Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Gagal Shopping.


__ADS_3

"Emm.. Kayaknya mereka sengaja deh, Er."


"Sengaja? Maksud kamu?"


"Emm.. Ini."


Arka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan dirinya dan Jonathan beberapa saat yang lalu.


Arka menyerahkan ponsel nya kepada Erika, Erika yang melihat pesan singkat itu hanya menggeleng kan kepalanya.


"Dasar pengantin baru, yaudah, mending sekarang kita nyusulin mereka aja yuk," ajak Erika.


"Boleh lah, ayo."


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil dan masuk bersama-sama kedalam mall.


Mereka masuk dengan bergandengan tangan. Erika dan Arka menaiki eskalator menuju ke lantai dua untuk menuju ke swalayan.


Saat sampai di swalayan, Arka dan Erika mulai mengedarkan pandangan nya mencari keberadaan Renata dan Jonathan.


Di saat yang bersamaan, tak jauh dari mereka berdiri, nampak laki-laki yang tengah mendorong troli belanjaan dan juga wanita yang tengah memilih sayur dan buah-buahan untuk di beli.


"Ka, itu kayaknya mereka deh." tunjuk Erika.


"Eh, iya, itu mereka. Ayo ke sana."


"Emm.. Ayo," menarik tangan Arka.


Tap


Tap


Tap


"Hayoloh.... Kalian ketahuan."


Erika sengaja mengagetkan Renata dari belakang.


Buk...


"Astaghfirullahalazim."


Renata seketika terperanjat. Apel yang tadinya berada di tangan Renata seketika bergerak mencium lantai mall.


"Hahahhahha..."


Tawa Erika pecah seketika melihat ekspresi wajah kaget Renata.


"Erika!!!" pekik Renata yang merasa kesal dengan Erika.


Erika seketika terdiam, begitu juga dengan Arka dan Jonathan. Mereka menghampiri istri masing-masing takutnya terjadi peperangan antara sesama perempuan.


Melihat tingkah para suami, Renata dan Erika yang awalnya ingin berdamai kini malah main kode-kodean satu sama lain.


Erika mengedipkan sebelah matanya kepada Renata.


Siap? Kode Erika menggunakan matanya.


Siap. jawab Renata di iringi dengan senyuman.


1


2


3


"Saatnya kaburrrr...." kompak Erika dan Renata seraya berlari menjauh dari suami mereka.


"Yak... Kalian mau kemana?" pekik Jonathan.

__ADS_1


"Bayar belanjaan nya, kami beli makanan dulu," jawab Renata dari kejauhan.


Para pembeli yang ada di sekitar swalayan hanya menggeleng-geleng kan kepala mereka melihat tingkah dua pasangan itu.


"Nak, kalau mau pacar jangan di sini. Mengganggu pembeli yang lain." tegur salah satu Ibu-ibu paruh baya.


"Iya, Buk," jawab Jonathan.


"Tapi ngomong-ngomong wanita tadi bukan pacar saya tapi istri saya. Yang wanita di sebelahnya istri dari teman saya ini," sambung Jonathan sambil menunjuk ke Arka.


"Oh, yasudah kalau begitu," ketus Ibu-ibu itu sambil berlalu dari sana meninggalkan Arka dan Jonathan.


"Sudah, Jo, Ibu-ibu itu mah, kenapa juga di ladenin." Arka berusaha memenangkan Jonathan.


"Iya, Ka, tau. Tapi ngeselin juga, Ibu, itu, sewot banget kayak nggak pernah muda aja," ketus Jonathan.


"Hahaha... Sudah sudah, mending kita ke kasir bayar belanjaan, udah itu cari istri-istri kita. Jangan sampai nanti mereka malah di goda laki-laki di sini," ucap Arka mengingat kan.


"Ya, bener juga ya. Istri kita kan cantik. Aku tidak mau, Renata, di lirik laki-laki lain."


"Hahaha.. Ayolah cepat."


Mereka akhirnya bergegas pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaan tadi. Tanpa menunggu lama, setelah membayar mereka langsung bergegas mencari restoran terdekat dengan swalayan yang mereka kunjungi tadi.


"Ah, itu mereka." tunjuk Jonathan.


"Ya sudah ayo kita samperin," ajak Arka.


"Ayo, barang-barang ini juga cukup berat," sambil membawa barang-barang belanjaan mereka tadi.


"Ah, itu mereka."


"Ayo kemari, kami sudah membelikan makan siang untuk kalian," sambung Erika.


"Ah, ini sangat berat. Untung saja istri-istri kita adalah wanita baik ya, Ka, jadi kita tidak perlu menunggu lama lagi," puji Jonathan.


"Tumben sekali?" heran Arka.


"Tumben apa sih, Sayang. Ini cuma permintaan maaf kami karna udah ninggalin kalian tadi," jelas Erika.


"Oh begitu, baiklah."


Mereka berempat akhirnya langsung menyantap hidangan yang ada di meja yang sejak awal memang sudah di pesan oleh Erika dan Renata.


"Selepas ini kita pulang?" tanya Erika.


"Iya kita pulang, memang nya mau kemana lagi?" Arka kembali melanjutkan makannya.


"Ya kalau tidak merepotkan sih kami mau..."


Erika menggantung kan ucapannya melirik Renata dengan tersenyum.


"SHOPPING..." pekik Erika dan Renata antusias.


"Uhukk.. Uhukk..." Arka langsung tersedak sambil memukul-mukul dadanya.


"Minum dulu, Ka, ini." Jonathan mengulurkan air minum kepada Arka.


"Nggak, nggak, hari sudah siang, kaihan keluarga di rumah pasti sudah nungguin kita. Apalagi, Ria, dia pasti sudah menanyakan kamu sama, Bu Rahma." Arka mengingatkan.


"Emm... Baiklah." pasrah Erika.


Setelah mendapat kan jawaban yang tak sesuai dengan keinginan mereka. Erika dan Renata hanya bisa menunduk memakan makanan mereka dengan sangat lambat.


"Lambat banget sih kalian makannya?" aneh Jonathan.


"Iya, tadi baik-baik aja. Ini sekarang kok lesu banget." heran Arka.


"Ngga, kita ngga papa kok," ucap Renata.

__ADS_1


"Yaudah kalau kalian ngga apa-apa. Sekarang makanan nya habiskan, udah itu kita langsung pulang."


"Oke."


Tak perlu waktu lama dalam 15 menit mereka berempat telah menyelesaikan acara makan mereka.


Setelah membayar semua makanan yang telah di makan tadi mereka langsung menuju ke parkiran untuk segera pulang ke rumah.


"Oke siap, ayo berangkat," ajak Jonathan.


"Ayo."


Perjalanan dari mall ke rumah Jonathan tidak lah terlalu jauh. Dengan hanya duduk manis di mobil dalam waktu sekejap mereka langsung sampai di rumah Jonathan.


"Kalian tidak mau masuk dulu?" tawar Jonathan.


"Emm.. Ngga deh, Jo, kami lansung pulang saja. Takut nya orang di rumah sudah menunggu."


"Oh, oke, baiklah. Hati-hati di jalan."


"Oke, Jo, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Brum....


Sesampainya di Rumah Erika.


"Mama....."


Bocah kecil yang memang sudah menunggu kedatangan mama nya itu langsung berhambur ke pelukan Erika seolah-olah tak ingin Erika pergi lagi atau menjauh dari nya.


"Hai, Princess, udah bangun?" tanya Erika mengalihkan perhatian Ria.


"Mama kenapa jalan-jalan ngga ngajak-ngajak, Ria. Kenapa, Mama, ngga bangunin Ria."


"Kenapa? Ria mau ikut? Maaf ya tadi, Mama, liat, Ria, nyenyak banget tidur nya. Mama ngga tega bangunin kamu, Sayang."


"Emm... Iyadeh, ngga papa. Tapi, Mama, harus janji nanti kalau, Mama, mau jalan-jalan jangan lupa ajak, Ria, ya, Mama, janji?" sambil mengulurkan jari kelingking nya.


"Iya, Mama, janji, Sayang." Erika menautkan jari kelingking nya dengan Ria.


Arka yang melihat interaksi antara ibu dan anak itu hanya tersenyum. Walaupun, Ria, bukanlah anak kandung, Erika, tapi Erika begitu memperlakukan Ria dengan lembut seperti anaknya sendiri.


"Sayang, aku ke kamar dulu ya. Mau mandi sama ganti baju," pamit Arka.


"Mau di siapin air hangat ngga?"


"Ngga, kamu temenin, Ria, di sini aja ya. Aku bisa sendiri kok."


"Nah, pinter, jadi kan, Mama Erika bisa sama Ria. Sana mandi dasar bau." Ria menutup hidung nya seolah-olah merasa terganggu dengan bau badan Arka.


"Dasar anak kecil, untung kamu imut kalau ngga udah kakak buang ke jembatan," goda Arka.


"Mama Erika, Kak Arka, jahat," adu Ria sambil menunjuk wajah imutnya.


"Sudah sudah, Arka, jangan mengganggu, Ria. Mending sekarang kamu mandi, kamu bau sana sana." Erika menutup hidung nya mengikuti gaya Ria tadi.


Ria yang melihat itu hanya terkekeh.


"Hahah.. Kak Arka kena," kekeh Ria.


"Iya iya aku mandi, dasar bawel."


"Dih, bawel bawel gini kamu juga, Sayang, kan?" Erika menaik turunkan alisnya.


"Iya," singkat Arka langsung beralu masuk ke dalam kamarnya.


🌼 Bersambung 🌼

__ADS_1


__ADS_2