Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 30


__ADS_3

"Maaf Pak, saya datang terlambat," ucap Alya yang baru tiba di depan kantornya Arka.


Saat itu Arka berduri di depan kantornya sembari menatap Alya sedari Alya turun dari taksi.


"Gak apa-apa lagian kan tadi kamu udah izin akan kembali telat."


Alya tersenyum. "Kalau gitu saya masuk dulu."


"Ya, mari kita masuk."


Mereka berdua berjalan beriringan memasuki kantornya!


"Alya, kamu dari mana?"


"Dari suatu tempat."


"Tempat apa?"


"Tempat indah yang hanya saya datangi kalau saya sedang ingin sendiri."


"Waw, bikin penasaran ya tempat seperti apa itu."


"Ya seperti apa ya, pokoknya indah dan di sana bikin tenang dan suasananya sejuk, sunyi tanpa adanya suara kendaraan dan polusi yang mengganggu."


"Gitu ya tapi ada yang aneh sama kamu."


"Apa?"


"Mata kamu kayak bengkak gitu, jangan-jangan digigit kumbang atau mahluk lain. Sepertinya di sana bahaya buat kamu."


"Bapak bisa aja, semalam saya gak bisa tidur makanya mata saya jadi gini."


Arka tertawa kecil, "oh, saya pikir digigit hewan."


**********


Prang!


Prang!


Di sebuah ruangan, Farhan melemparkan botol-botol kaca ke dinding hingga menyebabkan suara-suara bising.


Di gudang itu, Farhan meluapkan emosinya. Ingin sekali dirinya berteriak mengatakan bahwa dirinya mencintai Alya agar dunia tahu bahwa cintanya adalah Alya bukan Najwa.


Sebenarnya dirinya sudah bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya pada Chandra namun setelah mendengar cerita Alya padanya, dirinya membatalkan niatnya itu karena takut Alya semakin dibenci oleh Chandra.


Di luar gudang itu.


Julian berjalan mencari suara berisik yang mengganggu kerjanya.


Saat itu hari sudah sore, semua karyawan sudah pulang dan hanya menyisakan satpam dan Julian yang hendak lembur sampai malam, namun saat dirinya sedang fokus bekerja tiba-tiba ada suara berisik yang mengganggu pendengarannya, akhirnya dirinya mencari dari mana sumber suara itu karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


"Suaranya dari gudang, suara apa sih berisik banget," gumam Julian.


Julian terus berjalan mendekati gudang itu.


"Mas Julian," ucap seorang Satpam.


"Pak, sedang apa Bapak di sini?" tanya Julian.


"Ini Mas, saya lagi nyari suara berisik yang dari tadi mengganggu banget."


"Oh, saya juga Pak. Kayaknya suaranya dari gudang deh."

__ADS_1


"Saya lihat dulu ya Mas. Gak mungkin kucing atau tikus sampai berisik seperti ini."


"Hati-hati ya Pak." Julian tetap berdiri di tempat semula sedangkan Pak Satpam itu berjalan menuju pintu gudang yang didalamnya sangat berisik itu!


Pak Satpam itu mencoba membuka pintu itu namun ternyata pintunya dikunci dari dalam.


"Ada orang didalam?" tanya Pak satpam sembari menggedor pintu.


"Kenapa Pak?" tanya Julian.


"Pintunya dikunci dari dalam Mas."


"Dikunci dari dalam, masa sih Pak, siapa yang ada di dalam gudang?"


Tok!


Tok!


Tok!


"Siapa yang berada di dalam sana?" ucap Julian sembari mengetuk pintu.


Tak lama, Farhan membuka pintu itu dan langsung terlihat berapa berantakan nya keadaan gudang itu.


"Kakak, apa yang sedang kakak lakukan?" ucap Julian saat melihat kondisi bagian dalam gudang itu.


"Mas Farhan, gak kenapa-kenapa kan?" tanya Satpam itu.


"Ngakak kenapa-kenapa kok. Bapak bisa pergi aja dari sini."


Satpam itu mengangguk lalu segera meninggalkan tempat itu sedangkan Julian masih berdiri di depan pintu itu sambil menatap Farhan dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Ada apa?" tanya Julian.


"Katanya kakak mau jujur tentang kesalahpahaman ini. Bu Chandra dan Najwa harus tahu kalau mereka salah paham tentang cinta kakak ke Najwa."


"Sekarang menjadi semakin rumit. Ternyata Alya bukanlah anak kandung dari Bu Chandra, kalau pun aku bicara pada Bu Chandra Bu Chandra tidak akan bereaksi apa-apa malah dia sangat menginginkan aku menikahi Najwa."


"Semua pasti ada jalan keluarnya kalau kalian jodoh, Allah pasti memberikan jalan terbaiknya untuk kakak dan Alya.


" Kamu gak ngerti Julian, kami gak ngerti dan gak akan pernah mengerti."


**********


"Pa pernikahan Farhan dan Najwa sudah ditetapkan, satu bulan lagi mereka akan menikah tapi Mama rasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Farhan," ucap Rossa.


"Maksud Mama gimana?"


"Farhan kayak gak bahagia dengan pernikahannya."


"Gak mungkin gak bahagia, kan Najwa gadis pilihannya mungkin itu cuma perasaan Mama aja kali," ucap Broto sembari terus membaca korannya.


"Papa gimana sih, orang mau nikah kam auranya pasti beda. Beda dengan biasanya, Mama yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran anak kita itu."


"Nanti kita bicarakan lagi sama Farhan, daripada jadi masalah nantinya."


"Benar ya Pa."


"Iya."


"Ini udah sore kok anak-anak kita belum pada pulang ya."


"Julian lembur di kantor sedangkan Farhan sedang ada urusan pribadi."

__ADS_1


"Kok Papa tahu?"


"Ya tahu lah, Papa kan dari kantor dan di kantor ada anak kita kan."


*******


Di kostan Alya.


"Alya, ada yang ingin Ibu tanyakan padamu," ucap Marlina.


"Apa Bu? Bicara aja."


"Tapi kamu jangan marah ya."


"Nggak, emang Ibu mau bicara apa?"


"Hubungan kamu dengan keluarga kamu sedang ada masalah ya?"


Alya tak langsung menjawab, dia menatap Bu Marlina sekilas lalu kembali menatap wajahnya di cermin.


"Kamu marah ya?"


"Nggak Bu, kenapa Ibu bertanya seperti itu?"


"Kamu terlahir dari keluarga kaya tapi kenapa harus ngekost dan kerja sama orang lain belum lagi saat kamu sakit kemarin satu kali pun orang tua kamu gak datang menjenguk kamu."


"Aku memang sedang ada sedikit masalah dengan Ibuku Bu. Waktu itu aku pernah cerita kan sama Ibu."


"Tapi bukannya sudah baik-baik aja karena waktu itu kamu sempat pulang."


"Tidak Bu, sebenarnya aku gak ada masalah sama Ibuku. Cuma sedikit salah paham jadi gini deh."


"Sabar ya, semoga masalah kamu cepat selesai. Ayo makan malam."


"Aku mau makan malam di luar Bu sama teman-temanku."


"Teman atau tema?" goda Julia yang baru tiba di kamar Alya.


"Teman lah terus menurut kamu apa?"


"Bukan sama Pak Bos ganteng itu?"


"Ish temanku yang mau makan malam sama aku ini cewek bukan laki-laki."


Tok!


Tok!


"Al, ada yang nanyain kamu tuh di luar," ucap Danish yang berdiri di ambang pintu.


"Mereka udah datang? Cepat banget," ucap Alya.


"Cewek atau cowok?" tanya Julia yang penasaran dan tidak percaya pada ucapan Alya.


"Cewek," sahut Danish singkat.


Alya tertawa kecil lalu memakai tas kecil miliknya.


"Gak percayaan banget sama teman. Udah ya aku pergi dulu. Assalamualaikum!"


Alya langsung pergi meninggalkan mereka semua di dalam kamarnya.


Alya memang tak pernah menyimpan rahasia di dalam kamarnya jadi setiap dirinya pergi kemana pun, kamarnya tidak pernah dikunci.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2