Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Ibu yang buruk.


__ADS_3

"Sudah lah, Dian, aku yakin dia akan baik-baik saja di manapun dia berada. Jangan bersedih lagi, suatu hari nanti kita pasti bisa menemukan anak kita." Bram mencoba menenangkan Dian dengan lembut.


"Semoga saja."


"Kita berdoa yang terbaik aja ya."


"Iya, Bram."


"Yasudah, sekarang kamu istirahat. Ini sudah hampir jam 9 malam, sebentar lagi jadwal siff perawat lain. Besok kita ada operasi, ingat kamu temani aku di ruang operasi besok." Bram mengingat kan.


"Dasar, baiklah, aku akan istirahat. Ingat jangan tidur malam-malam, kalau kamu sudah selesai meneriksa langsung istirahat." Dian kembali mengingat kan Bram.


"Siap, nyonya." Bram tersenyum manis kepada Dian.


"Aku pamit dulu, inget jangan tebar-tebar pesona sama perawat lain, nanti mereka makin nempel lagi sama kamu."


"Iya iya istri ku yang cantik, suami mu ini ngga pernah genit-genit sama perawat lain kok."


Dian tersenyum mendengar penuturan suaminya itu. Karena sudah measa leleh, Dian dengan segera kembali ke kamar khusus perawat yang sudah di sediakan di rumah sakit.


"Ahh... Saat nya mengistirahatkan badan."


Dian langsung memeluk bantal guling nya dan mulai memejamkan matanya dengan perlahan.


Di kediaman Erika.


Arka, Erika dan Ria sampai dengan selamat di rumahnya. Tanpa basa basi karena tidak ingin lama-lama berada di mobil bersama Arka, Erika langsung membuka pintu mobil dengan kasar dan membawa Ria masuk ke dalam kamarnya.


Melihat hal tersebut, Arka hanya bisa terdiam pasrah karena bagaimana pun Arka tetap bersalah dalam hal ini. Walau bagaimana pun, Erika tetaplah Ibu Ria, dia berhak tau atas apa yang terjadi pada anaknya meskipun Ria bukan lah anak yang lahir dari rahim nya.


Saat Erika sudah sampai di depan kamar Ria, Erika langsung masuk ke dalam dan merebahkan Ria di kasur empuknya.


"Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Mama tau kok kamu anak yang kuat, cepat sembuh ya sayang."


Erika mengelus rambut Ria lembut, air mata yang sudah ia tahan dari tadi tidak bisa Erika bendung lagi. Kebenaran yang dia tau tanpa sengaja itu benar-benar membuat Erika merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk Ria.


Tok


Tok


Tok


Di saat Erika tengah asik dengan kesedihan nya, Erika langsung mengusap air mata nya kasar mendengar kerukan pintu dari luar kamar Ria. Erika langsung melihat ke sisi pintu dan langsung menatap laki-laki yang tak lain adalah suaminya itu dengan tatapan acuh tak acuh.


"Ada apa?" tanya Erika.

__ADS_1


"Ayo berbicara sebentar, aku akan jelaskan masalah tadi," ajak Arka.


"Tidak perlu, lagian aku tidak penting juga. Aku hanya ibu pengganti buat, Ria." Erika dengan mulut bergetar menahan tangis.


"Er.....jangan kayak gini dong. Kamu salah paham, Sayang."


"Ngga, Ka, aku emang ga becus jagain, Ria. Bahkan, Ria, sakit aja aku ngga tau. Itu adalah hal yang paling buruk dari seorang ibu, jaga anak aja ngga bisa apalagi jaga hubungan."


"Tapi, Er...."


Arka menahan Erika yang hendak keluar dari kamar Ria.


"Lepasin, Ka," pinta Erika dengan lembut.


"Ngga, kamu harus dengerin penjelasan aku dulu," bantah Arka.


"Arka, pleaseee... Aku mau sendiri dulu. Tolong jangan ganggu aku dulu," pinta Erika untuk kedua kalinya.


"Tapi, Er...."


"Arka, please! Aku mau sendiri."


Arka melonggarkan genggaman nya pada tangan Erika dan memberikan Erika jalan.


"Baiklah," pasrah Arka.


Setelah menjawab itu Erika langsung berlalu dari hadapan Arka. Erika memilih pergi ke kamar mereka, setelah sampai di kamar, Erika segera mengunci kamar dengan erat.


Air matanya sudah tak bisa di bendung lagi. Erika seketika ambruk di sisi ranjang sambil menumpahkan segala kesedihan nya.


BRUKKK....


"Hikss.... Hikss... Ria, maafin, Mama, Sayang. Mama, ngga becus jagain kamu. Mama minta maaf.... Hikss... Hiks..."


Sementara itu Arka yang masih berdiri di depan pintu kamar Ria langsung menutup pintu itu dengan rapat.


Seakan tak ingin menyerah dengan keputusan Erika tadi, dengan kecepatan sedang, Arka berlari ke kamar milik dia dan Erika.


Di saat sudah sampai di depan pintu kamar, Arka langsung memutar knop pintu agar bisa masuk ke dalam dan segera menyelesaikan permasalahan nya dengan Erika.


Klek... Klek...


Arka memutar knop pintu dengan kasar. Sekuat tenaga Arka kembali mencoba untuk membuka knop pintu kamar, namun nihil hasilnya tetap sama. Kamar itu di kunci dari dalam.


Arka memutar otaknya agar bisa masuk ke dalam. Setelah menemukan cara untuk masuk, Arka langsung merogoh kantong celana nya. Arka langsung mengambil ponsel nya yang ada di saku celana, Arka membuka casing HP nya mencari logam pipih yang ada di dalam.

__ADS_1


"Aku harap ini bisa membantu."


Arka memperhatikan logam pipih tersebut menatap penuh harap.


"Jangan masuk, aku mau sendiri. Kalau kamu tetap memaksa masuk jangan harap besok aku mau bicara sama kamu."


"Oke, kalau begitu, aku pamit dulu ya, Er. Kamu jangan tidur malem-malem ya, ingat istirahat. Besok kita bahas lagi masalah ini ya."


Arka berpamitan dari luar berharap besok Erika sudah bisa kembali menjadi Erika yang seperti biasanya.


Merasa tak ada lagi suara Arka di luar. Erika segera berdiri, Erika berjalan ke kamar mandi membersihkan wajahnya lalu kembali lagi ke kamar untuk mengistirahatkan badan nya yang lelah.


"Saat nya istirahat," ucap Erika sebelum memeluk bantal nya yang ada di samping nya.


"Hoammmm... Good night suami ku."


Arka yang masih belum tenang dengan kejadian tadi, membelok kan badan nya ke arah sofa di ruang tamu.


"Lebih baik aku tidur di sini saja. Pasti kalau aku tidur di kamar, Ria, nanti, Ria, kepo."


"Hoammm....."


Arka menanggal kan jaket tebalnya untuk di jadikan selimut. Merasa sudah cukup nyaman, Arka mulai memejamkan matanya.


Jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Erika tiba-tiba saja terbangun karena merasakan kerongkongan nya yang sudah mengering.


"Aduh, haus banget, turun aja deh ambil minum."


Krekkk....


Erika membuka pintu kamar nya dengan perlahan. Dengan mnata yang masih mengantuk, Erika perlahan-lahan menuruni tangga menuju ke dapur.


Di saat berjalan melewati ruang tamu, Erika berhenti ketika melihat ada seseorang yang tengah berbaring di sana.


Erika memberanikan diri untuk mendekat. Karena penerangan yang kurang memadai, wajah laki-laki tersebut belum bisa terlihat dengan jelas.


Di saat sudah berada di depan laki-laki itu, Erika berjongkok sambil memperhatikan wajah laki-laki itu dengan seksama.


"Arka..." ucap Erika pelan agar tidak menganggu istirahat Arka.


Melihat keadaan Arka yang tidur seperti itu, membuat hati Erika tergerak. Erika langsung naik ke atas kamar nya mengambil selimut tebal untuk Arka.


Erika menyelimuti Arka dengan perlahan. Rasa haus yang tadinya mengganggu Erika seolah-olah sudah menghilang. Rasa cemas kini lebih mengganggu Erika, cemas jika suaminya itu nanti bisa sakit ataupun kedinginan.


"Tidur lah, Suami ku, maaf sampai membuat mu jadi seperti ini." Erika mengelus kepala Arka dengan lembut.

__ADS_1


Karena tidak merasakan lagi haus melanda kerongkongan nya, Erika lebih memilih untuk melanjutkan tidur nya. Namun tidak tidur di kamar nya, tapi di kamar anaknya, Ria.


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2