Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Aku hanya takut kehilangannya.


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Renata.


"Jawab saja kenapa kamu melakukan nya, jangan bertele-tele!"


"Sebenarnya, aku..."


"Sebenarnya apa?"


"Aku hanya takut kehilangan, Jonathan. Aku takut, Jonathan berpaling dari ku karena kamu. Aku takut pernikahan kami gagal, aku tau, Jonathan, bukan lah laki-laki yang mudah melupakan cinta nya. Dari awal perjodohan saja, Jonathan, sudah tidak menerima ku. Aku takut dengan adanya kamu, Jonathan, semakin mudah untuk membatalkan pernikahan kami. Maaf kan aku, Er,aku tidak tau sebelum nya kalau kamu sudah menikah. Waktu itu keinginan ku hanya satu yaitu cuma melenyapkan kamu dari kehidupan, Jonathan, itu saja. Aku benar-benar minta maaf, Er," langsung berlutut di bawah sambil menangis.


"Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan keluarga ku nanti jika tau anaknya sudah tidak bernyawa? Apa kamu juga berpikir nanti saat kamu menikah bersama, Jonathan, kejahatan yang pernah kamu lakukan terungkap. Bisa saja pada masa itu, Jonathan akan lebih membenci kamu. Apa kamu tidak berpikir seperti itu? Harus nya kamu berpikir lebih jauh saat kamu hendak melakukan itu."


"Iya, Er, aku benar-benar minta maaf. Hiksss... Aku mohon maaf kan aku.. Hiksss..."


"Sudah lah, aku tidak perlu penjelasan kamu lagi."


Mendengarkan itu, Renata, langsung mendongak kan wajahnya menatap Erika dengan tatapan bingung bercampur sedih.


"Apa maksud kamu, Er?"


"Kamu bilang kamu hanya takut kehilangan, Jonathan, bukan? Kalau begitu berarti kamu sangat mencintai nya. Aku cuma berharap kamu bisa lebih dewasa dalam mencintai, Jonathan, jangan ke kanak-kanakan seperti ini. Aku minta percayalah pada perasaan, Jonathan, padamu. Jangan melakukan sesuatu yang bisa membuat, Jonathan, terluka. Aku dan Jonathan kami sudah tidak ada hubungan lagi, aku sekarang sudah menjadi istri, Arka, dan aku sangat mencintai nya. Aku harap kamu juga begitu, bisa mencintai, Jonathan, dengan sepenuh hati. Aku memaafkan kamu, tidak apa-apa ini sudah terjadi, aku juga wanita jadi aku paham dengan perasaan mu," jelas Erika panjang lebar seraya tersenyum kepada Renata.


"Makasih, Er,makasih banget. Maaf karena aku sudah melukai kamu. Maaf kan semua kesalahan aku."


"Tidak apa-apa, sekarang ayo berdiri. Kemari." merentangkan tangannya meminta Renata memelukanya.


GREPPP...


Tanpa menunggu lama, Renata langsung memeluk Erika dengan erat sambil masih menangis tersedu-sedu.


"Hikss.. Hiks... Makasih, Er, aku tidak tau harus gimana lagi kalau kamu nggak maafin aku. Aku benar-benar minta maaf."


"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti, maaf karena sudah membuat kamu menangis seperti ini," sambil membantu Renata menghapus air matanya.


"Sudah lah, jangan menangis, aku paham. Sekarang, tolong panggilkan, Arka, aku mau ngomong sesuatu sama, Arka," pinta Renata.


"Emm.. Sekali lagi, aku sangat berterima kasih sama kamu ya, Er, maaf kalau sudh membuat kamu seperti ini."


"Iya, tidak apa-apa."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Er, oiya aku datang juga sekalian mau nganterin ini." menyodorkan undangan pernikahan nya dengan Jonathan.


"Minggu ini?"


"Iya, aku harap kamu sama, Arka, dateng ya. Aku berterimakasih banget kalau kalian mau datang. Cuma kalau keadaan kamu belum fit jangan di paksain ya, Er."


"Iya, nggak papa, aku mungkin dua hari lagi juga keluar dari rumah sakit ini. InsyaAllah aku sama, Arka, pasti dateng."


Tanpa mereka sadari ternyata di luar ada seorang laki-laki yang mendengar pembicaraan mereka. Laki-laki itu hanya memasang wajah sedih dan kecewa nya mengingat apa yang sudah di ungkap kan wanita yang akan menjadi istri nya itu.


Siapa laki-laki itu? Tentu saja laki-laki itu adalah Jonathan, di saat keluar dari ruang rawat Erika tadi dia hanya menunggu di luar. Di mana, Arka? Arka setelah keluar tadi langsung pergi untuk membeli makanan terlebih dahulu.


Jonathan hanya terdiam di balik pintu tanpa mampu berpindah masih tidak mempercayai apa yang sudah di dengar nya tadi.


Di saat itu pula tiba-tiba saja pintu terbuka menampakkan Renata yang baru saja keluar. Renata yang terkejut dengan adanya Jonathan di depan hanya menatap Jonathan dengan tatapan bingung.


"Jo, ada apa?" tanya Renata seraya mengulurkan tangannya ke arah Jonathan namun langsung di tepis oleh Jonathan.


"Jangan dekat-dekat."


"Jo, kamu kenapa?"


"Kenapa? Hah, kamu yang kenapa, Re? Segitu nggak percaya nya kamu sama aku sampai harus mencelakai, Erika, seperti ini? Aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran kamu!" kesal Jonathan dengan sedikit berteriak kepada Renata.


"Aku nggak perlu penjelasan," langsung meninggalkan Renata.


"Tapi, Jo," menyusul Jonathan yang semakin menjauh darinya.


"Jonathan, tunggu."


Jonathan semakin mempercepat langkah kakinya menjauh dari kejaran Renata.


Bertepatan dengan itu, Arka, tiba-tiba muncul setelah membeli sedikit makanan. Arka berhenti sejenak melihat Renata yang sedang mengejar Jonathan. Karna penasaran, Arka, akhirnya memanggil Renata.


Renata yang sedang mengejar Jonathan segera mengalihkan pandangan nya ke aah sumber suara. Dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata dan juga wajah yang sembab, Renata, dengan perlahan mendekati Arka.


"Ada apa, Ka?" tanya Renata dengan suara serak nya.


"Kalian kenapa? Kenapa malah kejar-kejaran di rumah sakit, dan kamu juga kenapa nangis kayak gini, Ren?"

__ADS_1


"Jonathan salah paham sama aku, aku nggak bisa jelasin lebih detail lagi. Sekarang aku mau nyusul, Jonathan, dulu jelasin semuanya."


"Tunggu, aku ikut. Biar seneng aja, kalau kamu sendiri nanti takutnya, Jonathan, udah nggak tau kemana."


"Kalau nggak ngrepotin ya nggak papa. Tapi, Erika?"


"Tenang saja, Erika, wanita yang kuat dia pasti bisa nunggu aku sebentar."


"Okedeh, ayo, Ka, cepet. Takutnya, Jonathan, udah keburu hilang."


"Iya, iya ayo, Ren," langsung berlari mengejar Jonathan berharap Jonathan belum pergi dari pekarangan rumah sakit.


Di pekarangan rumah sakit.


Arka dan Renata berlari dengan cepat menuju ke arah tempat mobil Jonathan terparkir. Untung saja mereka tepat waktu, baru saja Jonathan hendak menjalankan mobilnya, Renata dengan sigap langsung berdiri di depan mobil Jonathan menatap Jonathan dengan tataon senduh dibalik kaca mobil Jonathan.


Bersamaan dengan itu, Arka yang sudah ada di samping mobil Jonathan juga ikut membantu Renata dengan mengetuk kaca pintu mobil Jonathan bertujuan agar Jonathan keluar dan mendengarkan penjelasan dari Renata, walaupun Arka sendiri juga tidak tau apa masalah ke-dua pasangan itu.


"Jo, keluar, kasian itu si Renata."


"Lebih baik kamu nggak perlu ikut campur, Ka, ini urusan kami berdua," jawab Jonathan dengan nada marah.


"Iya, aku tau ini masalah kalian berdua. Tapi, kalau bisa masalah kalian ini selesaikan baik-baik, Jo, kamu liat si, Renata, kasian dia. Tolong keluar, kalian selesai kan masalah kalian berdua secara baik-baik. Ingat kalian sudah tunangan dan minggu depan kalian akan menikah. Jangan hanya permasalahan sepele hal besar yang sudah kalian rancang sebaik mungkin hancur."


Mendengar penuturan Arka, Jonathan hanya bisa menghembuskan napasnya seraya melihat gadis yang di cintainya itu masih setia berdiri di depan mobilnya dengan keadaan wajah yang sembab.


Karena merasa begitu sedih dan juga kasihan terhadap Renata, Jonathan langsung mematikan mobilnya seraya turun dari mobilnya.


"Oke, sekarang mending kamu pergi, Ka. Biar kami menyelesaikan masalah kami berdua," pinta Jonathan dengan nada datar.


"Oke, selesaikan baik-baik ya. Ren, aku tinggal dulu."


"Iya, makasih, Ka."


"Ada apa?" tanya Jonathan dengan tatapan dingin.


"Jo, aku minta maaf, aku tau apa yang aku lakuin salah. Tapi aku punya alasan untuk itu, hikss... Aku.. Aku..."


Belum sempat lagi Renata melanjutkan ucapan nya tiba-tiba.

__ADS_1


GREPPP


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2