Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 53


__ADS_3

Pagi hari, Alya membuka matanya dan langsung melihat Farhan dan Arka berdiri di sampingnya.


Tepat di samping tangannya, Dokter Wike duduk di kursi yang berada di samping ranjang rumah sakit tempat dirinya terbaring dan di samping Dokter wanita itu, Andrew berdiri sambil menatapnya.


"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Alya yang baru terbangun dari tidurnya.


Dokter Wike menggenggam tangan Alya dengan erat, air matanya pun mulai menetes dari pelupuk nya.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Wike.


"Tidak ada, aku baik-baik saja. Oh ya sepanjang aku tidur, aku bermimpi. Mimpi itu sangat indah dimana aku bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi dan kami hidup bahagia di sana, untuk pertama kalinya aku melihat wajah kedua orang tuaku."


"Apa kamu yakin yang kamu temui itu orang tua kandungmu?" Wike bertanya dengan suara pelan.


"Entahlah. Yang pasti dalam mimpi itu aku sangat bahagia. Entah kenapa mimpi itu terasa sangat nyata."


"Kamu tahu gak apa yang sebenarnya terjadi padamu?"


"Tidak. Yang aku tahu aku bahagia malam tadi."


"Kamu mengalami koma. Kami pikir kamu ...."


"Tuhan masih mengerikan aku kesempatan untuk hidup," ucap Alya.


Farhan yang sedari tadi hanya diam, kini dia melangkah dengan langkah pelan!


"Alya, aku mohon–"

__ADS_1


"Menikahlah dengan kak Najwa," ucap Akya memotong perkataan Farhan yang belum selesai.


"Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang terjadi padamu Alya?" ucap Arka yang tak tahu apa-apa.


"Aku baik-baik saja Pak, Anda tidak usah khawatir," sahut Alya pada Arka.


"Alya, aku tidak bisa menikah dengan Najwa sementara kamu ... aku tidak bisa Alya, tolong jangan paksa aku."


"Aku tidak mengerti dengan cara kamu berpikir. Dalam keadaan seperti ini pun kamu tetap keras kepala dan selalu mementingkan kebahagiaan orang lain. Kenapa kamu tidak pernah mementingkan kebahagiaan kamu Alya!" Farhan berbicara dengan nada keras dan sedikit membentak Alya.


"Karena aku hanyalah anak yang terakhir dari pernikahan yang tak seharusnya. Aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh keluargaku. Puas kamu!" Alya melepaskan beberapa selang yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya lalu bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu!


"Alya, kamu mau kemana?" ucap Andrew sembari berjalan menyusul Alya.


"Dokter, aku harus menemui Ibuku di rumah sakit."


Arka meraih tangan Alya lalu menariknya hingga Alya terbawa kepelukan Arka!


"Jangan memaksakan diri. Kamu tetap di sini dengan pengawasan Dokter yang menangani penyakit yang kamu derita. Aku mohon Alya, setidaknya kamu hidup untuk orang-orang yang menyayangi kamu," ucap Arka.


"Kamu tidak tahu, kalian semua tidak tahu. Kemarin, Ibu baru saja mengakui aku sebagai anaknya. Aku ingin bertemu dengan Ibuku dan ingin mendengar pengakuannya sekali lagi sebelum aku mati." Alya berucap sembari terus menangis.


**********


Di rumah sakit tempat Chandra dirawat.


"Sudah siang tapi kenapa Alya belum pulang juga?" ucap Chandra.

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi Bu. Aku tidak bisa menelpon Alya, Arka juga tidak mengangkat telpon ku, mungkin mereka sedang di jalan," jelas Najwa.


"Ibu sudah banyak salah padanya, Ibu ingin menebus semua kesalahan ibu padanya."


Najwa tersenyum lalu memeluk Chandra!


"Setelah Ibu pulang dari rumah sakit ini, kita akan memulai kehidupan yang baru. Kita mulai kebahagiaan kita setelah Ibu pulang dari sini."


"Najwa, apa kamu mau berkorban untuk adik kamu?"


"Tentu saja Bu, aku menyayangi menyayangi Alya bahkan sangat menyayangi dia."


"Apa kamu mau memberikan Farhan untuk Alya?"


Najwa melepaskan tangannya yang sedang melingkar di tubuh Chandra!


"Maksud Ibu?" Najwa bertanya dengan raut wajah datar dan tanpa ekspresi. Dirinya begitu tidak mengerti dengan pertanyaan sang Ibu.


Chandra mulai meneteskan air matanya, rasanya berat untuk mengakui kesalahannya pada sang putri tapi dirinya harus berkat jujur demi kebahagiaan keluarga mereka di masa depan.


"Kenapa Ibu menangis? Katakan Bu, ada apa ini?"


"Sebenarnya ...." Chandra menggantung ucapannya, entah kenapa dirinya merasa takut. Takut Najwa akan marah padanya, takut Najwa membencinya bahkan dirinya takut ditinggalkan oleh Najwa yang sangat dia sayangi.


"Bu, ada apa? Katakanlah, aku akan terima meski kenyataannya sangat menyakitkan."


"Najwa, maafkan Ibu. Sebenarnya ... sebenarnya ...."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2