
Tak sampai dua puluh menit, mobil yang dikendarai oleh Alya tiba di depan rumah sakit yang dituju.
Alya langsung menghentikan mobilnya lalu segera turun dari mobilnya!
Tak menunggu Najwa ataupun Mbok Darti, Alya langsung berlari ke tempat pendaftaran!
"Sus dimana pasien atas nama Ibu Chandra ditangani?" tanya Alya pada petugas administrasi itu.
"Pengidap penyakit apa Mbak?"
"Korban kecelakaan mobil. Baru masuk sekitar satu jam yang lalu."
"Sebentar kami cek dulu."
"Tolong cepat ya," ucap Najwa yang sedari tadi terus menangis.
"Sabar-sabar, semoga Ibu tidak kenapa-kenapa," ucap Mbok Darti sembari mengelus punggung Alya dan Najwa.
"Pasien atas nama Ibu Chandra, masih di ruang IGD," ucap petugas itu.
"Dimana ruangannya?"
"Disebelah utara dari sini. Silahkan lurus aja nanti langsung terlihat ruangan IGD."
Alya dan Najwa langsung berlarian ke arah yang ditunjukkan oleh petugas itu!
Setibanya di depan ruangan itu, Alya dan Najwa menunggu adanya seseorang yang keluar dari ruangan itu. Dua gadis itu terus menangis.
*********
Di kediaman Broto.
"Seberat apa cobaan cinta yang kakak terima? Sampai kakak seperti ini," tanya Julian yang saat itu sengaja datang ke kamar Farhan.
__ADS_1
Farhan tak menjawab, rasa sesaknya semakin menusuk ke dalam hati terdalamnya.
"Kalau memang terlalu menyiksa, apa salahnya mencoba lagi memperjuangkannya."
"Tidak bisa, Alya sudah tidak mungkin mau denganku."
"Kenapa? Tidak ada yang tidak mungkin. Jika memang Alya mencintai kakak, dia pasti mau dan memperjuangkan cintanya."
"Alya menderita penyakit keras dan dia divonis hanya akan bertahan beberapa bulan lagi saja. Karena itulah dia kukuh tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan aku, malah dia memintaku untuk hidup bersama Najwa dan bahagia bersama kakaknya itu."
"Kakak percaya?"
"Selama ini Alya tidak pernah bohong. Aku percaya dengan semua ucapannya."
"Pastikan sekali lagi kak. Alya sangat menginginkan kasih sayang dari Ibunya. Alya yang hanya seorang anak tiri, bisa saja sengaja mengorbankan kebahagiaannya demi mendapatkan cinta dari Bu Chandra."
Farhan teringat baru ingat bahwa selama ini Alya selalu bercerita kalau kasih sayang dari seorang Ibu menjadi impian terbesarnya.
"Kamu benar, aku akan mencari kebenarannya. Aku tidak mau kehilangan Alya gitu aja."
Di kediaman Danuarta.
"Ada apa, melamun terus?" tanya Danuarta pada Arka.
"Udah dua hari Alya gak masuk kantor, aku merasa ada yang hilang," sahut Arka.
Sudah dua hari Alya memang tidak masuk kantor karena selalu sibuk menemani dan membantu Najwa menyiapkan dirinya untuk pernikahannya.
"Coba telpon dia dan katakan I love you."
"Ngaco deh Pa, gak mungkin lah tanpa ada sebab dan akibat tiba-tiba ngucapin gitu."
"Kamu suka kan sama Alya."
__ADS_1
"Jujur. Jujur ya ini Pa, aku emang suka sama dia tapi aku gak berani ngungkapin perasaan aku ke dia."
"Cemen banget jadi laki-laki."
"Bukan gitu Pa, aku tahu Alya masih mencintai pacarnya."
"Oh ternyata gadis manis itu sudah ada yang punya."
"Iya Pa. Sebenarnya sih pacarnya Alya mau nikah."
"Sama Alya?" Danuarta menatap Arka dengan mata yang terbuka sempurna.
"Bukan tapi pacarnya nikah sama kakaknya Alya."
"Najwa maksud kamu?"
"Iya. Papa kok tahu sama Najwa?"
"Bu Chandra itu kan teman Papa jadi Papa kenal sama anak-anaknya."
Arka terdiam sembari menatap ke sembarangan tempat.
"Lupakan pernikahan pacarnya Alya, sekarang kita bahas kamu dengan Alya saja."
"Apa yang mau dibahas?"
"Papa setuju kalau kamu sama Alya. Mau Papa lamar kan Alya untuk kamu?"
"Gak usah, aku mau usaha sendiri aja."
"Tapi jangan lama-lama, takutnya Alya keburu nikah sama orang lain."
"Siap Pa," ucap Arka dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
Bersambung