
"Anakku, kemarilah Nak," ucap Chandra.
Perlahan Alya berjalan mendekati Chandra dan menggapai tangan sang Ibu yang masih mengulur padanya.
"I_ibu," lirih Alya.
"Maafkan Ibu, Nak."
Alya tertegun beberapa saat mencoba mencerna perkataan Chandra yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Anakku," ucap Chandra lagi.
"Ibu."
Mbok Darti tersenyum lebar sembari mengelus dadanya.
Betapa dirinya bahagia mendengar Chandra mengakui Alya sebagai anaknya.
"Alya, maafkan Ibu, Nak."
"Ibu."
Tak ada yang dapat Alya ucapkan selain kata Ibu.
Alya masih belum percaya bahwa dirinya diakui oleh ibunya. Entah apa yang membuat Chandra tiba-tiba mengakui dirinya, Alya sendiri tidak tahu.
Chandra menggenggam erat tangan Alya dengan air matanya yang mengalir dan sudah membanjiri pipinya.
Dengan cepat Najwa memeluk Alya dan menggenggam tangan Alya yang masih dalam genggaman tangan sang Ibu.
"Aku sudah bilang kalau kamu adalah anak Ibu. Meski kita tidak terlahir dari satu rahim yang sama tapi kita sama-sama anak Ibu," ucap Alya.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau membuka pintu hati Bu Chandra untuk memaafkan Alya yang tak bersalah itu," ucap Mbok Darti dalam hatinya.
Mbok Darti hanya diam sembari menatap mereka bertiga.
**********
Di kediaman Broto.
__ADS_1
"Pa apa gak sebaiknya kita batalkan pernikahan Najwa dan Farhan?" tanya Rossa pada Broto.
"Apa yang Mama bicarakan? Pernikahan mereka akan dilaksanakan besok lusa kita tidak mungkin membatalkan pernikahan ini tanpa alasan yang jelas," ucap Broto.
"Tentu saja alasan kita jelas. Farhan sama sekali tidak mencintai Najwa, anak kita itu mencintai Alya."
"Tapi Alya tidak mencintai Farhan. Mama gak dengar tadi Alya bilang kalau dia tidak mencintai anak kita."
"Mama dengar Pa tapi Mama tahu kalau sebenarnya Alya mencintai Farhan."
"Papa juga tahu kalau sebenarnya mereka saling mencintai. Sudahlah Ma, mereka sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."
"Bagaimana kalau mereka tetap menikah? Pernikahan tanpa cinta akan sulit dijalani. Najwa pasti mengerti kalau dia tahu kalau yang terjadi padanya adalah sebuah kesalahpahaman."
"Papa ngantuk Ma, Papa mau tidur dulu kita bicarakan hal ini nanti lagi."
"Pa, tapi kan pernikahannya lusa. Kita tidak punya waktu lagi untuk bicara."
"Ma, Alya anak yang baik dan sayang pada Ibu dan Kakaknya. Mau kita berusaha sekeras apa pun untuk memaksa dia agar jadi menantu kita, dia tidak akan pernah mengiyakan permintaan kita. Papa sudah tahu sifatnya Alya seperti apa."
"Tapi apa salahnya berusaha."
"Pa! Papa! Ih Papa apaan sih, gak bisa diajak bicara serius. Orang anaknya sedang dalam masalah besar juga." Rossa cemberut karena sang suami tidak menghiraukannya.
"Tidur Mama sayang, udah malam ni."
Dengan perasaan kesal, Rossa membanting tubuhnya ke tempat tidurnya dan terbaring dengan posisi membelakangi Broto!
Di kamar Farhan.
Farhan tidak bisa tidur tenang karena akhirnya hari pernikahannya dengan Najwa tiba juga.
Farhan sudah mencoba terbaring dan menutup matanya tapi tetap saja dirinya tidak bisa tidur pulas. Dia juga sudah mencoba beberapa hal agar dirinya tertidur, dari mulai mendengarkan musik sampai mandi air hangat agar tubuhnya terasa rileks.
Namun semua yang dilakukannya tak berhasil, dirinya terus teringat dengan Alya, apalagi Alya yang mengaku mengidap penyakit keras membuatnya semakin tidak bisa tidur karena khawatir.
Lelah rebahan dengan mengubah posisinya bolak-balik kanan kiri, kini Farhan berdiri dan berjalan mondar-mandir berharap dapat jalan untuk menggagalkan pernikahannya dengan Najwa!
"Kenapa aku begitu bodoh, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya dari dulu agar aku tidak terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Najwa," ucap Farhan didalam hatinya.
__ADS_1
Sesekali Farhan melihat layar ponselnya dan men_scroll nomor kontaknya sampai pada nomor yang ia beri nama my heart.
Dirinya berpikir untuk menelpon Alya namun tidak berani karena hari sudah larut malam.
**********
Di rumah sakit.
Mbok Darti dan Alya kini sedang berada di ruang rawat inap yang lain. Keduanya sedang melihat kondisi Arman di sana.
"Man, kenapa bisa begini? Mbok sudah bilang kalau nyetir hati-hati," ucap Mbok Darti sembari mengelus lengan atas Arman.
"Maaf Mbok, tadi tiba-tiba ban belakang mobil yang saya kendarai mengalami pecah ban dan itu terjadi hanya selang beberapa detik dari pecah yang pertama dan yang kedua. Seingat saya sebelum terjadi pecah ban yang saya alami, terdengar suara letusan seperti tembakan atau semacam ledakan," jelas Arman.
"Pecah ban sampai dua kali? Apa itu gak aneh Mas?" ucap Alya.
"Iya Mbak, saya juga bingung kenapa bisa pecah ban padahal ban nya baru diganti beberapa hari yang lalu."
Arman, sopir yang mengendarai mobil Chandra itu sudah bisa ditanya-tanya karena tak menderita luka parah seperti yang dialami oleh Chandra.
Saat kejadian, tubuh Arman terpental keluar dari mobilnya sejauh beberapa meter hingga saat mobil yang dikendarainya menghantam pembatas jalan, dirinya sudah tidak ada di dalam mobil itu dan hanya ada Chandra didalamnya.
"Mas, memangnya tadi Ibu dari mana atau mau kemana?" tanya Alya yang penasaran.
"Tadi Ibu dari–"
"Alya tolong jaga Ibu sebentar, aku mau keluar sebentar."
Perkataan Najwa yang tiba-tiba membuat perkataan Arman terpotong dan akhirnya Arman tidak melanjutkan lagi perkataannya.
Alya menoleh ke arah suara lalu berkata, "ya kak, aku langsung ke ruangan Ibu sekarang."
"Mbok Darti di sini aja ya temani Mas Arman," ucap Alya pada Mbok Darti.
"Iya Non." Mbok Darti menganggukkan kepalanya paham.
Alya pun langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan menghampiri ruangan Chandra dirawat!
Bersambung
__ADS_1