
Pagi hari, Najwa baru terbangun dari tidurnya. Karena dirinya terus menangis karena mengkhawatirkan Alya yang tak tahu dimana, tak disadari ternyata dirinya tertidur di sofa yang ada di samping tempat tidurnya.
"Alya," ucapnya dengan suara parau.
Najwa segera bangkit dari tempatnya lalu masuk ke dalam kamar mandinya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Najwa selesai dengan urusan mandinya, dia segera mengenakan pakaiannya dan segera keluar dari kamarnya!
"Najwa, sarapan dulu," ucap Chandra.
Najwa melirik Chandra sekilas lalu mulai berjalan lagi.
"Najwa! Kamu gak dengar perkataan Ibu?"
Najwa kembali menghentikan langkahnya, dua menoleh ke, arah Chandra lalu menatapnya.
"Ya Ibu, aku mendengar perkataan Ibu dengan baik. Aku gak mau sarapan, aku ingin pergi untuk mencari adikku yang semalam Ibu usir dari rumah."
"Najwa tolong mengertilah."
"Ibu yang seharusnya mengerti. Tidak seharusnya Ibu mengusir Alya dari sini padahal Ibu sendiri tahu kalau Alya tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain kita."
Najwa langsung pergi meninggalkan Chandra yang sudah duduk di kursi makan itu.
"Najwa! Najwa tunggu!"
Tak menghiraukan teriakan Chandra, Najwa terus berjalan menuju garasi mobilnya!
*******
"Alya kamu mau kemana?" tanya Marlina ~ pemilik kost_an yang kini ditempati oleh Alya.
"Aku mau ke Kantor," sahut Alya.
"Jadi kamu sudah punya pekerjaan?"
"Ini hari terakhir aku bekerja Bu, mulai besok aku harus mencari pekerjaan lain lagi."
"Sarapan dulu sini."
"Tidak Bu, terimakasih. Aku sarapan di luar aja."
"Ya udah, kamu hati-hati ya."
Najwa tersenyum lalu mulai pergi, tak lupa sebelum pergi dia mencium punggung tangan Marlina terlebih dahulu.
Alya memang gadis yang ramah dan selalu menghormati orang yang lebih tua darinya. Meski Marlina bukan siapa-siapanya tapi Alya tetap mencium punggung tangan Ibu kost nya itu.
Marlina menatap punggung Alya hingga sampai tak terlihat lagi.
"Gadis yang baik dan sopan. Jarang sekali dizaman sekarang ada orang yang melakukan apa yang kamu lakukan Alya," gumam Marlina.
__ADS_1
**********
Di rumah Maya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi!"
Pagi itu Najwa memulai pencarian dari rumah Maya.
Maya adalah teman dekat mereka yang mungkin menjadi pilihan Alya untuk bermalam, tadi malam.
"Najwa, ada apa pagi-pagi gini udah ke rumah aku?" tanya Maya setelah membuka pintu rumahnya.
"May, aku nyari Alya. Apa dia ada di sini?"
"Alya? Tidak ada. Memangnya tuh anak kemana?" tanya Maya sembari menatap Najwa penuh tanya.
"Semalam dia pergi dari rumah, aku gak tahu dia pergi ke mana."
"Kalian sedang berantem?"
"Tidak. Ada sedikit kesalahan pahaman diantara Ibu dan Alya yang membuat Alya pergi untuk menghindar."
"What, ada-ada aja deh. Kamu udah telpon dia belum?"
"Oh gitu. Kamu coba aja ke Kantornya, mungkin saja dia ke Kantor hari ini."
"Aku memang mau ke sana tapi karena sekarang masih pagi jadinya aku ke sini dulu."
"Semoga cepat bertemu dengan Alya. Nanti akan aku bantu telpon dia ya Naj."
"Terimakasih May, kalau gitu aku permisi dulu maaf mengganggu waktumu."
"Tidak apa, jangan sungkan sama aku. Kita kan sahabat."
"Terimakasih." Najwa tersenyum lalu mulai pergi.
**********
Di Kantor.
"Saya tidak ingin melihat kamu lagi di Kantor saya , Alya," ucap Chandra saat melihat Alya berjalan ke ruangan kerjanya.
"Selamat pagi Ibu." Alya tersenyum ramah pada Chandra.
Chandra hanya menatap Alya sinis dengan mulut yang tertutup rapat seolah tak ingin berbicara lagi dengan Alya.
__ADS_1
"Aku memang akan mengundurkan diri dari sini Bu, aku datang untuk mengambil semua barang-barang milikku. Aku harap Ibu bahagia setelah kepergian ku."
"Saya akan bahagia jika kamu tidak hadir lagi dalam kehidupan saya ataupun anak saya."
"Maaf Bu, karena kehadiranku hanya membuat Ibu terluka."
"Cepat pergi dari ini Alya." Chandra segera masuk ke ruangan pribadinya karena tak ingin berlama-lama bertemu dengan Alya.
Dua puluh tiga tahun dirinya tersiksa karena mengurus Alya, dirinya berfikir saat itu adalah hari terakhirnya menderita karena terus teringat dengan penghianatan yang dilakukan oleh suami dan Ibu kandungnya Alya.
"Al, kamu mau ke mana?" tanya Daffa yang melihat Alya membawa barang miliknya.
Daffa adalah teman dekat Alya di kantor, Daffa mengenal baik Alya karena mereka sudah berteman sejak lama.
"Aku mau pergi, kemarin adalah hari terakhirku bekerja di sini." Alya tetap tersenyum meski di pipinya mengalir air mata.
"Tapi kenapa? Ini perusahaan Ibumu kenapa kamu harus resign?"
"Suatu saat mungkin aku akan kembali ke sini Daffa tapi bukan untuk bekerja."
"Al apa ada masalah? Aku rasa selama ini pekerjaan kamu baik-baik saja dan perusahaan ini semakin maju di tangan kamu."
"Kamu gak tahu apa yang terjadi padaku dan keluargaku. Aku pergi ya, kamu baik-baik di sini." Alya segera pergi karena takut bertemu lagi dengan Chandra.
Bukannya dirinya tak bertemu dengan Chandra tapu dirinya takut membuat Ibu yang sudah mengurusnya itu kembali tersakiti saat melihat dirinya masih ada di sana.
**********
Di rumah Chandra.
"Man kamu cari Non Alya ya, Mbok khawatir sama dia," ucap Mbok Darti pada Arman.
"Gimana mau nyari Mbok, belum juga saya pergi Bu Chandra sudah minta jemput," sahut Arman.
"Mbok khawatir sama Non Alya."
"Saya juga khawatir Mbok tapi apa boleh buat, saya tidak bisa pergi sesuka hati karena saya ini hanyalah sopir di rumah ini."
"Ya Allah, gimana caranya agar kita bisa mencari Non Alya."
"Mbok, emang benar ya Alya bukan anak kandung Bu Chandra?" Arman menatap Mbok Darti dengan tatapan penuh penasaran.
"Iya. Benar apa yang dikatakan Bu Chandra tapi tidak seharusnya dia melibatkan Alya karena anak itu tidak tahu apa-apa."
"Pantas selama saya kerja di sini, Bu Chandra tidak pernah bersikap manis pada Alya."
"Untunglah Non Alya orangnya penyabar, dulu saat dia kecil, dia selalu menangis karena tak mendapatkan perlakuan baik dari Ibunya tapi seiring bertambahnya usia, Non Alya mulai bisa menerima dan mengikhlaskan semua perlakuan Bu Chandra padanya."
"Tapi Bu Chandra gak pernah main tangan ya sama Alya."
"Tidak. Dulu Bu Chandra orang yang sangat baik terhadap semua orang meski sebenarnya sekarang pun masih seperti itu terkecuali terhadap Non Alya. Bu Chandra itu orangnya periang dan penyayang, dia menyayangi semua orang di sekitarnya hingga setelah dia tahu Pak Fathir berselingkuh, dia menjadi pribadi yang tertutup dan jarang sekali berbicara, Bu Chandra menjadi dingin seperti sekarang ini." Mbok Darti menceritakan kehidupan masa lalu Chandra tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
__ADS_1
Dulu memang Chandra adalah wanita penyayang dan periang. Setiap minggu dirinya pasti mengundang anak yatim dan anak-anak yang kurang beruntung ke rumahnya, untuk selanjutnya dia berikan uang dan semua keburukan mereka namun setelah Alya hadir, semua kegiatan itu dihentikan karena Chandra lebih suka menyendiri.
Bersambung