Pelayan Tampan Itu Suamiku

Pelayan Tampan Itu Suamiku
Penjelasan dari, Rendi.


__ADS_3

"Jangan pura-pura tidak tau, kamu tau apa yang aku maksud."


"Sebenarnya, aku.."


"Sebenarnya apa?"


"Aku hanya melakukan ini karena permintaan, Mama. Mama meminta ku untuk selalu menuruti semua permintaan, Nenek, walaupun aku tidak mau aku tetap harus melakukan nya."


"Kenapa kamu tidak mengatakan saja yang sebenarnya pada, Mama, kamu apa yang terjadi. Mama kamu juga pasti tidak akan setuju dengan apa yang dilakukan, Nenek, kamu." Erika bersuara.


"Aku sudah melakukan nya beberapa kali tapi, Mama, tidak pernah mempercayai pernyataan buruk ku tentang, Nenek. Setiap aku mengadukan hal tersebut kepada, Mama, Mama pasti akan selalu mengancam akan mencoret ku dari daftar keluarga. Karena menurut, Mama, menuduh, Nenek, sendiri dengan tuduhan yang kasar seperti itu bukan lah perbuatan baik. Maka dari itu aku memilih menuruti saja apa permintaan, Nenek, sambil mencari cara agar aku bisa menunjukkan pada, Mama, bahwa, Nenek, tidak sebaik yang dia pikirkan," jelas Rendi panjang lebar.


Orang-orang yang ada di dalam ruangan Erika hanya terdiam mendengar penjelasan dari Rendi.


"Hemmm... Aku juga tidak tau mau berbicara apa kalau masalah nya seperti itu. Tapi yang pasti, kamu juga harus bersikap dewasa, Ren, kamu harus mengatakan salah kalau apa yang kamu lakukan salah. Kamu tidak boleh membenarkan apa yang tidak benar, walaupun Nenek susan adalah Nenek kandung kamu, kamu tidak bisa untuk ikut campur urusan masa lalu dia.


Biarlah masalah dendam, Nenek kamu di masa lalu menjadi urusannya sendiri. Karna, kalau kamu ikut campur itu sama saja kamu mempersulit keadaan kamu sendiri. Dengan kamu mengikuti jalan Nenek kamu untuk balas dendam kamu bisa-bisa kehilangan teman-teman mu sendiri." Arka memberi pendapat dan langsung mendapat anggukan dari yang lain.


"Baiklah, aku akan mencobanya."


"Emm... Itu bagus," ucap Erika seraya tersenyum pada Rendi.


Sementara itu di kediaman Renata.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Jonathan yang sudah menunggu Renata bersiap dari tadi.


"Emm.. Sudah," seraya tersenyum.


"Dasar anak gadis, dandannya begitu lama. Kasihan itu Jonathan nya sudah lama menunggu."


"Iya, Ma," jawab Renata.


"Ngga papa kok, Ma, Jonathan, bisa ngerti kok." Jonathan memaklumi seraya melihat ke arah Renata dengan tersenyum.


"Iya sudah, kalau begitu cepatlah kalian berangkat. Lebih cepat persiapan pernikahan kalian selesai itu akan lebih baik."


"Iya, Ma, kalau begitu kami pamit dulu ya." pamit Jonathan.


"Iya, hati-hati."


Setelah berpamitan kepada Mama Renata. Jonathan dan Renata pun segera menaiki mobil mewah nya ke salah satu tempat yang menyediakan semua perlengkapan pernikahan.


"Jo, sudah kita selesai mengurus perlengkapan pernikahan kita. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit," ajak Renata.


"Ke rumah sakit? Kenapa, kamu sakit? Apa yang sakit, kita langsung ke rumah sakit aja kalau gitu ya," panik Jonathan.


"Ngga, Jo, aku nggak sakit. Aku ngajakin kamu ke rumah sakit buat jenguk, Erika, kita lihat dia udah baikan apa nggak."


"Oh, Erika, kenapa ke sana sih, Sayang. Mending kita jalan-jalan aja. Nanti kalau ingatan dia belum pulih gimana?"


"Nggak papa, Sayang, aku memang mau ke sana. Aku mau jenguk dia, nggak papa ya."


"Tapi..."


"Sayang, Jonathan, 1 minggu lagi kita kan mau menikah. Aku mau kita datang ke sana nganterin undangan juga buat mereka, kalau memang ingatan Erika belum pulih kita bisa bicarakan pelan-pelan. Kita tidak perlu berbohong lagi pada Erika, ya, kamu ngerti kan? Lagian aku juga percaya sama kamu, kita sudah mau menikah tidak mungkin kamu berpaling lagi, aku yakin itu," seraya mengelus tangan Jonathan dengan lembut.


"Makasih ya, Sayang, udah percaya sama aku. Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu."

__ADS_1


"Emm..." Renata tersenyum manis mendengar penuturan Jonathan.


3 jam kemudian, jam sudah menunjukkan pukul 11:30 siang, setelah Renata dan Jonathan selesai menyelesaikan segala perlengkapan pernikahan mereka dan melakukan sedikit pemotretan. Mereka langsung kembali memasuki mobil dan pergi ke arah rumah sakit Medika.


"Sayang, beneran nih kita ke sana?aku males ah," tolak Jonathan.


"Jo, ayolah, ya."


"Emmm.. Baiklah."


"Nah, gitu dong, kan seneng liatnya."


"Emmm..." Jonathan berdehem.


Mendapat persetujuan dari Jonathan, Renata langsung tersenyum senang. Melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Renata, Jonathan pun ikut tersenyum dan melajukan mobil menuju rumah sakit Medika.


Tak perlu waktu lama, karena jalan yang tidak terlalu padat, dalam 30 menit perjalanan mereka akhirnya sampai di Rumah sakit Medika.


"Sayang, beneran ini kita ke sini?" tanya Jonathan lagi memastikan.


"Iya, beneran lah,Sayang. Kita udah di sini jangan aneh-aneh kamu. Masa udah sampai kita putar balik kan nggak lucu," kekeh Renata.


"Iya deh, iya."


"Ayo masuk."


"Emm.." mengikuti Renata dari belakang.


"Ih, kok lama banget sih jalan nya. Ayo cepetan," langsung menarik tangan Jonathan dan merangkul nya masuk ke dalam Rumah sakit.


Sesampainya di dalam, Renata segera membawa Jonathan ke dalam lift menuju ke kamar Erika.


Renata membuka pintu dengan perlahan. Terlihat Erika yang sedang istirahat di temani Arka dan juga Nenek susan beserta ke-2 anak kecil itu menatap ke arah pintu mendengar ada yang masuk.


"Hai, Erika," sapa Renata.


"Hai, Renata, apa kabar," seraya tersenyum manis pada Renata.


"Baik, Er," langsung mendekat dan memeluk Erika dengan erat.


"Hai, Jo, apa kabar?" tanya Erika seraya tersenyum manis ke arah Jonathan.


"B-baik, Er, kamu?" sambil melihat ke arah Arka dan Renata secara bergantian.


Renata yang melihat Jonathan menatap nya hanya tersenyum seolah mengatakan kalau dia tidak apa-apa.


Sedangkan tanpa mereka sadari, Erika dan Arka sudah melihat gerak-gerik mereka dan menahan tawanya masing-masing.


Renata yang merasa aneh dengan sikap Erika dan Arka hanya menatap mereka dengan tatapan bingung.


"Ada apa? Kenapa kalian berdua malah tertawa?" tanya Renata bingung sambil memperhatikan Arka dan Erika secara bergantian.


"Sebenernya apa yang kalian pikiran?" bukannya menjawab pertanyaan dari Renata, Arka malah balik bertanya kepada Jonathan dan Renata.


"Maksudnya?" tanya Renata dan Jonathan tidak mengerti.


"Hahahaah... Sudah lah, kalian tidak perlu khawatir tentang apapun. Erika sudah mengingat kembali jadi jangan terlalu tegang," ucap Arka seraya tertawa.

__ADS_1


"Ohh... Apa? Erika sudah mengingat? Wah bagus dong, itu kabar yang baik." Jonathan begitu bersemangat mendengar hal itu.


"Wah, seperti nya kamu begitu senang. Apa yang membuat kamu begitu senang, bro?" Arka merangkul pundak Jonathan.


"Emm... Iya, aku sangat senang. Setidaknya, aku tidak perlu menyakiti, Erika, dengan pernikahan kami nanti," langsung mendekati Renata dan memeluk pinggang Renata dengan lembut.


"Sayang, jangan gitu, aku malu. Ih, dasar emang kamu ya," kesal Renata.


"Hahah... Dasar bucin," kekeh Arka.


"Dasar, ngatain orang, emang kamu nggak bucin gitu?" tanya Erika seolah menggoda Arka.


"Heeheh.. Aku kan bucin nya cuma sama kamu doang, Sayang." Arka mendekat ke arah Erina sambil tersenyum manja.


"Dasar laki-laki."


"Ekhemm.. Ekhemm..mentang-mentang ibu udah tua kalian nggak lihat ada ibu di sini ya? Ini 2 anak kecil ini bingung liat kalian," ucap bu Rahma seraya menggoda ke-2 pasangan itu.


"Bu, mereka lagi ngapain?"


"Udah kamu jangan tau itu urusan orang dewasa, mending kita keluar saja cari makan," ajak Bu Rahma kepada ke-2 bocah kecil itu.


"Yaudah, ayo bu," seraya menarik tangan Bu Rahma untuk keluar.


"Ayo lah, kalau begitu kami permisi dulu. Selamat bersenang-senang ya," goda Bu Rahma.


"Hahahh.. Ibu ada-ada saja. Hati-hati, Bu, sudah makan siang langsung ke sini lagi ya."


"Emm.."


Mereka ber-empat hanya terkekeh geli melihat tingkah Bu Rahma. Namun seperkian detik kemudian mereka kembali menatap satu sama lain.


"Arka, Jon, aku mau ngomong berdua dulu sama Renata bisa?"


"Emm.. Bisa, tapi ada apa?" tanya Arka penasaran.


"Ada deh, ini urusan perempuan. Kalian tidak perlu tau, udah sana, hushh... Hushh..." usir Erika.


"Dasar wanita, yaudah lah ayo kita keluar," ajak Arka.


Setelah Arka dan Jonathan keluar, Erika menatap Renata dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Ada apa, Er?"


"Kenapa kamu melakukan ini?"


"Maksud kamu?"


"Aku tau kamu dulu yang sudah mencelakai ku sampai aku masuk Rumah sakit, sekarang aku hanya ingin tau apa maksud kamu melakukan itu semua," tanya Erika sambil menatap Renata dengan tatapan tajam.


Mendengar hal itu Renata tiba-tiba saja langsung menundukkan kepala nya ke bawah tidak tau bagaimana ingin menjelaskan nya.


"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Renata.


"Jawab saja kenapa kamu melakukan nya, jangan bertele-tele!"


"Sebenarnya, aku..."

__ADS_1


🌼Bersambung 🌼


__ADS_2