Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Tidak mungkin.


__ADS_3

"Tidak, Nenek tidak akan menyerah sampai di sini. Nenek akan tetap melakukan apa yang sudah, Nenek, mulai. Keluarga Leon harus merasakan kesengsaraan dulu, sama seperti kesengsaraan yang, Nenek, dapat karena keluarga mereka."


"Tapi, Nek, bukankah anak kecil itu tidak ada hubungannya dengan kakek Leon. Kenapa kita tidak langsung menghancurkan kakek Leon saja? Masalah akan cepat selesai dan dendam, Nenek terselesaikan."


"Itu terlalu mudah dan tidak menyenangkan. Nenek mau semua keluarga mereka merasakan nya, termasuk bocah kecil itu." Nenek Susan tetap bersikukuh dengan keinginan nya ingin menghancurkan keluarga kakek Leon.


PRANKKK...


Nenek Susan dan Rendi langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara tadi.


Nampak vas bunga yang terletak di balik ruang tamu itu pecah berserakan. Namun mereka tak menemukan ada orang lain di sana. Padahal kalau di pikir-pikir, tidak mungkin vas bunga yang sudah tertata rapi di atas meja itu bisa pecah begitu saja tanpa ada angin ataupun hujan.


"Ada apa di sana, cepat kamu cek. Kita harus pastikan tidak ada yang mengetahui rencana kita ini."


"Baik, Nek."


Rendi pun mendekat ke arah vas bunga yang sudah berserakan tersebut. Rendi mengamati sekeliling,mencari sesuatu yang mungkin menjadi penyebab pecahnya vas bunga tersebut.


Hingga Rendi menyadari ada yang janggal di balik gorden, dia mendekat ke arah gorden,dan terus berjalan mendekat.


Mati aku kalau sampai ketahuan. *batin bocah kecil itu sambil merasa was-was.


Hingga, tiba-tiba..


Meowww...


Meowww...


"Aishh... Mengagetkan aku saja," sambil melihat ke arah kucing yang baru saja keluar di balik gorden.


"Sudahlah, hanya kucing." berbalik kembali menghampiri nenek Susan.


Huh, selamat, sambil mengelus dadanya dan kembali ke kamarnya saat Rendi tengah lengah.


"Ada apa, siapa yang ada di sana?"


"Tidak ada, Nek. Hanya ada kucing."


"Baiklah, kamu lebih baik pergi istirahat ke kamar kamu. Pastikan besok pagi-pagi sekali kamu sudah mengantar Arka pulang agar Arka tidak bertemu dengan Ria."


"Emm.. Baik, Nek."


"Bagaimana ini, aku tidak mungkin mengecewakan, Erika.Aku sudah pergi sejauh ini bagaimana bisa aku tidak menemukan Ria." Arka prustasi sambil melihat foto kebersamaannya bersama Ria dan Erika.


Disaat tengah dalam keadaan yang prustasi, tiba-tiba saja ponsel Arka bergetar. Terlihat ada panggilan video yang masuk ke ponselnya dan tertera nama panggilan 'istriku'. Awalnya, Arka, hendak memutuskan sambungan panggilan itu namun karna dia meningat keadaan Erika sekarang Arka langsung menggeser layar ponselnya ke samping kanan.


Call on.


"Assalamu'alaikum, Halo, Er."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Ka, gimana? Kamu udah nemuin Ria?"


Arka seketika langsung menundukkan wajahnya, melihat wajahnya yang seperti itu Erika langsung mengerti dan mencoba memberi dukungan kepada Arka.


"Hei, Ka, nggak papa kok. Aku ngerti, kalau emang kamu belum bisa nemuin Ria nggak papa, nanti kita cari lagi ya. Kalau sampai besok malam kita belum nemuin, Ria, kita lapor polisi ya biar polisi yang nolongin kita cari Ria."


"Iya, Er, maafin aku ya."


"Nggak, Sayang, ini bukan salah kamu. Ini semua salah aku, coba aja kemarin aku nggak nyembunyiin perihal ingatan aku sama, Ria, pasti sekarang, Ria, masih ada di sini sama kita."


"Iya, Aku tau tapi tetep aja, Aku, juga bersalah di sini. Aku nggak bisa jagain, Ria, aku nggak becus."


"Hei, Arka, udah aku tau, Ria, anak yang kuat dia pasti nggak kenapa-napa. Kamu harus percaya sama, Ria, apapun keadaan nya Ria pasti bisa bertahan."


"Iya, Er," sambil tertunduk lesu.


"Yaudah, kamu istirahat ya. Besok pagi kamu pulang kan?"


"Iya."


"Bye, Sayang. I love you," ucap Erika sambil menampilkan senyum termanis nya.


Arka yang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Erika seketika langsung mengangkat kepalanya melihat ke layar ponsel dan langsung ikut tersenyum.


"I love you too. "


Call off.


"Twinss apa yang harus aku lakukan?Aku harus pulang sama kak, Arka, besok. Tapi, aku tidak mau meninggalkan kamu," ucap Ria lirih sambil menatap temannya dengan tatapan senduh."


"Kalau begitu, bawa aku," jawab Ria yang satunya lagi setelah mendengar ucapan Ria tadi.


Ria seketika terperanjat melihat twinss nya itu tersadar dan membuka mata sambil menatapnya.


"Bagaimana bisa aku membawa kamu, kalau kak Arka saja tidak tau keberadaan ku."


"Aku mohon twinssw, tinggal di sini bukan lah hal yang menyenangkan. Nenek susan tidak sebaik yang kamu lihat,aku mohon twinss, ini jalan satu-satunya aku bisa keluar dari sini." Ria memohon sambil menunjukkan wajah memelas nya.


"Kenapa? Bukan kah, Nenek, Susan, itu baik?"


"Dia hanya iblis yang menyamar seperti malaikat. Menolong ku dari penjual anak tapi juga menyiksaku layaknya binatang disini."


"Bagaimana mungkin, Nenek Susan saja sangat baik padaku."


"Dia pasti menginginkan sesuatu dari mu.Aku tau siapa, Nenek, Susan dan aku sudah mengenalnya sangat lama sekali. Aku mohon sekali."


Tapi semua yang di katakan nya ada benarnya juga. Kalau mereka baik kenapa mereka tidak membiarkan aku bertemu dengan,kak, Arka, lalu pulang bersama dia. Bahkan kak Rendi juga menyembunyikan. *batin Ria berpikir sangat keras.


"Tapi kita harus mengatur rencana. Kita pasti tidak akan bisa keluar begitu saja, kalau sampai kita ketahuan makan habis lah kita," sambil memikirkan cara yang bagus untuk mereka bisa keluar dan kembali pulang.

__ADS_1


Setelah berpikir-pikir lumayan lama akhirnya salah satu dari mereka menemukan cara untuk keluar.


Mereka mulai berdiskusi tentang rencana yang hendak mereka laksanakan besok hari. Setelah merasa menemukan cara yang paling akurat mereka langsung bertos bersama sambil tersenyum.


"Semoga saja rencana kita lancar."


"Amin."


"Oke, saat nya tidur. Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali."


Keesokan harinya.


Pagi sudah menjelang, matahari mulai menampakkan sinarnya. Tetapi hari masih menunjukkan pukul 05:30,Sesuai dengan kesepakatan semalam yang sudah mereka buatbuat, ke-dua anak kecil yang memiliki nama yang sama mulai menjalankan aksi mereka.


"Oke, kamu sudah siap twinss?"


"Siap."


"Oke, ayo."


Mereka langsung keluar dari kamar, tidak lupa pula pintu nya di kunci dahulu agar tidak di curigai.


Satu per satu anak tangga mereka turuni dengan perlahan sambil mengendap-endap melihat keadaan sekitar penjuru rumah.


Setelah merasa keadaan rumah aman, mereka kembali mengendap-endap.


"Tunggu, kita tidak bisa menggunakan pintu depan, kita harus lewat pintu belakang."


"Oiya, untung kamu mengingat kan aku, hehhee..," ucapnya sambil cengegesan dan menggaruk leher nya.


"Yaudah, ayo."


Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka, karena tidak melihat,tanpa di sadari ternyata ada Ibu Susan yang tengah memasak di ruang dapur.


"Ria," langsung menarik tas ransel temannya itu.


BRUKKH


"Aww..." rintih Ria kesakitan sambil memegang bahunya.


"Ada apa?" lanjut nya lagi.


"Itu," sambil menunjuk ke arah Bu Susan yang tengah memasak.


Dalam keadaan tengah asik memasak, Bu Susan tiba-tiba saja...


BRUKKKH


Bu Susan langsung menghentikan kegiatan memasak nya dan langsung mengedarkan pandangan nya ke arah belakang.

__ADS_1


"Siapa di sana?"


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2