Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Ayah untuk Ria.


__ADS_3

"Dih, bawel bawel gini kamu juga, Sayang, kan?" Erika menaik turunkan alisnya.


"Iya," singkat Arka langsung beralu masuk ke dalam kamarnya.


"Hahaha.... Kak Arka pasti selalu kalah sama, Mama," kekeh Ria.


"Hahaha.. Iya, Ria udah makan, Sayang?"


"Belum, Mama." Ria menggeleng-gelegkan Kepala nya.


"Loh, kenapa? Ini udah siang, Sayang. Apa makanan nya kurang enak atau gimana?"


"Nggak kok, Ma, makanan nya enak. Cuma tadi, Ria, mau makan bareng, Mama. Karna, Mama keluar, Ria, nungguin, Mama, pulang aja baru makan."


"Mama, tadi udah makan sayang. Mama, temenin kamu makan aja ya," tawar Erika tidak mau menolak keinginan Ria.


"Emm.. Mama ngga makan?"


"Ngga, Sayang, Mama temenin aja ya."


"Emm.. Oke deh, boleh. Tapi, Mama yang suapin ya."


"Iya, Sayang, Mama, suapin."


"Okedeh, ayo mama," menarik tangan Erika menuju meja makan.


"Eh, Erika udah pulang, Nak?"


"Iya, Bu, baru aja sampai."


"Udah makan siang? Kalau belum makan siang bareng, Ria, ya."


"Mama Erika, udah makan, Bu. Ria di suapin aja sama, Mama," jelas Ria.


"Oh, baiklah. Kamu kasi makan, Ria, yang banyak ya, Nak. Kasian dia dari tadi nggak makan nungguin kalian pulang," bisik Bu Rahma pada Erika.


"Iya, Bu, makasih ya."


"Mau Ibu panggil kan, Arka, sekalian ngga?"


"Ngga apa-apa deh, Bu. Arka tadi katanya mau mandi. Nanti pasti dia turun sendiri juga, Bu."


"Baiklah kalau begitu."


"Kamu makan yang banyak ya, Sayang." Bu Rahma mengusap kepala Ria dengan lembut.


"Emm...." angguk Ria seraya tersenyum.


Bu Rahma langsung pergi meninggalkan Ria dan Erika. Memberi kan mereka ruang untuk berdua.


"Oiya, Sayang twinss kamu mana? Kok Mama jarang liat?"


"Si, Ria, Ma?"


"Iya, Sayang."


"Emm... Kemarin dia pulang ke rumahnya kak, Rendi, Ma. Kak, Rendi, jemput katanya kak Rendi nggak ada temennya di rumah."


"Ooo.. Gitu," sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Yaudah, sekarang makan dulu ya."

__ADS_1


"Emm.."


Di kamar Arka.


Setelah Arka selesai dengan acara mandi nya. Arka langsung bergegas mengganti bajunya. Baru saja Arka hendak keluar dari kamar nya, tiba-tiba saja ponselnya yang di letakkan nya di atas meja rias Erika bergetar.


Karena takut itu adalah panggilan penting, Arka kembali berbalik dan mengambil ponselnya.


"Halo."


"...... "


"Iya, ini saya sendiri. Ini siapa ya?"


"...... "


"Iya, ada apa, Dok?"


"......."


"Apa?"


"....... "


"Baiklah, nanti saya akan coba untuk bilang istri saya dulu ya, Dok. Saya mau minta pendapat dia."


"....."


"Oke, Dok, terimakasih."


Setelah menerima panggilan dari salah satu dokter di RS Medika, Arka langsung ambruk dan duduk di lantai dengan wajah sedihnya.


"Ria, maafin kakak, Sayang." Arka berbicara sendiri sambil mengacak-acak kan rambut nya.


"Tumben sekali, Arka, mandinya lama," gumam Erika.


"Mama, ada apa?"


"Eoh, engga kok, Sayang, Mama cuma nyari kakak Arka kamu aja. Mandinya lama banget belum keluar-keluar."


"Ciee... Kangen suami cieee..." goda Ria.


Erika hanya terkekeh mendengar godaan Ria. Walaupun masih kecil tapi Ria sudah bisa menggoda dirinya.


"Hahaha.... Apaan sih, Sayang? Kmu belajar godain, Mama, kayak gitu, belajar dari siapa hayo. Kecil-kecil kok udah pinter goda-godain, Mama nya."


"Heheeh.. Ria belajar dari, Bu Rahma, Mama," polos Ria.


"Astaghfirullah." Erika menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Ria.


"Sayang, Mama, mau ke atas dulu ya. Mama mau nyamperin kak Arka kamu. Lama banget siap nya."


"Oke, Mama."


Erika dengan perlahan menaiki tangga menuju ke kamar nya dan juga Arka.


Baru saja Erika hendak memutar knop pintu kamarnya seketika terhenti ketika Arka sudah lebih dulu keluar dari kamar nya.


"Hay, Sayang," sapa Arka dengan wajah lesu tak bersemangat.


Erika yang melihat wajah tak bersemangat Arka langsung menggerakkan tangan nya menyentuh pipi Arka dan mengusap nya dengan lembut.

__ADS_1


"Hei, ada apa? Tumben kamu jadi nggak bersemangat gini. Tadi baik-baik aja, kamu ada masalah, Sayang?"


Tanpa menunggu lama, karna merasa tak bisa menahan apa yang dia rasakan sendiri. Arka langsung memeluk Erika dan mendarat kan kepalanya di pundak Erika.


"Hey, ada apa?" tanya Erika lembut tanpa melepaskan pelukan Arka.


"Sayang...." panggil Arka lesu.


"Iya, ada apa, Sayang?"


"Aku mau jadi ayah buat, Ria, mulai sekarang. Aku nggak mau hanya jadi Seorang kakak buat dia, aku mau bisa jadi ayah dia. Aku mau, Ria, merasakan kalau dia punya keluarga yang lengkap."


"Hei, tumben? Kamu tau, kamu udah jadi sosok laki-laki yang baik buat, Ria, bahkan kasih sayang yang kamu beri ke Ria itu lebih dari kasih sayang buat ayah untuk anaknya. Jadi apa yang membuat kamu jadi sedih begini hm?"


"Nggak, Sayang, aku mau nya bisa jadi sosok ayah buat, Ria. Jadi biarin aku ngelakuin itu untuk, Ria, mulai sekarang ya," pinta Arka masih menyembunyikan masalah yang mengganggu pikiran nya.


"Baiklah kalau itu mau kamu, aku ngga bisa maksa. Tapi kita harus tanya, Ria, dulu. Ya tujuan nya biar kita tau dia setuju apa ngga."


"Baiklah, ayo kita turun." Arka berusaha menampilkan senyuman nya pada Erika.


"Ayo."


Maaf, Sayang, untuk sekarang aku nggak bisa cerita sama kamu apa masalah yang ada. Karna aku yakin, kalau aku cerita pasti kamu nanti kepikiran, *batin Arka menatap Erika dengan tatapan senduh nya.


Mereka akhirnya turun ke bawah bersamaan menghampiri Ria yang hampir menghabiskan seluruh makanan nya.


"Hai sayang, udah selesai makannya?"


"Dikit lagi selesai, Ma, kak Arka udah mandi?"


"Udah,Sayang," jawab Arka.


Arka kembali mengingat telpon yang dia terima tadi, mengingat itu membuat Arka benar-benar hampir kehilangan seluruh semangat nya.


Arka langsung berjongkok di depan Ria. Mengetahui apa yang hendak di lakukan Arka, Erika hanya tersenyum dan mengangguk melihat Arka yang tengah menatap nya seolah meminta persetujuan.


"Sayang, kakak mau bicara serius sama kamu boleh?" sambil menatap Ria dengan tatapan berharap.


"Mau bicara apa kak? Boleh kok."


"Ria mau ngga manggil kak Arka dengan sebutan Ayah? Kakak tau ini agak aneh, tapi kan, Ria, biasanya manggil kak Erika dengan panggilan, Mama. Mama Erika kan istri nya kak Arka, otomatis kalau Ria manggil, Mama Erika dengan panggilan Mama, Ria juga harus manggil kakak dengan panggilan Ayah.


Sebenarnya, kak Arka udah dari dulu mau ngangkat, Ria, jadi anak kakak. Hanya saja dulu kakak belum punya Mama Erika. Kakak takut, nanti Ria ngga dapet kasih sayang seorang ibu. Tapi sekarang kan beda kakak udah punya Mama Erika, Mama Erika juga udah sayang banget sama Ria. Kalau Ria mau alhamdulillah, kalau ngga mau juga ngga apa-apa Sayang, kak Arka bisa ngertiin kok," jelas Arka panjang lebar sambil mengelus pipi Ria.


Ria yang mendengar hal tersebut hanya bisa meneteskan air mata. Tanpa pikir panjang, Ria, langsung memeluk leher Arka dengan erat.


"Makasih, Kak, Ria sebenarnya dari dulu udah mau minta kakak jadi ayah, Ria, cuma Ria ngga bisa. Ria takut kak Arka nanti terbebani sama permintaan Ria. Makasih banget kak... Hikss.." tangisan Rua pecah dalam pelukan Arka.


Arka dan Erika yang mendengar jawaban Ria sama-sama menampilkan senyuman mereka. Arka kembali memeluk Rua dengan erat dan mengelus punggung anak 6 tahun itu agar bisa mengurangi sedikit kesedihan nya.


"Akhirnya keinginan, Ria, tercapai," ucap Ria di sela-sela tangisannya


"Udah dong sayang, kalau keinginan Ria udah tercapai kenapa, Ria, nangis. Harusnya, Ria, seneng." Erika mencoba menenangkan Ria.


"Ria seneng kok, Ma, Ria seneng banget malah."


"Yaudah kalau gitu berhenti nangis nya ya," pinta Arka.


"Iya, Kak," jawab Ria.


"Loh kok, kakak lagi sih. Panggil ayah dong sayang," ucap Arka seraya tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Ayah."


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2