Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 45


__ADS_3

"Pak, Bu bagaimana dengan rencana pernikahan Farhan dan Najwa?" tanya Chandra pada kedua calon besannya.


"Ibu, jangan membicarakan pernikahan dulu. Fokus saja pada kesehatan Ibu," ucap Najwa.


"Dalam kondisi Ibu seperti ini, tidak mungkin pernikahan mereka dilangsungkan. Bagaimana kalau kita undur?" ucap Broto.


"Ada baiknya bicarakan dulu dengan Najwa dan Farhan. Saya tidak apa-apa jika harus menyaksikan pernikahan anak-anak kita lewat video call."


"Tidak bisa begitu dong Bu, Najwa kan hanya punya Ibu, kasihan dia jika harus menikah tanpa dihadiri oleh Ibunya."


"Bu, yang dikatakan Tante Rossa benar. Aku tidak keberatan jika harus mengundur waktu pernikahan kami."


"Bicaralah dengan Farhan dulu."


"Ada apa?" tanya Farhan yang baru masuk ke ruangan itu.


"Farhan, sini dulu Nak," ucap Rossa.


"Ya, ada apa Ma?"


"Tentang pernikahan kamu sama Najwa. Apa kamu keberatan jika waktunya diundur sampai Bu Chandra sembuh total? Setelah Bu Chandra sembuh, baru kalian menikah.


"Aku ikut saja apa kata Mama dan Tante Chandra, aku tahu keputusan kalian adalah yang terbaik dan lagi aku gak mau menikah tanpa disaksikan oleh orang tua istriku."


"Terimakasih sayang, kamu sudah mengertikan keadaan ini."


"Aku memang ingin pernikahan ini batal, aku tidak mau kehilangan Alya," ucap Farhan didalam hatinya.


Di ruangan Dokter Wike.


Alya menangis dipelukan Dokter Wike.


"Kamu tidak pernah cerita kalau kamu masih punya keluarga."

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menceritakan kesedihan dalam hidupku. Kamu bilang, aku harus selalu bahagia," ucap Alya.


"Maksud kamu?"


"Usiaku tinggal beberapa bulan lagi atau mungkin esok aku akan tiada. Aku akan cerita padamu karena kamu yang tahu tentang penyakit ku."


"Cerita lah Alya, aku akan menjadi pendengar yang baik."


"Dia Ibu tiriku dan kak Najwa juga kakak tiriku. Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang darinya, selama ini aku lebih dekat pada pengasuhku dibanding dengan Ibuku itu. Aku tidak berani menceritakan tentang penyakit yang aku derita ini karena tidak mungkin Ibu akan merasa iba padaku."


"Lalu Najwa?"


"Kak Najwa baik bahkan dia sangat menyayangi aku meski setelah tahu bahwa aku hanyalah adik tirinya tapi aku juga tidak berani bercerita karena takut dia sedih dan takut merepotkan kakakku itu."


"Siapa Farhan?"


"Dia kekasihku tapi aku sudah mengikhlaskannya untuk kakakku."


"Alasannya adalah Ibu. Aku ingin menebus dosa ibu kandung ku padanya di masa lalu caranya dengan memberikan semua yang Ibu mau terlebih aku sangat menginginkan belaian kasih sayang dari Ibu jadi aku harus ikhlas melepaskan Farhan.


"Apa Najwa tahu kalau kamu pacaran dengan Farhan."


Alya menggeleng pelan. "Bahkan aku tidak berani mengatakan tentang aku dan Farhan padanya."


"Astaga, Alya seharusnya kamu lebih terbuka pada kakakmu kalau memang kakakmu benar-benar menyayangi kamu."


"Ceritanya terlalu rumit. Kamu tidak akan mengerti."


"Sudah-sudah. Jangan nangis, aku selalu ada untuk kamu."


**********


Di kantor Arka.

__ADS_1


Di ruangannya, Arka tak tenang karena Alya belum juga masuk kantor.


Sebelumnya Alya sudah bilang hari ini dia akan masuk kantor tapi waktu sudah mulai siang, Alya belum juga tiba di kantornya.


"Alya kemana? Ditelpon gak diangkat dichat juga gak dibaca. Jangan sampai dia kenapa-napa di jalan," gumam Arka.


Pemuda itu berjalan mondar-mandir didepan pintu ruangannya sambil terus mencoba menelpon Alya meski tak juga ada jawaban dari Alya!


"Arka! Kamu kenapa kayak orang gelisah gitu?" tanya Danuarta yang baru masuk ke ruangan sang anak.


"Kemarin Alya bilang dia mau masuk kerja hari ini Pa, tapi udah jam segini dia belum sampai di sini," jelas Arka.


"Coba telpon dong. Zaman sekarang jangan dipusingkan, gak ada orangnya ya tinggal hubungi lewat telpon."


"Itu dia yang bikin aku khawatir. Alya gak izin lagi kalau dia mau cuti lagi dan pas aku telpon dia malah gak diangkat."


"Mungkin dia lagi sibuk."


"Ya tapi seharusnya kabari aku biar aku gak khawatir."


"Memang kamu siapanya Alya sampai dia harus mengabari kamu?"


"Ya aku bosnya dia lah. Papa jangan bercanda deh, aku lagi gak mau bercanda."


"Siapa yang bercandaan, orang Papa serius kok ini. Makanya kamu cepat nyatain cinta kamu ke Alya biar dia selalu mengabari kamu."


"Papa apaan sih."


"Tuh kan kebiasaan banget. Kalau dibilangin pasti jawabnya kayak gitu."


Danuarta malah tertawa kecil melihat anaknya yang sedang kegelisahan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2