
Setelah mengutarakan segala kesedihan nya, Erika ambruk ke tanah langsung tah sadar kan diri.
"Er, Er, Erika, bangun." Arka menepuk-nepuk pipi Erika agar Erika segera bangun.
Karena melihat Erika yang tidak juga sadar dari pingsan nya, Arka langsunglangsunga menggendong Erika dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter... Dokter tolong periksa istri saya."
Dokter yang baru saja hendak beranjak menuju tempat pemeriksaan Ria, kini mengurungkan niatnya karena melihat Arka yang tengah mengendong Erika dalam keadaan pingsan.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia pingsan?"
"Ceritanya panjang, Dokter, sekarang periksa istri saya dulu," panik Arka.
"Baiklah, saya akan memeriksa istri anda terlebih dahulu."
"Iya, Dokter."
Setelah memeriksa dokter kembali ke tempat duduknya dan memperhatikan Arka yang nampak gelisah.
"Jangan terlalu gelisah, istri anda tidak apa-apa. Dia hanya sedikit kelelahan dan shock dengan apa yang dia dengar tadi. Setelah sedikit istirahat dia pasti akan kembali pulih."
Mendengar penuturan dokter yang memeriksa istrinya, Arka merasa begitu lega. Setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi pada istrinya.
"Terimakasih, Dokter."
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya akan pergi ke ruang pemeriksaan dulu ya. Saya permisi dulu," pamit Dokter.
"Baiklah, Dokter mau ke ruang pemeriksaan anak saya?"
"Iya, saya akan ke sana. Anda mau ikut?"
"Apa lama?"
"Tidak, mungkin hanya satu jam."
"Baiklah, kalau anak saya menanyakan saya ataupun ibunya bilang saja kami akan segera menyusul."
"Baiklah, akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, Dokter."
Dokter langsung pergi ke ruangan Ria di periksa, sedangkan Arka dia masih setia berada di samping Erika yang tengah terbaring lemah karena shock.
Arka mengambil sebelah tangan Erika dan mencium nya dengan dalam.
"Maaf....."
Satu kata itu saja lah yang bisa di ucapkan Arka melihat keadaan Erika yang sekarang.
Di ruang pemeriksaan
"Hai, Ria, gimana lancar. Susternya galak nggak?" Dokter berjongkok melihat Ria dengan lembut.
"Ngga, suster nya baik. Ria malahan di kasi ini." Ria tersenyum senang sambil memperlihatkan lolipop di tangan nya.
__ADS_1
"Wah, enak dong, Dokter aja ngga ada tuh di kasi lolipop." Dokter memperhatikan suster yang memberi Ria dengan wajah tersenyum.
"Jangan bersedih, Dokter pasti bisa lebih banyak dari ini," kekeh Ria.
"Emm... Iya, anak pintar. Gimana suster?"
Suster tersebut hanya bisa menampilkan senyum yang di paksakan.
"Dia pintar, tinggal di suntik sama kasi vitamin aja, Dok," jelas suster tersebut.
"Oke, sekarang kita suntik dulu ya. Ria ngga takut kan?" tanya Dokter memperhatikan.
Ria menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ngga, Ria, kan pemberani. Kata, Mama sama Papa, Ria anak yang kuat jadi ngga boleh takut sama apapun."
"Anak pintar."
Ria tersenyum namun seperkian detik kemudian Ria mulai mengedarkan pandang nya ke seluruh penjuru ruangan tersebut mencari keberadaan seseorang.
"Mama Ria, mana?"
"Mama Ria kamu tadi pusing kepala jadi dia minta, Dokter buat periksa kamu."
"Mama pingsan? Kenapa, Dokter?"
"Ohh.. Mama kamu pusing aja."
"Tapi, Mama, nggak apa-apa kan?"
"Mama kamu baik-baik aja kok. Sekarang, Ria, di suntik dulu ya. Nanti kalau sudah selesai, Ria, boleh keluar liat, Mama, kamu."
Setelah Ria selesai di periksa, Ria langsung pergi meninggalkan ruang perawatan nya dan langsung menghampiri Arka yang tengah berdiri di depan ruangan Dokter yang memeriksa Ria tadi.
"Ayah Arka, Mam Erika, mana?"
"Mama Erika, ada di dalam. Tadi, Mama Erika kecapean jadinya, Mama Erika harus istirahat dulu di dalam."
"Tapi, Mama Erika, ngga kenapa-kenapa kan, Yah?"
"Ngga kok, Sayang, Mama Erika, baik-baik aja. Kamu mau masuk ke dalam liat, Mama Erika," tawar Arka.
"Emmm..." Ria mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi jangan di ganggu ya, Sayang, nanti kalau, Mama Erika nya udah bangun baru kita pulang ya."
"Siap, Ayah."
Sudah hampir 20 menit Erika terbaring di brangkar rumah sakit. Ria yang sudah menunggu dari tadi nampaknya mulai menguap karena menunggu, Mama nya yang belum juga sadar dari pingsan nya.
"Papa, Mama, kapan bangun nya? Ria ngantuk, mau tidur, Papa," rengek Ria.
"Sabar ya, Sayang, sebentar lagi, Mama Erika, pasti bangun. Kalau, Ria, mau tidur ya tidur aja. Nanti kalau udah sampai di rumah, Papa, bangunin, Ria, ya," tawar Arka.
"Tapi, Pa, Ria, mau nungguin, Mama."
"Tapi, Sayang, ini udah malem. Ria lebih baik tidur dulu, ngga bagus buat kesehatan, Ria. Papa janji deh kalau, Mama Erika, udah bangun, Papa, bangunin, Ria, oke."
__ADS_1
"Okedeh, Pa, siap."
Ria mengangguk sambil menguap dan langsung mengistirahatkan badannya di gendongan Arka.
Arka hanya memperhatikan Ria dengan tersenyum sambil mengelus rambut Ria lembut. Arka kembali mengalihkan pandangan nya ke arah Erika, berharap Erika cepat sadar dari pingsan nya dan mereka bisa segera pulang karena hari juga sudah semakin malam.
"Engghhh...." lenguh Erika.
Arka yang mendengar suara Erika langsung mengalihkan pandangan nya ke Erika.
"Kamu sudah sadar, Sayang."
Arka langsung duduk di pinggir ranjang Erika dengan posisi masih menggendong Ria.
"Aku kenapa?" bingung Erika sambil menatap Arka dengan tatapan sayu.
"Tadi kamu pingsan, gimana keadaan kamu sekarang. Udah lumayan? Udah malem juga ini kamu masih mau di sini?"
Erika hanya memperhatikan Arka dengan bingung. Namun, seperkian detik kemudian Erika langsung menatap Arka dengan tajam.
Erika langsung beranjak dari tempat tidur nya, baru saja Arka hendak menggapai tangan Erika, Erika langsung menarik badannya menjauh dari Arka.
"Sini, Ria, nya biar aku gendong. Udah malem, ayo pulang." ajak Erika.
Arka yang paham dengan keadaan Erika yang masih begitu marah kepadanya hanya bisa memaklumi istri nya itu.
Arka mempersilahkan Erika lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.
"Sudah mau pulang?" tanya Dokter yang melihat Arka beserta istri dan anaknya keluar dari ruangannya.
"Iya, Dokter, terimakasih. Kami pamit dulu."
"Iya, Pak, tapi ingat, Ria, harus banyak istirahat dan teratur meminum obatnya. Saya yakin pasti akan ada
"Oke, Dokter, saya pasti akan memperhatikan, Ria, dengan lebih baik lagi."
"Oke, hati-hati ya, Pak."
"Iya, Dokter. Terimakasih."
"Sama-sama."
Arka dan Erika segera pergi meninggalkan dokter yang ada di sana. Arka langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar bisa sampai di rumah karena hari yang sudah hampir malam dan juga mereka yang mulia lelah dengan kegiatan hari ini yang menguras tenaga.
Tanpa Arka dan Erika sadari ternyata selama di rumah sakit tadi ada seorang wanita yang memperhatikan mereka terutama Ria dengan tatapan sayu.
"Ada apa?" tanya Dokter laki-laki itu.
"Aku teringat dengan anak kita, Bram, aku yakin kalau dia masih ada dia pasti seumuran sama anak tadi," ucap perempuan itu dengan nada lesu.
Dokter yang di ketahui bernama Bram itu langsung memeluk perempuan di samping nya itu dengan erat.
"Sudah lah, Dian, aku yakin dia akan baik-baik saja di manapun dia berada. Jangan bersedih lagi, suatu hari nanti kita pasti bisa menemukan anak kita." Bram mencoba menenangkan Dian dengan lembut.
"Semoga saja."
"Kita berdoa yang terbaik aja ya."
__ADS_1
"Iya, Bram."
🌼Bersambung 🌼