Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Masa lalu kakek Leon.


__ADS_3

"Susan, wanita itu, dia...," sambil mengepalkan tangan nya.


"Kenapa dengan dia kek??"


"Wanita jal*ng itu, wanita itu yang sudah membuat istri ku meninggal." Kakek Leon mengepalkan tangannya dengan sangat erat.


"APA!" kaget semua orang.


"Bagaimana bisa?" tanya Erika tidak percaya.


Flashback on.


35 tahun yang lalu.


"Sayang, ayo kita berangkat," ajak Leon sambil mengulurkan tangannya kepada istri nya yang tengah hamil muda itu.


"Emm...," membalas uluran tangannya suaminya.


"Hati-hati," ucap Leon saat istri nya itu hendak masuk ke dalam mobil.


"Iya, Sayang, bawel banget sih."


"Nggak bawel kok, Sayang, aku kan cinta sama kamu. Aku takut nanti kepala kamu kejedot pintu mobil gimana? nanti kalau kamu lupa sama aku gimana?"


"Hahaha... Alay banget sih kamu, Leon, mana ada orang kejedot pintu mobil bisa langsung lupa ingatan? Kalau terjadi kecelakaan besar sih iya, ngaco kamu."


"Iya sih, Sayang, tapi bisa aja kan."


"Iya deh, iya, ayo berangkat, kalau kamu berdiri terus kapan kita berangkat nya?"


protes istri Leon.


"Iya, Sayang, sabar," langsung memasuki mobilnya dengan wajah yang tersenyum.


Leon langsung menghidupkan mobilnya dan segera bergegas pergi ke rumah mertua nya.


Di saat perjalanan Leon sesekali memandang istrinya dengan wajah tersenyum. Istri nya yang merasa malu di tatap oleh suaminya itu hanya menundukkan kepalanya tersipu malu dengan keadaan wajahnya yang merona.


"Ihh.. Apaan sih liatin aku mulu, liatin jalan, Leon, nanti kalau tiba-tiba ada mobil lewat gimana?"


"Ya, nggak kok, Sayang, mobil juga pasti langsung menghindar kalau ada kamu di dalam mobil," sambil tersenyum jahil pada istrinya.


"Ihh.. Kok gitu? Maksud kamu mobil langsung menghindar kalau ada aku kenapa, emangnya muka aku nyeremin ya?"


"Nggak, Sayang, maksud aku itu mobil langsung menghindar karena kamu terlalu cantik untuk di langgar. Lagian kalau ada mobil yang ngelanggar mobil kita pasti mereka langsung nyelametin kamu, akunya di tinggal."


"Loh, kenapa gitu?" tanya istri Leon bingung


"Karena, mereka pasti nggak bakal sia-siain bidadari secantik kamu," sambil mencolek dagu istrinya.


"Ihhh... LEON.." pekik Yuna kesal tapi masih dengan nada yang lembut.


"Ihhh... YUNA.." Leon mengikuti gaya yuna memanggilnya.

__ADS_1


"Baby, nanti kalau kamu lahir jangan sama kayak ayah ya, ayah kamu nyebelin," sambil mengelus perutnya yang buncit itu seraya berbicara pada jabang bayi nya.


"Yah, kok gitu sih? dia kan bayi aku kenapa nggak boleh lahir sama kayak aku sih?" tanya Leon kesal.


"Ya, karna kamu nyebelin."


"Aku nggak nyebelin," bantah Leon.


"Kamu nyebelin." Yuna tetap dengan pendirian nya.


"Yaudah deh, iyain aja biar kamu seneng."


"Nah, gitu dong, baru baik," seraya tersenyum manis pada Leon.


Melihat senyuman manis yang terpancar dari wajah istrinya membuat Leon merasa begitu bahagia dan mengelus perut buncit Yuna dengan perlahan.


"Yang sehat di dalam sana ya, Nak." Leon mengelus perut Yuna dengan lembut, hingga tiba-tiba


"Akhhhh...." Yuna menahan perut nya dengan sekuat tenaga merasakan sakit yang luar biasa.


"Yuna, Sayang, kamu kenapa?"


"Akhh.. Leon, perut ku sakit.. Hikss.." meremas ujung bajunya.


"Bukannya masih ada waktu 2 minggu sebelum melahirkan? kenapa cepat sekali," tanya Leon bingung.


"Akhh... Leon, ke rumah sakit, aku udah nggak tahan, sakit banget," ucap Yuna lemah dengan wajah yang mulai memucat.


"Yuna, wajah kamu pucat, iya iya kita segera ke rumah sakit ya, Sayang, sabar ya," panik Leon langsung melakukan mobilnya ke arah rumah sakit Medika.


Dengan kesiapan nya sebagai seorang suami dan juga calon ayah, setelah sampai di rumah sakit, Leon langsung keluar dari mobilnya dan memanggil beberapa suster untuk menolong nya membawa istrinya ke dalam ruang UGD.


Setelah sampai di ruang UGD, Yuna langsung di periksa oleh seorang dokter kandungan yang cantik.


"Nona, apa anda merasa pusing?"


"Akhh.. Sakit dokter," rintih Yuna.


"Baiklah, sebentar ya, saya akan mengecek nona dulu."


"Akhh... Leon sakit," rintih Yuna sambil menangis menatap Leon.


"Hey.. Kok nangis sih, Sayang? Kamu kuat kan? Kamu bisa bertahan untuk anak kita kan, sabar ya, Sayang, nanti kamu pasti akan langsung di beri dokter obat, jadi kamu harus tahan ya," ucap Leon berusaha menguatkan Yuna.


"Anda, suami nona ini?" tanya seorang dokter.


"Iya, saya suaminya. Ada apa dokter?"


"Boleh saya bicara sebentar."


"Boleh."


"Oke kalau begitu, mari ikut saya sebentar."

__ADS_1


Leon dan dokter cantik itu pun langsung mencari tempat yang tepat untuk bicara.


"Di sini saja," ucap dokter wanita itu.


"Apa yang ingin dokter katakan?"


"Istri anda harus segera di operasi."


"Apakah, istri saya tidak bisa melahirkan normal? istri saya pernah bilang, dia ingin melahirkan anak pertama kami dengan cara normal, karna dia ingin merasakan bagaimana rasanya benar-benar menjadi seorang, Ibu," jelas Leon panjang lebar.


"Saya tau, pak, tapi masalah nya usia kandungan istri anda masih belum cukup 9 bulan, semua wanita juga menginginkan hal yang sama jika di posisi istri anda, HB (Hemoglobin) istri anda juga sangat rendah saat saya periksa tadi.


Saya tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada pasien saya nanti. Lebih baik anda pikirkan baik-baik lagi, sebagai suami dan calon ayah yang baik mana yang akan anda pilih, istri dan anak anda selamat atau anda akan kehilangan istri anda." Dokter cantik itu pun langsung meninggalkan Leon setelah memberi penjelasan pada laki-laki itu.


Leon yang pada saat itu tengah di landa kebingungan seketika teringat dengan keluarga nya yang ada di rumah.


Leon langsung mengambil ponselnya dan menelpon, Ibu, nya.


Leon membicarakan apa yang terjadi pada Yuna nya melalui ponsel dan meminta ibu nya datang ke rumah sakit sekalian mengajak mertua nya agar bisa datang dan membujuk istri tercinta nya itu.


"Sayang, kamu operasi ya," bujuk Leon setelah sampai di ruang UGD lagi.


"Ngga, Sayang, aku nggak mau," tolak Yuna.


"Sayang, aku mohon," bujuk Leon lagi.


"Nggak, aku nggak mau Leon, ini anak pertama kita, aku nggak mau kalau melahirkan anak pertama langsung operasi, aku nggak mau, Leon, akhhh.." memegang perutnya yang semakin sakit.


"Yun, Yuna."


"Leon sakit," rintih Yuna.


"Maaf, Yuna, seperti nya aku harus mengambil keputusan sendiri."


"Aku akan meminta kamu untuk di operasi."


"Leon, aku nggak mau," menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.


"Aku mohon, Sayang, aku nggak sanggup liat kamu seperti ini, aku mohon, aku tau aku bukan suami yang baik, tapi aku mohon banget ini demi keselamatan kamu sama bayi kita."


Mendengar hal itu Yuna hanya pasrah dengan keputusan suaminya walaupun berat di terima oleh dirinya sendiri.


"Anda silahkan tunggu di luar dulu ya, kami akan melakukan operasi nya semaksimal mungkin."


"Baiklah." Leon mengikuti anjuran dokter dan segera duduk di kursi tunggu yang tak jauh dari sana.


Tak lama kemudian, di saat Leon tengah menunggu, orang tuanya beserta mertua nya juga ada di sana.


"Bagaimana?"


"Leon mengambil keputusan sendiri, Pa, walaupun sebenarnya, Leon, tau, Yuna, tidak mau melakukan ini."


"Sudah, tidak apa-apa, kamu melakukan ini juga untuk, Yuna, jadi papa rasa, Yuna, juga pas akan mengerti."

__ADS_1


"Iya, Pa."


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2