Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 41


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan tempat Chandra ditangani oleh Dokter!


Alya dan Najwa langsung menghampiri Dokter itu.


"Dokter, bagaimana keadaan Ibu kami?" tanya Alya.


"Kalian berdua anaknya Ibu Chandra?" tanya Dokter itu.


"Ya, kami anaknya."


"Alhamdulillah, beliau selamat."


"Alhamdulillah. Terimakasih Dokter."


"Jangan berterimakasih pada tim Dokter karena hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan Ibu kalian."


"Apa kami bisa menemui Ibu kami sekarang?"


"Untuk saat ini belum bisa, petugas akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap terlebih dahulu setelah itu baru kalian bisa menemui pasien."


*********


Di kostan Alya.


"Bu, Alya kapan pulang?" tanya Danish pada Bu Marlina.


"Ngapain nanyain dia? Alya sedang di rumah orang tuanya kamu gak usah khawatir," ucap Bu Marlina.


"Aku mimpi buruk."


"Tandanya kamu lupa baca doa sebelum tidur."


"Ibu ngapain tengah malam gini belum tidur?"


"Udah tidur tadi tapi kebangun dan gak bisa tidur lagi."


"Tidur Bu, udah malam."


"Iya, kamu sendiri ngapain belum tidur?"


"Tadi kan aku udah bilang, aku mimpi buruk."

__ADS_1


"Apa yang terjadi dalam mimpi barusan?"


"Aku nikah sama Alya."


"Itu bukan buruk tapi mimpi manis."


"Buruk lah Bu, orang Alya udah pasti nikah sama Bosnya."


"Kamu suka sama Alya?"


"Suka tapi gak cinta. Tidur Bu, udah malam."


Danish segera mengambil air minum dalam kulkas lalu segera pergi dari sana!


"Sebenarnya Ibu juga khawatir sama Alya, entah sedang apa dia sekarang bersama Ibu tirinya?" gumam Marlina.


Marlina yang sudah tahu banyak tentang kehidupan Alya, merasa khawatir karena sudah beberapa hari Alya di rumah orang tuanya, Alya tidak memberi kabar padanya.


*********


Di kediaman Broto.


"Kamu benar, kalau gitu kamu pergilah dari sini. Kakak mau istirahat."


"Oke, jangan banyak pikiran. Percayalah semua akan baik-baik saja karena Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambanya."


Farhan tersenyum tipis lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya!


"Jangan lupa tutup pintunya," ucap Farhan sembari menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Julian tak menjawab, dia segera keluar dari kamar sang kakak dan tak lupa menutup pintu itu sesuai perintah kakaknya.


Setelah memastikan Julian sudah tidak ada di kamarnya. Farhan kembali duduk dengan punggung yang ia sandarkan di kepala ranjang.


"Kamu gak tahu rasanya jadi aku tapi aku ingin cukup aku saja yang merasakan cinta rumit yang menguras jiwa," ucap Farhan didalam hatinya.


Farhan tidak bisa tidur karena terus teringat dengan pernyataan Alya yang mengatakan bahwa Alya menderita sakit keras.


*******


Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Alya dan Najwa bisa menemui Ibunya.

__ADS_1


Dua gadis itu segera masuk ke dalam ruangan rawat Chandra dengan diikuti oleh Mbok Darti dibelakangnya!


Kedua gadis yang terakhir dari rahim yang berbeda itu tak kuasa menahan tangisnya saat melihat kondisi Chandra yang mengalami luka disekujur tubuhnya.


"Ibu, kenapa begini?" lirih Najwa.


Najwa mendekati Chandra lalu mengelus kepalanya sedangkan Alya hanya berdiri mematung dengan air mata yang terus saja mengalir dengan derasnya.


Alya tak cukup memiliki keberanian untuk menyentuh Chandra meski saat itu Chandra sedang dalam keadaan terbaring lemah dan tak bisa apa-apa bahkan matanya pun tertutup rapat.


"Ibu, aku mohon buka mata Ibu, lihatlah aku menangis di sini. Ibu sering bilang kalau Ibu merasa kesakitan kalau melihat aku menangis. Sekarang Ibu membuat aku menangis, Ibu yang membuat aku menangis. Bangunlah Bu, ayo buka mata Ibu." Najwa terus berucap meski Chandra tak merespon semua ucapannya.


"Sabar ya kalian berdua harus sabar," ucap Mbok Darti.


Setelah lama Alya hanya diam, akhirnya dia memberanikan diri untuk mendekat pada Chandra!


"Bu, bangunlah. Tadi aku sudah bicara pada Om Broto dan Tante Rossa, mereka tidak akan membatalkan pernikahan ini karena mereka menerima keluarga kita apa adanya. Ibu tahu? Mereka sangat baik sehingga mereka dapat menerima keluarga kita yang sudah hancur gara-gara Ibu dan Ayahku." Tangis gadis berusia dua puluh tiga tahun itu semakin deras saat bicara dengan Ibu tirinya itu.


Perlahan Alya, mengangkat tangannya lalu menggenggam tangan Chandra. Dua memejamkan matanya dan merasakan lembutnya telapak tangan sang Ibu.


"Ya Allah, apa ini kesempatan bagiku agar aku bisa merasakan lembutnya telapak tangan Ibuku. Ingin sekali aku memeluknya dalam keadaan seperti ini tapi aku tidak berani, anu takut yang aku lakukan ini justru membuat Ibu semakin kesakitan," ucap Alya didalam hatinya.


Tak lama Chandra membuka matanya dan menggerakkan tangannya yang sedang digenggam oleh Alya.


Alya langsung melepaskan tangan Chandra setelah tahu Ibunya itu sudah sadar dan sudah membuka matanya.


"Ibu," lirih Najwa dengan suara parau khas orang yang sedang menangis.


Chandra menatap Najwa lalu mengulas senyum tipis di bibirnya lalu dia beralih menatap Alya.


Chandra mengangkat tangannya perlahan dan mengarahkan tangannya pada Alya, Chandra mengulurkan tangannya pada Alya dan meminta Alya mendekati dirinya.


"Anakku," ucap Chandra. Air mata pun mulai menetes dari sudut matanya.


Seperti tersambar petir, Alya merasa ada yang menghantam hatinya saat mendengar kalimat pertama yang diucapkan Chandra sesaat setelah sadar.


Sedih, bahagia, tak percaya dan semua rasa bercampur aduk dalam diri Alya.


Mbok Darti pun ikut merasa bahagia mendengar perkataan Chandra.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2