
"Oke kalau itu yang kakak mau. Kakak boleh masuk kalau mau, nungguin kak Rendi nya di dalam aja kak. Kakak juga pasti capek, ayo masuk biar Ria siapin minum." tawar anak kecil itu.
"Emm.. Boleh juga, makasih."
Setelah mempersilahkan Arka untuk duduk di dalam rumahnya, anak kecil yang mengaku bernama Ria tersebut kembali menghampiri nenek nya yang ada di dapur.
"Siapa?"
"Orang yang kita tunggu," jawab anak kecil itu.
"Baiklah, kalau begitu, kamu keatas temani, Ria, bermain ya. Jangan keluar sebelum nenek meminta," perintah nenek itu.
"Iya, Nek."
Setelah mendapat perintah seperti itu dari neneknya anak kecil itu kembali ke kamarnya untuk melanjutkan kembali kegiatan nya bersama Ria.
Sebenarnya apa yang nenek lakukan, kenapa nenek melakukan hal seperti ini kepada mereka. Lalu kak, Rendi, kenapa juga dia mau melakukan ini? Batin anak kecil itu kebingungan.
"My twinss," panggil anak anak perempuan itu dengan riang sambil membuka pintu kamar nya.
"Ihhh.. Ria, ngagetin aja, nggak liat apa aku lagi baca buku." Ria menatapnya dengan kesal.
"Hahah... Maaf twinss ku," ucapnya sambil cengengesan.
"Emm.. Aku mau lanjut baca dulu, jangan di ganggu."
"Iya, twinss."
(Sekedar informasi, nama mereka berdua sama, maka dari itu author buat panggilan antara mereka twinss aja biar senang di ingat.)
"Eh, ngomong-ngomong twinss, siapa yang bertamu disaat hampir malam begini?"
"Oh, itu temennya kak Rendi, twinss, kenapa?"
"Emm... Nggak kok twinss, cuma tadi kaget aja. Suaranya kedengeran sampai ke dalam sini soalnya."
"Permisi, Nak, ayo diminum dulu tehnya," ucap wanita paruh baya yang tiba-tiba saja datang mengagetkan Arka.
"Ah.. I-iya, makasih, Nek."
"Ngomong-ngomong nama kamu siapa, Nak? dan ada keperluan apa kamu kemari?"
"Oiya, Maaf, Nek, saya sampai lupa memperkenalkan diri."
"Nama saya, Arka, Nek, saya kemari untuk mencari adik saya. Kemarin siang saya melihat adik saya di bawa oleh Rendi, saya sudah mencari nya di rumah Rendi tapi menurut tetangga yang ada di sana Rendi tinggal di sini jadi saya kemari."
"Oh begitu, tapi di sini tidak ada anak kecil yang kamu maksud. Ria di rumah ini cuma ada 1,tapi itu Ria anak kecil yang tadi."
"Emm.. Kalau boleh Arka mau menunggu di sini sebentar sampai Rendi pulang? Arka mau memastikan sendiri. Apa boleh, Nek?"
"Tentu saja boleh, sekarang juga sudah jam 17:30 apa, Nak, Arka, tidak mau menginap saja?" tawar nenek susan.
"Tidak apa-ap, Nek, Arka akan segera pulang setelah menemukan adik saya."
Sungguh anak yang keras kepala. Batin nya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, Nenek, tinggal masak dulu ya."
"Iya, Nek."
"Nenek, Rendi, pulang," teriak Rendi langsung masuk ke dalam rumah.
Arka yang mendengar suara Rendi datang langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri Rendi.
Arka seketika menarik kerah baju Rendi sambil menatap Rendi dengan tatapan tajamnya seperti singa yang hendak membunuh musuhnya.
"Di mana, Ria!"
"Arka, ada apa. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Rendi pura-pura tidak mengerti.
"Jangan bertele-tele, cepat katakan di mana, Ria, kamu sembunyikan di mana adikku hah!" mencengkram kerah baju Rendi dengan kasar.
"Apaan sih, Ka. Kamu kenapa?"
Untung saja ada Amalia, kalau tidak ada dia aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sungguh ceroboh. Batin Rendi merutuki dirinya sendiri.
Flashback on.
Sore itu setelah Arka pergi dari rumah Amalia, Amalia langsung mengambil ponselnya dan menelpon Rendi.
Tut 📞📞📞
Tut📞📞📞
Tut📞📞📞
Rendi yang kala itu sedang beristirahat, langsung mengalihkan pandangan nya pada ponselnya yang tengah bergetar.
"Amalia? Ada apa ya dia menelpon ku, tumben sekali. Argghhh.. Aku sangat lelah, kalau tidak di angkat takutnya ada urusan penting, angkat saja lah." gumam Rendi.
Rendi pun langsung menggeser tombol hijaiyah di layar ponselnya dan langsung menempelkan ponsel di telinganya.
"Halo, Mel, ada apa? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Rendi masih dengan nada lelahnya.
"Ren, kamu ada di mana sekarang? Kamu udah sampai di Bandung apa belum?"
"Loh, kok kamu tau aku ada di Bandung? Kamu tau dari mana?"
"Tadi Arka ke sini, dia nanyain alamat kamu yang di Bandung. Sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama, Arka?apa bener yang di bilangin Arka tadi?"
"Maksud kamu apa? Apa yang udah di bilangin Arka sama kamu?"
"Dia bilang kamu menculik adik nya, Ria, apa itu bener?" tanya Amalia penuh selidik.
Sial*n ternyata Arka cepet juga taunya. Aku nggak nyangka dia bakalan bergerak cepat untuk nemuin Ria. batin Rendi kesal.
"Apa? Menculik, aku nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu Mel, kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya. Mungkin tadi Arka salah lihat, aku tadi soalnya ada ketemu sama Arka pagi. Aku tadi lagi sama adik ku mungkin karena kisaran umur adik Arka sama adik aku sama makanya dia kirain itu adik dia," jelas Rendi panjang lebar.
"Oh, pantesan. Aku juga nggak percaya sih yang di bilangin Arka tadi, itu kan bukan kamu banget."
"Iya dong, masa aku gitu sih. Oiya bye the way, makasih ya, Mel, informasi nya."
__ADS_1
"Iya, Sama-sama,aku pamit dulu ya,Ren, mau bilang itu doang."
"Iya, Mel, bye."
Call off.
"Aku baru aja dari minimarket, mana aku tau, Ria, dimana? Emangnya kenapa kamu malah cari di sini?"
"Tadi pagi, kamu ada bawa anak kecil. Itu, Ria, kan?"
"Iya, dia, Ria, tapi dia bukan, Ria, adik kamu. Dia, Ria, adik angkat aku," jelas Rendi.
"Jangan bohong, Ren, aku kenal banget sama, Ria, aku yakin banget aku nggak salah orang," jawab Arka tak mau kalah.
"Hah (menghela nafasnya) kenapa kamu nggak percayaan banget sih, Ka?ngeyel banget jadi orang. Tanya aja sama,Nenek ku, kalau nggak percaya," sambil melihat ke arah Nenek susan yang sudah melihat perdebatan mereka dari tadi.
Arka yang merasa agak sedikit berlebihan langsung melepaskan cengkraman tangannya pada baju Rendi dan melihat ke arah nenek susan seolah meminta penjelasan.
"Nek, apa benar yang di katakan, Rendi? Ria yang ada di sini bukan, Ria, adik saya melainkan adik angkat, Rendi?"
"Iya, Nak. Di sini hanya ada satu anak kecil yang bernama, Ria, dia itu adik angkat nya, Rendi, memangnya kenapa, Nak, kamu kehilangan adik kamu?"
Mendengar penuturan dari mulut nenek Susan, seketika Arka merasakan lutut kakinya begitu lemah dan tidak bisa untuk menopang tubuhnya lagi.
BRUKK
"Arka!" pekik Rendi terkejut melihat Arka yang ambruk di depan nya.
"Kamu nggak papa, Ka?"
"Nggak, ini becanda kan? Ria ada sama kamu kan, Ren, aku akan sangat merasa bersalah kalau aku tidak menemukan Ria. Erika sudah menunggu ku membawa Ria, tapi Ria tidak ada. Bagaimana ini," sambil mengacak-acak rambutnya prustasi.
"Udah, Ka, kamu itu lelah. Masuk dulu, istirahat di sini malam ini. Kita akan mencari cara untuk menemukan adik mu," mencoba menenangkan Arka.
"Baiklah," jawab Arka dengan nada lemah.
Setelah Arka masuk ke dalam rumah Rendi, Rendi langsung segera membawa Arka ke dalam kamar tamu.
"Kamu, istirahat disini saja. Nanti kalau ada apa-apa tinggal bilang saja, oke."
"Oke, makasih, Ren," merebahkan badannya yang sangat lelah ke kasur empuk di sana.
"Aku keluar dulu kalau begitu." pamit Rendi.
"Oke."
Rendi langsung turun dari kamar tamu setelah mengantar Arka untuk istirahat. Nampak wanita paruh baya itu sudah menunggu Rendi di bawah dengan wajah marahnya.
"Kenapa kamu begitu ceroboh sekali? Kenapa sampai ketahuan Arka, untung aja kita mendapatkan informasi dengan cepat. Kalau tidak, Nenek tdak tau apa yang akan terjadi."
"Maaf, Nek. Tapi seperti nya kita tidak perlu melakukan ini lagi deh, ini semua tidak ada manfaat nya, Nek. Rendi akan mulai melupakan, Erika, Rendi sangat ber terimakasih dengan nenek sudah membantu, Rendi, sejauh ini. Tapi, Rendi, mohon cukup sampai sini saja."
"Tidak, Nenek tidak akan menyerah sampai di sini. Nenek akan tetap melakukan apa yang sudah, Nenek, mulai. Keluarga Leon harus merasakan kesengsaraan dulu, sama seperti kesengsaraan yang, Nenek, dapat karena keluarga mereka."
PRANKKK.....
__ADS_1
🌼 Bersambung 🌼
Happy Reading 😊😊