Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Berbaikan.


__ADS_3

"Biasa, marah, ya sudah ayo pulang."


"Emm.. Ayo."


Belum sempat Jonathan selesai ingin bertanya, Arka langsung berdiri dan meninggalkan Jonathan sendiri.


Jonathan yang merasa bingung menatap punggung Arka dari kejauhan.


"Perasaan aku yang bawa mobil. Tapi ini kok aku yang di tinggal?" bingung Jonathan sambil melihat kunci mobil yang ada di tangannya.


Arka yang sudah sampai di depan mobil Jonathan sekarang berbalik arah ketika mendengar pernyataan Renata kalau kunci mobil masih ada di tangan Jonathan.


"Ck, merepotkan saja." Arka berbalik arah menghampiri Jonathan.


"Ayo cepat."


Tanpa aba-aba lagi, Arka langsung menarik tangan Jonathan.


"Lah?" bingung Jonathan.


"Cepatlah, Erika mau pulang. Aku tidak mau dia marah lagi nanti."


"Ck, dasar."


Setelah sampai di mobil, Jonathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Belum sempat lagi, Renata, duduk di samping Jonathan. Tiba-tiba aksi Renata terhentikan oleh ucapan Erika.


"Ren, duduk di belakang ya sama aku. Ada yang mau aku omongin."


Erika mengedipkan sebelah matanya kepada Renata memberi kode.


Renata yang mengerti dengan maksud Erika langsung turun dari mobil.


"Jo, aku duduk di belakang bersama Erika, Ya." Renata mengedipkan sebelah matanya ke arah Jonathan.


Jonathan yang awalnya tidak mengerti hanya mengendikkan bahunya bingung. Namun, seperkian detik kemudian, Jonathan akhirnya mengerti ketika melihat Renata yang memberi nya kode menggunakan matanya yang melirik ke arah Arka.


"Bolehkan, Jo," tanya Renata seolah meminta persetujuan Jonathan.


"I-iya, boleh, Sayang."


Ada yang aneh. batin Arka.


Tanpa menunggu lama, setelah mendapat persetujuan dari Jonathan, Renata langsung duduk di belakang bersama Erika. Arka juga langsung duduk di samping Jonathan.


"Oke, udah siap semua? Seatbelt nya udah di pasangkan?" tanya Jonathan pada tiga orang yang ada si mobilnya.


"Sudah," jawab mereka bertiga kompak.


"Okey, kita pulang."


BRUMM


Mobil Jonathan melaju pesat meninggalkan tempat wisata kota tua yang mereka kunjungi beberapa saat yang lalu.


Perjalanan yang awalnya untuk mencari ketenangan dan jalan-jalan untuk pengantin baru dengan sekejap mata saja malah menjadi perjalanan yang menimbulkan perdebatan antara salah satu pasangan suami istri.


Sebenarnya perdebatan yang terjadi bukanlah hal yang terlalu serius. Hanya saja ego yang di miliki dua orang dewasa itu terlalu besar, hingga hal kecil saja bisa menjadi masalah.


Renata memperhatikan sepasang suami-istri itu secara bergantian. Tidak ada percakapan di dalam mobil, yang ada hanya suara musik menemani kesunyian di dalam mobil.


Entah apa yang sedang di pikirkan Renata. Renata dengan perlahan mengambil ponsel yang ada di dalam tas dan mengirim pesan kepada salah satu kontak yang ada di ponselnya.


Tringg.. (Pesan masuk)

__ADS_1


Jonathan mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya. Jonathan melihat ada beberapa pesan masuk di aplikasi hijau dan tertera nama istrinya di depan.


Isi pesan


(Sayang, kita berhenti di mall sebentar ya. Ada yang mau aku beli.)


Melihat pesan yang di kirimkan Renata, Jonathan menoleh kebelakang sebentar. Jonathan di buat bertanya-tanya sendiri kenapa mau berhenti saja harus melewati pesan. Padahal kan Renata bisa menyampaikan hal itu langsung di dalam mobil.


"Ada apa, Jo?" tanya Arka yang melihat Jonathan menyetir sambil memegang ponselnya.


"Oh, emm.. Engga.. E-engga papa kok. Barusan mama chat minta beliin sesuatu. Nanti kita berhenti di mall ya."


"Oh, kirain apa. Yaudah."


Suami pinter. batin Renata memuji Jonathan.


Jonathan memberhentikan mobilnya di salah satu supermarket.


"Ren, ikut ke dalam yuk. Mama bilang dia minta cariin sesuatu sama kamu. Kamu tau lah, aku kan nggak terlalu paham soal dapur." Jonathan memberi penjelasan agar nampak lebih serius.


"Emm.. Boleh, yasudah, Er, aku kedalem dulu ya nemenin, Jonathan."


"Ren, boleh ikut?"


"Emm... Kami sebentar aja kok. Kamu sama, Arka, tunggu di sini saja."


"Ayo, Sayang," ajak Jonathan.


"Emm..."


"Sebentar ya, Er, nggak lama kok."


"Oke."


Setelah keluar dari mobil Renata hanya tersenyum sendiri.


"Emm.. Cuma mau kasi waktu buat mereka aja. Mereka kan sedang bertengkar, tidak baik kalau kita pulang nanti mereka masih bertengkar. Takutnya nanti mama salah paham dan malah ngira kita yang udah buat mereka bertengkar," jelas Renata.


"Oh, yaudah deh. Emm.. Kebetulan kita di sini, lebih baik kita belanja bulanan sekali mau?" tawar Jonathan.


"Emm.. Boleh, ayo." menarik tangan Jonathan ke dalam mall.


"Tunggu sebentar."


"Ada apa, Jo?"


"Sebentar ya." Jonathan mengirim pesan kepada Arka.


"Oke siap." Jonathan bersuara lagi.


Di mobil Jonathan.


Tringg.


Erika hendak mengambil ponselnya di dalam tas, namun dia undur karena melihat Arka yang sudah membuka ponselnya sambil membaca isi pesan di dalamnya.


"Oh, ternyata ponsel, Arka," gumam Erika kembali menutup tasnya.


Arka yang mendengar apa yang di katakan oleh Erika hanya bisa tersenyum sendiri.


Jonathan.


(Ka, kami mau belanja dulu berdua.)

__ADS_1


(Sekarang tugas kamu berbaikan dengan Erika. Kami tidak mau selepas kami berbelanja kamu sama, Erika, masih bertengkar. Ayo berusaha, semoga berhasil.)


Arka.


(Baiklah, aku akan berusaha. Terimakasih waktu nya.)


Send✅✅


Arka seketika melirik kebelakang, Arka memperhatikan Erika yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya.


Tanpa menunggu lama, Arka segera turun mobil lalu pindah ke kursi belakang di samping Erika.


"Lah, kenapa pindah kesini sih?" ketus Erika.


"Ya, apa salahnya sih duduk di samping istri sendiri." Arka mencoba membela diri.


"Ya, emang nggak papa, tapikan tadi kamu marah sama aku. Kenapa malah dekat-dekat gini sih?"


Erika merasa sedikit risih dengan keadaan badan Arka yang begitu dekat dengan nya. Erika langsung mendorong dada Arka terus mendekat ke arahnya.


"Sayang, jangan ngambek lagi dong," bisik Arka lembut tepat di telinga Erika, hingga membuat Erika merinding.


BLUSSH..


Erika terdiam, wajahnya yang semula putih seketika menjadi merah mendengar permintaan maaf dari Arka.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan permintaan maaf Arka hanya saja cara Arka meminta maaf membuat Erika merasa ada yang salah dengan jantung nya karena tiba-tiba saja berdetak semakin keras.


Arka terkekeh sendiri ketika mendengar detak jantung Erika yang memompa begitu cepat. Arka juga menyadari kalau pipi Erika semakin lama semakin bertambah merah.


"Sayang, kamu kenapa?"


Arka dengan sengaja malah menempelkan tangan nya di pipi Erika dan mengusap pipi Erika dengan lembut.


"E-engga, aku nggak papa kok." Erika berusaha berbicara setenang mungkin.


"Maafin, aku, ya, Er." Arka memohon pada Erika dengan wajah memelas.


"Apaan sih, Ka?" Erika pura-pura bingung.


"Maafin yang tadi ya." Arka kembali memohon.


"Emm... " dehem Erika.


"Emm.. Apa?"


"Maafin ya, ya, ya," mohon Arka lagi.


"Astaghfirullah.. Iya Arka, iya."


"Beneran?"


"Iya, Arka, beneran."


"Kalau gitu, senyum dulu."


Erika langsung tersenyum manis kepada Arka.


"Nah, gitu kan cantik."


"Emm.. Ka, kita keluar yuk. Nyusulin si Renata sama Jonathan, mereka lama banget."


"Emm.. Kayaknya mereka sengaja deh, Er."

__ADS_1


"Sengaja? Maksud kamu?"


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2