
"Sayang, ayah mau ngajakin Ria tinggal di rumah Ayah sama Bunda, Ria mau ngga?"
Ria yang mendengar pertanyaan itu seketika mengernyitkan dahinya.
"Emm..... emangnya kita ngga bisa tinggal bareng sama Mama, Papa ya, Bun?" Ria menatap Dian dengan wajah polosnya.
"Ngga bisa dong, Sayang, Bunda sama ayah kan mau kerja di RS. Bunda udah la kehilangan kamu jadi Bunda ngga mau kehilangan kamu lagi. Mau ya tinggal sama Bunda sama Ayah, Ria tenang aja nanti Ria pasti bisa selalu ketemu sama Mama dan Papa Ria yang selama ini udah ngerawat Ria, Bunda sama Ayah pasti ngizinin kok."
"Serius, Bunda?"
"Iya, Bunda serius, Sayang."
"Tapi, Bunda, Ria harus minta izin dulu sama Papa dan Mama. Ria ngga mau di bilang anak durhaka karena udah ninggalin orang yang selama ini udah ngerawat, Ria dengan baik."
"Iya, Sayang, kita keluar ya. Kita minta izinnya bareng-bareng."
"Iya, ayo Bunda."
Mereka bertiga pun langsung menghampiri Erika dan Arka ya g tengah bersantai dan mengobrol ringan di kursi tunggu berwarna silver yang memang sudah di sediakan di sana.
"Sudah?" tanya Arka memastikan.
"Iya, sudah." Dian menjawab.
"Ka, Er, sebenarnya ada yang mau kami omongin."
Bram mencoba membuka pembicaraan.
"Iya, mau ngomongin apa?"
"Emm... sebenarnya aku dan Dian berencana mau membawa Ria untuk tinggal bersama di rumah kami. Kalian tau sendiri perasaan orang tua yang sudah lama kehilangan anak. Kami sudah menunggu saat-saat seperti ini. Boleh ya?"
"Tentu saja boleh, kalian orang tua kandungnya. Kalian lah yang berhak atas hak asuh, Ria. Sekarang tugas kami menjaga Ria sudah selesai sekarang saatnya kalian."
Arka berbicara dengan begitu santai dan tegas. Namun tak sedikitpun bisa menghentikan bulir-bulir air mata yang jatuh ke pipinya.
"Papa jangan nangis."
Ria mendekat menghapus air mata Arka.
"Papa nangisnya bukan nangis sedih kok. Papa seneng, Papa bahagia, akhirnya Ria bisa ketemu sama orang tua kandung Ria. Papa bahagia liat Ria bahagia."
"Makasih, Papa."
Ria langsung memeluk Arka dengan sangat erat.
"Mama ngga di peluk, Sayang."
Erika menatap Ria dengan wajah memelas.
"Sini dong, Ma," ajak Ria.
__ADS_1
Erika mendekat ke arah Arka dan Ria lalu ikut berjongkok memeluk kedua belahan jiwanya itu. Dian dan Bram yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum bahagia.
1 Minggu setelah mendapat hasil tes DNA, Bram dan Dian datang kembali ke rumah Erika untuk mengajak Ria tinggi bersama mereka untuk beberapa saat.
"Bunda, Ayah tunggu di sini sebentar ya. Ria sama Mama mau ambil baju Ria dulu. Ria janji Ria ngga akan lama kok."
"Iya, Sayang, Bunda sama Ayah tungguin Ria kok."
Di saat Ria dan Erika tengah berbenah-benah di atas. Bram dan Dian juga Arka, duduk di ruang tamu bersama sambil berbincang-bincang.
"Kalian orang tuanya, kalian pasti tau apa yang harus kalian lakukan untuk kebaikan, Ria. Lagian kaliam berdua juga Dokter, aku yakin kalian akan melakukan yang terbaik untuk anak kalian."
"Terimakasih, Ka, terimakasih karena selama ini sudah merawat Ria layaknya anak kalian sendiri. Nampak sekali dari raut wajah Ria kalau dia selama ini mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari kalian. Terimakasih."
Diam berterimakasih dengan sangat tulus di iringi dengan air matanya yang sudah berkaca-kaca, hendak mengeluarkan bulir-bulir asin tersebut dari matanya.
"Sudahlah tidak perlu berterimakasih, dari Ria kecil aku sudah menganggap, Ria seperti anak sendiri. Ria selalu saja memberikan kebahagiaan pada diriku."
Arka kembali tersenyum mengingat kebahagiaan yang terus muncul setelah kedatangan Ria di panti.
"Emm....Arka, sebenarnya aku dan Dian berniat memberikan Ria pengobatan yang lebih dari rumah sakit di sini. Kami membuat persetujuan dari kalian karena bagaimanapun, Ria tetap lah anak kalian juga."
"Kalau semuanya untuk kebaikan, Ria, maka aku kan selalu menyetujui nya. Lakukan lah yang terbaik untuk anak kita."
"Sudah selesai semuanya, Sayang?"
"Sudah, Ma."
Sebelum keluar dari kamar Ria, Erika duduk di samping Ria sambil melihat Ria dengan tatapan senduh. Erika mengambil tangan Ria dengan lembut mengusapnya perlahan.
"Mama, jangan ngomong gitu, Ria ngga akan pernah lupain, Mama. Nanti Ria pasti sering-sering kesini kok, Ria bakal selalu ngunjungin Mama sama adik kecil."
Ria tersenyum seraya memegang perut Erika yang masih nampak rata tersebut.
"Iya, Sayang, Mama dan Papa pasti selalu nungguin, Ria. Yaudah ayo kita turun, Bunda sama Ayah Ria pasti udah nunggu lama." lanjut Erika lagi.
"Iya, Ma."
"Itu mereka."
Arka berucap sambil melihat Ria dan Erika yang turun ke bawah.
"Ria, sudah siap berangkat ke rumah Bunda sama Ayah?" tanya Dian memastikan.
"Iya, Bunda."
"Kalau gitu, Ria pamit dulu ya sama Mama dan Papa. Sebentar lagi kita berangkat."
"Iya, Bunda."
Ria pin mulai mendekat ke arah Arka dan Erika. Tanpa pikir panjang, Ria langsung memeluk kedua orangtuanya itu dengan sangat erat.
__ADS_1
"Makasih ya, Ma, Pa, Ria ngga akan pernah ngelupain kalian. Ria juga janji, Ria akan sering main-main ke sini."
"Iya, Sayang, sama-sama. Sekarang, Ria, ngga perluasan mikirin apa-apa dulu, Ria fokus sama kesehatan Ria. Ria harus nurutin semua apa yang Bunda sama Ayah Ria mau ya, mereka Dokter dan mereka tau apa yang terbaik untuk, Ria."
"Iya, Papa Ria pasti jaga kesehatan Ria."
"Yasudah, ayo kita pulang ke rumah. Nenek kamu pasti akan sangat senang mendengar hal ini."
"Ria punya, Nenek?"
"Iya, Sayang, Ria punya Nenek."
"Wahh... berarti selain Ria punya Mama 2 dan Papa 2, Ria juga punya Nenek 2 dong. Asikk..." girang Ria.
"Yaudah, sekarang kita pulang ke rumah. Nanti Ria kan ketemu, Nenek. Sekarang pamit dulu sama Mama dan Papa."
"Ma, Pa, Ria, pergi ke rumah Ayah dan Bunda dulu ya. Nanti Ria pasti ke sini kok, Ria janji."
Ria tersenyum sambil mengangkat jari kelingking nya.
"Iya, Sayang, rajin-rajin ke sini ya. Mama tunggu kedatangan kamu."
"Sudah kan, Bunda sama Ria sekarang ke mobil dulu ya. Masih ada sesuatu yang mau ayah omongin."
"Iya Ayah, da Mama, da Papa."
"Iya, da... sayang."
"Ada apa, Bram?"
Erika yang penasaran langsung bertanya.
"Emm... tanyakan saja pada Arka. Kami pulang dulu, minggu depan hari keberangkatan ikut mengantar kami ya."
"Iya iya akan aku usahakan."
"Baiklah, kami harus pulang dulu, keluarga kami pasti senang semua."
"Iya baiklah."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Erika yang masih tak paham dengan apa yang di bicarakan oleh Bram dan Arka langsung melihat Arka dengan tatapan tajam.
"Maksudnya apa?"
"M..maksud apa, Sayang?" gugup Arka.
"Ucapan, Bram tadi."
__ADS_1
"I....itu...Bram dan Dian, mau...."
🌼 Bersambung 🌼