
Di sebuah restoran, Alya dan teman-temannya makan malam bersama. Setelah lama bertemu ada banyak cerita yang mereka lalui dan saat itulah waktunya mereka menceritakan semua yang ingin mereka katakan satu sama lain.
"Al, gak ada kamu tempat nongkrong kita sepi tuh," ucap Maya.
"Kenapa sepi, emang kalian gak pernah ke sana lagi?" ucap Alya sembari mengunyah makanannya.
"Ya ke sana tapi jarang-jarang gak setiap hari kayak waktu ada kamu," timpal Wulan.
"Kak Najwa masih sering ke sana kan?"
"Sejak kamu gak ada malah Najwa gak pernah ke sana makanya aku bilang setelah kamu gak ada tempat kita sering ketemu itu jadi sepi karena Najwa juga kayaknya gak semangat ke sana kalau gak ada kamu."
"Ya udahlah kalau gitu, cari aja lagi tempat bertemu di mana kek."
"Al sebenarnya aku pengen bertanya sama kamu," ucap Maya dengan hati-hati.
"Tanya apa? Tanya aja mumpung kita ketemu sekarang."
"Tapi kamu marah gak?"
"Tergantung pertanyaan kamu. Kalau memang pertanyaan kamu bikin aku marah ya aku pasti marah. Gak mungkin kan kamu bikin aku marah?"
"Al, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu menjauhi Farhan? Kamu sudah gila ya malah memintanya Farhan menikah dengan Najwa padahal kami sendiri sangat mencintai dia."
"Apaan sih sok tahu deh kamu. Farhan mau nikah sama kak Najwa itu karena mereka saling mencintai."
"Aku tahu kamu suka sama Farhan dan aku tahu Farhan juga suka sama kamu."
"Lan, kamu itu sok tahu banget
Aku gak mungkin lah suka suka sama Farhan sementara kak Najwa juga suka sama dia."
"Aku tahu tentang hubungan kalian Al, tolong jangan ngelak lagi," ucap Maya.
"Hubungan apa yang kamu maksud?"
"Jangan pura-pura gak tahu. Kamu kenapa sih selalu saja berkorban untuk Najwa sedangkan Najwa aja belum tentu mau melakukan hal yang sama untuk kamu."
"Kalian bicara apa sih, aku gak ngerti deh."
"Aku salut sama kamu Al, sedang sedih pun kamu bisa tersenyum seperti ini. Kamu tahu, Daffa sudah cerita semuanya sama kami berduka," ucap Wulan.
Alya terdiam, Daffa memang tabu semuanya karena dirinya pernah cerita pada teman laki-kakinya itu.
"Alya, kamu makan di sini juga," ucap Rossa yang kebetulan makan malam di restoran itu juga.
Alya dan dua temannya menoleh ke arah suara dan langsung melihat sepasang suami-istri yang sedang berdiri di dekat mereka.
"Om, Tante," gumam Alya.
"Kamu, apa kabar?" tanya Broto.
"Alhamdulillah baik Om, Om dan Tante sendiri gimana?"
"Kami baik. Oh ya, kamu gak sama Najwa?"
__ADS_1
"Nggak. Kakak lagi sibuk ngurusin pernikahannya."
"Kalau gitu kami makan di sebelah sana ya Alya. Kalian silahkan lanjut makan."
"Iya Om, Tante. Maaf gak bisa ngajak kalian makan di sini karena kursinya gak cukup."
"Gapapa-gapapa, lanjut makan ya."
Alya hanya tersenyum menanggapi perkataan Rossa.
**********
"Kak kayaknya aku gak bisa ngebiarin kakak nikah sama Najwa deh," ucap Julian pada Farhan.
"Terus apa yang mau kamu lakukan hah? Yang ada nanti Alya semakin dibenci sama Ibunya," ucap Farhan.
"Tapi aku gak bisa ngeliat kakak tiap hari kerjaannya ngelamun terus."
"Apa yang mau kamu lakukan?"
"Bicara baik-baik pada Najwa dan menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya."
"Jangan gegabah kamu, kakak gak mau hubungan mereka semakin ancur."
"Gak ada yang bisa dilakukan selain jujur sama mereka Kak."
"Sepertinya memang aku harus menikah dengan Najwa."
"Itu hanya akan membuat kalian saling tersakiti kak."
**********
"Kamu harus sesegera mungkin memaksa Chandra untuk mengalihkan nama kepemilikan perusahaan kakak kamu," ucap Erlangga pada Ameera.
"Aku juga sedang berusaha Mas, aku juga gak sabar ingin memiliki dan menguasai perusahaan kakakku itu," timpal Ameera.
"Kita harus cari cara untuk menyingkirkan Chandra biar bagaimana pun kamu adalah adiknya Mas Fathir jadi kamu berhak atas apa yang dia miliki."
"Tapi dari dulu di Chandra itu gak pernah mau membagi dua harta milik kak Fathir kamu tahu sendiri, surat wasiat yang dituliskan oleh kak Fathir cuma ada nama Chandra, Alya dan Najwa, gak ada yang lain termasuk aku adiknya kak Fathir."
"Kamu tenang aja sayang, kita cari kelemahan Chandra dulu dan setelah itu kita serang dia dibagian kelemahannya itu."
**********
Di kostan Alya.
"Anak gadis satu ini, gak pernah keluar satu kali pun. Kerjaannya diam terus di rumah," ucap Marlina pada Julia.
"Apa sih Bu, sibuk aja ngurusin orang lain."
"Kamu tuh sebagai anak gadis, jangan diam saja, di rumah. Gimana mau punya pacar kalau setiap hari kerjaannya di kamar terus."
"Nanti juga kalau ada jodohnya pasti datang sendiri Bu."
"Jodoh gak bakal datang kalau kamu gak berusaha mencarinya. Siapa yang tahu coba kalau kamu anak gadis kalau setiap hari ngurung diri di rumah."
__ADS_1
"Iya-iya, besok aku cari pacar deh."
"Emang orang tua kamu di kampung gak pernah minta menantu? Ibu aja di sini udah pengen lihat kamu nikah."
"Ya sering tapi gimana lagi belum ada yang cocok. Udahlah Bu, lagian sebentar lagi Alya nikah sama bosnya jadi Ibu bisa lihat Alya nikah."
**********
"Udah jam berapa nih, aku pulang ya guys," ucap Alya.
"Yah gak seru. Baru juga jam berapa, belum jam sebelas malam ini," ucap Maya.
"Besok aku harus kerja jadi gak bisa pulang terlalu malam."
"Kamu pikir kita gak kerja. Kita juga kerja kali," ucap Wulan.
Alya tertawa renyah lalu memakai tasnya! "Malam minggu kita ketemu lagi ya. Ajak kak Najwa juga biar seru."
"Emang kamu gak mau jalan sama gebetan."
"Nggak ah, gebetan aku belum ada atau mungkin belum lahir."
"Yang pasti gebetan kamu udah dimiliki orang lain," celetuk Maya.
Alya terdiam dan hanya tersenyum tipis.
"Aku pergi ya, bay kalian berdua."
Alya langsung pergi meninggalkan dua temannya di sana!
"Kasian ya Alya, dari dulu selalu berkorban untuk Najwa dan Ibunya," ucap Wulan setelah Alya pergi.
"Mungkin gak sih Najwa gak tahu dengan hubungan Alya dan Farhan?"
"Kayaknya nggak deh, selama ini yang aku lihat Najwa sayang banget sama Alya, gak mungkin dia tega melakukan ini pada Alya dan lagi waktu itu Daffa pernah cerita kalau Alya gak pernah memberitahu siapapun tentang hubungannya dengan Farhan."
"Oh iya aku baru ingat. Gimana kalau kita jelaskan sama Najwa biar Najwa tahu semuanya."
"Jangan. Jangan pernah lakukan itu," ucap Daffa yang ternyata ada di sana juga.
Wulan dan Maya menoleh ke arah suara dan langsung melihat sosok Daffa.
"Daffa!" ujar Wulan dan Maya bersamaan.
"Jangan katakan apapun terhadap Najwa atau Alya akan semakin dibenci oleh Ibunya. Kalian tahu kan Alya gak pernah dapat perhatian dari Ibunya," ucap Daffa.
"Tapi kita harus membantu Alya."
"Aku tahu tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita gak mungkin membuat Alya semakin sedih, selama ini, mendapatkan kasih sayang dari Ibunya menjadi impian terbesarnya Alya."
"Kasian Alya. Nasibnya tak seindah wajahnya yang cantik dan tak sebaik hatinya yang selalu memaafkan dan selalu ingin membuat orang lain bahagia."
"Kita do'akan aja semoga Alya mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya."
Bersambung
__ADS_1