
"Loh kok, kakak lagi sih. Panggil ayah dong sayang," ucap Arka seraya tersenyum.
"Iya, Ayah."
"Nah, gitu dong kan baru enak di denger nya." Arka tersenyum sambil mengacak-acak rambut Ria gemas.
"Tapi, boleh ngga manggil nya, Papa, aja biar pas sama, Mama Erika," tawar Ria.
"Boleh kok, Sayang, Ria boleh manggil apa aja senyaman Ria ya."
"Siap, Papa." mengangkat tangan nya memberi hormat kepada Arka.
"Oke, Sayang, sekarang sudah hampir jam 12 siang, Ria pergi ke kamar udah itu istirahat ya, Sayang," perintah Arka.
"Tapi, Pa, Ria masih mau di sini," ucap Ria lesu.
"Sayang, nanti malam kita ada jadwal sama dokter, jadi siang ini, Ria, harus istirahat dulu ya. Biar malemnya ngga terlalu capek dan ngantuk."
"Oke, Papa, kalau gitu, Ria, masuk kedalam dulu ya. Good bye, Ma." Ria melambaikan tangan nya kepada Mama dan papanya dan bergegas naik ke atas kamarnya.
"Iya, good bye, Sayang."
Erika memperhatikan Arka yang nampak tengah memikirkan sesuatu. Walaupun tidak di beritahu tapi Erika dapat melihat raut wajah cemas yang ada di wajah Arka.
Karena tak ingin lama-lama menyimpan rasa penasaran nya sendiri, Erika memilih untuk bertanya secara langsung kepada Arka.
"Arka.. Kamu kenapa? Kamu lagi mikirin apa? Dari tadi aku liat kamu cemas banget?"
"Emm.. Ngga.. Ngga ada apa-apa kok, Er, cuma pusing aja sedikit," bohong Arka.
"Pusing? Kamu sakit?"
"Ngga kok, Sayang, aku baik-baik aja."
"Tadi katanya pusing. Kalau kamu pusing, biar aku beliin obat ya, Ka," tawar Erika.
"Ngga, aku ngga apa-apa kok. Sekarang, mending kita istirahat, malam nanti kita ada jadwal ketemu dokter mau cek kesehatan, Ria."
"Apa, Ria, akan baik-baik saja, Ka? Aku sebenarnya takut sekali, aku takut sekali jika, Ria meninggalkan kita. Aku tidak mau itu terjadi, walaupun, Ria, bukan lah anak kandung ku tapi dia benar-benar berarti untuk ku. Aku tidak mau hal buruk terjadi menimpa dirinya," khawatir Erika.
Inilah alasan mengapa aku ngga mau cerita yang sebenarnya sama kamu, Er. Aku tau kamu pasti kepikiran nantinya. *batin Arka.
"Udah lah, Sayang, jangan mikirin sesuatu yang ngga pasti. Sekarang lebih baik kamu istirahat ya," pinta Arka.
"Idihh, siapa yang sakit siapa yang di suruh istirahat."
"Siapa yang sakit emangnya? Aku ngga sakit kok," sanggah Arka.
"Tadi katanya pusing, gimana sih kamu."
"Kan pusing nya cuma bentar doang, Sayang, nanti juga pasti sembuh."
"Iyadeh, terserah kamu aja. Sekarang lebih baik kamu istirahat ya."
"Iya, ayo kita istirahat," ajak Arka.
19.30 malam
Arka, Erika dan Ria langsung memasuki mobil setelah selesai bersiap-siap.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Arka.
"Siap, Papa, let's go."
"Let's go," ulang Arka mengikuti ucapan Ria.
Erika yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum. Erika merasa benar-benar bersyukur memiliki Arka dan Ria di dalam kehidupan nya.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit mereka akhirnya sampai di rumah sakit.
RS Medika.
"Ayo masuk," ajak Arka.
"Ayo," antusias Ria.
Erika menahan lengan Arka. Erika menatap Arka dengan tatapan khawatir.
"Mama, Papa, ayo," panggil Ria lagi ketika melihat Arka dan Erika yang masih terdiam di tempat mereka berdiri.
"I-iya, Sayang, ayo." Erika langsung menarik tangan Ria masuk ke dalam rumah sakit.
Arka yang tertinggal di belakang mulai menyusul istri dan anaknya yang sudah nampak menjauh.
"Kalian tidak menunggu, Papa, ya," ucap Arka setelah berada di samping Erika dan Ria.
"Papa sih lama."
"Yaudah, kita ke sana. Ruangan dokter nya di sana." Arka menunjuk ke salah satu ruangan dokter.
"Iya, Papa, Ria juga tau."
Setelah menemukan ruangan dokter, mereka bertiga langsung masuk ke dalam sana. Karena memang dari awal Arka sudah membuat janji dengan dokter itu, mereka tidak perlu lagi mengantri seperti yang lain nya.
"Permisi dokter."
"Silahkan masuk."
"Apa kabar, Ria," tanya dokter sambil melihat ke arah Ria.
"Baik, Dokter," jawab Ria sambil tersenyum.
"Sebentar ya."
Dokter mengambil ponsel yang ada di samping nya lalu menelpon seseorang.
"Halo," suara wanita di seberang sana.
"Halo suster, bisa tolong ke ruangan saya? Pasien yang saya bilang tadi sudah datang."
"Siap, Dokter, saya segera ke sana."
"Oke, suster, terimakasih. Saya tunggu."
"Baik, Dokter."
"Kita tunggu sebentar ya, nanti suster yang akan memeriksa, Ria, datang."
"Loh, bukan dokter yang memeriksa, Ria?"
__ADS_1
"Bukan, Sayang, Dokter ada perlu sama, Papa, kamu nanti."
Mendengar itu Erika menatap Arka dengan bingung.
"Ada apa?" bisik Erika.
"Ada yang perlu di bahas sedikit dengan, Dokter, nanti aku cerita ya. Kalau susternya datang kamu temenin, Ria, ya."
"Oke."
Tak butuh waktu lama, suster yang di minta memeriksa keadaan, Ria, akhirnya datang.
"Sus, bawa adik ini ke ruang pemeriksaan ya."
"Baik, Dokter, ayo dek, mari bu kita keluar," ajak Suster cantik itu.
"Papa ngga ikut?" sambil melihat ke arah Arka.
"Nanti, Papa, nyusul ya sayang. Kamu sama, Mama, dulu." Arka berjongkok sambil merapikan rambut Ria.
"Janji?" menautkan jari kelingking nya ke udara.
"Iya, Janji," menautkan jari kelingking nya pada jari Ria.
"Kami pergi dulu ya," pamit Erika.
"Iya."
Setelah Erika, Ria dan suster yang akan memeriksa Ria keluar, Arka kembali ke tempat duduk nya.
"Jadi Bagaimana, Dokter? Apa yang harus saya lakukan untuk kesembuhan, Ria?"
"Seperti yang sudah saya katakan kemarin, prediksi saya untuk kesembuhan, Ria, semakin menipis. Kemoterapi yang kita lakukan juga tidak begitu mempan untuk leukimia yang di alami, Ria.
Menurut pemeriksaan saya, Ria, sudah mengidap penyakit ini sudah dari 1 tahun yang lalu, entah bagaimana cara dia bisa bertahan selama ini. Tapi ini benar-benar sudah sangat akut, kita hanya bisa berdoa dan melakukan yang terbaik."
"Tapi, Dokter, apakah benar-benar tidak bisa di sembuhkan?"
"Maaf, Pak, kita hanya bisa berdoa."
"Apa....." ucap seorang wanita dari luar dengan tatapan sedih tidak percaya.
Arka dan Dokter segera menoleh ke arah sumber suara. Arka langsung mendekat ke arah wanita itu dan langsung menarik nya keluar.
"Apa-apaan sih," menepis tangan Arka dengan kasar.
"Er, Erika, dengerin dulu, Sayang."
"Apa maksud percakapan kamu dengan dokter tadi, Arka, kenapa kamu ngga cerita sama aku, Hah!!" bentak Erika sambil menatap Arka dengan air mata yang sudah berlinang.
"Sayang, denger penjelasan aku dulu." Arka mencoba untuk kembali meraih tangan Erika namun kembali di tepis oleh Erika.
"Kamu tega, Ka, kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari aku. Aku ibunya, Ria, Ka, aku ibunya, aku berhak tau apa yang terjadi pada anakku. Tapi kamu, kamu menyembunyikan hal ini dari aku. Aku tidak tau apa yang kamu inginkan, tapi dengan cara kamu ya g seperti ini, kamu menjadikan aku ibu yang buruk untuk, Ria."
Setelah mengutarakan segala kesedihan nya, Erika ambruk ke tanah langsung tah sadar kan diri.
"Er, Er, Erika, bangun." Arka menepuk-nepuk pipi Erika agar Erika segera bangun.
🌼Bersambung 🌼
__ADS_1