
"Dasar kep*r*t, kalian saja sana yang siaran langsung aku tidak mau." kesal Jonathan sambil menendang kaki Arka.
"Aww....." rintih Arka sambil memegang kakinya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Erika dan diikuti dengan Renata yang menatap mereja berdua dengan tatapan bingung.
"Ngga, nggak ada yang serius kok." bohong Arka.
"Sayang, masa dia bilang malam pertama kita harus siaran langsung kan nggak lucu," adu Jonathan pada Renata.
Renata yang hal itu keluar dari mulut Jonathan seketika menundukkan wajahnya ke bawah karena malu. Hal itu juga terjadi pada Erika, karena mengingat dirinya dan Arka juga belum pernah melakukan malam pertama mereka.
Namun, dengan segera Erika dan Renata mengangkat wajah mereka berbarengan. Ke-dua wanita itu saling bertatapan dan memberi kode satu sama lain. Hingga.
BRUKHH
BRUKHH
Mereka langsung melempar dua bantal kecil yang ada di pelaminan itu ke arah Arka dan Jonathan hingga ke-dua laki-laki itu sedikit meringis.
"Awww...." ringis Arka dan Jonathan berbarengan.
"DASAR MESUM!"
Mendengar teriakan dari ke-dua wanita cantik itu, para orang tua pengantin dan juga tamu undangan memperhatikan mereka dengan tatapan bingung.
Merasa diri mereka di perhatian Arka, Jonathan, Renata dan Erika langsung tersenyum kaku pada seluruh tamu undangan yang hadir.
"Maaf, kami tadi hanya sedang bersenda gurau bersama. Silakan di nikmati kembali hidangan nya." Erika mempersilahkan dengan wajah yang di buat semanis mungkin.
Mendengar penuturan Erika, para tamu undangan pun kembali melanjutkan kegiatan mereka menyantap hidangan yang tersedia dan ada juga yang tengah adik berbincang-bincang.
"Huh, selamat," ucap Arka seraya mengelus dadanya.
"Selamat, selamat, kalau bukan karena kalian ini tidak akan terjadi." Erika menatap nyalang kepada Arka dan Jonathan seperti hendak membunuh mangsanya.
"Kok, kami sih?" Arka seakan tidak terima.
"Ya kalau bukan kalian yang berbicara seperti itu, maka ini semua tidak mungkin terjadi."
Aksi adu mulut antara Arka dan Erika masih saja berlanjut. Jonathan dan Renata yang sudah berhenti berdebat itu hanya melirik satu sama lain.
Jonathan dan Renata memilih untuk kembali ke tempat pelaminan mereka sambil menyapa para tamu lainnya.
Di sisi lain.
Wanita paruh baya yang memperhatikan kegiatan perdebatan antara Arka dan Erika hanya menggeleng kan kepalanya sambil berjalan mendekat menghampiri pasangan suami-istri itu.
"Jo, Mama mau apa ya?" tanya Renata yang melihat ibu nya mendekati Arka dan Renata.
"Entah lah, mungkin menegur mereka," jawab Jonathan sambil mengedikkan bahunya.
Tap
Tap
__ADS_1
Tap
Wanita yang di yakini sebagai mama Renata tersebut hanya mendiamkan dirinya setelah sampai di tempat perdebatan itu terjadi.
Untung lah mereka berdebat menggunakan intonasi suara yang biasa-biasa saja sehingga membuat sebagian orang tidak begitu peduli dengan apa yang mereka katakan dan ada juga sebagian orang yang mendengar nya hanya menganggap itu adalah permasalahan keluarga yang biasa terjadi. Hingga, tiba-tiba mama Renata langsung menepuk bahu Arka dan Erika berbarengan.
"Ada ap-.."
"DIAM!"
Belum sempat mama Jonathan selesai bertanya ucapan nya langsung terhenti karena Arka dan Erika.
Mama Renata hanya bisa mengendikkan bahunya tanda pasrah.
"Baiklah, Ibu tidak akan memaksa kalian untuk berhenti," hendak berbalik dari tempat dia berdiri.
"Aduh, kacau ini, Jo, bisa-bisa mama marah," panik Renata.
"Sudah lah tenang, aku yakin mama tidak akan marah. Percaya padaku," ucap Jonathan seraya meyakinkan Renata.
Mendengar suara orang yang hendak menghentikan pertengkaran mereka tadi Arka dan Erika langsung berhenti berdebat dan mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.
"Eh, tante," sapa Erika kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tante udah lama di sini, Tan?" Arka pura-pura bertanya untuk mencairkan suasana.
"Emm... Tidak terlalu lama, tante di sini sebenarnya ingin menanyakan apa yang terjadi pada kalian, kenapa kalian bertengkar. Tapi sebelum tante mendapatkan jawaban tante malah di bentak." Mama Renata pura-pura memperlihatkan wajah sedihnya.
"Emm.. Maaf ya, Tan, kami tidak bermaksud untuk membentak tante tapi cuma ada sedikit kesalahpahaman saja." Erika mencoba menjelaskan.
Arka dan Renata pun langsung mengikuti arah tangan mama Renata dan melihat Jonathan dan Renata yang tengah asik tertawa melihat mereka.
Huh, untung saja teman kalau bukan sudah ku hancurkan pelaminan nya karena sudah berani-berani menertawakan ku. * batin Erika menahan kesal.
❤❤❤
Acara sudah selesai dari 3 jam yang lalu, karena merasa kelelahan dan juga sedikit pusing, Arka dan Erika memilih pulang terlebih dahulu.
"Huh, sungguh melelahkan." Erika langsung merebahkan badannya ke kasur.
"Apa masih pusing?" tanya Arka yang ikut merebahkan badannya di samping Erika.
"Sudah mendingan."
"Baguslah."
Keadaan kembali hening sejenak. Baru saja Arka hendak memejamkan matanya tiba-tiba dia teringat dengan percakapan nya dan Jonathan tadi saat acara pernikahan Jonathan.
Arka membalikkan badannya, melihat Erika dengan tatapan bingung. Merasa kalau dirinya di tatap oleh sang suami, Erika langsung membalikkan badannya ke samping mengahadap ke arah Arka.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat bingung seperti itu?" seraya mengelus pipi Arka dengan lembut.
Mungkin ini saatnya.* batin Arka.
"Sayang."
__ADS_1
"Hemmm.. Ada apa?"
"Apa aku boleh meminta hak ku?" tanya Arka dengan nada pelan namun masih di dengar oleh Erika.
"Maksud kamu?"
"Malam pertama kita."
BLUSHH
Seketika wajah Erika memerah, Erika terdiam, Erika langsung menjauhkan tangan nya dari pipi Arka.
"Emm... A-aku mau ke toilet sebentar," pamit Erika gugup langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Sadarlah, Arka, kamu tidak pantas untuk mengambil mahkota wanita sempurna seperti Erika. Tapi, apa salahnya? Aku kan suami nya. Argg.... Sudahlah kalau dia memang tidak mau melakukan nya aku tidak akan memaksa." Arka berdebat pada diri nya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
Sementara itu di dalam kamar mandi Erika masih memikirkan permintaan Arka tadi.
"Bagaimana ini? Apakah harus ku berikan hak, Arka, sekarang? Tapi, ini juga kewajiban ku sebagai istri, aku tidak mungkin menolak permintaan suamiku sendiri. Baiklah, mungkin ini sudah saat nya aku memberikan mahkota ku pada Arka."
Setelah berpikir keras akhirnya Erika memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Terlihat Arka yang tengah istirahat sambil membelakangi Erika.
Erika mengembuskan nafasnya lalu berbaring di samping Arka.
"Ka, kamu udah tidur?"
Mendengar suara Erika, Arka langsung berbalik untuk menyelimuti Erika.
"Tidur lah, sudah malam. Kamu pasti capek kan?" ujar Arka dengan nada berbicara yang lembut.
"Emm.." tersenyum manis kepada Arka.
Baru saja Arka hendak berbalik tapi tangannya langsung di tahan Erika.
"Lakukan lah."
"Hah? Apa maksud mu?"
"Ambil lah hak mu sebagai suami ku dan aku juga akan melaksanakan kewajiban ku sebagai istri."
Seakan tidak percaya dengan pernyataan Erika, Arka hanya bisa terdiam lalu kembali tersadar.
"Benarkah? Apa boleh?" tanya Arka yang merasa takut ada yang bermasalah dengan pendengaran nya.
"Tentu saja boleh, kamu adalah suami ku."
Senyum manis nampak begitu terpancar dari wajah Arka mendengar pernyataan dari istri nya itu.
Akhirnya, malam ini mereka melakukan apa yang seharusnya suami istri lakukan pada umumnya. Hanya mereka dan Tuhanlah yang lebih tahu bagaimana malam itu mereka habiskan. Mencari kenikmatan surga dunia dan juga ridho sang pencipta.
🌼Bersambung 🌼
Halo para readers semua, mohon maaf jika part. Ini kurang sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Tolong jangan di bully author masih muda jadi tidak begitu pandai dalam membuat cerita yang tidak pernah saya alami sendiri 😂. Semoga kalian suka dengan cerita author.
Happy Reading 😊😊.
__ADS_1