsung menundukkan kepalanya kebawah


"Apa?!!" kaget Erika.


"Bagaimana bisa?" tanya Erika lagi.


"Setelah kejadian tadi, kami kira dia pergi untuk menenangkan diri sesaat. Tapi, karena, Ria, tidak kembali kami mencoba mencari nya lagi. Dengan sangat disayang kan, kami sudah mencari, Ria, keseluruh rumah sakit namun kami tak menemukan nya."


"Lalu? Kamu nggak cari, Ria, lagi? Kamu gimana sih? Udah tau Erika itu lagi sakit kok nggak di cari lagi sih?" kesal Erika melihat Arka yang masih ada di kamar rawat nya.


"Erika, Arka, lagi istirahat, Sayang. Nanti pasti langsung cari, Ria, lagi kok. Sabar ya," bujuk Bu Rahma mencoba menenangkan Erika.


"Awas nggak ketemu ya." menatap Arka dengan wajahnya kesal.


"Iya," jawab Arka dengan cepat dan mengangguk.


❤❤❤


Di kediaman Rendi.

__ADS_1


Setelah sampai di kediamannya, Rendi segera membukakan pintu untuk Ria.


"Ayo silahkan masuk princess kecil," sambil membukakan pintu mobil untuk Ria.


"Terimakasih kak Rendi," jawabnya sambil tersenyum.


"Sama-sama. Ayo masuk ke rumah kakak," ajak Rendi langsung meraih tangan Ria.


"Emm.." angguk Ria.


Krekk...


Rendi segera membuka pintu rumahnya. Ria langsung terpukau melihat dalam rumah Rendi. Ria terdiam sambil memperhatikan setiap inci dalam rumah Rendi.


"Kak, ini rumah kakak?"


"Iya." angguk Rendi.


"Kakak tinggal sama siapa?"


"Keluarga kakak, cuma mereka lagi ada diluar negri sekarang. Ngurusin perusahaan di Belanda," jawab Rendi.


"Oh, lalu sekarang? Apa kakak tinggal sendiri disini?" tanya Ria penasaran


"Nggak kok, disini ada, Bibi, tukang kebun, dan juga beberapa satpam sama supir prbadi."


"Emm.. Kakak nggak sepi gitu?" Penasaran Ria sambil melirik ke Rendi.


"Sepi sih, makanya kakak ngajakin kamu kesini buat nemenin kakak." berjongkok didepan Ria.


"Emm, oke deh."


"Tapi kak, Ria tidur nya di kamar mana?" tanya Ria bingung melihat banyak nya kamar yang ada di rumah Rendi.


"Kamar yang bersebelahan sama, Kak, Rendi, aja. Jadi kalau ada apa-apa, Ria, bisa panggil kakak nanti," ucap Ria polos sambil tersenyum menampilkan giginya yang tertata rapi.


"Boleh, ayo ikut kakak." mengajak Ria mengikuti nya sambil mengulurkan tangan nya.


"Emm.." membalas uluran tangan Rendi dan mengikuti Rendi yang mulai menaiki tangga satu persatu.


"Kita sampai." ucap Rendi setelah sampai di lantai atas.


"Kakak,Tidur dikamar mana?" tanya Ria yang bingung melihat 5 kamar yang berjejer rapi didepan matanya.


"Kakak di kamar paling ujung." menunjuk kamar yang ada di paling ujung sudut lantai dua.


"Em, kalau begitu Ria mau kamar disamping kamar kakak ya," pinta Ria.


"Siapp, kalau begitu ayo." menarik tangan Ria menuju kamar yang berada di samping kamar Rendi.


"Ini kamar kamu ya,sekarang kamu mandi bersihin badan terus turun ke bawah kita makan siang sama-sama ya."


"Siap kak, Ria mandi dulu." menutup pintu kamarnya.


Rendi segera turun ke bawah menuju meja makan.


"Bi, siapain makan siang ya," ucap Rendi kepada salah satu asisten rumah tangganya.


"Baik den," jawab ibu paruh baya tersebut.


Setelah mengucapkan hal tersebut, Rendi pun langsung berjalan menuju ruang tengah. Setelah sampai di ruang tengah Rendi langsung merebahkan badannya di sofa dan membuka ponselnya menghubungi seseorang.

__ADS_1


Rendi membuka ponselnya dan mulai menekan salah satu nomor yang ada diponsel nya. Lalu menempelkan ponsel pada telinganya.


Drettt... Drett..


Merasa ponselnya bergetar, perempuan paruh baya tersebut pun mengambil ponselnya. Setelah melihat siapa yang menelpon perempuan itu pun langsung menggeser tombol untuk menjawab dan menempelkan ponsel pada telinga nya.


"Halo, ada apa?" tanya perempuan paruh baya tersebut dengan nada agak judes.


"Ma, kapan kalian pulang?" tanya Rendi hati-hati takut mengganggu ibunya.


"Entahlah, mungkin beberapa hari lagi. Memangnya ada apa?" dengan nada judes.


"Tidak ada, Rendi hanya merasa kesepian disini sendiri," ucap Rendi senduh.


"Sudahlah, Rendi, kamu jangan manja. Mama dan Papa disini juga demi kebaikan kamu."


"Tapi, Ma, Rendi cuma mau minta kalian buat pulang beberapa hari aja. Rendi kesepian tidak ada kalian."


"Sudah lah, Rendi, kami sedang mengadakan proyek besar disini. Lagian kamu, Mama sama Papa sudah minta buat ngurusin perusahaan kamu nggak mau. Malah mau kerja di restoran kecil, itu semua kan keputusan kamu. Kalau kamu mau ngurusin perusahaan di Belanda pasti ini akan jadi lebih mudah."


"Tapi, Ma, Papa kan punya orang kepercayaan. Lagian Rendi rasa asisten, Papa, paman Andi pasti bisa mengurus semuanya sendiri. Kenapa kalian malah repot-repot turun tangan."


"Rendi, sudahlah. Mama sama Papa mau meeting dulu. Jangan ganggu kami dulu." pinta mamanya dengan tegas.


"Baiklah, Ma."


Dengan nada senduh, Rendi langsung menutup ponselnya dan mencoba untuk menutup matanya menghilang kan segala kesal, sedih, dan juga kecewanya terhadap sikap kedua orang tuanya.


"Hah, Keluarga yang menyedihkan." Sembari meneteskan air mata kecewa nya.


"Kak Rendi..." pekik Ria dari atas.


"Hai, udah mandi?" tanya Rendi sembari menghapus air matanya yang tersisa di pelupuk matanya.


"Udah kak, Kak Rendi, kenapa?"


"Ha? Kenapa apa? Kakak nggak kenapa-napa kok." mencoba meyakinkan Ria.


"Beneran?" tanya Ria memastikan.


"Iya, beneran. Yaudah yuk kita makan siang dulu." ajak Rendi.


"Emm... Ayo."


Rendi pun segera menarik tangan Ria menuju ke meja makan. Di meja makan sudah terlihat sekali banyak makanan yang tersaji. Ria sampai di buat terdiam melihat meja makan yang begitu padat dengan lauk pauk yang sudah disediakan.


"Banyak banget kak makanan nya. Siapa yang mau habisin ini?" tanya Ria polos.


"Ya, Ria lah yang habiskan siapa lagi," jawab Rendi yang diiringi dengan senyum jahil.


"Ihh.. Kakak, Ria tuh masih kecil, Ria nggak mau makan banyak-banyak nanti gendut loh. Lagian perut Ria juga nggak bakalan muat buat makan semuanya."


"Iya iya Ria, kakak sengaja minta mereka masak semua makanan yang enak karena kakak nggak tau, Ria sukanya makan apa," jawab Rendi sambil cengegesan.


"Haiss.. Nggak papa lah. Kalau kakak ngebolehin nanti makanan yang nggak habisnya kita antar ke panti aja kak atau orang-orang yang lebih memerlukan." saran Ria dengan tegas.


"Iya, nanti kita sumbang kan untuk orang lain ya kalau nggak habis. Tapi, Ria harus makan yang banyak. Oke," sambil mengangkat jari kelingking nya.


"Oke," jawab Ria


🌼Bersambung 🌼

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, vote dan rate ⭐ 5 nya. Saya juga membutuhkan kritik dan saran, semoga suka🙇🙇.


Happy Reading 😊😊


__ADS_2