
"Sebenarnya kamu bawa ke mana Ria dan apa sebenarnya rencana mu menculik Ria." Arka bergumam sendiri di dalam mobilnya.
"Argh.... Bandung, aku harus mencari kemana sedangkan aku tidak tau rumah kerabatnya yang ada di sana. Bagaimana ini? bagaimana jika Erika tau kalau aku tak menemukan Ria, dia pasti akan kecewa."
"Haiss.. Bagaimana ini? Kalau Erika menelpon bagaimana. Tunggu kenapa aku tidak kepikiran untuk menelpon nya saja. Aku bisa meminta teman-teman yang ada di restoran untuk menelpon ya dan mencari tau di mana keberadaan nya. Ya, benar sekali, kenapa aku tidak kepikiran sih."
Setelah menemukan cara untuk bisa tau keberadaan Rendi. Arka langsung melakukan mobilnya ke salah satu rumah teman-teman nya.
Arka mendatangi rumah teman-teman nya satu persatu namun tak kunjung mendapatkan apa yang dia ingin kan. Hingga Arka berhenti di rumah terakhir.
"Ini harapan terakhir ku," gumam Arka.
"Permisi," panggil Arka dari luar.
"Ya, cari siapa?" tanya seorang perempuan paruh baya sambil membuka pintu.
"Maaf kalau sekiranya menganggu, apa benar ini rumah Amalia yang bekerja di Restoran itu?"
"Iya, benar, ada apa ya?"
"Saya mau bertemu dengan Amelia sebentar boleh?"
"Boleh, silahkan masuk, Nak," sambil membuka kan pintu untuk Arka.
"Ayo silahkan duduk dulu, Nak. Ibu panggil kan nona Amelia dulu."
"Iya, Bu."
Setelah mempersilahkan Arka untuk duduk, perempuan paruh baya tersebut segera bergegas ke kamar Amelia.
Tok
Tok
Tok
"Permisi, Non."
"Iya, ada apa, Bi?"
"Ada yang mau bertemu dengan Nona."
Amelia segera keluar kamarnya dengan wajah yang berseri-seri mendengar perkataan asisten rumah tangga nya itu.
"Siapa Bi? Rendi bukan?" tanya Amelia penuh harap.
"Bukan, Non,saya belum pernah lihat laki-laki itu datang kemari jadi saya tidak mengenal nya."
"Laki-laki?"
"Iya, Non."
"Emm.. Siapa ya? Bibi turun aja dulu, Amel mau ganti baju."
"Baik, Non, kalau begitu saya permisi dulu."
__ADS_1
"Siapa ya? Kalau teman-teman ku ada yang mau ke rumah pasti pada hubungin aku dulu tapi ini kok nggak.Yaudah mungkin ada keperluan mendesak."
Setelah selesai berganti pakaian, Amalia bergegas turun untuk menemui laki-laki yang sedang menunggu nya.
"Permisi, kamu siapa?" tanya Amalia pada laki-laki yang sedang membelakangi nya.
Mendengar ada yang berbicara padanya, Arka langsung membalikkan badanya menghadap wanita itu.
"Arka?"
"Hai Mel," sapa Arka.
"Hai juga, ada apa kamu ke sini? Kamu juga tau dari mana kalau rumah ku di sini?"
"Aku tadi bertanya sama temen-temen yang lain.oiya aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Tanya apa?"
"Kamu tau nggak alamat rumah Rendi yang ada di Bandung?"
"Alamat Rendi? Untuk apa?" tanya Amalia yang merasa heran dengan Arka yang tiba-tiba menanyakan soal alamat Rendi.
"Aku ada keperluan pribadi sama Rendi. Aku hanya ingin memastikan saja, aku sudah mencari rumah dia yang di sini tapi dia tidak ada."
"Alasan pribadi?"
"Iya, aku mohon,Mel. Ini penting banget, aku sebenarnya nggak mau nuduh Rendi sih, tapi sepertinya dia yang sudah menculik adik aku." Arka to the point.
"Hah? Menculik, kamu yakin nggak terlalu berlebihan, Arka, Rendi bukan tipe orang yang seperti itu," ucap Amalia sedikit tidak terima.
"Maka dari itu, Aku mau membuktikan dulu. Aku mau coba mencari di rumah Rendi tapi Rendi tidak ada, asisten nya bilang Rendi pergi ke rumah neneknya. Aku juga tidak menuduh Rendi tapi aku tidak pernah salah dengan penglihatan ku."
"Pagi tadi, waktu aku lagi sarapan di warung pinggir jalan aku bertemu dengan Rendi di sana. Awalnya aku tidak terlalu yakin tapi setelah aku lihat dengan seksama anak kecil yang bersama Rendi dalam mobilnya itu pasti adikku, Ria. Aku sangat yakin. Aku tidak pernah salah dengan hal seperti ini, kalau yang aku lihat itu benar-benar adikku Ria, sekarang Ria pasti sedang bersama Rendi." Arka mencoba meyakinkan Amalia.
"Hemm... Tapi ini sungguh tidak masuk akal, untuk apa Rendi melakukan nya."
"Maka dari itu, aku menanyakan alamat Rendi yang ada di Bandung padamu untuk mencari tau tentang itu," ucap Arka dengan nada kesal karena dari tadi tidak dapat informasi dari Amalia.
"Hem baiklah, alamat nya di perumahan cempaka hijau, Jl. Paledang No. 288, rumah paling ujung yang kiri berwarna biru."
"Oke, perumahan cempaka hijau, Jl. Paledang No. 288, rumah paling ujung kiri berwarna biru ya." Arka memastikan sambil mencatat di ponselnya.
"Iya."
"Baiklah, terimakasih, Mel, kalau begitu aku permisi dulu."
"Emm.. "
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Rendi apa benar kamu melakukan itu? Tapi kenapa? Batin Amalia bertanya-tanya.
Arka segera melajukan mobilnya ke arah Bandung dengan kecepatan sedang. Walaupun Arka ingin segera sampai ke tempat tujuan nya tetap saja Arka harus memperhatikan lalu lintas dengan baik.
__ADS_1
Jalan menuju daerah Bandung nampak sangat padat dengan banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat yang nampak belum beranjak dari tempat mereka masing-masing.
"Arghh... Kenapa harus macet segala sih!" memukul stir mobilnya dengan sangat keras.
"Kalau begini bisa-bisa malam baru sampai," sambil melirik benda pipih yang melingkar ditangan nya sudah menunjukkan pukul 3 sore.
~~~
1 jam sudah berlalu, lalu lintas masih saja padat. Apalagi 30 menit yang lalu ada beberapa pengendara yang tidak menaati peraturan, seperti tidak memakai helm dan juga tidak membawa STNK sehingga membuat keadaan jalan yang padat dan lama menjadi berlipat ganda.
"Sungguh memuakkan, berapa lama lagi aku akan menunggu. Awas saja jika karena ini aku terlambat menjemput Ria, Aku akan menutup jalan ini." Arka bergumam sendiri sambil menahan amarah nya karena begitu kesal menunggu terlalu lama.
20 menit kemudian Arka pun bisa terbebas dari padatnya kendaraan Roda 4 dan juga roda 2. Tak perlu waktu lama setelah terbebas dari keadaan yang menyesakkan seperti tadi Arka langsung menembus jalan sore hari hingga sampai di Bandung 1 jam kemudian.
"Sekarang sudah jam 5 sore tapi aku baru sampai disini, belum lagi mencari keberadaan Rendi. Haiss... Sungguh memuakkan, untung saja aku tidak menutup jalan itu."
"Oke sekarang, pergi ke perumahan cempaka hijau, kakak datang Ria, kakak akan segera bawa kamu pulang."
"Ren, Rendi, keluar kamu." Arka mengedor pintu rumah Rendi dengan sangat keras.
"Rendi!"
Mendengar suara ribut-ribut dari luar, nenek yang sedang mencuci tangan itu pun langsung memanggil cucunya yang berada di dekatnya.
"Sayang, tolong buka pintu nya, Nak, seperti nya ada tamu yang ada kepentingan mendesak."
"Baik, Nek."
Krekk...
"Ada apa, Kak?" tanya anak kecil yang bernama Ria tersebut.
"Dimana Rendi?"
"Kak, Rendi? Kakak lagi ke supermarket, ada apa, Kak?"
"Dimana dia menyembunyikan, Ria?"
"Ria? Maksud kakak?Saya Ria kak, kakak bilang Ria yang mana?"
"Kamu Ria? Aku mencari Ria adikku."
"Maaf kak, tapi di sini tidak ada yang bernama Ria selain saya."
"Tidak mungkin, aku sudah pergi sejauh ini tidak mungkin dia tidak ada disini.Boleh kakak menunggu disini," tanya Arka pada anak perempuan yang mengaku bernama Ria tersebut.
"Boleh boleh saja, tapi hari sudah hampir malam kakak tetap mau menunggu?"
"Ya, tidak apa-apa aku mau menunggu Rendi disini dan memastikan sendiri keberadaan adikku."
"Oke kalau itu yang kakak mau. Kakak boleh masuk kalau mau, nungguin kak Rendi nya di dalam aja kak. Kakak juga pasti capek, ayo masuk biar Ria diapain minum." tawar anak kecil itu.
"Emm.. Boleh juga, makasih."
🌼 Bersambung 🌼
__ADS_1
jangan lupa like, coment, vote dan rate ⭐ 5 nya😁😊.
Happy Reading 😊