Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 35


__ADS_3

Setelah seharian menemani Najwa dan Farhan melakukan pemotretan, kini hari sudah semakin sore dan mereka semua pun sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah masing-masing dengan menggunakan mobil masing-masing.


Di mobil Farhan.


"Kalian tadi ngobrolin apa saja?" tanya Farhan pada Julian.


"Banyak. Ternyata Alya orangnya asyik juga ya, pantas aja banyak yang suka sama dia," ucap Julian.


"Maksud kamu?"


"Gak usah bahas itu sekarang aku mau tanya, kakak mau pilih siapa? Najwa atau Alya?"


"Ya pasti Alya lah. Aku kan cintanya sama Alya."


"Kalau gitu cepat perjelas hubungan kalian. Mau dibawa ke mana dan mau bagaimana."


"Aku sedang berusaha Ian, lagian kok kamu bicaranya gitu."


"Karena kalau kakak mau sama Najwa, aku yang akan maju sama Alya sebelum Alya benar-benar jatuh cinta pada Bosnya."


"Kamu suka sama Alya?"


"Ya."


"Jadi selama ini kamu menyukai Alya dan jangan-jangan sebenarnya kamu bukan mau membantu kakak tapi malah ...."


"Hus! Jangan berprasangka buruk gitu sama aku. Kakak tahu tadi Alya nangis."


"Kenapa? Pasti kamu atau Arka yang bikin dia nangis."


"Kakak yang bikin dia nangis. Sadar gak sih tadi tuh kakak pegang-pegangan, peluk-pelukan bahkan tangan kakak itu memegang dan meraba perut Najwa."


"Aku hanya mengikuti arahan fotografer nya."


"Tapi Alya cemburu melihatnya. Lain kali kalau mau apa-apa katakan pada Najwa jangan ajak Alya."


"Sepertinya aku harus ketemu sama Alya."


"Tidak sekarang."


"Kenapa? Kami jangan halangi kakak untuk bertemu dengan Alya."


"Dia capek dan dia butuh menjernihkan pikirannya. Temui dia besok pagi di kostan nya."


Farhan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!


**********


Di mobil Arka.


"Al, kita kapan kayak Farhan dan Najwa?"


"Maksudnya?"


"Melakukan foto prewedding setelah itu lanjut ke pelaminan."


"Ngaco deh."


"Kok ngaco? Kamu masih sendiri, saya masih sendiri, apa salahnya kalau kita menyatu dalam tali pernikahannya?"


"Aku belum memikirkan ke arah sana, masih banyak yang harus aku kerjakan dan yang harus aku selesaikan."


"Berapa usiamu?"

__ADS_1


"Ada dalam biodata saya kan, saat saya melamar kerja di kantor Anda."


"Saya gak perhatiin usia kamu."


"Dua puluh tiga."


"Masih muda dan belum terlalu tua tapi sudah bisa menikah karena sudah cukup umur."


"Saya tahu itu tapi saya gak mau memikirkan pernikahan dulu. Terlalu ruwet menjalani kehidupan setelah menikah."


"Belum apa-apa udah berpikir begitu."


**********


Di mobil Najwa dan Chandra.


"Najwa, kamu bahagia?" tanya Chandra dengan senyuman di bibirnya.


"Bahagia Bu, bahagia banget malah."


"Sebentar lagi pernikahan kalian berlangsung, kamu harus bisa menjaga suami kamu agar tidak diambil oleh orang lain."


"Iya Bu, aku pasti menjaga Farhan dengan baik."


Sementara mereka mengobrol, Arman yang mengemudikan mobil hanya diam sambil terus mendengarkan obrolan mereka.


"Mereka begitu bahagia dengan pernikahan ini tapi Mbak Alya ... Mbak Alya pasti sedih kalau memang yang dikatakan Mbok Darti benar. Kasihan Mbak Alya harus membiarkan orang yang dicintainya menikah dengan orang lain apalagi orang lain itu adalah kakaknya sendiri," ucap Arman didalam hatinya.


Setelah mendengar cerita dari Mbok Darti, Arman menjadi tahu tentang kehidupan keluarga mereka.


Arman memang baru bekerja sebagai sopir pribadi Chandra sekitar beberapa bulan yang lalu karena itulah dirinya tidak tahu apa dan siapa Chandra dan keluarganya.


**********


Melihat Alya yang tertidur, Arka tak tega mengganggu Alya, akhirnya dirinya membiarkan Alya tidur dan dia menopang kepala Alya dengan bantal kecil yang selalu ada dalam mobilnya agar kepala Alya tetap stabil di tempatnya.


"Kamu pasti capek Al? Tidurlah, aku akan membangunkan kamu saat kita sudah tiba di rumah kamu," ucap Arka sembari terus mengemudikan mobilnya.


Arka terus melaju namun kini dia melaju dengan kecepatan rendah karena takut mengganggu tidur Alya.


Tak lama mobil yang dikemudikan oleh Arka tiba di depan rumah kost nya Alya dan kebetulan Julia sudah ada di sana dan membukakan pintu gerbang rumah itu untuknya.


Setelah itu Arka segera memasukkan mobilnya ke halaman rumah itu!


Julia berdiri di sana dan memperhatikanmu mobil Arka sampai yang punya mobil ke luar dari dalam sana.


"Alya kok gak turun?" tanya Julia.


"Dia tidur, saya gak berani membangunnya," ucap Arka.


"Yah terus gimana?"


Arka menaikan kedua belah bahunya tanda dirinya juga tidak tahu harus apa. Mereka berdua sama-sama tidak berani membangunkan Alya.


Marlina keluar dari rumah dan berjalan menghampiri mereka berdua!


"Sudah pulang ternyata, Alya mana?" tanya Marlina.


"Di dalam mobil Bu," jelas Arka.


Marlina melongok mobil Arka dan memang terlihat Alya masih duduk di bangku depan.


"Kenapa gak turun?"

__ADS_1


"Dia tidur Bu, kita berdua gak berani membangunkan Alya," ucap Julia.


"Oh tidur, terus gimana dong? Ibu juga gak berani membangunkan Alya."


"Ya udah kita tunggu sampai Alya bangun sendiri aja," ucap Arka.


"Tapi kamu kan harus pulang," ucap Marlina.


"Saya tahu Bu tapi apa boleh saya menunggu di sini sampai Alya terbangun?"


"Gimana ya, sebenarnya kami tidak pernah membiarkan laki-laki berlama-lama di sini karena ini tempat kost putri."


"Kalau gitu saya pulang naik taksi aja."


"Jangan-jangan, kamu tunggu aja deh di sini tapi Ibu gak bisa ajak kamu masuk. Semoga aja Alya cepat bangun."


"Kenapa gak ditawarin digendong aja sih Alya nya? Aku akan dengan senang hati membawa Alya ke kamarnya," ucap Arka didalam hatinya.


**********


"Sudah pada pulang?" tanya Rossa saat kedua putranya berjalan beriringan memasuki rumahnya.


"Mam, sendirian aja?" tanya Julian.


"Ya, mau sama siapa lagi?"


"Papa kemana?" tanya Farhan sembari menghempaskan bokongnya pada kursi di samping Rossa.


Julian memilih langsung ke dapur untuk mengambil air minum!


"Den biar Bibi yang buatkan minum," ucap asisten rumah tangga di rumah itu.


"Gak usah Bi, aku bisa sendiri kok," ucap Julian.


Setelah selesai membuat es teh itu, Julian langsung kembali ke ruang keluarga, tak lupa dirinya juga membuatkan minum untuk Farhan dan Mamanya!


"Nih minum dulu," ucap Julian sembari meletakkan minuman yang dia buat di atas meja.


"Mama juga dibikinin?"


"Iya dong, masa aku bikin minuman cuma buat aku sama kakak doang."


"Terimakasih."


"Ada racunnya gak nih?" ucap Farhan.


"Wah banyak banget, biar kakak bahagia jadi aku tambahkan sianida."


Rossa tertawa kecil mendengar candaan kedua anaknya yang tidak biasa itu.


"Kalian ini bercandanya aneh tahu gak."


"Emang harusnya kakak itu dikasih racun biar hati dan pikirannya bersih."


"Sembarangan kalau ngomong, emang hati dan pikiran aku kotor kenapa?"


"Sebentar lagi mau nikah kan? Nah pasti pikirannya udah melayang entah kemana."


"Ngaco kamu. Melayang kemana?"


"Mana aja yang penting Alya jadi milikku."


Julian tertawa lalu berlari ke kamarnya karena dia tahu Mamanya itu akan menghujani nya dengan pertanyaannya!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2