
Karena tidak merasakan lagi haus melanda kerongkongan nya, Erika lebih memilih untuk melanjutkan tidur nya. Namun tidak tidur di kamar nya, tapi di kamar anaknya, Ria.
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.45 pagi. Erika sudah bangun dari pukul 4 pagi tadi. Setelah melaksanakan sholat subuh Erika langsung menyelesaikan pekerjaan rumahnya satu persatu, di mulai dari membersihkan rumah, merapikan semua mainan Ria, mencuci baju kotor, dan pekerjaan lain nya.
Erika memperhatikan sofa tempat, Arka tidur malam tadi. Sofa nampak sudah kosong, tidak ada lagi Arka di sana, bahkan selimut yang Erika pakai untuk menyelimuti Arka juga sudah tidak ada di sana.
"Mungkin dia sudah istirahat di kamar. Lebih baik aku segera menyiapkan sarapan."
Erika langsung melanjutkan kegiatan nya. Karena merasa sudah hampir pagi, Erika meletakkan tangan nya di dagu memikirkan masakan apa yang pas untuk di masak.
"Karena hari sudah pagi lebih baik aku memasak nasi goreng saja. Iya itu saja deh, lebih cepat dan simple."
Di saat tengah asik memasak, Ria yang sudah terbangun dari tidur nya langsung turun dari atas kamar nya namun masih dalam keadaan mata yang masih sayu.
"Mama...." panggil Ria pelan.
Mendengar suara yang tidak asing di telinga nya, Erika mengecilkan kompor lalu berbalik menatap anak kecil tersebut dengan senyuman manisnya.
"Ada apa, Sayang? Kok udah bangun pagi-pagi. Ria butuh sesuatu?"
"Ngga kok, Ma, Ria, kebangun. Soalnya, Ria, tadi mimpi, Mama, tidur sama, Ria."
Erika tersenyum mendengar penjelasan Ria, lalu mengusap rambut, Ria dengan lembut.
"Siapa yang bilang mimpi? Ria, ngga mimpi kok, Mama, semalem emang tidur di kamar, Ria, Sayang."
"Seriusan, Ma?"
Mata Ria yang awalnya sayu kini langsung terbuka lebar menatap Erika dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya, Sayang, Mama, serius," ucap Erika lembut.
"Sekarang, Ria, duduk dulu di meja makan tungguin, Mama, siap masak ya. Bentar lagi sarapan nya siap," sambung Erika lagi.
"Oke, Mama," jawab Ria langsung mengikuti perintah mama nya.
Tak butuh waktu lama, Ria, menunggu. Dalam waktu 15 menit nasi goreng yang di masak Erika sudah siap.
"Emm... Bau nya harum banget, Ria, jadi ngga sabar mau makan," ucap Ria sambil tersenyum.
"Lebih baik, Ria, panggil, Papa Arka nya dulu sana. Kita sarapan sama-sama, Mama juga mau buat minum dulu.
"Siap, Mama.
Ria segera pergi naik ke atas kamar Erika dan Arka. Karena pintu kamar yang tidak di kunci, dengan mudahnya Ria dapat masuk ke dalam.
__ADS_1
Setelah tiba di dalam, Ria, melihat Arka yang masih bergulung dalam selimut nya. Arka tidur dengan begitu nyenyak, hingga saat Ria mentoel-toel pipinya pun Arka tak kunjung bangun dari tidur nya atau pun terganggu.
"Papa Arka tidur nya nyenyak banget, gimana mau bangunin nya." Ria bergumam sendiri.
"Aha... Ria tau."
Ria langsung naik ke atas kasur Arka sambil terkekeh.
"Papa Arka, bangun....." pekik Ria.
Ria berteriak dengan begitu kuat hingga terdengar sampai ke dapur. Arka yang masih berbaring di kasurnya hanya sedikit membuka mata menatapa Ria dengan tatapan sayu.
"Ria, ada apa, Sayang?"
Erika yang terkejut dengan teriakan Ria langsung masuk ke kamar dengan wajah panik.
"Ngga apa-apa kok, Ma. Ria tadi mau bangunin, Papa, cuma ngga mempan dengan cara halus. Jadi, Ria, teriak aja. Tapi, Papa, ngga bangun-bangun juga, tadi cuma kebangun sebentar udah itu tidur lagi."
Erika yang mendengar penjelasan, Ria, langsung mendekat ke tempat tidur. Erika memperhatikan Arka dengan begitu intens begitu seksama.
"Kok bisa? Padahal kan, Ria, teriak nya kuat banget. Aku aja sampai kedengeran, kok bisa, Arka, ngga keganggu?" Erika bermonolog sendiri dengan pelan.
"Ria, sekarang, Ria, sarapan dulu ya. Nanti, Mama sama Papa, nyusul ya, Sayang."
"Oke, Mama."
Setelah Ria keluar dari kamar, Erika segera duduk di samping Arka. Erika memutar badan Arka ke arahnya, melihat wajah Arka yang berkeringat membuat Erika panik bukan kepalang.
"Sayang, kamu ngga apa-apa?" tanya Erika sambil meletakkan tangan nya di kening Arka.
"Astaghfirullah, kamu panas banget, Sayang. Arka... Arka... Bangun, Sayang...." Erika menggoyang-goyangkan badan Arka dengan pelan.
"Engghhh... Sayang.. Kamu udah bangun? Kamu udah ngga marah lagi kan?"
Arka hendak bangun dari tidur nya namun tak bisa karena badan nya yang kurang fit.
"Udah, ngga perlu bangun. Sekarang kamu istirahat aja, badan kamu panas banget nih." panik Erika.
"Aku ngga apa-apa kok," ucap Arka dengan nada lemah.
"Ngga, sekarang kamu istirahat. Aku mau ambil sarapan kamu dulu, jangan kemana-mana."
"Ngga perlu, Er, aku bisa sendiri kok. Tenang aja, aku baik-baik aja."
"Badan panas gini kamu bilang ngga apa-apa? Pokoknya sekarang kamu nurut sama aku, kamu istirahat aku ambil sarapan kamu dulu."
__ADS_1
"Ngga perlu, Er, yang penting sekarang kamu maafin aku. Kalau kamu maafin aku itu udah cukup kok. Aku pasti cepat sembuh." Arka tersenyum manis dengan wajah pucat nya.
"Sekarang kamu istirahat turutin perintah aku. Kalau kamu ngebantah aku ngga akan maafin kamu," ancam Erika.
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku akan istirahat." pasrah Arka.
"Suami pintar." Arka tersenyum mendengar ucapan Erika.
Dengan cepat, Erika bergegas mengambil makanan dan juga minuman untuk sarapan Arka.
Ria yang tidak mengerti apa yang di lakukan oleh mamanya itu hanya bisa terdiam dan menatap Erika dengan aneh.
"Mama, kenapa? Kok buru-buru banget keliatan nya?"
"Oh, emm... Itu, Papa, kamu Arka lagi sakit. Jadi, Mama, mau anterin ini buat dia. Mama, juga mau, Papa, kamu istrahat biar badan nya lebih fit lagi."
"Papa, sakit, Ria ikut ke atas ya, Ma. Mau liat, Papa, sama bantuin, Papa, mana tau, Papa butuh sesuatu," ucap Ria polos.
Erika yang mendengar itu begitu terharu. Anak sekecil, Ria, sudah mengerti ingin membantu orang tua nya yang sedang sakit.
Erika tersenyum sambil mengelus rambut Ria perlahan.
"Mama bangga sama, Ria, masih kecil sudah ada inisiatif mau membantu. Ria sarapan aja dulu ya, Sayang, Mama masih bisa bantu, Papa kamu sendiri. Nanti kalau, Mama, butuh bantuan, Ria, pasti, Mama, kasi tau ya. Mama, cuma minta sudah sarapan, Ria, cuci piring nya sendiri ya. Mama, mau ke atas dulu ya, Sayang."
"Oke, Mama, di laksanakan."
"Anak pintar."
Erika pun segera naik ke atas kamar, setelah masuk Erika langsung meletakkan nampan di meja kecil samping tempat tidur.
"Sayang... Bangun dulu, sarapan."
"Engh.... Iya," jawab Arka pelan sambil mencoba duduk di kasur nya dengan perlahan.
"Bisa, Sayang?"
"Bisa kok, Er."
Dengan perlahan Arka mencoba untuk duduk. Setelah bisa duduk dengan tegap , Erika langsung menyuapi Arka dengan sarapan nasi goreng yang sudah ia buat tadi.
Di saat nasi goreng yang di berikan hampir habis di makan Arka. Arka dengan tiba-tiba mendekat kan wajahnya ke dekat Erika.
Karena kaget Erika hanya bisa terdiam di tempat nya. Baru saja Arka hendak menempelkan bibir nya pada bibir Erika tanpa di duga Ria masuk tanpa di minta.
"Mama.... Papa..."
__ADS_1
🌼Bersambung 🌼