Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 39


__ADS_3

"Aaaaah! Aaaah!" Farhan berteriak sembari melemparkan barang-barang yang ada di atas meja kamarnya.


"Kenapa Alya? Kenapa?"


Farhan menangis sambil duduk di lantai dengan punggungnya yang ia sandarkan di tembok.


"Aku begitu mencintai kamu Alya tapi kenapa kamu seperti ini, kenapa Alya?" ucap Farhan lirih.


Rossa yang terganggu dengan suara keributan dari kamar Farhan pun langsung berjalan cepat menuju kamar putranya itu.


"Ada apa Han? Apa yang terjadi?" tanya Rossa sembari berjalan menghampiri Farhan yang sedang duduk di lantai.


"Apa yang terjadi Nak, cerita sama Mama," ucap Rossa lagi. Kini wanita paruh baya itu ikut duduk di lantai itu bersama dengan Farhan.


Farhan tak menyahut, hanya ada air mata yang mengalir dari sudut matanya.


Untuk seorang laki-laki terlihat begitu lemahnya Farhan karena harus menangisi seorang wanita dan patah hati karena cinta.


"Aku begitu cinta sama Alya Ma tapi dia ...."


"Kalau kamu memang cinta sama Alya, perjuangkan cinta itu. Selama masih ada waktu kamu jangan pernah menyerah untuk cinta."


"Lusa hari pernikahan aku sama Najwa, Ma. Sudah tidak ada waktu untuk mengejar Alya. Pintu hatinya sudah tertutup untuk aku."


"Nak kalau memang kalian berjodoh, pasti akan ada jalan untuk kalian bersama. Percayalah, Tuhan mu tidak tidur."


"Alya tidak pernah mendapatkan cinta dari Ibunya, dia tidak mungkin memilih aku karena dia lebih menginginkan pelukan dari Ibunya."


"Maksud kamu."


"Ada gunung penghalang antara aku dan Alya. Kalau dia memilih aku maka selamanya dia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang Ibunya."


"Maksud kamu."


"Selama ini kehidupannya tidak semanis yang kita lihat Ma. Kehidupan Alya begitu menyedihkan."


**********


Setengah jam melakukan perjalanan pulang, akhirnya Alya tiba di depan rumahnya. Dia berlari memasuki rumah dengan perasaan bahagia yang tak terkira!


"Ibu! Ibu!" teriak Alya sembari terus berlari.


"Ada apa Non? Sepertinya Non Alya begitu bahagia?" tanya Mbok Darti.


"Ibu mana Mbok? Ada kabar gembira untuknya."

__ADS_1


"Kabar apa sehingga kamu begitu kegirangan?" tanya Najwa sembari berjalan menuruni anak tangga.


"Aku gak mau bilang sebelum ada Ibu. Ini berita bahagia khusus untuk Ibu."


"Tapi Ibu sedang tidak ada," ucap Mbok Darti.


"Apa, kemana?" tanya Najwa.


Najwa memang tidak tahu bahwa Ibunya pergi, karena saat Chandra keluar, Najwa sedang berada di kamarnya.


"Pergi kemana?" tanya Alya.


"Mbok tidak tahu Non. Tapi tadi pergi dengan tergesa-gesa."


"Kemana ya? Oh ya, Paman dan Bibi sudah pulang atau belum?"


"Paman? Bibi? Maksud kamu Paman dan Bibi yang mana?" tanya Najwa.


"Paman Erlangga dan Bibi Ameera."


"Aku tidak melihat mereka."


"Mereka sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu," ucap Mbok Darti.


"Kapan mereka datang? Aku tidak melihat mereka sedikitpun."


"Kenapa Al?" tanya Najwa.


"Tadi mereka datang dan mendesak Ibu agar menandatangani berkas pengalihan kepemilikan perusahaan kita."


"Apa? Bagaimana ini sekarang Ibu tidak ada, aku takut mereka mencelakai Ibu di luar sana."


"Tapi Ibu pergi sudah dari tadi sedangkan Paman dan Bibi kalian baru pergi barusan," jelas Mbok Darti.


Kring!


Kring!


Kring!


Saat mereka sedang mengobrol, telpon rumah mereka pun berdering.


"Sebentar, Mbok angkat telpon dulu."


"Aku aja Mbok." Najwa berjalan menghampiri telpon rumah yang letaknya di ruangan keluarga!

__ADS_1


"Kira-kira Ibu kemana ya Mbok?" ucap Alya.


"Tadi dia mengejar Non Alya, Mbok pikir Non Alya bertemu dengan Ibu."


"Nggak, Mbok. Ibu kemana ya? Ini udah malam tapi Ibu belum pulang."


"Jangan khawatir Non, Arman pergi sama Ibu."


"Apa!"


Tiba-tiba terdengar suara Najwa yang terkejut saat mendengar ucapan orang dari sebrang telpon.


Alya dan Mbok Darti pun mengalihkan pandangannya ke arah ruang keluarga.


"Ada apa?" Alya segera bergegas menghampiri Najwa dengan diikuti oleh Mbok Darti dibelakangnya.


Wanita yang sudah mulai tua itu berjalan tergopoh-gopoh mengejar langkah Alya yang cepat!


"Ada apa kak?" tanya Alya.


[Baik, saya akan ke sana secepatnya. Terimakasih atas informasinya.]


Najwa yang sudah menangis deras itu langsung menutup telponnya.


"Ibu mengalami kecelakaan, sekarang Ibu di rumah sakit xxx. Alya cepatlah, kamu yang bawa mobil karena kamu bisa menyetir dengan kecepatan tinggi," ucap Najwa sembari berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas dan keperluan lainnya.


"Apa," lirih Alya.


Air matanya kembali mengalir menganak sungai di pipinya. Baru dia akan memberitahu sang Ibu tentang kabar bahagia, malah dirinya mendapat kabar tak menyenangkan.


"Cepat Alya!" Najwa yang sudah panik pun menyentak Alya.


"Mbok ikut."


Alya yang sedari tadi memegangi kunci mobilnya pun langsung berlari ke mobilnya!


"Pasang sabuk pengaman dan pegangan yang erat. Kita akan sampai ke rumah sakit tempat Ibu di tangani Dokter dalam waktu dua puluh menit atau kurang dari itu." Alya mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju kencang!


Alya memang suka memacu adrenalin dengan mengikuti balap mobil yang sesekali diadakan oleh teman-temannya.


Alya yang tak pernah mendapatkan kebahagiaan di rumah, selalu berusaha mencari kesenangan di luar untuk melupakan kesedihannya.


Selain untuk melupakan kesedihan karena tak kunjung diperhatikan oleh Chandra, Alya juga selalu melakukan apa yang dia suka untuk melupakan penyakit yang dideritanya. Meski tak dapat melupakan semua kesedihannya selamanya, setidaknya Alya bisa tertawa lepas bersama teman-temannya.


"Tetap hati-hati Non, jangan sampai kita juga mengalami kecelakaan," ucap Mbok Darti mengingatkan Alya.

__ADS_1


Alya tak menjawab, dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh!


Bersambung


__ADS_2