
"Kamu lihat saja Renata, Aku pasti akan membuat mu mengaku sendirian nanti."*Batin Erika sambil tersenyum sinis menatap Renata.
Renata yang tengah menghadap ke arah lain hanya menyembunyikan air matanya dan tidak melihat tatapan dari Erika.
"Jo, Aku mau pamit keluar sebentar ya." pamit Renata.
"Loh, mau kemana, Re?" tanya Jonathan bingung sambil memberi tatapan isyarat seolah meminta jangan pergi.
"Nggak kemana-mana kok, Jo. Aku cuma mau keluar sebentar," sambil tersenyum kepada Jonathan.
"Emm... Baiklah." pasrah Jonathan.
Setelah mendapat persetujuan dari Jonathan, Renata segera keluar dan pergi ke ruang tunggu.
Renata mencurahkan segala kesedihan nya di ruang tunggu, karna kebetulan ruang tunggu tidak terlalu banyak orang,Renata puas untuk menangis semaunya. Renata duduk di kursi paling ujung dan menutup wajahnya menggunakan tangan nya, mengeluarkan segala sesuatu yang sudah ia tahan dari tadi.
Disaat tengah asik menangis tiba-tiba saja ada yang memegang pundak Renata dengan lembut.
Renata mendongakkan wajahnya ke atas dan melihat orang yang berada di samping nya.
"Bu Rahma," ucap Renata lirih.
"Ada apa? Kenapa menangis?" sambil duduk di samping Renata dan langsung mendapatkan pelukan erat dari Renata.
"Hikss.. Hikss.. Bu, Renata nggak bisa kayak gini, Hikss.. Hikss.. Renata tau, Erika pasti sangat membutuhkan, Jonathan, sekarang. Tapi, Renata juga nggak bisa kayak gini, Buk, bagaimana pun, Jonathan adalah tunangan Renata.Renata nggak kuat liat kemesraan, Jonathan sama Erika, walaupun Renata tau kalau Jonathan ngelakuin ini cuma buat nolongin Erika. Tapi.. Tapi.. Hikss.. Renata nggak bisa, Buk." semakin mengeratkan pelukannya pada Bu Rahma.
"Jonathan tunangan, Kamu?" kaget Bu Rahma.
"Iya, Bu. 3 bulan lagi kami akan menikah. Bagaimana jika sampai saat itu, Erika belum mengingat juga?Jonathan nggak mungkin selalu ada di sisi Erika, Buk."
"Sudah ya, Ren. Sekarang kita hanya bisa berdoa yang terbaik.Semoga saja Erika cepat mengingat."
"Iya, Buk."
❤❤❤
Waktu sudah menunjukan pukul 08:00 pagi, nampak laki-laki yang berada di dalam mobil mewah ini belum juga terbangun dari tidur nya. Bahkan cahaya matahari yang masuk ke dalam celah mobilnya pun tak bisa membangunkan Arka.
Baru saja laki-laki paruh baya ini ingin membuka ruko nya. Tiba-tiba atensinya langsung teralihkan melihat mobil mewah yang terparkir di sisi jalan dan menghalangi jalan kendaraan yang hendak melintas.
Laki-laki paruh baya itu pun langsung menghampiri mobil Arka dan mengetuk pintu mobil Arka.
"Nak, bangun. Mobilmu menganggu kendaraan yang lainnya."
Arka yang baru terbangun hanya terdiam dan menatap laki-laki paruh baya itu dengan tatapan bingung, bahkan Arka belum membuka kaca mobilnya. Hingga laki-laki paruh baya itu kembali mengetuk jendela kacanya untuk yang ke-2 kalinya.
Tok
Tok
Tok
"Ahh iya, maaf, Pak. Saya kelelahan," langsung tersadar dan membuka jendela mobilnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Arka.
__ADS_1
"Hari sudah pagi dan mobil kamu menghalangi jalan kendaraan yang lain. Tolong minggir," ucap bapak tersebut.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." pamit Arka.
"Baiklah."
Arka pun melakukan mobilnya dengan perlahan sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Krukkk...
Krukkk.. (Bunyi perut)
"Ahh.. Pantas saja, Aku, sudah sangat kelaparan. Ternyata ini sudah jam 8 pagi. Kalau begitu aku akan sarapan dulu baru lanjut cari, Ria, lagi," ucap Arka pada dirinya sendiri.
Karena sudah sangat kelaparan, akhirnya Arka memutuskan untuk berhenti di salah satu warung sederhana yang dia temukan.
Arka pun duduk di salah satu kursi dan langsung memesan sarapannya.
"Pak, Baksonya 1 porsi ya." pesan Arka.
"Tunggu sebentar ya, Nak."
"Iya, Pak."
Tidak perlu menunggu lama, pesanan Arka pun sudah siap dan langsung diantarkan bapak penjual bakso ke mejanya.
"Ini pesanan nya, Nak," meletakkan pesanan Arka ke mejanya.
"Makasih pak."
Arka pun mulai menyuap bakso ke mulutnya satu persatu dan menikmati sarapan nya. Tapi tiba-tiba,
"Arka..." kaget salah seorang laki-laki dari belakang.
Uhukk...
Uhukkk...
Uhuk....
Arka seketika memutar bila matanya tajam menghadap orang dibelakang nya. Sudah tau Arka lagi makan bisa-bisanya laki-laki itu malah mengagetkan nya dengan sengaja.
"Ahahahah.... Maaaf, maaf," ucap laki tersebut sambil tertawa.
"Rendiii!!! Kau sengaja mau membuatku mati hah? Bagaimana bisa kamu sengaja mengagetkan orang yang sedang makan, bagaimana jika aku tertelan bakso itu lalu menghambat pembuluh darahku. Darahku tidak mengalir dengan lancar dan seketika aku mati bagaimana. Kamu mau tanggung jawab?" marah Arka sambil terus mengoceh.
"Hahahah... Arka, Arka, maaf, maaf. Emm.. Kalau kamu mati kita tinggal mengubur kamu apa susahnya. Kalau nanti Erika menjadi janda, Aku akan siap menikahinya." jawab Rendi sambil menahan tawanya melihat ekspresi wajah Arka yang sedang menahan amarahnya.
"Sabar, Arka, sabar," sambil mengelus dadanya dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan-lahan.
"Iya sabar, sabar, haahahha."
"Mau apa kamu kemari?" tanya Arka yang masih merasa jengkel dengan Rendi tapi mencoba untuk tidak marah.
"Ya beli makan lah apa lagi."
__ADS_1
"Oh."
"Pak, saya mau baksonya 2 porsi, dibungkus ya pak." pesan Rendi.
"Tunggu sebentar ya, Nak."
"Kamu kelaparan banget kayak nya, Ren," ucap Arka diiringi dengan kekehan nya.
"Emm.. Nggak ini buat adik angkat ku, baru datang dari Malaysia." berusaha meyakinkan Arka.
"Ohh."
"Nak, ini pesanannya. Semuanya Rp. 25.000."
"Makasih, Pak. Ini uangnya, kalau begitu, Aku pamit dulu ya, Ka." berpamitan pada Arka.
"Oke."
Baru saja Arka hendak melanjutkan makannya lagi tapi kegiatan nya terhenti ketika melihat sosok anak kecil yang dia kenali di dalam mobil Rendi.
"Itu kan, Ria. Aku harus mengejar mereka." langsung bangkit dari tempat duduk nya.
"Pak ini uangnya."
Setelah membayar Arka langsung bergegas naik ke mobilnya dan mengejar mobil Rendi.
"Ini tidak bisa ku biarkan, bisa-bisanya dia menculik Ria." kesal Arka.
Karna tidak ingin kehilangan jejak mobil yang dikejarnya Arka pun melakukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Saat setelah berada berdampingan dengan mobil berwarna silver tersebut, Arka pun langsung menyalip dan menghadang mobil tersebut dari depan.
BRUKKK..
"Aishh... Apa-apaan sih mobil itu," ucap perempuan yang ada di dalam mobil silver tersebut.
Setelah berhasil menyalip mobil silver tersebut, Arka langsung turun dan menghampiri mobil itu dengan wajah marah.
"Keluar kamu, Ren." panggil Arka dengan nada marah.
Karena tidak mengerti apa yang di maksud oleh orang yang sudah menabrak mobilnya perempuan itu pun langsung keluar dari mobilnya.
"Yakk, kamu sudah gila ya. Bagaimana jika tadi terjadi kecelakaan." langsung keluar dari mobilnya dan mengomel pada Arka.
Arka seketika terdiam melihat perempuan yang keluar dari mobil itu.
"Kamu bukan, Rendi? Dimana dia?"
"Rendi siapa sih? Lagian kamu kenapa malah menyalip mobil orang lain tanpa sebab hah," kesal perempuan itu.
Arka yang sadar sudah salah kejar mobil langsung meminta maaf dan masuk ke mobilnya.
"Maaf, Aku salah orang." berlalu pergi meninggalkan perempuan tersebut.
"Dasar laki-laki aneh, sudah menabrak malah pergi begitu saja. Awas saja kamu, untung aku udah catat plat mobilnya.Ahh, mobilku sayangg..... Nanti kita perbaiki ya." mengelus mobilnya yang tergores.
"Aiss.. Bagaimana bisa aku malah salah orang. Sekarang aku harus mencari kemana lagi, Arghhh.., si*l*n." mengacak-acak rambutnya prustasi.
__ADS_1
🌼Bersambung 🌼