Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 32


__ADS_3

Pagi hari Najwa sudah berada di kostan nya Alya, dia tidak sabar ingin mengatakan sesuatu pada adiknya itu.


"Kakak, pagi-pagi gini kakak udah ada di sini, ada apa? Apa Ibu sakit?"


"Tidak. Kakak datang untuk menjemput kamu."


"Menjemput aku? Memangnya kakak mau ke kantor Pak Arka sampai harus pergi bersamaku."


"Nggak, kakak mau kamu temani kakak melakukan foto prewedding."


"Foto prewedding?"


"Satu bulan lagi pernikahan kakak dan Farhan dilaksanakan jadi kakak harus segera melakukan foto prewedding."


"Satu bulan lagi?" Alya tertegun mendengar kabar bahagia namun menimbulkan luka dalam hatinya.


"Iya. Kenapa, kamu gak suka dengan kabar gembira ini?"


"Nggak, bukan gitu kak, aku bahagia kalau kakak bahagia. Hanya saja hari ini aku harus kerja jadi aku gak bisa ikut kakak."


"Kakak sudah izin pada bos kamu."


"Tapi kak, aku–"


"Kamu mencintai Farhan? Kamu sedih dengar kabar ini?"


"Bukan gitu, sama sekali aku tidak mencintai Farhan. Aku sudah bilang kan kalau aku suka sama Daffa."


Najwa tersenyum lebar, "ah ya, kenapa kakak bisa lupa tapi kenapa kamu gak mau ikut padahal bos kamu sendiri sudah mengizinkan?"


"Aku gak enak aja sama Pak Arka karena aku sering bolos kerja masa sekretaris sering bolos."


"Gak masalah Alya, saya juga mau ikut kok ke tempat pemotretan mereka," ucap Arka yang tiba-tiba datang ke kostan nya Alya.


"Pak Arka, kok Anda juga ke sini dan lagi kenapa Anda harus ikut ke tempat pemotretan."


"Karena saya ingin menemani kamu, sekalian kita cari inspirasi untuk prewedding kita nanti."


"Bicara apa sih, bercandanya jelek tahu."


"Semoga aja itu bukan candaan. Bisa aja kalian berjodoh kan," ucap Najwa.


"Setuju, semoga saja kita jodoh. Amin," ucap Arka.


"Ya udah deh kalau gitu aku ganti pakaian dulu," ucap Alya.


Alya berjalan memasuki rumah kost nya dan langsung menuju kamarnya!


Setibanya di kamarnya, bukannya langsung mengganti pakaiannya, Alya malah duduk di tepi tempat tidurnya sambil menangis. Kedua tangannya meremas sprei yang terpasang pada tempat tidurnya.


Air mata terus mengalir membasahi pipinya, betapa sakit hatinya mendengar pernikahan kekasihnya sudah ditetapkan ditambah lagi dengan dirinya yang harus ikut dalam sesi pemotretan foto prewedding mereka.


"Sabar Nak, kamu pasti kuat," ucap Marlina yang sudah mengetahui semuanya.


"Rasanya sakit Bu, apa seperti ini rasanya saat Ibu Chandra tahu kalau Ibuku masuk kedalam kehidupannya?" ucap Alya sembari menangis.


Marlina memeluk Alya! Diusapnya kepala Alya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Hidup tidak akan pernah berjalan seperti yang kita inginkan, mungkin ini takdir hidup yang harus kamu jalani tapi kamu harus ingat, Allah pasti sudah menyiapkan kebahagiaan yang tak terkira untuk kamu."


"Sampai saat ini aku gak tahu apa yang membuat Ibu kandungku mau menjadi istri kedua yang akhirnya sekarang aku harus seperti ini."

__ADS_1


"Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Baiknya kita selalu berbaik sangka terhadap orang yang sudah meninggal."


Alya tak berucap lagi, dia hanya diam sembari memeluk Marlina dengan tangis yang belum juga reda.


"Sudah-sudah. Mereka menunggu kamu, kamu pasti bisa dan pasti kuat."


Alya melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.


"Ibu benar lagipula Pak Arka juga ikut, ada Pak Arka yang selalu mengubur aku saat aku sedih nanti di sana."


"Mungkin sekarang saatnya kamu membuka hati untuk orang lain Nak."


"Aku ganti baju dulu ya Bu."


Marlina mengangguk lalu keluar dari kamar Alya!


Setelah berasa di luar kamar, tak lupa Marlina menurut pintu kamar itu.


Alya pun langsung bergegas dan memilih pakaian yang menurutnya cocok!


**********


"Jangan murung pas pemotretan nanti ya nanti hasilnya jadi gak bagus," ucap Julian yang sedang membantu Farhan menyiapkan segala kebutuhannya.


"Kamu mau ikut?"


"Alya ikut?"


"Najwa mengajak Mamanya dan juga Alya."


"Kalau gitu aku ikut."


"Ada rencana?"


Farhan menatap Julian dengan tatapan tajam, entah kenapa dirinya tidak ikhlas Alya bersama yang lain meski dengan adiknya sendiri.


"Jangan menatap aku seperti itu lagian aku cuma bercanda. Aku ikut untuk menghibur Alya karena aku tahu dia pasti cemburu saat melihat kakak dekat-dekatan dengan Najwa."


"Jangan keterlaluan kalau bercanda." Farhan langsung pergi meninggalkan adiknya di sana.


Julian menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Tahu ada yang deketin Alya, dia gak terima tapi sendirinya malah nyakitin Alya dengan menikahi Najwa, seharusnya kalau benar-benar cinta, perjuangin dong jangan diam dan terima keadaan aja. Dasar orang aneh," gumam Julian.


Di ruang keluarga.


"Pa, Ma bisa gak sih jadwal prewedding nya diundur aja. Aku tuh sibuk di kantor," ucap Farhan pada kedua orang tuanya.


"Kamu gimana sih kok ngomong sama Mama sama Papa, ya kalau kamu gak bisa ngomong sama Najwa lah," ucap Rossa.


"Di kantor kan ada Julian yang meng_handle semuanya saat kamu gak ada," sambung Broto.


"Julian mau ikut sama aku."


"Ya udah biar Papa yang megang kantor toh sebelum ada kalian, Papa mengelola perusahaan sendirian."


"Tapi–"


"Sebenarnya ada apa Han, kamu kok kayak gak seneng gitu nikah sama Najwa?"


"Bukan gak seneng Ma, tapi aku belum ada waktu luang aja buat melakukan ini semua."


"Aku udah siap, ayo kak kita pergi," ucap Julian.

__ADS_1


"Ya udah Pa, Ma, aku pergi dulu ya sama Julian."


"Iya, hati-hati ya."


Farhan pun mulai berjalan mengikutinya Julian yang sudah keluar rumah lebih dahulu!


**********


"Kasian Alya. Hari ini Najwa dan Farhan akan melakukan pemotretan untuk foto prewedding nya di sini. Alya pasti ikut dan dia pasti sedih melihat orang yang disayanginya akan menikah dengan wanita lain," gumam Daffa sembari menatap Taman yang akan digunakan untuk melakukan pemotretan oleh Najwa dan Farhan.


Daffa yang tahu dengan perasaan Alya yang sebenarnya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Alya, apalagi dirinya yang menyukai Alya tentunya tahu betul rasanya harus mengikhlaskan orang yang dicintainya bersama orang lain meski orang itu adalah kakaknya sendiri.


*******


"Maaf membuat kalian menunggu lama. Aku sudah siap," ucap Alya yang sudah mengganti pakaiannya dan memoles wajahnya dengan balutan make_up.


Arka dan Najwa menatap Alya yang berdiri dibelakang mereka!


"Waw, kamu cantik banget Alya," ucap Arka.


"Setiap hari Anda selalu berkata seperti itu pada saya. Sekarang saya udah biasa mendengar pujian itu dari Anda," ucap Alya sembari tertawa renyah.


"Benar lho apa yang dikatakan Arka, kamu cantik Al," sambung Najwa.


Alya tersenyum lalu menundukkan kepalanya.


"Kakak bisa aja, kakak juga cantik, cantik banget."


"Najwa, bagaimana kalau Alya, saya pinjam," ucap Arka,


"Maksudnya?" Najwa menatap Arka dengan tatapan heran.


"Kamu kan mau foto prewedding sama calon suami kamu, kamu pergi sendiri aja pakai mobil kamu dan Alya pergi sama aku naik mobil saya."


"Tapi Pak, ini hari saya sama kakak saya."


"Saya tahu Alya tapi kita juga mau ke tempat kakak kamu melakukan foto prewedding cuma naik mobilnya aja yang beda."


"Pak, saya mau sama kakak saya aja kalau Anda mau Anda boleh mengikuti kami dari belakang."


"Ya ampun sepertinya kalian jodoh deh."


"Hah! Jodoh?" ucap Alya.


"Iya. Biasanya orang yang selalu memperdebatkan hal kecil berjodoh."


"Itu biasanya, bukan aku dengan Pak Arka."


"Emang kamu gak mau ya berjodoh sama saya?"


"Jelas gak mau lah Pak. Bapak itu siapa sedangkan saya siapa.".


"Kalau saya yang mau sama kamu dan saya memaksa gimana?"


Alya menatap Arka lalu tertawa renyah.


"Udah-udah kalau kita berdebat terus nanti kapan berangkatnya. Calon kakak ipar aku udah nungguin, kasihan nanti dia lumutan lagi gara-gara kelamaan nunggu."


"Emang dia sejenis bebatuan ya, bisa lumutan kalau didiamkan terlalu lama."


"Haha kalian ini lucu ya. Belum pacaran udah cocok aja. Udah yuk kita beranggotakan. Arka, kamu bawa aja nih adik aku. Jaga dia baik-baik jangan sampai kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Aman. Selama masih bersamaku, siapa pun pasti aman termasuk mahluk cantik satu ini."


Bersambung


__ADS_2