Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Rumah Sakit.


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok...


"Iya, siapa?"


Arka membuka pintu kamar dengan perlahan lalu melihat laki-laki di depan berseragam rapi sambil membawa nampan yang berisi makanan, minuman, dan juga sedikit cemilan.


"Maaf, tuan, saya pelayan di hotel ini. Saya datang ke sini untuk membawa makanan dan makanan ringan untuk anda. Kerana hari ini kami meraikan ulang tahun ke-5 penubuhan hotel ini."


"Wah, benarkah, pas sekali waktunya. Terimakasih untuk makanan nya, sampai kan ucapan terimakasih saya pada pemilik hotel ini ya. Semoga hotel ini semakin ramai dan semakin berjaya."


"Iya, terimakasih, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga kalian nyaman dengan fasilitas yang sudah kami sediakan."


"Iya, sama-sama."


"Siapa, Bram?"


Dian yang baru saja selesai dengan acara mandinya langsung melihat Bram dengan penuh tanda tanya menunggu jawaban.


"Pelayan hotel, dia memberikan kita ini," sambil mengangkat nampan yang berisi makanan.


"wihh... makanan."


"Dapat dari mana, Yah?"


"Pelayan hotel."


"Kamu pesan, Bram?"


"Ngga, Sayang, ini memang dari hotel, katanya mereka lagi merayakan anniversary ke-5 tahun hotel ini."


"ohh.... kebetulan banget ya, Bram. Jadi kita ngga perlu pesan makanan lagi."


"Iya, Sayang, mungkin ini sudah rezeki kita."


"Ria, Ria mau mandi ngga? Nanti kalau Ria sudah selesai kita makan malam bareng."


"Iya, Ria, mandi dulu ya."


"Iya, Nak."


"Kalau Ria sudah mandi, nanti kamu mandi dulu ya. Pasti badan kamu lengket juga kan. Sesudah mandi baru kita makan sama-sama, setelah itu baru kita istirahat."


"Sudah, tidak apa-apa, sesudah Ria mandi kita langsung makan saja. Takut nya, Ria, sudah kelaparan karena kelamaan di dalam pesawat.$


"Baiklah, terserah kamu saja, Bram." Dian tersenyum mengerti.


"Ayah, Ria sudah selesai mandi. Ayah mau giliran?"


"Ayah mandinya nanti aja sayang, sekarang kita makan dulu pasti kalian sudah lapar kan?"


"Tapi, yah."


"Sudah, Ria, ayah mandinya nanti aja. Sekarang kita makan dulu, Ayah sudah sangat lapar.". kekeh Bram.


"Ohh...Bunda baru tau kenapa ayah ngga mau mandi dulu. Ternyata Ayah udah lapar, yaudah ayo kita makan dulu hari udah siang, besok baru kita ke RS."


"Iya, Bunda."


Malam harinya di hotel, Bram, Dian, dan juga Ria tidak pergi kemana-mana malam ini. Mereka hanya menghabiskan waktu bertiga di kamar sambil berbincang-bincang bersama.


"Ayah, boleh ngga kalau Ria mau telpon, Papa sama Mama."


"Boleh kok, Sayang, sebentar ya. Dian, sekarang jam berapa?"


"Jam 21.00 malam."


"Yaudah, ayo kita telpon Papa dan Mama kamu. Mereka pasti belum tidur juga karena di Indonesia sekarang masih jam 20.00 malam."


"Emm...Ria mau telpon aja atau Videocall?"

__ADS_1


"Videocall boleh ngga, Yah?"


"Boleh dong, Ria mau Videocall kan, sebentar ya."


"Iya," jawab Ria dengan nada pelan.


"Yaudah, tunggu sebentar ya."


Bram mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi hijau yang ada di dalam ponselnya sambil menghubungi Arka untuk melakukan panggilan Video.


Tut...


Tut....


Tut...


Melihat ada Panggilan masuk, Arka langsung membuka ponselnya dan segera memanggil Erika ketika melihat yang menelpon nya adalah Bram.


"Erika sayang...."


"Iya Arka, ada apa?"


Erika yang mendengar panggilan Arka segera pergi keatas kamar mereka untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa?"


"Bram menelpon."


"Benarkah, kenapa tidak di jawab?"


"Iya, maaf, tadi aku m nungguin kamu datang."


Selesai Erika ada di sampingnya, Arka segera menjawab telpon yang sudah dua kali berdering itu.


"Hai, Mama, assalamualaikum." sapa gadis kecil itu yang nampak begitu girang melihat Mamanya.


"Mama aja, Papa ngga di sapa, Sayang?"


Arka menggoda bocah kecil itu sambil memanyunkan bibirnya.


"Baik, Sayang, Ria udah makan?"


"Udah, Papa."


Melihat Ria yang begitu bahagia membuat wajah Mama dan Papanya dari layar ponsel membuat Dian dan Bram pergi dari sana memberikan ruang untuk keluarga itu melepaskan kerinduan mereka.


"Ria sudah pergi ke rumah sakit?"


"Belum, Pa, kata Ayah besok baru ke sana."


"Besok kalau pergi jangan lupa sarapan ya. Ria ngga boleh kelaparan di sana."


"Iya, Mama, Ria pasti sarapan kok. Oiya, Ria jyga punya banyak makanan di sini. Jadi, Mama tenang aja ya."


"Iya, Ria, Mama tenang kok asalkan Ria sama Ayah dan Bunda Ria. Kalau besok Ria udah mau berangkat ke RS minta Ayah sama Bunda telpon Mama ya, Mama mau tau perkembangan Ria."


"Iya, Mama, Mama sama Papa udah makan malam?"


"Udah dari tadi sayang."


"Ria anak Papa yang cantik, sekarang udah malem lebih baik Ria istirahat ya. Mana Ayah sama Bunda, Papa mau ngomong sebentar."


Mendengar Arka yang menanyakan mereka, Bram dan Dian langsung beranjak dari kasur mendekat ke arah Ria.


"Ria, Ria istirahat dulu ya. Besok kita pemeriksaan, kita harus bangun pagi-pagi."


"Iya, Yah."


"Hai Arka, hai Erika," sapa Dian.


"Hai Dian," jawab Arka dan Erika bersamaan.


"Gimana Ria?"

__ADS_1


"Dia baik disini."


"Kalian besok ke RS jam berapa, jangan sampai Ria telat makan ya." pesan Erika.


"Sekitar jam 08.00 pagi, tenang saja akan kami pastikan Ria, ngga akan telat makan di sini. Kami ajan menjaga Ria dengan baik."


"Baiklah, besok sebelum kalian berangkat, kita Videocall lagi ya."


"Iya, baiklah, emm...kami mau tutup telponnya dulu ya. Hari sudah malam kami harus istirahat, assalamualaikum."


"Iya, Waalaikumsalam."


Tut...


"Tenanglah, Er, mereka pasti melakukan yang terbaik untuk, Ria."


Arka mencoba menenangkan Erika yang masih nampak khawatir dengan keadaan Ria.


"Iya, Ka, aku tau mungkin ini Faktor rasa kangen aku sama Ria aja makanya kayak gini."


"Yaudah, jangan di pikirin lagi ya, kasian loh baby-nya nanti juga pusing karena kamu banyak pikiran. Lebih baik sekarang kita istirahat ya, besok kita kan mau ke restoran. Inget ngga, besok hari pertama Reza kerja."


"Oiya ya Ka, aku lupa. Yaudah, ayo kita tidur, aku udah ngga sabar nunggu besok."


"Iya, Sayang."


"Ria, Ria tidur ya, Sayang, besok kita pemeriksaan."


"Iya, Bunda."


Ria menuruti ucapan Bundanya, Ria mulai memejamkan matanya perlahan sambil di iringi dengan nyanyian pengantar tidur dari Bundanya.


Setelah merasa Ria sudah terlelap dalam tidurnya. Bram yang melihat kesempatan itu memindahkan Ria kesamping lalu memeluk istrinya itu dari belakang.


"Ihh....Bram...ada Ria loh, kamu mau ngapain sih Bram?" risih Dian sambil mencoba menjauhkan wajah Bram yang mulai mendekatinya.


"Sayang...udah lama loh semenjak kita kehilangan anak kita, sekarang kita sudah menemukan dia, jadi boleh ya."


Dian yang paham kemana arah pembicaraan Bram langsung bergidik ngeri dan melepaskan tangan Bram dari pinggang nya.


"Bram ihh.. kapan-kapan aja ya sayang. kita di sini mau fokus sama kesembuhan Ria."


"Iya kalau bisa sekalian kan bagus, Sayang."


"Ih.. ngga ngga, aku mau tidur. Inget, besok kita harus berangkat pagi-pagi."


Keesokan harinya, Bram dan Dian pergi berangkat ke RS Mahkota Medical Center membawa Ria untuk memulai pengobatan nya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Permisi."


"Ya, sila masuk." ucap seorang Dokter dari dalam.


"Dokter Bram?"


"Iya Dokter."


"Kenapa tidak bilang mau kemari?"


"Maaf Dokter, semalam saya sudah menelpon Dokter tapi Dokter tidak mengangkat."


"Oo..kalau begitu saya minta maaf, semalam saya sedang melayani pasien."


Hari ini, Ria memulai pengobatan nya. Dari hari pertama hingga hari ke-14 keadaan Ria perlahan membaik. Namun, entah apa yang terjadi hari ini selepas mendapatkan donor darah pagi hari tiba-tiba saja keadaan Ria mendadak memburuk. Ria mengalami kejang-kejang hebat, sontak saja hal tersebut membuat Dian dan Bram yang ada di sana terkejut.


"Astagfirullah hal azim, Bram panggilkan Dokter," panik Dian.


"Dokter Dokter tolong anak saya."

__ADS_1


🌼 Bersambung 🌼


Kira-kira apa ya yang terjadi sama Ria. Hayo ada yang penasaran ngga? Kalau penasaran jangan lupa buat stay terus di sini ya dan semoga saja novel ini bisa menghibur kalian semua🤗🤗🤗.


__ADS_2