
Semua orang mengelilingi Alya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu.
Tangisan dari semua orang yang ada di sana menghiasi ruangan rawat itu, tak ada seorangpun yang mengucapkan sesuatu apapun sebagai pemecah suasana sedih di dalam ruangan itu.
Chandra terus memeluk Alya yang sudah tak dapat merespon pergerakan dan pertanyaan dari siap pun itu sedangkan Najwa, dia masih berdiri di tempat sebelumnya dengan tangan yang terus menggenggam tangan sang adik.
Di samping kiri tepatnya di dekat kepala Alya, Dokter Andrew merangkul Dokter Wike yang tengah menangis deras. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan, hanya doa dan menunggu keajaiban dari yang kuasa yang bisa mereka lakukan.
"Alya," ucap Arka sembari membuka pintu ruangan rawat Alya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tak ada respon dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu, mereka terus saja menatap Alya yang semakin melemah.
Melihat orang-orang yang berdiri menatap Alya dengan hanya ada air mata, Arka berjalan memasuki ruangan itu dan berjalan menghampiri Alya yang sedang dalam pelukan Chandra itu!
Tak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir Arka, dia terus berjalan mendekati Alya!
"Kalian ini Dokter, kenapa tidak melakukan tindakan terhadap pasien kalian?" ucap Arka setelah beberapa menit terdiam.
"Maaf, kami tidak bisa melakukan apa pun lagi untuknya."
"Alya, aku mohon bertahanlah. Jika dengan aku menikah dengan Najwa bisa membuat kamu sembuh, aku akan melakukannya, aku akan menikah dengan Najwa dan akan membahagiakan Najwa seperti yang selalu kamu inginkan. Aku janji," ucap Farhan sembari menggenggam tangan kanan Alya.
Dokter Andrew melihat patien monitor dan ternyata menampilkan kemajuan kondisi tubuh Alya.
Detak jantung yang semula semakin melemah kini mulai kembali normal dan aliran darahnya pun sudah berjalan normal lagi.
"Alya sudah melewati masa kritisnya untuk yang kesekian kali. Tuhan masih memberikan kita harapan untuk Alya bisa sembuh," ucap Dokter Andrew.
__ADS_1
"Bersiaplah untuk pergi ke luar negeri, Alya akan melanjutkan pengobatan di sana," ucap Dokter Wike.
Chandra begitu bahagia dengan pernyataan Dokter yang selalu ada di samping Alya itu. Dia mencium kening Alya beberapa kali.
"Ibu," ucap Alya dengan suara halus.
"Ibu di sini Nak, kita akan ke luar negeri. Kamu akan sembuh."
"Kepalaku sakit sekali, aku tidak bisa membuka mataku."
"Ibu tahu kamu sakit. Bertahan ya Nak, demi Ibu."
"Maafkan aku ya Bu, maafkan aku."
"Alya, kakak mohon bertahanlah."
"Kak," ucapnya sembari menggerakkan tangannya.
"Kakak di sini," ucap Najwa sembari meraih tantangan Alya.
"Kak, aku sayang sekali sama kakak."
"Kakak juga sayang sama kamu."
"Farhan, aku titip kak Najwa ya. Kamu sudah berjanji akan menikahi dan menjaga dia."
"Aku akan menikahi kakakmu tapi kamu harus sembuh."
__ADS_1
"Aku akan sembuh, pasti akan sembuh."
"Ya, kamu akan sembuh Nak, kamu akan sembuh," ucap Chandra.
"Bu, tolong peluk aku. Aku tidak ingin jauh-jauh dari Ibu."
Chandra menuruti permintaan Alya, dia pun kembali memeluk Alya dengan erat, dia mengelus kepala Alya dengan lembut dan juga mencium keningnya sampai berkali-kali.
Tut! Tut! Tut!
Tak lama setelah Chandra memeluk Alya, Patien monitor pun berbunyi dan menampakkan garis merah lurus di sepanjang layarnya. Alya telah pergi untuk selamanya.
Semua orang di sana menangis histeris.
"Alya! Bangun Nak, bangun. Kamu gak boleh ninggalin Ibu, kamu sudah janji akan sembuh tapi kenapa kamu pergi. Alya bangun! Bangun Nak."
Chandra menangis histeris sembari menghentak-hentakkan tubuh Alya yang sudah tak bernyawa lagi!
"Alya jangan bercanda, kamu dengarkan kakak. Jangan bercanda seperti ini, bangun Alya, kakak mohon bangunlah." Najwa berteriak hingga suaranya memenuhi ruangan itu.
Dokter Wike menangis namun dia tak sampai mengeluarkan suara, ditutupinya mulutnya dengan telapak tangannya agar tak mengeluarkan suara tangisnya.
"Kita sudah berusaha sebaik mungkin tapi ini keputusan Tuhan untuk hidup Alya. Kamu jangan nangis, Alya sudah tenang di sana," ucap Dokter Andrew pada istrinya.
Bersambung
__ADS_1