
Bu Susan langsung menghentikan kegiatan memasak nya dan langsung mengedarkan pandangan nya ke arah belakang.
"Siapa di sana?"
"Haiss.. Habis lah kita," gumam Ria.
Bu Susan segera mendekat ke arah sumber suara, begitu juga dengan Ria dia langsung menarik temannya bernama Ria tersebut ke dalam malam mandi.
"Shuttt... Kalau kamu bersuara habis lah kita."
"Emm..." angguk Ria.
"Siapa di sana?" tanya Bu Susan sedikit berteriak.
Baru saja Bu Susan hendak memutar gagang pintu kamar mandi. Tiba-tiba saja ada Rendi yang memanggil dari arah belakang.
"Bu," panggil Rendi.
"Emm.. Iya?" langsung melepas gagang pintu dan berbalik ke arah Rendi.
"Ada apa, Ren?" tanya Bu Susan.
"Sarapan nya sudah siap, Bu?"
"Astaghfirullah, iya, Ibu lupa tadi, Ibu, lagi masak," panik Bu Susan langsung berlari ke arah dapur.
"Ada-ada saja, Bu, Rahma ini. Hmm... Balik ke kamar lagi saja ah, masih ada setengah jam waktu untuk istirahat.. Hoamm...."
"Huh, selamat. Ayo keluar."
Ke-2 anak kecil yang bernama Ria itu pun langsung keluar dari tempat persembunyian mereka dan langsung menuju parkiran tempat mobil Arka terletak.
"Ayo cepat masuk, kita tidak boleh ketahuan."
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi. Rendi yang sudah bersiap dari tadi sudah duduk di meja makan sembari menunggu Arka turun dari kamarnya.
Tak perlu waktu lama, Arka pun akhirnya turun dari kamar nya dan duduk bersama Rendi dan Bu Sudan di meja makan.
"Ayo, Nak, silahkan di cicipi masakan Ibu."
"Iya, Bu, terimakasih."
"Bu, dimana, Ria? Kenapa dia tidak turun untuk sarapan?"
"Entah lah, sebentar ya ibu akan memanggilnya dulu."
"Dasar bocah nakal, mencari masalah saja kerjaan nya," gumam Bu Susan sambil menaiki tangga.
Setelah sampai di kamar Ria Bu Susan pun langsung membuka pintu kamar Ria. Namun karena pintu itu di kunci Bu Susan pun mengurungkan niatnya untuk mengajak Ria sarapan.
"Biarkan saja dulu lah mereka, nanti kalau Arka sudah pergi baru aku beri pelajaran."
"Bagaimana, Bu? Di mana Ria?"
"Ria sedang tidur, Nak, Ibu tidak tega untuk membangunkan nya. Kalian makan lah dulu, nanti Ibu akan sarapan bersama, Ria, saja."
"Iya, Bu."
Setelah sarapan Rendi dan Arka langsung berpamitan kepada Bu Susan.
"Bu, Rendi, sekalian pulang ke Jakarta ya. Kerjaan di Restoran masih banyak."
"Iya, Nak, Hati-hati ya pulang nya."
"Iya, Bu."
"Bu, Arka pamit pulang juga ya, Bu, makasih sudah di izin kan tinggal di sini. Arka juga mau minta maaf karna sebelum nya sudah menuduh Rendi yang tidak-tidak."
"Iya, tidak apa-apa, Nak. Kalau,Ibu, jadi kamu, Ibu juga akan melakukan hal yang sama."
"Yaudah, Bu, Rendi sama Arka pamit dulu. Nanti kalau sudah sampai di Jakarta, Rendi akan langsung telpon, Ibu."
__ADS_1
"Iya, Nak."
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Waalaikumsalam."
Mereka segera masuk kedalam mobil, Arka pun langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Karna mereka berangkat agak pagi, jalanan juga tidak begitu padat, mungkin dalam 2 atau 1 jam saja mereka bisa langsung sampai di Jakarta.
"Ka, anterin aku ke rumah aja dulu. Aku mau ganti baju dulu, nanti baru ke Restoran."
"Oke," langsung berbelok arah menuju rumah Rendi.
"Oke, udah sampai. Makasih ya, Ka."
"Sama-sama.Aku pulang dulu ya, Ren."
"Oke, Ka."
Arka kembali melajukan mobilnya ke arah Rumah sakit medika. Pikiran Arka masih saja di penuhi dengan RIA, apakah yang harus dia katakan pada Erika. Melihat wajah Erika yang sedih, entah lah di mampu apa tidak.
"Ria, di mana kamu, Dek? Kasihan loh mama, Erika, kamu kepikiran terus sama kamu. Kakak takut Erika makin drop nanti, kakak juga takut kamu kenapa-napa," ucap Arka dengan nada senduh.
Ria yang mendengar hal itu langsung menunduk sedih. Memikirkan bagaimana sedihnya Erika tanpa adanya dirinya di sana.
"Udah, kamu jangan sedih. Nanti kami juga ketemu sama mama kamu kan?" bisik Ria.
Ria hanya mengangguk mendengar hal itu dan langsung kembali tersenyum.
Ria yang melihat temannya itu sudah agak baikan langsung tersenyum.
"Kita hanya harus menunggu sebentar lagi," bisik Ria kembali mengingat kan.
"Emmm..." mengangguk dan tersenyum.
Karna jalanan tidak begitu padat, Arka sampai di Jakarta hanya memerlukan waktu 2 jam saja. Arka langsung melajukan mobilnya ke arah Rumah sakit Medika.
Di Rumah Sakit.
"Bagaimana, Rahma, apa sudah kabar dari Arka?" tanya kakek Leon.
"Bagaimana ini, aku sangat tidak tega melihat, Erika, seperti ini. Dia memang nampak begitu kuat dari dalam, namun dia adalah orang yang sangat lemah, walaupun dia baru mengenal, Ria, dia sangat begitu menyayangi, Ria."
"Sudah lah, Leon, kita pasrahkan saja semua nya kepada yang di atas. Lagi pula, aku sangat yakin, Ria, pasti tidak kenapa-napa, Ria, adalah anak yang kuat."
"Iya, Rahma, aku berharap juga, Ria, tidak kenapa-napa."
"Yaudah, Leon, kalau begitu aku mau masuk dulu. Aku mau liat keadaan, Erika."
"Baiklah, aku di luar saja. Aku mau menunggu Arka pulang."
"Emm.. Baiklah."
Cek lekk..
"Bu Rahma," ucap Erika dengan wajah yang di paksakan tersenyum.
"Nak, ada apa?" memegang wajah Erika dengan lembut.
"Erika nggak papa kok, Bu, Erika, cuma lagi mikirin, Ria, aja. Oiya, Arka, udah sampai nggak, Bu?"
"Belum, Nak, mungkin sebentar lagi dia sampai."
"Emm.. Baiklah."
"Yaudah, kamu istirahat saja dulu ya. Nanti kalau, Arka, sudah pulang, Ibu, akan membangun kan kamu."
"Nggak papa, Bu, Erika, nggak capek kok, Erika, mau nungguin, Arka, aja," sambil tersenyum lembut dengan wajah yang lumayan pucat.
"Nak, wajah kamu udah pucat gitu lebih baik kamu istirahat ya."
"Nggak, Bu, nggak papa, Erika, mau nunggu,Arka."
__ADS_1
Bu Rahma yang mendengar hal itu hanya bisa mengiyakan saja apa uang diinginkan Erika. Karna, percuma saja sekuat apa pun, Bu Rahma meminta Erika akan tetap saja melakukan apa yang dia inginkan.
Cek lekk..
Di saat-saat Erika tengah menunggu Arka tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sendirinya, menampilkan Arka yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Arka..."
"Hoshh.. Hoshh.. Huhhh.. Er," panggil Arka dengan wajah tersenyum.
"Arka," sambil merentangkan tangannya seolah meminta Arka untuk memeluknya.
Greppp..
Melihat apa yang di lakukan Erika dengan segera, Arka langsung berhamburan ke pelukan Erika.
"Arka..." ucapnya senduh seraya menitikkan air mata.
"Heii.. Kenapa? Kok nangis?" mengelap pipi Erika yang basah dengan lembut.
"Nggak, aku nggak papa kok. Kamu gimana? Pasti capek ya?"
"Nggak kok, aku nggak pernah capek kalau semuanya buat kamu, Sayang."
"Makasih ya, Ka," memeluk Arka lagi.
"Kenapa makasih, aku nggak ngelakuin apa-apa.Nanti aja makasih nya di cancel dulu, setelah kamu liat ini," sambil menunjuk ke arah pintu.
"Apa?" memperhatikan anak kecil yang ada di ambang pintu.
"Mamaaa...."
"Ria," ucapnya senduh masih tak percaya.
"Mama..." langsung berlari ke arah Erika.
Melihat Ria yang mulai mendekat, Arka langsung menepi dan langsung mengangkat Ria ke atas ranjang Erika agar lebih mudah untuk mereka melepas rindu.
"Mama Erika, maafin, Ria, ya."
"Nggak, seharusnya mama yang minta maaf, Sayang. Mama yang salah, mama yang harusnya minta maaf sama kamu. Gimana kabar kamu? Apa kamu baik-baik aja?"
"Baik, Ma. Oiya, Ria juga dapat teman baru loh,Ria, ayo masuk." Ria memanggil teman nya masuk.
"Loh, namanya, Ria, juga?" tanya Erika bingung.
"Iya, Ma." tersenyum kepada Erika.
"Oh, kamu ke sini keluarga kamu udah tau nggak?"
"Nggak kak."
"Loh, kenapa nggak, nanti di cariin loh."
"Nggak akan ada yang peduli juga kak, jadi nggak papa."
"Loh kok gitu?"
"Nggak papa, Ria, bosan di sana. Kalau, Ria, ada pasti, Ria, akan di siksa sama, Bu, Susan."
"Apa? Susan?"
Kakek Leon langsung masuk ke dalam ruangan Erika dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak.
"Memang nya ada apa, Kek? Kakek mengenal, Nenek Susan?"
"Bisa iya, bisa tidak," jawab kakek Leon.
"Loh, kok gitu?"
"Susan, wanita itu, dia...," sambil mengepalkan tangan nya.
__ADS_1
"Kenapa dengan dia kek??"
🌼Bersambung 🌼