
Di rumah Chandra.
Mbok Darti sudah menunggu kedatangan majikannya sejak dari pagi. Dia sudah menyiapkan makanan untuk mereka makan siang dan juga sudah menyiapkan segala sesuatu kebutuhan Chandra.
"Alhamdulillah, Ibu akhirnya pulang," ucap Mbok Darti saat menyambut Chandra didepan pintu rumahnya.
"Mbok, maaf ya sudah membuat Mbok repot selama saya di rumah sakit," ucap Chandra.
"Tidak Bu. Saya bantu ya."
Najwa dan Alya masih berdiri didepan pintu sambil menatap Chandra yang sudah masuk ke dalam rumah dengan dibantu oleh Mbok Darti.
"Kita sudah tiba di rumah. Tinggal menyelesaikan masalah kita," ucap Najwa.
"Masalah apa? Aku rasa kita tidak punya masalah," ucap Alya.
"Kamu yang menganggap kita tidak punya masalah tapi kakak anggap kita bermasalah."
"Sudahlah kak, aku sedang tidak ingin berdebat. Boleh aku masuk kamarku?"
"Boleh, tapi sebelum itu kamu temani dulu Farhan didepan."
"Tidak mau. Kakak kan tunangannya, kenapa harus aku yang menemaninya."
"Farhan milik kamu. Kakak tidak berhak atas dia."
"Dih kakak kok gitu. Farhan milik orang tuanya, aku tidak berhak atas dirinya."
Alya berlari menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya!
"Alya! Tunggu! Dasar anak nakal."
Najwa juga berlari untuk mengejar Alya yang sudah hampir sampai di lantai dua rumahnya!
Farhan hanya bisa diam sambil menyaksikan dua kakak beradik yang sudah seperti Tom & Jerry saja.
Sebuah senyuman terukir dari bibir Farhan kala melihat kebahagiaan diwajah Alya.
"Kamu bahagia sekali, Al. Aku berharap kamu bisa sembuh dan terus hidup dengan kebahagiaan yang selalu menyertaimu," ucap Farhan didalam hatinya.
"Mereka sangat baik dan juga selalu menghormati orang tua. Mereka saling menyayangi dan saling melengkapi. Siapa pun yang akan jadi milikmu, kamu akan beruntung memilikinya," ucap Arman yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Mas Arman, sejak kapan Mas di sini?" ucap Farhan.
"Sejak beberapa menit yang lalu. Mereka cantik-cantik ya, mereka juga baik dan sopan kalau saya jadi kamu, saya akan pilih dua-duanya untuk jadi istri saya."
"Mas Arman bicara apa? Saya tidak mengerti."
"Jangan pura-pura bodoh. Mereka berdua mencintai kamu."
Farhan tertawa kecil lalu memalingkan wajahnya dari Arman.
__ADS_1
"Mas, saya langsung pulang aja deh. Saya harus ke kantor."
"Gak mau minum dulu? Saya buatkan nih."" Gak usah, saya mau langsung pulang aja.
**********
Di suatu tempat.
"Hai semua, lagi pada ngapain?" tanya Maya pada Daffa dan Wulan.
"Biasa lagi ngopi syantik," sahut Wulan.
"Daff gimana kabar Alya dan Najwa?"
"Semenjak Bu Chandra masuk rumah sakit, mereka berdua jarang masuk kantor apa lagi Alya, dia ke kantor cuma untuk menemui Najwa saja," sahut Daffa.
"Lah kok bisa?"
"Alya kan bekerja di kantor Pak Danuarta, dia jadi sekretaris nya Pak Arka di sana."
"Siapa itu Pak Arka?" tanya Maya.
"Anaknya Pak Danuarta."
"Waw pasti dia ganteng, tinggi, putih dan tubuhnya sixpack."
"Mana aku tahu, aku gak pernah bertemu dengan dia."
"Gak tahu, Najwa ataupun Ibu Chandra belum mengumumkan lagi. Mungkin sekarang mereka sedang sibuk karena Bu Chandra baru aja pulang dari rumah sakit."
"Oh jadi Ibunya Najwa udah pulang dari rumah sakit."
"Baru hari ini beliau pulang. Semoga saja cepat pulih dan cepat kembali beraktivitas seperti semula."
"Kasian Alya dong kalau Ibunya Najwa udah sehat lagi," celetuk Wulan.
"Maksud kamu apa. Bicara kok gak nyambung," ucap Daffa.
"Kalau Ibunya Najwa udah sembuh pasti dia menyiksa Alya lagi dengan sikap dan perlakuannya pada Alya," ucap Wulan.
Mereka memang sudah bersahabat lama, sedikit banyak tentang keluarga Najwa dan Alya, mereka mengetahuinya.
Apalagi dengan sikap Chandra yang seperti itu membuat mereka berkesimpulan kalau Chandra pilih kasih terhadap Alya dan Chandra.
"Ssst. Kalian ini hobinya ngomongin orang terus." Daffa menghentikan pembicaraan dua teman perempuannya yang mulai membicarakan kejelekan Chandra.
**********
Di rumah Broto.
"Kamu udah pulang Han?" ucap Rossa.
__ADS_1
Farhan berjalan menghampiri Mamanya yang sedang duduk sambil membaca buku di kursi ruang keluarga!
"Mam, apa lagi yang bisa aku lakukan?"
"Bicara apa kamu Nak?"
"Sekarang aku sudah seperti bola sepak saja yang dimainkan oleh dua pemain."
"Kamu kalau bicara yang jelas, Mama tidak mengerti."
"Mama tahu? Dua kakak beradik itu sekarang saling mengalah satu sama lain. Najwa bilang aku harus sama Alya dan Alya bilang aku harus sama Najwa. Sebenarnya apa yang mereka ingin? Aku sampai bingung menghadapi mereka berdua."
"Mereka cinta gak sama kamu?"
"Itulah yang aku tidak mengerti, mereka bilang mereka cinta tapi mereka seperti itu."
"Rumit banget jadi kamu ya kak. Untung aku gak punya pacar," celetuk Julian.
"Kamu tanya dong alasannya kenapa mereka seperti itu," ucap Rossa.
"Aku sudah tanya pada Najwa. Dia bilang cintanya pada Alya lebih besar dari cintanya padaku jadi dia membiarkan aku sama Alya. Jujur aku senang karena Najwa sadar bahwa aku memang tidak mencintai dia tapi Alya–"
"Kenapa Alya? Apa dia sudah jatuh cinta pada Bosnya yang bernama Arka?" tanya Julian.
"Alya memintaku untuk tetap menikah dengan Najwa. Alasannya sama dengan Najwa yaitu karena cintanya lebih besar pada Najwa dibandingkan dengan aku."
"Waw ini luar biasa sih menurut aku. Mereka saudara tiri tapi mereka begitu menyayangi satu sama lain."
"Kalau gitu besok kita ke rumah Bu Chandra untuk membicarakan pernikahan kamu dengan Najwa."
"Tapi aku tidak mau menikah dengan Najwa Mam."
"Kamu tenang dulu Farhan. Kalau memang Najwa sayang pada Alya, dia pasti menolak pernikahan ini dan jika Bu Chandra juga menyayangi Alya, dia akan membiarkan Alya menikah dengan kamu."
"Tapi bagaimana kalau Tante Chandra tidak mengizinkan aku menikahi Alya? Bagaimana kalau Tante Chandra tetap ingin Najwa yang menikah denganku?"
"Kak kapanpun Tante Chandra dan Najwa meminta kamu menikah dengan Alya kalau Alya nya gak mau juga pernikahan kamu tetap akan batal kan," ucap Julian.
"Kamu tenang saja dulu, jangan panik kayak gini. Alya akan jadi milik kamu kalau Najwa memang sudah ikhlas."
"Kak, jodoh gak akan kemana, siapa tahu dengan rentetan kejadian yang menggagalkan pernikahan kamu dengan Najwa adalah jalan dari Tuhan karena dia mau kakak menikah dengan Alya."
"Julian benar, berdoa saja semoga Alya milikmu."
"Bagaimana jika Alya tercipta bukan untukku?"
"Berarti kakak terima Najwa karena mungkin saja memang Najwa yang diciptakan Tuhan untuk kakak."
"Gak mungkin lah, sampai saat ini aku masih belum mencintai Najwa, aku masih tetap mencintai Alya."
Bersambung
__ADS_1