Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Ibu datang


__ADS_3

Karena kaget Erika hanya bisa terdiam di tempat nya. Baru saja Arka hendak menempelkan bibir nya pada bibir Erika tanpa di duga Ria masuk tanpa di minta.


"Mama.... Papa..."


Melihat apa yang di lakukan mama dan papa nya, Ria langsung berbalik.


"R-ria... A.. Ada apa, Sayang?" tanya Erika dengan nada gugup.


"Ngga apa-apa, Ma, nanti aja. Ria ngga mau ganggu, Ria, keluar dulu ya," kekeh Ria sambil langsung berlalu dari sana.


"Kamu sihh..."


Erika langsung mendorong Arka dan berpaling dari Arka sambil menutupi wajahnya yang sudah memerah.


"Kenapa aku sih, Sayang," kekeh Arka sambil menatap Erika dengan tatapan jahilnya.


"Ihhh... Nyebelin banget sih, auah.. Aku ngga mood. Aku mau keluar," kesal Erika.


Baru saja Erika mau beranjak tapi dengan cepat Arka malah menahan lengan Erika.


"Apa lagi sih?"


"Kamu mau kemana?" tanya Arka dengan wajah imut.


"Mau sarapan, auah.. Aku mau keluar dulu, Sayang. Kamu istirahat aja dulu, nanti kalau makanan nya udah abis aku ke sini lagi."


"Suapin dong, Sayang." Arka menatap Erika dengan tatapan manja.


"Ngga mau, aku mau ke bawah aja nyamperin, Ria."


Erika pun segera bergegas turun ke bawah dan menghampiri, Ria, yang hampir menyelesaikan acara makan nya.


"Loh, Ria, belum selesai sarapan nya, Sayang?" bingung Erika.


Mendengar suara Mamanya dari arah belakang, Ria langsung menoleh dan menggeleng-gelengkan kepala nya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Yaudah kamu makan dulu, kalau udah selesai kasi tau, Mama ya. Biar bisa, Mama, bersihin sekalian piringnya."


"Emm.. Mama, ada nenek di liat tadi nyariin, Mama." Ria memberi tahu setelah menelan makanan di mulut nya.


"Nenek?"


"Iya, Ma, Nenek tadi datang nyariin, Mama. Karna, Mama, tadi di kamar, Papa, jadinya, Ria, minta nenek nungguin di luar. Ada di ruang tamu, Ma."


"Okedeh, makasih ya, Sayang, udah ngasi tau, Mama. Mama keluar dulu ya."

__ADS_1


"Iya,Mama."


Erika memperhatikan punggung wanita paruh baya yang membelakangi nya yang sudah ia ketahui siapa wanita itu.


"Ada keperluan apa anda kemari?" tanya Erika ketus.


Mendengar suara orang yang sudah ia tunggu-tunggu dari tadi Ibu tiri dari Erika tersebut langsung tersenyum dan mendekati Erika.


Baru saja wanita paruh baya itu hendak memeluk Erika, Erika langsung menghindar dan menatap wanita itu dengan sinis.


"Ada apa? Anda kenapa, kalau ada urusan silahkan di bicarakan. Jangan basa basi, saya tidak suka."


Ibu tiri Erika hanya terdiam ketika melihat sikap Erika yang masih dingin kepadanya. Namun, Ibu tiri Erika masih bisa memaklumi karena pasti Erika masih tidak terima dengan apa yang terjadi di masa lalu.


"Apa, Ibu, bisa minta tolong sama kamu?"


"Minta tolong apa?"


"Bisakah, Ibu, meminta kamu mempekerjakan, Reza, di restoran kamu? Reza sekarang lagi membutuhkan pekerjaan dan ibu tidak tau mau meminta tolong sama siapa."


Walaupun Erika tidak menyukai Ibu tiri nya, tapi dia juga masih memiliki rasa manusiawi. Meskipun yang meminta bantuan kepadanya adalah orang yang sangat dia benci di masa lalu, dia pasti akan berusaha menolong.


"Kenapa bukan, Reza, sendiri yang datang kemari meminta pekerjaan. Kenapa harus anda yang kemari, apa anak kesayangan anda itu tidak bisa menggunakan kakinya untuk kemari?"


"Reza, sedang belajar untuk ujian akhir sekolah nya. Dia harus belajar dengan giat agar bisa mendapatkan beasiswa, dia tidak mau hanya mengandalkan beasiswa untuk sekolah nya jadi dia meminta, Ibu, untuk kemari terlebih dahulu. Kalau kamu menerima, dia akan langsung datang besok."


Ibu tiri Erika yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya hanya terdiam dan seketika langsung memeluk Erika dengan erat.


"Makasih, Nak, Ibu, akan memberitahukan nya kepada, Reza. Reza pasti akan sangat senang."


Erika yang merasa risih dengan ibu tirinya hanya menerima pelukan ibu tirinya tanpa membalas sedikit pun.


"Sama-sama, anda ngga mau masuk dulu? Ketemu sama, Ria, pasti dia seneng," tawar Erika masih dengan nada ketus dan wajah dingin.


"Apakah boleh?" tanya Ibu tiri Erika memastikan.


"Boleh, silahkan masuk. Saya mau nemenin suami saya juga," ketus Erika.


"Makasih, Sayang." Ibu tiri Erika menatap Erika dengan wajah yang tersenyum senang.


"Emm.. Sama-sama."


Karena tak ingin lama-lama melihat ibu tiri nya di luar, Erika lebih memilih masuk ke kamarnya untuk melihat keadaan Arka.


BRUKKK

__ADS_1


Pintu kamar di tutup Erika dengan begitu kuat hingga membangun kan Arka yang tengah tertidur pulas.


"Astaghfirullahalazim," kaget Arka.


"Kenapa, Sayang?" Arka bertanya ketika melihat wajah Erika yang tengah tak bersahabat.


"Lagi males," ketus Erika.


"Kenapa?"


"Ada, Ibu, di bawah, males mau ngeladenin."


"Kenapa ngga di suruh masuk?"


"Udah masuk kok, itu lagi sama, Ria."


"Ya, jangan di tekuk gitu lagi lah, Sayang, wajah kamu."


"Tadi, ibu, datang buat minta kerjaan di restoran."


"Hah, kerjaan, ibu kan udah lumayan tua, Sayang, lebih baik jangan di kasi, Kasihan."


"Kerjaan nya bukan buat, Ibu, ka," sangah Erika.


"Terus buat siapa?" bingung Arka.


"Buat, Reza, katanya, Reza, mau cari uang buat kuliahnya. Karena, Reza, lagi dalam masa-masa mau ujian aku bilang, Ibu, buat biarin, Reza, fokus sama ujian nya dulu. Kalau, Reza, bisa dapet beasiswa kuliah seperti yang dia mau, baru dia boleh datang ke, Restoran plus aku juga akan kasi, Reza, gaji 2× lipat. Ya hitung-hitung sebagai bonus karena dia pintar," jelas Erika.


Arka yang mendengar penuturan istrinya tersebut hanya bisa tersenyum sambil memerhatikan wajah Erika yang menceritakan hal yang baru saja terjadi tadi.


"Ihh.. Kok kamu malah senyum-senyum sendiri sih, Ka," kesal Erika setelah menyadari bahwa dirinya di tatap Arka dari tadi.


"Aku cuma lagi seneng aja, kamu sekarang udah bisa terbuka sama keluarga kamu. Kamu udah mau nerima, Mama kamu sama Reza. Aku seneng dengernya."


Mendengar penjelasan Arka, Erika berubah semakin jengkel.


"Apaan sih? Siapa juga yang udah nerima mereka. Aku belum bisa ngelupain masa lalu yang buat aku sama papa jadi gini. Aku ngga akan pernah maafin mereka, apapun itu alasan nya. Aku hanya kasihan sama, Reza, walaupun, Mamanya, udah banyak buat masalah tapi aku ngga boleh limpahin rasa kesal aku sama dia. Dia juga anak dari, Papa, aku berarti dia masih adik aku."


"Iya iya, Sayang, aku seneng aja kamu ngga mikirin ego kamu dan masih bisa berpikir jauh sampai ke sana. Aku bangga sama kamu, walau bagaimana pun kamu masih memikirkan adik kamu, Reza."


"Emmm...." dehem Erika.


Sementara itu di saat Erika dan Arka masih asik berdebat ringan. perempuan paruh baya di bawah sana masih asik bermain bersama cucunya.


"Nenek makasih ya." Ria tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang."


🌼 Bersambung 🌼


__ADS_2