Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Masa lalu Dian.


__ADS_3

"Dokter cantik?"


"Ria?"


"Sayang, kamu ngapain di sini. Ria tinggal di sini?"


Dian berjongkok sambil mengelus rambut Ria lembut.


"Ini rumah kakek, Ria, Dokter. Dokter ayo cepat masuk, Mama Ria sakit, dari tadi Mama belum bangun dari pingsan nya."


"Iya, Sayang, ayo kita masuk," ajak Bram.


Mereka bertiga pun bergegas naik ke atas. Setelah sampai di kamar tempat Erika beristirahat, Ria segera membukakan pintu itu dengan perlahan mempersilahkan kedua Dokter itu masuk ke dalam.


"Permisi."


"Dokter, Alhamdulillah dokter cepat sampai. Tolong periksa istri saya, saya takut terjadi apa-apa sama dia."


"Iya, Pak Arka, kalau boleh tau sebelum Bu Erika pingsan apakah ada gejala-gejala aneh yang dia alami?"


"Dokter sudah mengenal Arka dan Erika sebelumnya?" tanya Mam Erika penasaran melihat interaksi mereka yang sudah dekat.


"Iya, Bu, kami sudah saling mengenal karena kebetulan kemarin Pak Arka dan juga Bu Erika sering membawa anak kecil ini ke rumah sakit."


Dokter Bram menjawab dengan jujur seraya menunjuk Ria.


"Memeriksa Ria, memangnya ada apa dengan Ria. Ria sakit?" tanya Mama Erika nampak begitu penasaran.


"Emm... kemarin.."


"Ma, udahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan hal tersebut."


Arka mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Ma, yang penting sekarang adalah keadaan Erika dulu." Papa ikut menimpali.


"Iya...iya.. yaudah dok, periksa anak saya dulu ya."


"Sayang, kamu yang periksa ya," pinta Bram.


"Iya.."


Dian pun memulai memeriksa Erika dengan teliti, di saat Dian memeriksa perut Erika nampak raut wajah Dian yang semula nya baik-baik saja sekarang berubah menjadi sedih. Karena sudah mendapat kunci masalah dari keadaan Erika, Dian langsung berdiri dan berbisik kepada Bram.


Bram yang mendengar bisikan istrinya itu langsung mengerti dengan perubahan raut wajah Dian.


"Ada apa, Dok?" tanya Arka memperhatikan wajah Bram dengan was was.


Bram menjabat tangan Arka lalu tersenyum.


"Selamat Pak Arka, tidak lama lagi Anda akan menjadi seorang ayah. Di dalam rahim istri anda sudah ada kehidupan baru yang sudah hampir berusia 4 minggu."


"Hah? Se...serius, Dokter?"


Arka bertanya dengan mulut yang bergetar karena masih tak percaya dengan apa yang di dengar oleh telinga nya.

__ADS_1


"Iya, saya serius."


Arka dan seluruh keluarga tersenyum. Mereka nampak begitu senang mendengar hal tersebut, dia merasa senang dan sedih sekaligus. Namun, dia tak menunjukkan wajah sedihnya, anak kecil itu hanya menunjukkan wajah bahagia nya saja agar keluarga nya tidak khawatir.


"Tapi, Dokter, kenapa anak saya belum ada siuman. Tidak ada yang serius kan?"


Papa mencoba memastikan keadaan Erika.


"Alhamdulillah tidak ada yang serius. Hal ini sudah biasa terjadi, Ibu Erika mungkin hanya kelelahan sedikit dan karena faktor kehamilan nya dia jadi mengalami pingsan. Jadi tidak ada yang perlu di cemas kan."


Di saat Bram menjelaskan tentang segala hal yang bisa terjadi saat hamil. Tanpa memberitahu kan suaminya lagi, Dian langsung keluar tanpa berpamitan lagi. Ria yang penasaran juga ikut keluar membuntuti Dian dari arah belakang.


"Maaf, mungkin istri saya teringat dengan anak kami dulu makanya sifatnya sekarang begitu." Bram mencoba meminta pengertian.


"Astagfirullah, memangnya anak kalian kenapa?"


"Menghilang 5 tahun yang lalu, kami juga tidak tau sampai sekarang apakah dia masih hidup atau tidak."


"Astagfirullah hal azim."


Flashback on


5 tahun yang lalu, di sapah satu rumah sakit, seorang wanita hamil tengah terbaring lemah di atas ranjang nya sambil mengeluh kesakitan. Wanita itu menggenggam tangan suaminya dengan begitu erat.


"Bram, ini sangat sakit, akh..." rintih Dian.


"Sabar, sayang, kamu harus kuat, kamu harus bertahan demi anak kita."


"Sakit Bram.."


Dian makin mengeratkan genggaman nya pada tangan Bram berharap rasa sakit yang dia rasa bisa berkurang sedikit. Untung saja di saat Dian sudah seperti itu Dokter yang akan membantu persalinan segera sampai di sana.


"Huhh...huh...huh..."


"Baiklah, Bu Dian tarik nafasnya.. hembuskan...dorong pelan-pelan, Bu."


"Ayo sayang kamu pasti bisa."


30 menit sudah berlalu, seluruh keluarga Bram maupun Dian yan g sudah menunggu begitu lama di luar langsung merasa lega ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan itu.


"Oekkk...oekk..."


"Alhasil...kita menjadi Kakek dan Nenek, Ma."


Nampak begitu jelas kebahagiaan menyelimutinya seluruh keluarga. Mama dan Papa malah sampai berpelukan satu sama lain karena saking bahagianya mendengar hal tersebut.


"Heh, liat saja kalian, aku tidak akan membiarkan kalian merasakan kebahagiaan karena sudah merenggut kebahagiaan ku." sinis seorang wanita.


Setelah Dian melahirkan anaknya dengan selamat. Dian langsung di minta untuk memeperikan asi pertama nya kepada bayi mungil nya itu. Sesudah memberikan asi yang cukup, Dokter yang menolong persalinan nya segera mengambil alih bayi tersebut.


"Saya bawa dulu sebentar ya bayinya. Bayinya akan saya mandikan dulu, saya data, kita biarkan dia istirahat baru setelah itu saya bawa dia kemari lagi.


"Iya, Dokter, terimakasih."


"Sama-sama."

__ADS_1


Sesudah meminta izin Dokter cantik itu langsung ke ruangan bayi. Dokter cantik itu segera memandikan bayi mungil itu. Melihat bayi cantik itu sudah hampir terlelap dalam tidur nya, Dokter cantik itu langsung keluar untuk membersihkan dirinya, meninggalkan sebentar bayi mungil tersebut yang ada di keranjang bayi.


Tapi tanpa Dokter cantik tersebut ketahui ternyata dari tadi sudah ada seorang perempuan yang sudah memperhatikan nya. Wanita tersebut hanya tersenyum sinis ketika melihat kesempatan emas itu.


"Lihat saja, Kak, aku akan membua kamu menderita," smirk wanita itu sambil mengambil bayi tadi dari dalam keranjang bayi.


Di saat Dokter cantik itu kembali ke ruangan bayi betapa terkejutnya Dokter itu melihat keranjang yang berisi bayi tadi sudah kosong.


"Astagfirullah hal azim."


Dengan langkah gontai, sedih bercampur cemas Dokter itu kembali ke kamar rawat Dian dengan tangan yang kosong.


Krek....


Mereka semua yang ada di dalam kamar itu melihat ke arah pintu. Dengan wajah senyum penuh harapan, namun senyum itu seketika memudar ketika melihat Dokter tersebut masuk dengan tangan kosong.


"Dok, bayi saya mana?"


"Ma...maaf saya harus menyampaikan kabar buruk ini."


"Kabar buruk apa, Dokter?"


"Bayi kalian hilang."


Walaupun berat namun Dokter itu tetap mengatakan hal tersebut.


"A...apa, hilang?"


Air mata seketika mengalir dari pelupuk mata Dian, karena tak kuasa menahan kenyataan Dian langsung jatuh pingsan di ranjang nya dan tentu saja hal tersebut benar-benar membuat seluruh keluarga terpuruk apalagi Bram.


Flashback off.


"Begitulah ceritanya," jelas Bram panjang lebar.


"Astagfirullah hal azim, semoga anak kalian tumbuh sehat dan suatu hari nanti kalian bisa menemukan anak kalian kembali."


"Amin, semoga saja."


"Emm...kalau begitu, saya keluar dulu sebentar ya. Saya mau menemui istri saya," pamit Bram.


"Baiklah, nanti kalau mau pulang kemari dulu ya. Ada yang mau saya bicarakan."


"Baiklah."


"Dokter cantik," panggil Ria dari belakang.


Mendengar suara panggilan dari arah belakang, Dian langsung mengusap air mata nya dan berbalik kearah belakang sambil memaksakan senyum nya untuk menyembunyikan kesedihan yang tengah dia rasakan.


"Eh, Ria, ada apa, Sayang?"


"Dokter cantik kenapa nangis. Lagi sedih ya?" tanya Ria sambil mengusap pipi Dia yang masih basah.


"Dokter ngga apa-apa kok, Sayang."


Di saat yang bersamaan, Bram yang baru saja hendak menghampiri Dian seketika mengurungkan niatnya ketika melihat interaksi antara Dian dan bocah kecil itu.

__ADS_1


"Aku yakin, kalau anak kita masih ada, kamu pasti akan memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan Ria kan, Sayang?" gumam Bram.


🌼 Bersambung 🌼


__ADS_2