
Najwa tak langsung menjawab pertanyaan Chandra dia terus fokus membaca berkas yang dipungut nya dari lantai.
"Surat pernyataan pengalihan nama kepemilikan perusahaan PT Fathalnaj?" gumam Najwa lalu dia menatap Chandra yang juga sedang menatapnya.
"Katakan ini apa Bu?" tanya Najwa pada Chandra.
"Itu surat perjanjian yang Paman dan Bibi mu buat untuk Ibu tandatangani," sahut Chandra.
"Tapi kenapa mereka membuat surat perjanjian ini Bu?"
"Mereka ingin Ibu menyerahkan perusahaan kita sama mereka."
"Nggak-nggak ini gak boleh terjadi. Perusahaan kita tidak boleh jatuh ke tangan mereka tapi ya udahlah, Ibu jangan khawatir, mereka akan mendekam di penjara."
"Najwa ada banyak yang belum kamu ketahui, Ibu belum sempat menceritakannya sama kamu."
"Tentang apa Bu?"
"Tentang harta peninggalan Ayahmu."
"Bicarakan itu nanti saja. Sekarang bagaimana keadaan Ibu, apa yang mereka lakukan pada Ibu?"
"Ibu tidak apa-apa. Mana Alya?" ucap Chandra sembari melongok ke arah pintu.
"Alya sedang bertugas ke luar kota Bu, besok baru pulang."
"Kenapa dia gak bilang sama kita?"
"Tadi aku udah telpon Alya tapi gak diangkat jadinya aku telpon Arka dan Arka bilang mendadak mereka harus ke luar kota."
"Semoga adikmu baik-baik saja di kota orang."
Najwa tersenyum mendengar perkataan Chandra, ini pertama kalinya Ibunya itu mendoakan Alya dan mengkhawatirkan Alya.
"Alya pasti baik-baik saja Bu karena ada Arka bersamanya."
**********
"Sudah malam, Al kamu tidurlah," ucap Arka.
"Pak, saya gak bisa tidur kalau ada dua orang laki-laki yang berada di ruangan ini bersama saya," sahut Alya.
"Alya, aku ini orang yang sayang sama kamu, aku gak mungkin melakukan sesuatu padamu," ucap Farhan.
"Udah mau nikah sama kakaknya, masih aja ngedeketin adiknya," ucap Arka.
"Kamu diam ya. Kamu gak tahu apa-apa tentang aku dan Alya," ucap Farhan.
"Aku ingin istirahat, tolong tinggalkan aku di sini," ucap Alya.
"Oke, kalau gitu kita berdua nunggu kamu di luar ya," ucap Farhan.
"Terimakasih."
Dua pemuda yang sama-sama mengharapkan cinta Alya itu pun langsung keluar dari ruangan rawat Alya!
Malam semakin larut, saat dirinya diserang penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya, Alya hanya sendiri dengan hanya ditemani kesunyian dan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Saat seperti ini seharusnya dirinya ditemani oleh keluarga tercintanya tapi apa yang bisa dia harapan dari Ibu tiri dan kakak tirinya.
Jangankan ditemani saat dirinya di rumah sakit seperti ini, tersenyum sedikit saja tak pernah Chandra suguhkan untuk dirinya.
Tak terasa, air mata Alya menetes dari sudut matanya.
"Ya Allah, aku baru satu kali mendapatkan perhatian dari Ibu. Aku mohon beri aku kesempatan untuk merasakannya lagi. Aku sangat menginginkan pelukan dari Ibuku," ucap Alya didalam hatinya.
**********
Di kostan Alya.
"Bu, tadi Alya bilang dia mau ke sini dulu sebelum ke rumah sakit tapi kok udah tengah malam gini dia belum pulang ya?" ucap Julia.
Bu Marlina menatap jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima puluh lima menit, yang artinya sudah memasuki tengah malam.
"Mungkin sudah masuk kamarnya," ucap Bu Marlina.
"Aku dari tadi di sini lho Bu tapi gak ada liat Alya masuk."
"Kamu belum tidur?"
"Belum. Kerjaan mu belum selesai."
"Mungkin dia langsung ke rumah sakit."
"Kalau dia langsung ke rumah sakit, ngapain tadi kakaknya datang ke sini untuk nyariin Alya?"
"Kamu benar. Kemana anak itu?"
"Bu, Ibu merasa ada yang aneh gak sih sama Alya?"
"Makin kesini wajah Alya makin pucat dan aku lihat rambutnya rontok parah kayak orang lagi sakit."
"Alya kan suka pakai rambut palsu mungkin rambutnya rontok karena sering ketutup dan gak mendapatkan udara segar."
"Iya juga ya Bu. Ah mungkin itu cuma perasaan aku aja ya Bu."
"Sudah tidur sana, sekarang udah malam."
**********
Tok!
Tok!
Tok!
"Julian!"
Seru Rossa sembari mengetuk pintu kamar Julian.
Setelah beberapa menit, Julian baru membuka pintu dengan wajah bantalnya.
"Ada apa sih Ma, malam-malam gini gedor-gedor pintu?"
"Kakak kamu belum pulang. Dia pergi dari pagi sampai sekarang belum pulang."
__ADS_1
"Belum pulang?" Julian menatap Mamanya.
"Iya, Farhan gak ada di kamarnya."
"Gak mungkin belum pulang. Kakak kan anak rumahan, dia pasti lagi dikamar mandi pas Mama ke kamarnya tadi."
"Kakak kamu gak ada."
"Serius? Kalau gitu aku telpon kakak deh." Julian masuk ke dalam kamarnya lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.
"Dari tadi Mama telponin gak diangkat."
**********
Di rumah sakit tempat Alya dirawat.
Dokter Wike berjalan menuju ruangan Alya dirawat! Dia sengaja datang untuk menunggu Alya didalam ruangan itu atas permintaan suaminya.
Mereka yang tahu benar seperti apa kondisi kesehatan Alya, tak bisa membiarkan Alya sendirian didalam ruangan rapatnya.
"Maaf kalian sedang apa di sini?" tanya Dokter Wike pada dua laki-laki yang duduk di kursi yang ada di depan pintu ruangan yang didalamnya ada Alya.
"Kami berdua sedang ...." Farhan menggantung ucapannya saat melihat Dokter Wike.
"Dokter," sambung Farhan.
"Saya datang untuk merawat pasien saya. Keluarga kalian pasti khawatir terhadap kalian, ada baiknya kalian pulang."
"Tapi Dokter, saya ingin menunggu Alya di sini."
"Dokter, saya Bosnya Alya, saya mempunyai peran penting dalam kesehatan dan keselamatan Alya karena Ibunya sudah mempercayai saya untuk menjaga Alya. Tolong biarkan saya tetap di sini," ucap Arka.
"Kalau kalian memaksa, silahkan saja tapi selama belum ada izin dari saya dan tim Dokter yang menangani Alya, kalian gak boleh masuk ke dalam ruangan ini."
"Baik Dokter."
Karena harus menjaga rahasia Alya dari dua orang pemuda itu terutama dari Arka, Wike melarang mereka masuk ke dalam ruangan Alya dirawat karena takut menimbulkan kecurigaan meski sebenarnya Farhan sudah tahu tapi tetap saja Wike harus berhati-hati karena ada orang lain juga di sana.
Setelah berbicara pada dua pemuda itu, Dokter Wike langsung masuk ke dalam ruangan yang didalamnya ada Alya!
Saat setelah masuk, Wike langsung melihat Alya yang sedang menangis, dia pun langsung berjalan cepat menghampiri Alya!
"Kamu kenapa Al? Ada yang sakit, di mana yang sakit?" tanya Wike raut wajahnya yang dipenuhi dengan kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa Dokter, aku hanya ingin menangis sebentar," sahut Alya.
"Sudah tengah malam, kamu tidurlah agar esok kamu bisa pulang."
"Dokter, terimakasih ya karena sudah bersedia menjadi Dokter dan juga sahabat baikku. Aku gak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan apa."
"Jangan bicara kemana-mana, tidurlah ini sudah malam atau mau aku suntikkan obat tidur?"
"Tidak perlu, aku mau tidur sekarang. Oh ya Dokter, istirahatlah di tempat yang layak, jangan khawatirkan aku karena aku tidak apa-apa."
"Aku tahu kamu tidak apa-apa tapi aku akan tetap di sini sama kamu. Ini tugas dari suamiku, aku tidak bisa menolak."
Alya hanya tersenyum lalu menutup matanya.
__ADS_1
Wike masih terjaga, dirinya terus menatap Alya penuh Iba. Bagaimana tidak, pasien lain akan ditemani oleh Ibu atau keluarganya sedangkan Alya, harus berjuang sendiri tanpa adanya keluarga yang mensupport nya.
Bersambung