
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Najwa tak hentinya menangis. Sambil terus memeluk Alya yang sudah tak sadarkan diri.
"Bertahan Alya, jujur aku cinta sama kamu," ucap Arka yang duduk di kursi depan bersama Farhan.
"Cepat sedikit Han, aku takut Alya kenapa-kenapa," ucap Najwa dengan air mata yang terus mengalir.
"Ini udah kecepatan maksimal."
"Alya tolong bertahan demi kakak. Kita gak bisa pisah, kita gak boleh berpisah," ucap Najwa.
"Kamu tenang, jangan terbawa suasana. Do'akan saja agar Alya selamat."
Tak lama, mobil yang dikendarai oleh Farhan itu tiba di depan sebuah rumah sakit.
Tanpa meminta, beberapa petugas rumah sakit itu sudah bersiap dan langsung menghampiri mereka dengan membawa tandu berjalan.
"Tolong cepat ya Pak, adik saya harus selamat," ucap Najwa setelah Alya dinaikkan ke atas tandu itu.
"Mas, Mbak silahkan tunggu di luar saja," ucap seorang suster pada Najwa dan Farhan.
Tak ingin memperlambat proses penanganan terhadap Alya, Najwa mengikuti apa yang dikatakan oleh suster itu.
Di kursi ruang yang ada di ruang tunggu, Najwa terus menangis, dirinya tak menyangka hal buruk ini terjadi dalam hidupnya.
"Najwa, jangan menangis terus, Alya pasti selamat," ucap Farhan yang tak tega melihat Najwa terus menangis.
"Aku gak akan pernah bisa tenang sebelum Alya dinyatakan selamat. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu pada Alya."
"Alya pasti selamat, aku yakin itu."
Farhan terus berusaha menenangkan Najwa sedangkan Arka, karena dia tidak kenal dengan Najwa dan Farhan, dia memilih tidak berbicara pada mereka.
Sedari tadi Arka tidak bisa duduk dengan tenang, dia terus berjalan bolak-balik dengan semua pemikirannya sendiri.
*********
"Udah jam segini kok Alya belum pulang juga," ucap Bu Marlina.
Hari sudah semakin sore dan akan memasuki petang tapi Alya belum juga kembali. Hal itu membuat Marlina khawatir karena tak biasanya Alya pulang terlambat sekalinya pulang telat pun, Alya pasti menelponnya dan mengatakan bahwa dirinya akan pulang telat.
Berbeda dengan hari ini, jika biasanya Alya menelponnya, hari ini malah Alya tidak menelponnya bahkan dia tidak bisa ditelpon.
"Tumben dia jam segini belum pulang," ucap Julia.
"Biasanya dia suka telpon Ibu kalau mau pulang telat tapi sekarang ditelpon pun nomor ponselnya gak aktif."
"Mungkin Alya lembur di kantornya Bu dan dia lupa ngisi baterai handphone nya makanya nomor ponselnya gak aktif."
"Semoga Alya baik-baik saja."
*******
__ADS_1
"Mbok, Najwa udah pulang belum?" tanya Chandra pada Mbok Darti saat dirinya tiba di rumahnya.
"Belum Bu, Mbok gak melihat mbak Najwa pulang," sahut Mbok Darti.
"Kemana anak itu? Dari siang belum kembali juga, saya pikir dia udah pulang."
"Belum Bu."
Chandra mengambil ponselnya dari dalam tasnya lalu langsung menelpon Najwa.
Beberapa kali mencoba menelpon Najwa tapi tidak ada jawaban.
"Kemana anak itu?" gumam Chandra.
Chandra berjalan menuju kamarnya karena tak kunjung berhasil menelpon Najwa!
"Mbok, udah masak belum? Saya lapar," ucap Arman.
"Lapar kok jam segini, emang tadi siang gak makan?"
"Makan Mbok tapi lapar lagi." Arman nyengir sembari menggaruk kepalanya.
"Makanan udah matang semua, kalau kamu mau makan, makan saja sendiri."
"Terimakasih Mbok."
********
"Dasar anak nakal, kenapa kamu mempertaruhkan nyawa kamu demi aku hah? Sekarang gini kan jadinya, kenapa kamu gak biarin aja kakak yang tertabrak mobil," ucap Najwa yang sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit itu.
Tak hentinya Najwa menangis sampai dirinya lupa mengabari Ibunya dan semua orang yang dekat dengan Alya.
"Maaf Mbak, kamu kakaknya Alya kan?" tanya Arka pada Najwa.
"Iya, kenapa memangnya?" sahut Najwa dengan suara parau.
"Maaf bukannya saya ikut campur urusan keluarga tapi apa gak sebaiknya Mbak kasih tahu tentang Alya pada kedua orang tua kalian. Dari tadi saya gak melihat kamu menelpon keluarga kalian."
"Astaghfirullah, saya lupa menelpon Ibu." Najwa segera mengambil ponselnya lalu menelpon Chandra.
Arka dan Farhan saling diam karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Mereka tidak saling kenal bahkan mereka baru bertemu hari ini.
Keduanya memang saling mengetahui tapi tidak saling kenal.
[Halo Bu.] ucap Najwa saat sang Ibu sudah menerima telponnya.
[Dimana kamu? Kenapa belum pulang?]
[Aku di rumah sakit. Alya mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil karena menyelamatkan aku.]
[Apa! Alya kecelakaan? Sekarang kamu dimana, di rumah sakit mana?]
__ADS_1
[Di rumah sakit xxx.]
[Ibu akan ke sana sekarang.]
[Baik Bu, aku tunggu.]
Najwa mematikan telponnya lalu menyimpan ponselnya ke dalam tasnya lagi.
"Ibu akan datang untuk melihat kamu Al, kamu bangun dong, kakak gak bisa melihat kamu seperti ini."
"Kalian berdua boleh pulang. Terimakasih sudah membantu aku," ucap Najwa pada Arka dan Farhan.
"Jangan berterimakasih karena kami melakukan ini ikhlas. Oh ya, aku gak akan pulang sampai Alya sadar sebagai bosnya Alya, saya akan bertanggungjawab atas diri Alya dan satu lagi, saya yang akan membiayai semua biaya rumah sakit Alya," ucap Arka.
"Naj, sebaiknya kamu ganti baju dulu ya, kebetulan di dalam mobilku ada baju Mamaku yang baru dia beli kemarin," ucap Farhan.
"Kamu benar, aku harus mengganti bajuku. Tolong jaga Alya sebentar ya, biar aku ambil bajunya sendiri saja. Dimana bajunya?"
"Di bagasi, kamu cari aja ya, setahu aku ada beberapa baju di sana."
Najwa tersenyum kecil lalu mengangguk pelan sebelum akhirnya dia pergi dari ruangan itu.
"Kamu pacarnya Alya?" tanya Arka setelah Najwa pergi.
"Ya tapi Alya mengakhiri hubungan kami secara sepihak. Dia ingin aku menikah dengan kakaknya," sahut Farhan.
"Kakaknya?" Arka menatap Farhan sembari mengarahkan tangannya ke pintu ruangan itu.
"Ya, Najwa adalah kakaknya Alya."
"Tapi kenapa?"
"Ceritanya panjang. Alya adalah gadis istimewa yang pernah aku kenal."
"Terus kamu akan menikahi kakaknya?"
"Tidak. Tidak akan pernah. Aku sangat mencintai Alya, kalau pun Alya tetap tidak mau menikah denganku, aku tidak akan menikahi kakaknya."
"Alya gadis yang baik. Jujur, belum satu bulan dia menjadi sekretaris aku, aku udah jatuh cinta sama dia."
"Boleh saja kamu cinta sama dia tapi ingat, Alya hanya milikku."
Arka tersenyum tipis lalu mendekati Alya!
"Kita akan bersaing dengan sehat, siapa yang mendapatkan Alya, dialah yang beruntung dan siapa yang kalah, dia harus ikhlas."
"Alya milikku dan selamanya akan menjadi milikku, kamu gak akan bisa mendapatkan hatinya."
"Jangan terlalu percaya diri karena aku gak akan menyerah gitu aja."
Bersambung
__ADS_1