Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
END


__ADS_3

"Ada apa?"


"Tolong anak saya, dia kejang-kejang."


Mendengar hal tersebut Dokter Rey segera berlari ke kamar Ria. Baru saja Bram dan Dian ingin ikut ke dalam mereka di hadang oleh Dokter Roy dan beberapa perawat yang ikut masuk ke dalam.


"Maaf, Pak, Buk, kalian tidak boleh masuk."


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Pasti."


PRANKK....


Teh hangat yang di pegang oleh Erika tiba-tiba saja jatuh. Bertepatan dengan hal itu, Ria seketika teringat dengan putri kecilnya.


"Ada apa, Sayang, kamu baik-baik saja?"


"Ti.. tidak aku tidak apa-apa, aku hanya kepikiran Ria. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ka, kita telpon Ria ya."


"Sayang, kita tadi kan baru saja sudah telponan sama Ria. Ria pasti masih tidur sayang, ini bukan hal yang ringan buat dia. Sudah 2 Minggu mereka di sana tapi mereka belum bisa pulang juga. Jadi sekarang, kita doakan saja kesehatan Ria agar Ria bisa berkumpul lagi bersama kita. Hari ini kita ke restoran lagi, semalem aku udah janji mau datang dan liat-liat perkembangan Restoran gimana."


"Iya, Ka."


Dokter Rey dan juga perawat lainnya masih berupaya menyelamatkan nyawa bocah 5 tahun itu. 30 menit sudah berlalu, Bram dan Diam yang merasa was-was langsung menghampiri Dokter Rey dengan wajah tegang dan cemas.


"Bagaimana?"


"Sudah lumayan membaik, dia sudah melewati masa kritisnya. Maaf ini semua terjadi karena kelalaian dari salah satu perawat kami, dia memberikan darah yang salah pada Ria sehingga kejadian tak mengenakan ini terjadi."


"Boleh kami menemuinya sekarang?"


"Lebih baik jangan dulu, nanti setelah Ria sadar kalian baru boleh masuk ke dalam."


"Baiklah, kalau begitu kami akan menunggu saja di sini."


"Terimakasih atas kerja samanya, kalau begitu saya permisi dulu."


Sudah hampir 1 bulan Reza bekerja di restoran milik kakaknya itu. Pagi ini Reza sudah berkemas-kemas pergi ke restoran.


"Kamu sudah siap, Reza? Ayo sarapan dulu."


"Iya, Ma, Reza sudah siap. Reza nanti aja sarapan di resto aja, Ma, udah telat."


"Kerja yang bener ya, Nak. Jangan lakukan kesalahan apapun di sana. Lakukan lah yang terbaik."


"Iya, Ma, Ria janji akan selalu kerja dengan baik."


"Yaudah, berangkat sekarang ya nanti makin telat lagi."


"Iya, Ma, Reza pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sesampainya Reza di restoran, Reza tidak lagi menunda-nunda pekerjaan nya. Dengan begitu sigap, Reza menjalankan pekerjaan nya dengan rapi dan hati-hati.


Reza mengerjakan pekerjaan nya dengan sangat baik. Namun, tak di sangka tiba-tiba saja Reza melakukan kesalahan dengan menabrak salah satu pelanggan nya sehingga membuat baju yag di kenakan oleh pelanggan itu kotor.


Karena merasa kesal dengan apa yang di dapatkan nya, wanita bermantel itu langsung mencaci maki Reza dengan sangat pedas sehingga beberapa pelanggan yang ada di sana mengalihkan pandangan mereka ke arah suara keributan.


"Maaf, Nona, saya tidak sengaja."


Reza meminta maaf sambil menundukkan kepalanya merasa begitu menyesal dengan apa yang sudah di perbuat nya.


"Kamu pikir dengan kamu minta maaf kamu bisa membersihkan baju mahal ku yang kotor? Kamu tidak tau kan berapa harga baju yang kamu kotori ini. Aku sangat yakin, uang gajimu di sini selama 6 bulan saja pasti tidak bisa membayar harga bajuku. Dasar pelayan!" Kesal wanita itu sambil terus mengumpat tak jelas.


Erika yang dari tadi memperhatikan kekacauan itu dari luar hanya bisa tersenyum sinis menahan emosinya lalu masuk kedalam sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Dasar pembuat onar," umpat Erika.


Erika mendekat ke arah wanita itu lalu melihat ke arah label harga baju yang masih melekat di baju wanita itu. Erika seketika terkekeh melihat kesombongan yang di tampilkan wanita itu.


"Hanya 10 juta, itu yang di sebut mahal. Dasar OKB."


Merasa ada perempuan di belakangnya yang menyebutkan harga yang di belinya langsung menoleh ke arah belakang dan menarik bajunya dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan pada bajuku!"


"Justru aku yang menanyakan hal tersebut, apa yang kamu lakukan pada adikku. Berani-beraninya kamu membuat keributan di sini."


"Keributan? Kalau saja pelayan ini tidak memulai ini mungkin tidak akan terjadi. Sekarang aku minta dia ganti rugi."


"Untuk baju yang harganya 30 juta. Baiklah, ini 30 juga cash, keluar dari sini dan jangan pernah kembali lagi kemari."


"Siapa sebenarnya kamu, kenapa kamu begitu ikut campur. Sekarang panggilkan pemilik Restoran ini karena aku mau komplen dan kamu siap-siap saja keluar dari sini." ancam wanita tersebut.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu kemana-mana, karena pemilik nya sudah ada di depan matamu. Dengan segala hormat, aku meminta kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali!"


Setelah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, wanita sombong itu langsung mengambil uang yang di berikan Erika lalu bergegas keluar dari Restoran.


"Siapa wanita itu, aku seperti pernah melihatnya."


"Arg... perutku."


Erika yang baru saja selesai memaki-maki wanita tadi langsung terduduk kemas di kursi sambil memegang perutnya yang terasa begitu sakit.


"Er..kamu kenapa, Sayang?"


"Kak, kakak ngga apa-apa?"


"Ngga dek, kakak ngga apa-apa."


"Makasih ya kak bantuan nya."


"Sama-sama, sekarang kamu kembali bekerja."


"Iya kak."


Bram dan Dian masih menanti perkembangan keadaan Ria, karena Ria tidak boleh di ganggu dulu, Bram memilih mengajak istrinya untuk keluar dulu mencari makan siang terlebih dahulu karena ini sudah waktunya makan siang.


"Kita makan di sini aja ya," tawar Bram setelah sampai di kantin Rumah sakit.


"Iya ngga apa-apa, di sini aja."


"Mau makan apa, Sayang?"


"Terserah kamu aja, Bram."


"Yaudah, tunggu ya."


Mereka berdua akhirnya menyantap makanan mereka. Setelah merasa kenyang, Bram memilih untuk cepat membayar makanan mereka dan kembali ke kamar Ria.


6 Bulan sudah berlalu, keadaan Ria semakin hari makin membaik. Bahkan, penyakit yang mengikat nya selama ini sudah lepas dari tubuhnya. Ria nampak begitu senang dengan kenyataan itu. Wajah Ria nampak begitu berseri-seri dan sudah tidak sabar lagi untuk kembali ke Indonesia.


"Ayah, besok Ria sudah pulang dari RS kan?"


"Iya, Nak, kalau keadaan Ria sudah tidak apa-apa kita akan pulang ke hotel besok."


"Ria udah ngga apa-apa kok, Yah, Ria udah sembuh total."


"Iya, Bunda, tapi Bunda sama Ayah inget ya jangan kasi tau Papa sama Mama dulu kalau Ria udah sembuh. Ria mau kasi kejutan buat mereka."


"Iya, Ria."


"Ka, Bram sama Dian kemana ya. Kok selama 1 bulan ini mereka ngga pernah ngabarin lagi soal Ria ke kita. Aku khawatir, Ka, aku takut terjadi apa-apa sama Ria."


"Udah tenang aja, Sayang, mereka pasti kasi kabar kok nanti. Kamu tenang aja ya, Sayang."


Arka berusaha menenangkan istrinya sambil mengelus rambut Erika lembut.


Tok...


Tok...


Tok...


"Siapa?"


"Aku liat dulu ya, Ka."


"Iya, Sayang."


Krek.....


Pintu rumah terbuka lebar, Arka tak berkedip melihat orang-orang yang ada di depannya. Namun, Arka kembali tersadar ketika anak kecil yang ada di sana memanggil- manggilnya.


"Papa..."


"R..Ria." kaget Arka tak percaya.


"Siapa, Ka."


"Mama..."


Karena sudah sangat rindu dengan Mamanya, Ria segera berlari memeluk Erika dengan begitu erat.


"R..Ria kok pulang ngga bilang-bilang sama Mama, Papa?"


"Ria mau buat kejutan buat kalian." Bram membantu menjawab.


"Yaudah ayo masuk, kalian pasti capek kan. Aku akan siapkan makanan dulu."

__ADS_1


"Makasih, Er, aku bantu ya."


"Emm... terimakasih."


Dian dan juga Erika tengah sibuk bergelut dengan alat masak di dapur. Ria tengah pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Sedangkan para laki-laki duduk di luar sambil berbincang-bincang.


Di tengah-tengah aktivitas mereka. Sepanjang suami istri yang ada di luar rumah Arka dan Erika memilih langsung masuk ke dalam rumah karena melihat pintu yang tidak terkunci.


"Permisi, Erika..."


"Siapa?"


"Renata."


"Renata....."


"Sayang, jangan lari-lari nanti kamu jatuh." panik Arka.


"Iya Sayang aku tau."


"Hey..eh tunggu."


Erika memperhatikan perut Renata yang sudah membesar. Renata yang sudah tau pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Erika apa di langsung menjawab saja.


"Iya, aku sudah hamil 3 bulan."


"Wahh.... berarti kamu hamil semenjak kamu di Bali dong?"


"Iya, sekalian berlibur eh malah dapat momongan."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Sudah 9 bukan kah?" tanya Renata yang melihat perut buncit Erika.


"Iya sudah 9 bulan, tidak akan lama lagi."


"Baiklah, ayo kita sarapan sama-sama. Ria juga baru saja pulang."


"Ria? Bukannya Ria lagi pengobatan di Malaysia?"


"Iya, sekarang keadaan nya sudah membaik dan Alhamdulillah sekarang Ria sudah sembuh total."


"Alhamdulillah..."


"Ayo kita makan bersama."


"Iya."


Baru saja Erika dan Renata sampai di meja makan, tiba-tiba saja Erika memegang perutnya karena merasakan sakit yang cukup hebat.


"Akhh... perutku.."


Melihat Erika yang ambruk Arka dan yang lainnya langsung berlari ke arah Erika.


"Air ketubannya sudah pecah, ayo cepat kita bawa Erika ke RS." panik Renata ketika melihat cairan bening keluar yang sudah keluar mengalir di kaki-kaki Erika.


"Mobil-mobil..."


"Ka, sakit."


"Sudah sayang tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja."


Arka menenangkan Erika dan langsung mengajak yang lainnya untuk membawa Erika ke RS terdekat.


Sesampainya di RS, Erika langsung di bawa para perawat ke dalam ruang bersalin agar cepat mendapatkan pertolongan.


2 jam sudah berlalu, akhirnya...


"Oekkk...oekk..."


Arka yang tak percaya dengan apa yang di dengar nya hanya bisa menitikkan air mata kebahagiaan nya. Setelah 20 menit berlalu seusai persalinan Erika, Arka baru bisa melihat anak dan istri kesayangannya itu.


"Terimakasih, Sayang, ini hadiah yang tak pernah ternilai harganya."


"Sama-sama, Ka," jawab Erika lemah diiringi dengan air matanya.


"Kamu sudah memikirkan nama yang cocok?" tanya Erika penuh penantian.


"Sudah."


"Siapa?"


"GRAZELLA AMANTHA."


πŸ‘‘ENDπŸ‘‘

__ADS_1


__ADS_2