
Perjalanan menuju kota tua tidaklah terlalu lama. Hanya butuh waktu sekitar 22 menit dengan jarak 9,5 Km untuk sampai di sana dengan melewati jalan KH. Hasyim Ahsari.
Arka memarkirkan mobilnya tepat di parkiran yang sudah ada di sana. Tanpa menunggu lama, Erika dan Renata segera turun dari mobil tanpa menunggu suami mereka lagi.
"Wah, walaupun sudah hampir 1 tahun tidak kemari, tetap saja tidak ada yang berubah dari tempat ini."
Renata menatap kagum ketempat yang di namakan kota tua tersebut.
"Aku juga sudah lama tidak kemari." Erika turut bersuara.
"Haiss. Dasar wanita, tidak mau menunggu lagi. Membuat ku merasa jengkel saja," kesal Arka.
"Yak, apa yang kamu bilang tadi, Ka? Merasa jengkel, begitu saja sudah jengkel. Sudah seperti ibu-ibu hamil yang tak boleh salah sedikit saja. Dasar aneh," jawab Jonathan yang merasa dengan laki-laki di samping nya itu.
"Baiklah, ayo kita susul istri kita," ajak Arka.
"Ayo."
Erika dan Renata masih begitu asik melihat-lihat ke sekitar. Melihat ada seorang tour guide di kerumunan para pelancong, Erika langsung memilih menarik tangan Renata untuk mendekat ke arah kekerumunan orang yang semakin bertambah itu.
Kota Tua.
Lokasi: Mangga Besar, kec. Taman sari, Jakarta barat, DKI jakarta.
Kota tua di Jakarta yang juga bernama kota Tua, berpusat di alun-alun Fatahillah, yaitu alun-alun yang ramai dengan pertunjukan rutin tarian tradisional. Museum Sejarah Jakarta adalah bangunan Belanda dengan lukisan dan barang-barang antik, sedangkan Museum wayang memamerkan boneka kayu khas Jawa. Desa glodok, atau Chinatown, terkenal dengan makanan kaki lima, seperti pangsit dan mi goreng. Di dekatnya, terdapat sekunar dan kapal penangkapan ikan di pelabuhan Sunda Kelapa yang kuno.
Beberapa bangunan dengan arsitektur khas Eropa masih tegak menjulang di antara gedung-gedung perkotaan. Hingga saat ini tempat ini menjadi salah satu cagar budaya untung mengenang dan mengakui masa tersebut. Tempat ini menjadi cocok menjadi salah satu destinasi ketika ingin berfoto ria.
Seorang tour guide menjelaskan beberapa keunggulan dan keunikan dari kota tersebut. Salah satunya yang tengah di jelaskan oleh seorang tour guide cantik itu adalah Museum fatahillah.
Erika dan Renata memperhatikan setiap hal yang di ucapkan tour guide cantik di depan mereka. Para suami yang merasa di tinggalkan langsung mencari keberadaan istri mereka di antara kerumunan para pelancong.
"Aisshh.. Dasar wanita, kemana lagi mereka berdua," kesal Arka sambil masih mencari di balik kerumunan.
"Merepotkan saja," tambah Jonathan.
Mereka terus mencari, karena saking banyaknya orang yang ada di sana. Mereka terus mencari hingga sampai di ujung hingga,
"Akhirnya ketemu juga."
Arka langsung menarik tangan Erika begitu juga dengan Jonathan yang melakukan hal yang sama pada Renata.
Renata yang awalnya hendak memukul orang yang sudah menarik nya dengan lancang. Tapi, untung saja Jonathan bergerak cepat dengan menampakkan wajahnya di depan Renata, sehingga tas yang sudah di ankat tidak jadi melayang ke wajah Jonathan.
"Loh, kamu, Jo?" tanya Renata bingung.
"Iya iyalah, kamu kira siapa lagi? Dasar wanita tidak melihat keadaan dulu sebelum marah-marah."
"Iya, iya, maaf aku kan nggak tau, Jo," cengir Renata.
"Iyain biar cepet."
__ADS_1
"Yaudah, karna kamu di sini, lalu di mana, Erika dan Arka?" sambil menatap Jonathan.
"Oiya ya, di mana mereka."
Jonathan langsung mengikuti Renata yang tengah mengedarkan pandangan nya ke arah sekitar mencari sosok Erika dan Arka.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat Erika yang tengah memukul seorang laki-laki tanpa dia sadari adalah suaminya sendiri, Arka.
Jonathan dan Renata yang melihat hal itu langsung bertatapan satu sama lain dan berlari ke arah tempat kejadian berusaha melerai keganasan Erika.
"Yak, dasar laki-laki kurang ajar. Rasakan ini."
Brugh...
Brugh..
Brugh..
"Rasakan ini."
Erika kembali memukul laki-laki itu dengan tas nya.
"Aw... Aw.. Sudah.. Sudah.."
"Erika, stop!"
Renata dan Jonathan datang dari arah belakangan mencoba menghentikan Erika.
"Renata, Jonathan? Bagus lah kalian datang. Ayo bantu aku hajar orang ini."
Brugh..
Brugh..
Brugh..
"Aw.. Aw... Sayang, sudah." Arka berbicara dengan nada memelas.
"Erika sudah, dia, Arka, kamu tidak kenal apa sama suami kamu sendiri?!"
"Maksud kamu, Jo?"
"Itu, Arka, Er, yang kamu pukul itu suami kamu sendiri."
Erika seketika membulat kan matanya. Erika langsung membalikkan badan laki-laki di depannya, betapa terkejut nya Erika ketika melihat laki-laki yang sudah di hajar nya adalah suami nya sendiri.
"A-arka?"
"Aww... Iya, ini, Arka, aww.. Badanku," memeganu setiap bagian tubuhny yang sudah di pukul Erika tadi.
"Astaghfirullah, Sayang, maaf. Aku kira kamu penculik atau semacamnya jadi aku langsung memukul kamu. Maaf ya, aku minta maaf." Erika menampilkan wajah memelas nya kepada Arka agar Arka tidak marah.
__ADS_1
"Ahh.. Emangnya muka ku ini tampang penjahat apa. Aw.. Badanku."
"Maaf, aku kan tidak tau. Yaudah sekarang kita cari tempat duduk dulu ya untuk kamu, sekalian aku beli minum," tawar Erika.
"Emm.. Iya, ayo."
Setelah menemukan tempat duduk yang pas dan nyaman untuk mereka, Erika, langsung berpamitan kepada yg lain untuk membeli minuman.
"Tunggu, Er, biar aku dan Renata saja yang membeli minuman. Kamu di sini saja bersama, Arka," tawar Jonathan.
"Baiklah, terserah kalian saja."
"Ayo, Ren."
"Emm.. Ayo."
Setelah Renata dan Jonathan pergi untuk membeli minuman tinggal lah, Erika yang masih berusaha meminta maaf pada Arka dan juga Arka yang tengah berpura-pura untuk mendiam kan Erika.
"Sayang, Arka, maaf ya. Aku kan tadi nggak tau, Sayang. Aku kira tadi kanu penculik atau semacamnya. Erika minta maaf ya," mohon Erika dengan wajah memelas.
Arka tetap saja tak bersuara, Arka masih setia dengan wajahnya yang masam seolah benar-benar marah kepada Erika.
"Sayang, Arka..."
Arka tetap tak bergeming. Melihat Arka yang tak menanggapi nya sama sekali, Erika akhirnya memilih untuk ikut diam di samping Arka.
Arka seketika mengalihkan pandangan nya ke samping ketika merasakan tidak ada lagi kata-kata permohonan maaf keluar dari mulut Erika.
"Er.." panggil Arka namun tak di tanggapi Erika.
"Erika.." panggil Arka lagi.
"Erika.. Kok malah kamu yang marah sih? Kan harus nya aku yang marah."
"Terserah, aku sudah minta maaf dari tadi tapi tidak ada yang mau memaafkan lebih baik aku diam," ketus Erika.
"Loh, kok gitu sih?" bingung Arka.
"Pikir aja sendiri."
Melihat Erika yang kesal dengan nya seperti ini seketika membuat Arka menyesali perbuatannya. Padahal niat awalnya hanya ingin mebgerjai Erika.
Erika langsung beranjak dari tempat duduknya ketika melihat Renata dan Jonathan yang sudah datang dari membeli minuman. Erika segera menarik tangan Renata untuk berbalik arah ke mobil.
"Jo, ayo pulang," ajak Erika.
"Hah? Baiklah, tunggu sebentar," segera menghampiri Arka, Erika kembali menarik Renata langsung ke mobil.
"Ada apa?"
"Biasa, marah, ya sudah ayo pulang."
__ADS_1
"Emm.. Ayo."
🌼Bersambung 🌼