
Di saat mereka berempat tengah berbincang-bincang, perempuan kecil di sana nampak menitikkan air matanya.
"Mama..."
"Sayang, kenapa nangis?"
Arka berjongkok sambil mendekati Ria.
"Ria bingung, Papa."
"Bingung kenapa, Sayang?"
"Ria bingung, kalau misalnya nanti ternyata Ria beneran anaknya Dokter cantik, apa Ria harus ninggalin Mama Erika sama Papa Arka? Ya, Ria juga ngga mau durhaka sama orang tua, tapi boleh ngga Ria sering-sering ke sini?"
"Boleh dong, Sayang, Ria boleh ke sini kapanpun Ria mau. Tapi inget, Ria kesini harus dengan izin dari Dokter cantik sama Dokter Bram. Walaupun tes DNA belum di laksanakan, tapi Papa yakin nb banget kalau Ria itu adalah anak dari mereka."
"Mama yakin? tapi kalau Ria bukan anak Dokter cantik gimana, apa Ria masih boleh ketemu sama Dokter cantik?"
"Boleh dong, Sayang, kita kan temen."
"Iya, Dokter."
Keesokan harinya.
Pagi ini Erika, Arka, dan juga Ria sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit tempat Bram bekerja.
"Arka udah siap, Sayang?" pekik Erika dari bawah.
"Sudah, Sayang, sebentar ya."
"Mama jangan teriak-teriak, nanti dedeknya kaget," ucap Ria polos sambil menatap perut rata Erika.
"Iya, Sayang, Mam janji ngga akan teriak-teriak lagi."
"Sayang, kamu kan lagi hamil. Kamu ngga perlu pergi ya, kamu di rumah aja. Nanti Baby nya capek gimana?"
bisik Arka setelah sampai di samping Erika.
"Arka, aku kan cuma duduk doang di mobil, gimana mau capek sih. Lagian kan kita cuma mau tes DNA aja bukan keliling-keliling Sayang. Udah ah, aku mau ikut lagian aku sumpek di rumah terus. Emangnya kamu mau apa liat aku stress karena di rumah aja?"
"Ya, ngga gitu juga sayang."
"Makanya, karena itu aku harus ikut."
"Yaudah iya, kamu ikut. Ayo kita berangkat."
"Mama, Papa ayo."
"Iya sayang iya."
Arka bersama keluarga nya akhirnya berangkat ke rumah sakit Medika untuk melakukan tes DNA.
Tok
Tok
Tok
"Silahkan masuk." Bram mempersilahkan.
"Pagi, Dokter," sapa Ria sambil tersenyum sumringah.
"Hei, Ria, mau ngapain, pemeriksaan kayak biasa?"
"Astagfirullah, Dokter masih muda udah lupa. Dokter kita kan mau tes DNA hari ini." Ria memberitahu sambil terkekeh.
Bram yang mendengar hal tersebut seketika menepuk dahinya.
"Astagfirullah... Dokter lupa, Sayang, yaudah Dokter panggilin Dokter cantik ya sayang."
__ADS_1
"Iya, Dokter."
"Sayang, kamu tunggu di sini sama, Ria, ya. Ada yang mau aku omongin sama Bram."
"Iya, Ka."
Arka pun mengikuti Bram dari belakang. Setelah melihat Bram yang bersama istrinya, Arka segera menghampiri mereka mereka berdua.
"Bram..."
"Iya, Ka, ada apa, kenapa nyusulin ke sini?"
"Ini sample rambut Ria, kira-kira berapa la.a hasilnya bisa di ketahui?"
"Hasilnya bisa di ketahui dalam 2-4 minggu lagi. Apa anda sudah benar-benar yakin? Bagaimana kalau Ria bukan anak kandung kami."
"Sudah, kalian tes saja dulu, kalau sudah keluar hasil tesnya baru kita bisa menentukan jalan untuk kedepannya."
"Baiklah, kami akan melakukan nya. Oiya, ngomong-ngomong keadaan Ria bagaimana, apa dia sering mengeluh pusing, mimisan ataupun yang lainnya?"
"Beberapa hari yang lalu, Ria demam dan juga mimisan. Apa yang harus kita lakukan, apakah Ria mqsih bisa bertahan dengan kondisinya yang seperti sekarang."
"Aku juga tidak tau, kita hanya bisa memberikan pengobatan semaksimal mungkin untuk Ria, setelah nya biarlah tuhan yang mengatur."
"Oiya, Ria sekarang di mana. Dia ikut ke sini kan?" tanya Dian sambil mencari-cari keberadaan anak kecil itu.
"Ada kok, Ria ada di ruang tunggu bersama, Erika."
"Oke deh, kalau begitu aku mau keluar dulu ya Bram, mari pak Arka."
"Iya, silahkan."
"Oiya, aku punya saran pengobatan untuk Ria, mudah-mudahan ini berhasil. Kalau keadaan Ria makin memburuk aku saran kan untuk pergi ke sana."
"Di mana?"
"Malaysia."
"Dokter cantik."
Ria yang melihat kedatangan Dian langsung beranjak ke arah Dian dan memeluknya.
"Apa kabar, Sayang?"
"Baik, Dokter, kabar Dokter gimana?"
"Dokter baik, Ria mau pemeriksaan?"
"Tadi kata papa mau tes DNA, emang nya udah Dokter?"
"Tes DNAnya lama lagi baru keluar hasil nya, kita harus menunggu Sayang." Dian mengacak-acak rambut Ria gemas.
"Ria kirain hasilnya langsung dapat ternyata ngga ya," kekeh Ria.
"Ngga, Sayang, hasilnya lama lagi baru keluar. Sekarang kita pemeriksaan kesehatan Ria dulu ya."
"Siap, Dokter cantik."
"Dian, kamu tolong temani Ria dulu ya, aku mau menemui Arka dulu nanti aku nyusul. Ria sama Dokter cantik ya, Sayang."
"Iya, Ma."
4 minggu kemudian, Arka, Erika dan juga Ria kembali ke rumah sakit sesuai dengan jadwal yang sudah di tetapkan. Setelah sampai di rumah sakit mereka bertiga langsung menuju ke ruangan Bram.
Saat sampai di ruangan Bram ternyata mereka bertiga sudah di tunggu oleh Bram dan Dian di dalam
Dengan wajah yang berseri-seri, Dian langsung memeluk Ria ketika dia sudah melihat bocah kecil itu.
"Pagi, Sayang, Ria apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, Dokter," ucap Ria mencoba tersenyum dengan wajah pucat nya.
Dian yang tak mau mencari tau keberadaan Ria yang sebenarnya hanya bisa memaksakan senyuman nya kepada Ria agar Ria tidak ikut bersedih.
"Alhamdulillah kalau begitu, silahkan duduk." Dian mempersilahkan.
"Iya."
Arka dan Erika pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Bram dan Dian dengan Ria yang duduk di pangkuan Erika.
"Jadi bagaimana hasilnya?" tanya Arka penasaran.
"Kalain bisa liat sendiri di sini."
Bram menyerahkan amplop coklat itu kepada Arka dan langsung di terima oleh Arka. Karena saking penasarannya Arka segera membaca isi dari kertas putih di dalam itu.
"Alhamdulillah..."
"Apa hasilnya, Ka?" tanya Erika penasaran.
"Ini.."
Arka menyodorkan surat tersebut kepada Erika agar Erika bisa membaca nya langsung.
"90% cocok, Alhamdulillah."
"Ria, kemari sayang," panggil Dian.
"Iya, Dokter cantik, gimana hasilnya?" tanya Ria penasaran.
"Sekarang Ria bisa panggil Dokter cantik dengan panggilan Mama dan Dokter Bram dengan panggilan Papa."
"Mama sama Papa, kalau Ria manggilnya Mama sama Papa berarti Dokter cantik sama Dokter Bram orang tua kandung Ria dong?" Ria menyimpulkan.
Bram dan Dian mengangguk senang melihat Ria.
"Seriusan??"
"Mama Erika, ini beneran? Ria punya orang tua kandung." Ria tak percaya.
"Iya, Sayang, ini beneran."
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tanpa pikir panjang lagi Ria langsung memeluk pasangan suami istri itu.
"Sudah 5 tahun, Sayang, akhirnya kami menemukan kamu." girang Dian di iringi air matanya.
"Iya, Ria juga seneng Dokter."
"Kok Dokter lagi sih sayang?"
"Eh, iya Bunda."
"Kok Bunda?" aneh Bram sambil meregangkan pelukannya.
"Kan Di udah punya Mama sama Papa yang Ria belum punya itu Ayah sama Bunda jadi Ria manggil Dokter cantik sama Dokter Ganteng Bunda sama Ayah aja ya. Ngga apa-apa kan?"
"Iya, ngga apa-apa, Sayang, senyaman Ria aja."
"Iya Ayah, Bunda."
"Bram, Dian, kami keluar dulu ya."
"Iya, makasih ya, Ka, Er."
"Sama-sama, yaudah sayang, ayo kita keluar, kita beri waktu buat mereka."
"Iya, Ka."
Bram, Dian dan juga Ria sedang berbincang-bincang di dalam. Walaupun awalnya Ria agak canggung, namun setelah lama berbincang akhirnya Ria bisa cepat berbaur dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Sayang, ayah mau ngajakin Ria tinggal di rumah Ayah sama Bunda, Ria mau ngga?"
🌼 Bersambung 🌼