
"Sudah, tidak apa-apa, kamu melakukan ini juga untuk, Yuna, jadi papa rasa, Yuna, juga pas akan mengerti."
"Iya, Pa."
Sudah 3 jam berlalu namun belum juga ada tanda-tanda suara tangisan bayi. Leon masih saja mondar-mandir di balik pintu operasi berharap mendapat kabar yang baik dari operasi ini. Hingga,
"Oekkkk....."
"Oekkk......"
"Oekkkk..."
Suara tangisan bayi itu menggema dari salam ruangan operasi. Leon yang kala itu merasa senang sekaligus tak percaya langsung menjatuhkan badannya ke lantai sambil menitikkan air mata bahagia nya.
"Selamat ya, Nak, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah," ucap Ayah mertuanya.
"Iya, Ayah, terimakasih. Ini juga karena Yuna, Yuna istriku." Leon menitikkan air mata bahagia nya sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Sudah jangan menangis, Yuna sudah melaksanakan kewajiban nya sebagai istri dengan baik. Sekarang kamu harus melaksanakan tugas kamu sebagai suami membahagiakan, Yuna, dan anak kalian sampai dia besar. Didik lah dia menjadi anak yang baik seperti kami mendidik kamu menjadi anak yang baik sampai sekarang. Kamu harus berjanji pada Ibu kamu tidak akan pernah menyakiti Yuna," pesan Ibu Leon pada Leon.
"Iya, Bu, Leon, berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk, Yuna, dan anak kami. Leon berjanji."
Pintu ruangan operasi terbuka, nampak lah seorang dokter cantik yang masih di balut dengan baju operasi dan juga masker itu keluar dari dalam.
Melihat dokter cantik itu keluar, Leon segera mendekat.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Leo.
"Operasi nya berjalan lancar, anak anda juga lahir dengan selamat tapi anak Anda akan kami bawa ke ruangan khusus bayi dulu karena lahir terlalu cepat sebelum waktu nya. Anak anda akan kami masukkan ke inkubator dulu beberapa hari agar pertumbuhan nya lebih baik lagi."
"Baiklah dokter, tidak apa-apa, kami akan mempercayakan semua nya pada dokter." Mama Yuna ikut bersuara.
"Lalu, bagaimana istri saya?"
"Istri anda sedang dalam tahap pemulihan, dalam beberapa hari ini mungkin dia akan mengalami koma tapi kami juga tidak bisa memperkirakan kapan pasti nya dia akan sadar karena itu semua tergantung dari dirinya sendiri. Istri anda juga mengalami pendarahan yang lumayan hebat, kami juga sudah memenerinya transfusi darah agar dia tidak terlalu lemah."
"Apa saya boleh melihat nya?"
"Boleh, tapi kami akan memindah kan istri anda ke kamar rawat dulu."
"Baiklah."
Mendapat persetujuan dari suami pasien, Dokter cantik itu dan juga beberapa tenaga medis lainnya yang membantu operasi Yuna langsung membawa Yuna menuju ke kamar rawat biasa.
Kamar Mawar No. 02
Setelah sampai di kamar rawat nya Yuna di pindahkan dengan perlahan, tak lupa juga kantong yang berisi darah segar itu langsung di letakkan dokter di gagang besi peyangga. Tak lupa jua alat bantu pernapasan juga dokter pasangkan di hidung Yuna agar tidak kehabisan oksigen.
Setelah selesai dengan kegiatan nya dokter cantik itu pun akhirnya berpamitan kepada semua yang ada di sana karena masih banyak yang perlu di lakukan nya.
"Kala begitu saya permisi dulu, kalau kalian butuh apa-apa jangan sungkan untuk menemui saya." saran dokter itu.
"Baik, dokter, terimakasih atas bantuan nya," ucap Ibu Yuna.
"Sama-sama, Bu."
"Ma, Pa, boleh tinggalin Leon sendiri di sini? Leon mau berdua saja bersama, Yuna," pinta Leon.
"Baiklah, Nak, kami juga akan melihat cucu laki-laki kami di ruangan bayi dulu."
"Semangat ya, Nak," ucap ayah mertuanya.
__ADS_1
"Iya, Ayah, terimakasih."
Akhirnya, orang tua Yuna dan juga Leon pun meninggalkan kamar rawat Yuna karena permintaan dari Leon.
Setelah mereka keluar, Leon segera memperhatikan Yuna yang nampak begitu pucat. Mengambil tangan Yuna dan mengusap nya dengan lembut.
"Yuna, Sayang, makasih karena sudah memberikan aku hadiah terindah. Aku berjanji akan selalu menjaga kamu dan anak kita, aku berjanji akan selalu menjdi suami yang baik untukmu tapi aku mohon bangun, Sayang, hatiku hancur melihat kamu seperti ini, aku mohon bangun."
1 minggu kemudian, Leon masih setia menunggu Yuna sadar. Pagi itu, Yuna mulai menggerakkan tangan nya perlahan, Leon yang melihat hal itu langsung terbangun dari tidur nya dan berlari menuju tempat suster berjaga.
Setelah memanggil suster,suster pun segera memeriksa keadaan Yuna dan memberikan sedikit vitamin pada Yuna.
"Keadaan nya sudah mulai membaik tapi saya minta jangan biarkan dia terlalu banyak pikiran."
"Baik, sus."
"Leon.." panggil Yuna lirih.
"Iya, Sayang."
"Anak kita?"
"Dia ada, Sayang, dia sehat. Kamu tenang aja."
"Aku mau liat dia, Leon."
"Nanti ya, kita liat dia sama-sama. Sekarang kamu makan dulu, ya."
"Emm.."
Di saat tengah asik menyuapi sangat istri tiba-tiba saja pintu kamar rawat Yuna di buka dengan kasar dari luar.
BRAKKKK..
"Susan, kenapa kamu di sini?"
"Kamu harus bertanggung jawab padaku, aku hamil."
"Apa maksud mu? Jangan gila wanita j*lang, aku tidak pernah menyentuh mu bagaimana bisa kamu mengatakan meminta pertanggung jawaban padaku."
"Ya, itu karena ini anak kamu."
"Jangan gila kamu, sudah sana keluar, jangan menggangu ku dan istri ku," kesal Leon sambil mendorong Susan keluar.
Hahaha...Akhirnyaa rencana ku berhasil, aku sangat yakin setelah ini pasti Yuna tidak akan mau berbicara dengan Leon dan dengan secepatnya bisa melepaskan Leon jadi aku bisa memiliki Leon seutuhnya. *batin Susan.
"Sayang, kamu jangan dengerin kata Susan tadi ya," mencoba membujuk Yuna namun seperti nya tidak mempan karena Yuna langsung memalingkan wajahnya ke samping.
"Yuna..."
"Sudah jangan ganggu aku, aku mau sendiri."
3 hari sudah berlalu, Yuna tetap saja tidak mau berbicara dengan suaminya bahkan Yuna juga tidak mau menyentuh makanan nya sedikit pun kecuali saat dia ingin menyusui anaknya.
Hingga pada pagi hari ini tepat 10 hari sesudah Yuna melahirkan Yuna menghembuskan napas terakhir nya di rumah sakit tersebut.
Mendengar hal tersebut, Leon langsung tidak terima dengan pernyataan dokter dan menyimpulkan penyebab kematian Yuna karena akibatnya ulah dari Susan.
"Yuna.. Hikss... Hikss...Maafkan aku."
"Susan, kalau tidak karena kau datang kemarin dan membuat masalah aku yakin Yuna pasti masih ada bersama ku sekarang. Awas saja kamu Susan aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Arghhh..."
__ADS_1
Flashback off.
Sementara itu di rumahnya nenekSusan, hari sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi namun belum ada juga tanda-tanda dua anak kecil yang mempunyai nama sama itu keluar dari kamar mereka.
Karena merasa jengkel nenek Susan akhirnya memutuskan untuk langsung memanggil mereka berdua.
"Awas saja bocah itu, aku akan membuat perhitungan kepada mereka," kesal Nenek Susan.
"Kenapa harus di kunci segala sih," kesal Nenek Susan sambil mengambil kunci cadangan miliknya.
Krekk....
Pintu kamar yang terkunci dapat di buka dengan mudah oleh Nenek Susan. Terlihat kamar sudah tersusun rapi dan kosong membuat Nenek Susan semakin marah.
"Kemana lagi bocah kecil itu."
Karena begitu kesal Nenek Susan akhirnya memilih menelpon Rendi untuk menanyakan keberadaan ke-2 bocah itu.
Saat panggilan sudah tersambung Nenek Susan langsung saja menyela ucapan salam dari Rendi.
"Assalam--"
"Di mana mereka?"
"Mereka? Siapa, Nek?"
"Ria, siapa lagi. Cepat cari mereka, Nenek, tidak mau rencana, Nenek, sampai gagal."
"Baik, Nek."
Nenek Susan pun langsung mematikan sambungan telepon nya sepihak.
Tut...πππ
Tut...πππ
Tut...πππ
Karena merasa kesal dengan nenek nya, Rendi pun dengan spontan langsung melempar ponsel iPhone terbaru nya itu ke lantai.
PRAKKK....
"Arghhh... Dendam, dendam lagi tidak ada yang lain. Kalau bukan karena Mama, aku tidak akan pernah mau menuruti permintaan, Nenek. Aku benci harus melakukan ini pada teman-temanku."
Langsung bergegas mencari Ria ke rumah sakit.
Setelah sampai di Rumah sakit, Rendi langsung bergegas menuju ke ruangan rawat Erika berharap kemungkinan buruk yang dia pikiran tidak terjadi.
Krek...
Pintu kamar rawat Erika terbuka dengan perlahan, tanpa sepengetahuan Rendi ternyata dirinya sudah di nanti kan oleh semua orang yang ada di sana. Mereka semua menatap Rendi dengan tatapan tajam.
"Hai," sapa Rendi pada Ark dan Erika.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Erika dengan tajam.
"Melakukan apa?"
"Jangan pura-pura tidak tau, kamu tau apa yang aku maksud."
"Sebenarnya, aku.."
__ADS_1
πΌBersambung πΌ