Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Tes DNA.


__ADS_3

Aku yakin, kalau anak kita masih ada, kamu pasti akan memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan Ria kan, Sayang?" gumam Bram.


Karena tak ingin mengganggu kebersamaan istrinya dan juga Ria, Dokter Bram memilih kembali ke atas menemui Arka.


"Seriusan Dokter cantik ngga apa-apa. Tapi kok nangis, kalau Dokter cantik punya masalah Dokter bisa cerita sama Ria," ucap Ria.


Dokter Dian seketika terkekeh mendengar apa yang di ucapkan bocah 5 tahun itu.


"Dokter kok malah senyum-senyum sih?" tany Ria bingung.


Dian malah makin terkekeh mendengar pertanyaan Ria. Karena saking gemasnya Dian pada Ria, Dian langsung berjongkok dan merapikan rambut Ria seraya tersenyum.


"Kamu ngegemesin, Sayang, Dokter cuma kagum sama kamu. Kamu masih kecil tapi sudah bisa memiliki pemikiran seperti itu, siapa sih yang ngajarin, Sayang?" Dian bertanya sambil menatap Ria gemas.


"Emm...Ria emang ngegemesin, Dokter. Emm..yang ngajarin Ria ya Mama Erika. Mama Erika bilang, Ria harus jadi anak baik dan pintar. Ria harus bisa membantu sesama, jadi kalau Dokter lagi sedih, Ria mau bantu Dokter biar Dokter ngga sedih lagi."


"Anak pintar, udah Dokter ngga apa-apa kok. Mending kita ke atas, liat Mama Ria udah sadar apa ngga. Ria bahagia kan ngga lama lagi Ria bakal punya adik?"


"Bahagia sih, Dokter, tapi Ria takut juga."


"Takut kenapa, Sayang?"


"Ria takut nanti Mama sama Papa nanti lebih memperhatikan adik, Ria, Dokter. Ria kan cuma anak panti yang di angkat Mama sama Papa, Ria bukan anak kandung mereka. Jadi Ria takut, Dokter."


"Anak panti?"


"Iya, Dokter, Ria ini cuma anak panti. Makanya Ria takut nanti kalau nanti Ria punya adik perhatian Mama dan Papa berpindah ke adik Ria."


Dian hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan penjelasan Ria.


"Sudah tidak apa-apa, Dokter yakin pasti Mama sama Papa Ria bisa berlaku adil kepada Ria dan adik Ria nanti."


"Emm...mudah-mudahan aja, Dokter."


"Dokter cantik."


"Iya, Sayang."


"Makasih ya udah mau dengerin, Ria, cerita." Ria tersenyum hangat kepada Dian.


"Iya, Sayang, sama-sama."


"Kita ke atas?" tawar Dian.


"Ayo, Ria, juga mau liat keadaan, Mama."


"Ayo."


Di saat Ria dan Dian pergi ke atas untuk melihat keadaan Erika, di tempat lain di salah satu kamar kosong di sana. Ada dua laki-laki yang tengah berbincang berdua.


"Maaf, sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan, Ka, kenapa harus berdua saja. Bukan kah bisa di bicarakan di sana saja."


"Ini penting dan hanya menyangkut kalian saja. Aku Rasa yang lain tidak perlu ikut campur."


"Kalian, maksudnya siapa, tolong berbicara yang jelas, Arka, saya tidak mengerti."


"Lakukan tes DNA."


"Hah, tes DNA, untuk siapa?"

__ADS_1


"Ria dan kamu, entahlah ini memang terdengar sedikit tidak masuk akal. Tapi kalau dari yang aku lihat Ria dan kalian nampak begitu sama. Coba saja kamu perhatikan, pasti dari wajah Ria ada kemiripan dari kamu dan juga Dian. Dan ada satu hal lagi yang membuat aku begitu yakin, kamu bilang tadi anak kalian menghilang 5 tahun yang lalu kan, itu sama dengan umur Ria sekarang. Entah mengapa kali ini aku cukup yakin kalau Ria adalah anak kalian yang menghilang."


Bram yang mendengar hal tersebut mengetuk-ngetuk dahi nya seraya berpikir kemudian menatap Arka.


"Masuk akal juga sih, tapi tunggu. Jadi Ria itu bukan anak kandung kalian?"


"Bukan, sebenarnya kami dulu menemukan Ria yang masih bayi di depan panti. Saya rasa dulu Ria sengaja di letakkan seseorang di sana dengan keadaan hujan lebat. Entahlah tujuan nya untuk membunuh atau menyiksa bayi kecil itu. Kalau saja kami terlambat menyadari ada anak bayi di luar pasti dia sudah tidak selamat, dan karena hal itu juga Ria menderita sampai sekarang."


"Hujan lebat?" gumam Bram.


"Dulu istri saya juga melahirkan dalam keadaan hujan lebat juga pada tanggal 24 Desember 5 tahun lalu. Tapi apa mungkin?"


Mendengar tanggal yang di sebut Bram membuat Arka melotot kan matanya seraya menyunggingkan seulas senyuman.


"Sepertinya tidak salah lagi." gumam Arka.


"Hah.. Maksudnya?"


"Lakukan saja tes DNA, kita lihat apa hasilnya dan nanti kamu akan tau sendiri apa maksudnya aku meminta hal itu."


"Baiklah, aku akan melakukan tes DNA dan mencoba membuktikan apakah, Ria ada hubungan darah dengan aku atau tidak."


"Bagus, baiklah kalau begitu."


"Apa, Ma, Erika hamil?"


Erika yang tak percaya seketika menitikkan air mata kebahagiaan nya seraya mengelus perut nya dengan lembut.


"Iya, Sayang, kamu hamil."


"Alhamdulillah, Ya Allah, Arka mana, Ma. Dia sudah tau?"


"Selamat ya, Kak," ucap Reza mengelus punggung badan kakaknya lembut.


"Makasih, Pak."


"Ria...." panggil Erika.


"Iya, Mama."


"Sini, Sayang."


Karena di panggil Mama nya Ria langsung mendekat duduk di samping Erika.


"Kamu seneng ngga nanti kamu punya adik?"


"Seneng lah, Ma, Ria malah seneng banget. Berarti nanti, Ria, punya temen main dong. Tapi kalau bisa, Ria, mau adiknya yang keluar cewek ya, Ma. Kalau laki-laki pasti nakal."


Semua orang yang ada di sana seketika terkekeh mendengar penuturan Ria.


"Sayang, Mama ngga tau nanti yang keluar nya laki-laki atau perempuan. Tapi kalau Ria, mau Ria bisa minta sama Allah, Ria harus rajin-rajin berdoa. Cuma Ria harus inget nanti kalau apa yang Ria dapat tidak sesuai dengan keinginan, Ria, dapat tidak sesuai dengan keinginan Ria, Ria harus menerima adik Ria dengan baik ya. Jangan berantem, Ria harus jaga adik Ria dengan baik ya, janji."


Erika tersenyum sambil mengangkat jari kelingking nya pada Ria.


"Janji, Mama."


"Anak pintar."


"Sayang, kamu sudah sadar?"

__ADS_1


Arka mendekat dan duduk di samping Erika. Arka tersenyum kepada Erika lalu memelukku dengan begitu Erat.


"Makasih, Sayang, ini hadiah terindah yang pernah aku dapat."


"Sayang, jangan peluk terlalu erat, kasian baby-nya masih kecil nanti sakit."


Erika menahan tangan Arka dengan perlahan karena Arka yang mendekapnya terlalu erat.


"Heheh...maaf, Sayang. Aku hanya terlalu senang, maafin Papa ya, Sayang."


Arka tersenyum lalu mengelus perut istrinya dengan lembut. Orang-orang yang ada di sana terkekeh melihat tingkah Arka dan Erika lalu berpamitan keluar.


"Arka, Mama keluar dulu ya."


"Iya, Ma, makasih ya."


"Sama-sama, Nak."


"Kak, kalau gitu, Reza sama Papa pamit juga ya."


"Iya.."


"Sayang, mau keluar juga?" tanya Bram sambil melihat Dian.


"Emm...kalau kita tidak mengganggu aku mau di sini dulu." harap Dian terus menoleh ke arah Ria.


"Ngga mengganggu kok, kalian disini aja." pinta Erika.


"Sayang, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


Arka menggenggam tangan Erika dan lembut.


"Mau bilang apa, Sayang?" tanya Erika.


"Ini tentang, Ria, Sayang?"


Ria yang hanya diam di samping Erika langsung menatap Arka bingung.


"Ria, memang nya ada apa sama, Ria, Pa?"


"Sebenarnya....."


Arka menjelaskan secara detail, hal tersebut tentu saja membuat Dian dan Erika terkejut. Namun, berbeda dengan Dian, Erika malah tersenyum mendengar hal itu.


"Alhamdulillah," ucap Erika senang.


"Tapi apa mungkin?" Dian masih tak percaya.


"Itu mungkin saja, maka dari itu kami memutuskan untuk melakukan tes DNA."


"Baiklah, kita coba, mana tau benar. Kita kan tidak pernah tau yang sebenarnya bagaimana."


"Iya, bener juga."


Di saat mereka berempat tengah berbincang-bincang, perempuan kecil di sana nampak menitikkan air matanya.


"Mama..."


🌼 Bersambung 🌼

__ADS_1


__ADS_2