Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Piala


__ADS_3

"Er, kamu kenapa, Sayang?"


Arka yang panik dengan keadaan Erika segera mengejar istrinya dari belakang meninggalkan Rua dan yang lain nya di ruang tamu.


"Nek, Mama kenapa, Ria boleh ikut Papa nyusulin Mama ngga?"


"Udah, Ria di sini aja biarin Papa aja yang sama Mama. Ria mendinh ikut, Nenek ke atas bantu bawa piala uncle Reza. Nenek lihat dari tadi, Ria merhatiin piala ini terus . Ria mau pegang pialanya?" tawar Nenek nya itu.


"Emangnya boleh, Uncle?"


Ria yang memang sudah memperhatikan piala itu dari tadi seketika tersenyum sumringah saat Nenek nya menawarkan hal tersebut. Namun, karena tak ingin melakukan kesalahan Ria terlebih dahulu mempertanyakan hal tersebut kepada Reza.


"Boleh, Sayang, ayo ikut uncle ke dalam. Kita taro pialanya di kamar Uncle. Tapi ingat hati-hati ya, soalnya uncle susah dapetin nya."


Reza mengingat kan Ria dengan nada yang lembut dan begitu hangat.


"Siap Uncle," jawab Ria dengan begitu girang.


"Yaudah nih, Ria bawa yang kecil aja ya. Kalau yang besar takut nya, Ria ngga kuat."


"Iya, Uncle, Ria kan masih kecil jadi Ria bawa yang kecil aja."


"Anak pintar, hati-hati ya, Sayang. Nenek mau liatin Mama kamu dulu ya. Papa tunggu di sini aja, nanti Mama balik lagi," ucap Mama Reza kepada suaminya.


"Iya, Ma."


Ria yang sangat senang bisa membawa piala Reza nampak tersenyum sumringah dari awal menaiki tangga hingga sampai di atas.


"Ria sangat menyukai piala, Uncle, ya?"


Reza langsung melontarkan pertanyaan tersebut ketika melihat Ria yang dari tadi tak lepas memperhatikan piala milik nya itu.


"Emm...Uncle, Ria suka sama pialanya. Ria boleh bawa pulang satu ngga, Ria juga mau punya piala di rumah."


Ria meminta dengan wajah memohon.


Reza yang mendengar itu langsung terkekeh dan meminta Ria untuk duduk di sampingnya.


"Ria sini dulu deh sebentar, Uncle mau tanya sesuatu sama kamu."


"Iya, Uncle mau tanya apa?"


"Ria kalau punya sesuatu yang sudah Ria dapetin susah payah, Ria mau ngga kasi sama orang lain gitu aja?"


Mendengar pertanyaannya itu Ria langsung menggeleng.


"Ngga mau Uncle, kan Ria yabg usaha," jawab Ria spontan.


"Oke, terus kalau Ria punya sesuatu yang sebenarnya milik Ria tapi malah di akuin oleh orang lain sebagai milik dia gimana perasaan Ria, sedih ngga? Padahal Ria udah usaha susah payah tapi malah jadi milik orang lain."


"Sedih lah, Uncle, masa sih kita yang usaha malah orang lain yang dapetin," ucap Ria dengan nada sedih.


"Nah, kalau itu terjadi pada uncle, uncle pasti juga akan sedih, Sayang?"


"Emm... maksudnya Uncle Reza gimana. Ria masih belum ngerti."


"Gini deh, coba Ria ubah posisi jadi Uncle, pasti Ria juga akan sedih kan kalau apa yang udah Ria dapatkan dengan susah payah malah di ambil orang lain. Kalau, Ria mau punya piala yang Uncle punya, Ria harus belajar yang giat, belajar yang rajin cari ilmu sebanyak banyaknya.


Kalau Ria rajin belajar, Uncle yakin Ria pasti apapun yang Ria mau bisa Ria dapatkan. Bahkan bukan hanya satu piala, dua atau tiga piala bahkan puluhan piala pasti bisa, Ria dapatkan. Yang terpenting adalah Ria harus rajin-rajin belajar dan pantang menyerah."


"Iya, Uncle, maaf ya, Ria malah mau minta piala punya Uncle. Ria janji, Ria akan giat belajar agar Ria bisa menjadi anak pintar dan bisa dapetin piala yang lebbih banyak dari Uncle."


"Anak pintar, gitu dong semangat nya."


"Sayang, kamu ngga apa-apa?" tanya Arka khawatir.


Erika yang sudah tidak tahan lagi dengan sesuatu yang meminta keluar dari mulutnya tak menggubris pertanyaan Arka.


"Huwekkk...."


"Huwekkk..."

__ADS_1


"Huwekk..."


"Sayang, kamu kenapa..."


Karena panik akan keadaan Erika, Arka membantu Erika dengan cara mengelus punggung Erika lembut.


Karena tak bisa menjawab pertanyaan Arka, Erika hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.


"Huwekkk...."


"Huwekkk..."


"Huwekk..."


"Arka, gimana keadaan Erika, Nak, sudah baikan?"


"Belum, Ma, dari tadi mual nya ngga ada berkurang juga," jawab Arka cemas.


"Yaudah sini, biar Mama saja yang bantuin Erika ya, Nak."


"Iya, Ma."


Arka mengiyakan ucapan Mamanya itu sambil sedikit memberi ruang pada Mama untuk membantu Erika.


"Sayang, Mama bantuin ya."


Erika hanya mengangguk menjawab tawaran dari Mama nya itu.


Dengan sikap sigap seorang Ibu Mama menyapukan minyak angin aromatherapy pada perut Erika dengan lembut berharap dapat sedikit mengurangi rasa mual Erika.


"Sudah mendingan, Nak?"


"Lumayan, Ma."


"Bersihin dulu wajah kamu, Nak. Ini Mama bawakan handuk bersih nya."


"Iya, Ma, makasih."


"Iya."


Karena merasa sudah tak sanggup menopang tubuh nya, Erika seketika terkulai lemas ambruk kepelukan Arka.


"Er... Erika, Sayang, bangun Er."


Arka menepuk-nepuk pipi Erika dengan lembut agar Erika tersadar dari pingsannya.


"Nak, bawa Erika ke atas saja dulu. Ibu akan menyiapkan bubur hangat untuk Erika terlebih dahulu."


"Iya, Ma."


Tanpa pikir panjang, Arka langsung menggendong Erika ala bridal style membawa nya ke kamar. Ria yang baru saja keluar dari kamar Reza memperhatikan Arka yang tengah menggendong Mamanya dengan tatapan heran.


"Mama kenapa ya, kok di gendong?"


Baru saja Ria hendak turun menuruni tangga, Ria melihat neneknya yang ikut naik ke atas sambil membawa bubur langsung mengurungkan niatnya untuk kembali ke bawah.


"Nenek, ada apa?"


"Ngga ada apa-apa, Sayang, oiya Uncle Reza mana. Minta Uncle Reza telpon dokter ke sini ya."


"Iya, Nek."


"Uncle... Uncle.."


Tok...


Tok...


Tok...


"Iya, ada apa, Ria?"

__ADS_1


"Telpon dokter Uncle, Nenek yang minta."


"Dokter, memangnya siapa yang sakit?"


"Entahlah, Ria tidak tau."


Ria mengendikkan bahunya mengatakan bahwa dia juga tidak tau. Namun, setelah beberapa saat Ria kembali memutar otaknya mengingat Mamanya yang pingsan tadi.


"Mama...Mama..."


Ria yang panik dengan keadaan Mamanya segera berlari ke kamar orang tuanya mencoba memastikan apa yang terjadi.


"Uncle... jangan lupa telpon dokter," pekik Ria dari kejauhan.


"Iya iya, Uncle telpon."


Dengan sangat panik, Reza langsung masuk ke dalam kamar nya kembali mengambil ponselnya dan menghubungi dokter keluarga nya.


Kring...


Kring...


Kring...


"Halo, assalamualaikum," sapa seorang dokter dari sebrang sana.


"Waalaikumsalam, dokter Bram, bisa ke rumah saya sekarang?"


"Bisa, ada apa ya?"


"Kakak saya sakit, kami di sini membutuhkan dokter secepatnya."


"Oke, Reza kalau begitu tunggu sebentar ya. Saya akan ke sana."


"Iya, dokter, terimakasih."


"Sama-sama."


Tut...


Tut...


Tut...


"Siapa?"


"Reza, kamu mau ikut ke rumah nya?"


"Boleh, aku juga suntuk di RS ngga ada kerjaan."


"Yaudah, ayo kita berangkat."


"Emm..iya."


Tanpa pikir panjang Bram dan Dian segera berangkat ke rumah Reza.


Tingg...


Tingg...


Tingg..


"Itu pasti dokter nya, biar Ria saja yang buka pintunya."


"Yaudah silahkan."


Krek....


"Dokter cantik?"


🌼 Bersambung 🌼

__ADS_1


__ADS_2